NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai

​Suara deru mesin mobil dinas milik Tuan Hendra perlahan memudar, tenggelam di balik megahnya pintu gerbang besi tempa rumah Menteng yang tertutup rapat kembali. Detik itu juga, seluruh kehangatan intim dan atmosfer kemesraan yang menguar di ruang makan mewah beberapa saat lalu lenyap tanpa sisa dalam hitungan detik. Lilin-lilin perak yang menyala di atas meja kayu mahoni ditiup padam oleh pelayan senior, menyisakan kepulan asap tipis beraroma lilin madu yang bercampur dengan keharuman gurih sisa steak daging sapi wagyu panggang mentega bawang putih yang kian mendingin.

​Di koridor lantai dua yang sunyi, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan berembun halus pada permukaan dinding semen ekspos. Di sinilah, di bawah sorotan lampu koridor kuning temaram yang bersih, aroma pekat parfum wood and amber milik Kyle Ernest dan wangi teh melati yang menenangkan dari tubuh Nadine Lavena kembali berbenturan di udara. Kehangatan pura-pura di lantai bawah kini telah berganti sepenuhnya oleh kembalinya benteng es profesionalitas yang kian kokoh di antara mereka berdua.

​Nadine menarik tangannya dengan sentakan cepat dari dalam jangkauan lengan kokoh Kyle. Ia melangkah maju dua langkah, memastikan ada jarak fisik yang aman dan formal di antara tubuh mereka, sesuai dengan kesepakatan dasar yang tertulis di atas kertas kontrak.

​Nadine memeriksa kondisi jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku natural dengan keacuhan yang mutlak. "Performa akting Anda di depan Paman Hendra tadi cukup meyakinkan, Pak Kyle. Remasan tangan Anda di akhir pembicaraan tadi hampir saja merusak kualitas sirkulasi darah di jemari saya."

​Kyle Ernest menyandarkan punggung tegapnya pada permukaan dinding kayu ek koridor. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap punggung anggun Nadine dengan seulas senyuman smirk yang tipis dan penuh teka-teki yang sulit dibaca pada wajah tampannya yang sedingin es.

​"Aku hanya sedang mengimbangi totalitas pelayanan prima dari istriku yang berharga mahal, Nona Nadine. Bukankah kamu sendiri yang mengajarkan bahwa kualitas akting di depan musuh politik harus dilakukan dengan tingkat kedekatan fisik yang paling natural?"

​Nadine melangkah maju kembali menyusuri koridor, menuju ke arah pintu kamar pribadinya di sayap barat tanpa berniat membalikkan tubuhnya sedikit pun.

​"Itu dilakukan demi mengamankan posisi ayah Anda sebagai komisaris utama, yang artinya juga mengamankan kelancaran pembayaran aliran dana investasi saya di rumah ini, Tuan Ernest. Jadi, jangan pernah mengira sentuhan tangan tadi memiliki nilai emosional di luar draf kalkulasi bisnis kita."

​Kyle tidak tetap diam di tempatnya berdiri. Langkah kakinya yang berat dan berbobot terdengar bergerak konstan, mengikuti Nadine dari belakang dengan ritme yang teratur. Pria beraura es itu menolak untuk diusir atau diabaikan begitu saja malam ini.

​"Kamu selalu punya jawaban rasional untuk membantah setiap percikan kedekatan di antara kita, Nadine."

​Nadine menghentikan langkah kakinya tepat di depan daun pintu kayu jati kamarnya. Ia membalikkan tubuh anggunnya dengan gerakan memutar yang cepat, menatap Kyle dengan sepasang mata indahnya yang menajam sedingin es utara.

​"Karena rasionalitas adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan saya dari kehancuran batin, Pak Kyle. Saya tidak tertarik untuk terlibat dalam permainan ego pria tsundere yang sedang bosan dengan rutinitas kantornya."

​Kyle memajukan tubuh tegap maskulinnya satu langkah, memotong jarak fisik yang tersisa di antara mereka hingga hembusan napas hangatnya menyentuh permukaan dahi Nadine. Sepasang mata tajam kelabunya mengunci manik mata Nadine dengan intensitas ketertarikan yang kian menebal, mengabaikan topeng keangkuhan wajah esnya yang selama ini selalu ia agungkan.

​"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa ini bukan lagi tentang permainan ego atau rutinitas kantor, Nadine? Bagaimana jika aku mulai benar-benar menyukai keberadaan istriku yang keras kepala dan bermulut tajam ini di dalam rumahku?"

​Pertanyaan yang teramat rendah, serak, dan dipenuhi oleh pengakuan jujur yang sangat langka itu menggantung di udara koridor sayap barat yang sunyi.

​Nadine tertegun diam di ambang pintu kamarnya sendiri. Detak jantungnya mendadak berdegup kencang, menghadirkan sensasi hangat yang asing dan sangat berbahaya bagi dinding pertahanan logikanya.

​{Bagaimana mungkin debaran ini terasa begitu bising di tengah koridor yang sunyi ini? Pria ini... apakah keangkuhan esnya benar-benar sudah mencair sepenuhnya hingga berani melayangkan pengakuan seintim ini? Tidak, Nadine Lavena. Jangan biarkan dinding logikamu runtuh hanya karena retorika sesaat dari seorang predator yang sedang goyah.}

​Nadine menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat goyah dengan sangat cepat. Ia memutar tubuhnya, menjangkau gagang pintu kamar jati, lalu memutar anak kunci dengan bunyi klik yang nyaring di tengah kesunyian malam.

​"Pertanyaan Anda tidak masuk ke dalam draf operasional kontrak kita, Pak Kyle. Selamat malam."

​Nadine menutup pintu kamarnya dengan rapat, membiarkan bunyi kunci kuningan yang memutar dari dalam menjadi jawaban akhir yang membekukan sisa malam di koridor sayap barat rumah Menteng.

​Keesokan paginya, sekitar pukul enam lewat tiga puluh menit, aroma tanah basah sisa gerimis tipis yang mengguyur sejak subuh memenuhi udara di sekitar area luar pagar belakang rumah mewah Menteng milik Kyle Ernest. Kabut tipis pagi hari masih menggantung rendah di udara yang dingin, membasahi dedaunan hijau dari pohon-pohon mahoni besar yang tumbuh rindang di seberang jalanan kompleks elit yang masih sunyi sepi tersebut.

​Di bawah rimbunnya dedaunan mahoni yang basah, sebuah minibus sewaan berwarna hitam gelap terparkir dengan sangat tenang di sudut bahu jalan yang temaram. Seluruh kaca jendela mobil tersebut dilapisi oleh lapisan film hitam yang teramat pekat, menyembunyikan dengan sempurna aktivitas mencurigakan yang sedang berlangsung di dalam kabin kemudi yang berbau pengap sisa asap rokok dan parfum kopi murah.

​Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan topi pet yang ditarik rendah duduk di kursi tengah minibus. Di dalam genggaman tangannya yang kasar, sebuah kamera DSLR profesional dengan lensa tele jarak jauh berukuran raksasa sudah terpasang kokoh di atas tripod kecil yang disandarkan pada celah jendela mobil yang dibuka sedikit. Moncong lensa kamera yang panjang itu lurus mengarah ke arah deretan jendela kaca besar di lantai dua sayap barat dan sayap timur rumah Menteng.

​Jemari pria sewaan Kinara Inka itu bergerak dengan sangat lincah, memutar cincin fokus digital pada lensanya untuk menangkap visual bersih dari lantai dua rumah target. Pada layar digital kameranya, terpampang gambar Kyle Ernest yang baru saja keluar dari kamar tidur sayap timurnya dengan mengenakan jubah mandi kasual berwarna abu-abu gelap, berjalan sendirian menyusuri koridor menuju ruang kerja pribadinya yang terpisah sangat jauh dari area kamar tidur utama milik Nadine Lavena di ujung sayap barat bangunan.

​Cekrek! Cekrek! Cekrek!

​Suara rana kamera yang teredam dengan sangat rapi oleh peredam busa di dalam kabin minibus terus berbunyi konstan, menangkap puluhan dokumentasi visual eksklusif mengenai aktivitas harian yang terpisah total di antara pasangan suami istri yang paling viral di media massa tersebut sepanjang pagi hari itu.

​{Sempurna. Foto-foto ini menunjukkan dengan tingkat akurasi yang mutlak bahwa mereka tidak pernah berbagi ruang privat yang sama di dalam rumah mewah ini setelah jam kerja media selesai. Tidak ada interaksi mesra, tidak ada keharmonisan, murni dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap bangunan demi kepentingan dokumen kontrak.}

​Fotografer bayaran itu menarik sudut bibirnya culas sembari memeriksa kembali hasil jepretan gambarnya di layar LCD kamera, merasa sangat yakin bahwa data visual yang berhasil ia kumpulkan pagi ini akan menjadi bahan peledak skandal penipuan publik terbesar yang akan meruntuhkan posisi tawar Kyle Ernest di hadapan dewan direksi oposisi Ernest Group dalam waktu dekat.

​Namun, di tengah-tengah rasa puas pria sewaan tersebut, sepasang mata tajam dari kepala tim keamanan internal rumah Menteng seorang mantan anggota pasukan khusus yang sengaja disewa oleh Nadine Lavena untuk menjaga keamanan perimeter luar rumah ternyata sudah mendeteksi keberadaan minibus hitam mencurigakan itu sejak pertama kali terparkir.

​Di dalam ruang kontrol keamanan di lantai bawah tanah rumah Menteng, monitor-monitor besar menampilkan visual dari kamera pengawas CCTV termal berteknologi tinggi yang terpasang tersembunyi di balik ornamen lampu pagar luar rumah. Sensor inframerah pada kamera tersebut menangkap tanda panas tubuh manusia di dalam minibus hitam dengan presisi koordinat yang sangat akurat, merekam balik seluruh aktivitas pengintaian kotor tersebut tanpa disadari sedikit pun oleh sang fotografer bayaran dari balik rimbunnya dedaunan pohon mahoni yang basah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!