NovelToon NovelToon
Ketulusan Cinta Istri Pertama

Ketulusan Cinta Istri Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Poligami / Tamat
Popularitas:461.3k
Nilai: 5
Nama Author: munasih

Ini kisah berbagi cinta.

Amira menjatuhkan cintanya pada Gilwang seorang pria yang baru di pertemukannya saat hari pernikahannya. Tidak dengan Gilwang, tak menjatuhkan cintanya pada Amira, karena Gilwang sudah mempunyai kekasih yang berjanji akan menikahinya yaitu Anita.

Karena Gilwang orang yang pertama bisa membuatnya jatuh cinta, Amira akan tetap mempertahankan cintanya dan pernikahannya, meski Gilwang tak mencintainya. Bahkan Amira rela Gilwang menikah dengan kekasihnya asal tidak di ceraikan.

Apakah Amira akan tetap bertahan dengan pernikahannya setelah kehadiran Anita istri kedua yang ingin menjadi istri Gilwang satu-satunya?

Ikuti kisahnya hingga bab akhir. Jadikan cerita ini favorit.

kasih like dan votenya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Kunjungan ke dua

Melihat Anita yang menenteng banyak barang belanjaan di tangannya. Adi menawarkan diri akan membantu Anita membawakan tas belanjaannya. Dengan senang hati Anita menerima bantuan Adi.

""Aku mau makan di situ, ikutlah denganku," ajak Anita.

Adi pun mengikuti langkah Anita menuju kursi yang kosong. Anita menyuruh Adi untuk duduk. Tangan Anita melambai pada salah satu pelayan resto. Anita hendak memesan makanan favoritnya.

Pelayan sudah datang, Anita menawarkan pada Adi untuk memesan makanan dan mengatakan dia yang akan traktir. Adi manut saja.

Sembari menunggu makanan datang mereka bercakap-cakap.

"Gimana kabarmu sekarang, apa kamu sudah bekerja?" Tanya Anita.

"Sudah," jawab Adi santai.

"Kerja dimana?"

"Di sebuah perusahaan?"

"Perusahaan mana?" Anita pingin tau lebih detil.

"Aditama Group."

"Aditama Group! Seperti namamu. Apa itu perusahaan milikmu?" Anita memastikan.

"Iya itu perusahaan milikku."

"Benar kan dugaanku, dia pasti sekarang sudah mejadi orang sukses dilihat dari penampilannya," ucap Anita dalam hatinya.

"Kamu terus yang bertanya, sekarang gantian aku yang bertanya," ucap Adi.

"Silahkan!"

"Kamu masih singgel kah?" Tanya Adi

"Kelihatannya gimana?"

"Kamu terlihat masih cantik seperti dulu, kamu pasti masih single. Aku ini dulu penggemarmu."

"Dia mengira aku masih single, dia juga pernah menyukaiku. Boleh juga ni kalau dia aku jadiin kekasih cadangan. Dia kan orang yang sukses punya perusahaan sendiri, lumayan kan buat tambahan uang jajanku," batin licik Anita.

Anita teringat kalau dia sudah punya suami. Anita akan mengaku saja kalau sudah bersuami.

"Jawabanmu salah, aku sudah punya suami," cetus Anita.

"Benarkah! Aduh sayang sekali, nggak ada harapan dong buat aku," dengus kecewa Adi.

Semenjak Adi menjadi orang yang sukses dia suka menjajah wanita meski sudah mempunyai seorang istri.

"Andai saja kamu masih singgel Anita, kamu akan aku jadikan selir," batin Adi.

"Kita bisa berteman kok, kita tukeran nomer telfon ya," ucap Anita.

"Boleh juga."

Adi melihat Anita bukanlah tipe orang yang setia, dia lebih tergiur dengan uang. Kali ini dia yang akan traktir dan akan mengajak Anita belanja, supaya dia simpati padanya dan bisa main dengannya.

Anita sangat senang hari ini, mendapat traktiran dari Adi dan di belikan banyak barang kesukaannya. Anita akan membawa barang-barangnya ke rumah orang tuanya saja, takut diketahui Gilwang suaminya.

Sudah selesai semua pekerjaan Amira. Amira segera membersihkan diri dan berdandan rapi, karena akan berkunjung ke rumah ibunya. Amira sudah nggak sabar untuk kesana. Selain ingin bercengkerama dengan keluarganya, Amira sangat kangen dengan rumahnya.

Amira ingin melihat kamarnya yang telah di tinggalkannya begitu saja setelah hari pernikahannya.

"Apa kabar kamarku ya? Aku kangen sama suasana kamarku. Duh, aku sudah nggak sabar ingin pergi ke rumah ibuku," ucapnya sembari merapikan hijabnya di depan kaca rias.

"Sudah cantik dan rapi, siap berangkat!"

Amira menyematkan tas di bahunya dan mulai melangkahkan kakinya keluar kamarnya. Saat sudah sampai di pintu rumahnya dan hendak membukanya untuk keluar. Tiba-tiba ada suara panggilan dari hand phonenya.

Langkah Amira terhenti tangannya merogoh hand phone yang ada di dalam tasnya dan segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum...," sapa Amira pada Ibunya.

Orang yang menelfon ternyata ibunya Amira.

"Waalaikum salaam."

"Ada apa Bu?"

"Ibu hanya ingin memberi kabar buat kamu, kalau sekarang kita dan orang tuanya Gilwang akan ke rumahmu."

"Benarkah Bu!"

"Iya, kami sudah dalam perjalanan."

"Kenapa mendadak sekali. Baru saja aku ingin ke rumah Ibu. Untung saja masih di rumah. Ya sudahlah aku akan memberitahu Mas Gilwang."

"Gilwang sudah tau, Ibunya baru saja memberitahunya."

"Ya Allah kenapa tiba-tiba sekali mereka datang kesini. Untung aja Anita lagi nggak di rumah," gumam Amira.

Amira pun mengakhiri percakapanya dengan ibunya.

setelah mendapat kabar dari ibunya, Gilwang langsung memberitahu Anita lewat telfon, untuk tidak pulang dulu ke rumahnya, karena orang tuanya akan datang.

Anita mendengus kesal saat mendapat kabar dari Gilwang.

"Kapan aku harus tidak bersembunyi seperti ini, semua ini karena Amira. Coba saja dia tau diri, sudah tau tidak di cinta kenapa masih setia menjadi istri Gilwang kenapa nggak ninggalin aja dan minta cerai. Biar aku saja yang menjadi istri satu-satunya." Ungkapan rasa kesal Anita.

Gilwang cepat-cepat pulang ke rumah atas perintah orang tuanya.

Di dalam mobilnya Gilwang mendengus kesal, kenapa mereka berkunjung lagi ke rumahnya. Padahal baru kemarin mereka datang.

"Aku harus berakting lagi di hadapan mereka." Tangannya memukul setir mobil.

Dalam beberapa menit saja, Gilwang sudah sampai di rumahnya. Sudah nampak dua mobil parkir di halaman rumahnya. Itu mobil Ayahnya dan mertuanya.

Gilwang disambut senyum sumringah oleh orang tuanya dan juga mertuanya yang sudah duduk di ruang tamu menunggu kedatangannya.

"Itu Mas Gilwang sudah datang," ucap Amira usai menjawab salam suaminya yang juga dijawab semua orang yang ada di ruang itu.

Amira berlari mendekati Gilwang meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. Di saksikan kedua orang tua mereka. Mereka semua merasa ayem hatinya melihat anaknya ternyata benar-benar sudah rukun.

Gilwang di persilahkan duduk kedua orang tuanya.

Mereka ingin bicara serius pada Gilwang dan Amira.

"Kami semua mengharapkan kehadiran seorang cucu dari kalian," ucap Hendro mewakili semua.

"Iya Gilwang, Ibu sudah ingin menimang seorang cucu," sela Irma ibu Gilwang.

"Ibu juga sudah pingin di panggil nenek," imbuh Widya.

Amira dan Gilwang hanya bingung menatap mereka. Kenapa mereka mempertanyakan kehadiran seorang anak, padahal belum pernah terjadi hubungan suami istri antara mereka berdua.

"Kami masih muda jadi kami belum siap untuk punya anak," ucap Gilwang.

"Tapi kami sungguh menginginkan kehadiran seorang cucu. Kalian harus mewujudkannya. Dengan punya anak pernikahan kalian akan semakin rapet dan langgeng," ucap Hadi.

Amira dan Gilwang tak bisa memberi jawaban. Mereka saling menatap dengan raut kegelisahan.

"Apa mereka masih saling menangguhkan hubungan suami istri," bisik Irma di telinga Hendro.

Tersemat di benak Irma menyarankan mereka untuk berbulan madu di tempat yang romantis.

"Kalian pasti masih malu-malu," ucap Irma.

"Bagaimana kalau kalian bulan madu saja ke tempat yang romantis seperti di pulau Bali," cetus Irma lagi.

"Bulan madu!" ucap Gilwang dan Amira bersamaan kedua netranya melebar.

"Bagus kalau mereka bulan madu," tegas Widya.

"Ya kalian kan setelah menikah belum berbulan madu. Bagaimana kalau kalian berbulan madu saja. Kami akan memesan tiket untuk kalian pergi ke Bali sebagai hadiah pernikahan kalian," ucap Hendro.

"Tapi aku nggak suka perjalanan jauh. Gimana kalau di dekat sini saja," sela Gilwang.

"Perasaan dulu kamu sering ikut Ayah perjalanan keluar kota. Kenapa sekarang nggak suka perjalanan jauh? Di sana tempatnya bagus dan romantis. Banyak lo sepasang pengantin baru ingin pergi kesana," ucap Hendro.

Gilwang bergeming tak menjawab ucapan Ayahnya. Ingin sekali Amira ikut menjawab tawaran pergi ke Bali, tapi takut sama Gilwang.

1
Cis Siu
yey
Sri Puryani
kenapa amira gk kapok" ya klo dibohongi dgn kt" manis aja sdh luluh....
Jue
Sungguh Amira wanita yang lemah dan cepat luluh dengan janji palsu .
Cinta Suci
petgi amira
Cinta Suci
knp amira di buat thor
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
lanjut
Puspa Trimulyani
ular menghampiri pukulan
Puspa Trimulyani
pucuk dicinta ulam tiba..... ternyata dunia ini sempit....yg selingkuh dg Anita adalah suami sahabat nya gilwang sekali tepuk dua lalat busuk mati
Puspa Trimulyani
asal tidak bermaksiat saja sdh untung,si Anita ini mana takut sama dosa
Puspa Trimulyani
nyebelin banget sih Amira itu ya....baik sih baik. tapi jgn bego
Puspa Trimulyani
Amira mah bukan polos, tapi bego...
Puspa Trimulyani
betul gilwang,Anita merencanakan sesuatu,kamu harus waspada
Puspa Trimulyani
bukannya dirimu yg pake topeng utk menjerak gilwang dan menghabiskan hartanya
Puspa Trimulyani
laki laki kok lemah,kenapa ke Amira tega dan merasa enak enak saja kalau berbuat kasar,ke Anita banyak menenggang rasa segitu sdh tahu Anita jahat juga,lelaki kok begitu 😡😡
Puspa Trimulyani
lah talakmu sdh jatuh tuh gilwang,karena kata cerai sdh kamu ungkapkan.
Puspa Trimulyani
itu namanya jodoh,jgn kau lepaskan Amira mu,kalau kamu tidak ingin menyesal nanti
Puspa Trimulyani
pasti mau lah wanita matre, kalau wanita baik,dia akan bertanya tanya ada apa ini disuruh berlibur sendirian ga ditemani....sebab dia matre...yg penting uangnya saja,ga peduli berlibur nya sendiri juga yg penting uangnya diberi banyak
Puspa Trimulyani
wanita model begini biasanya hanya memanfaatkan uang cowoknya doang, tidak tulus mencintai,dia hanya menganggap pasangan nya ATM berjalannya.
Aniani Har
hi Pleng emosi Thor knp hati Amira selembut itu.. ih darting saja
Renita 85
pemeran utamanya dungu biar apa sih biar pada, baca ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!