Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekonyolan Mentari
"Kakak benar-benar gila." Revalina mengacungkan dua jempolnya.
"Itu bukan seberapa Va. Kakak ga mau ya liat kamu di tindas lagi, ngerti," ucap Mentari sambil memegang dua bahu Revalina.
"Iya," ucap Revalina ragu.
"Kakak kemana si tadi?" tanya Revalina.
"Kakak kerja lah cari uang. Nanti kalo kakak punya uang, kita keluar dari rumah ini," jelas Mentari sambil berjalan ke kamar mandi.
Revalina tau Mentari masuk ke kamar mandi, ia buru-buru masuk dalam selimut pura-pura tidur. Revalina takut paginya disuruh membersihkan rumah. Hingga telat seperti beberapa hari ini, nasib sial selalu mengikutinya.
"Loh, lo ngapain tidur disini Va." Mentari mencoba membangunkan Revalina sudah dalam mimpinya.
Tak ada jawaban dari Revalina, Mentari bergegas mengarungi mimpi indahnya. Di pagi hari Jesica buru-buru masuk ke dalam kamar Revalina. Ternyata saat masuk tidak ada keberadaan Revalina.
"Kabur kemana anak itu," gerutu Jesica sambil membuka pintu kamar mandi.
Ternyata tidak ada juga, emosi Jesica semakin menjadi-jadi. Keluar dari kamar Revalina, ia sedikit ragu masuk ke dalam kamar Mentari. Bahwasannya Mentari bisa ngamuk jika dibangunkan sepagi ini. Perlahan Jesica membuka pintu kamar Mentari, ternyata ia melihat Revalina sedang tidur cantik.
Jesica mendekati Revalina, menggoyang-goyangkan tubuhnya agar cepat bangun. Karena merasa terganggu ulah Jesica, Revalina mencoba membuka matanya.
"Sialan, Nenek lampir ini pagi-pagi udah bangunin gue. Percuma juga gue pindah tidur disini," gerutu Revalina dalam hati.
Jesica memberi kode agar diam tidak berisik takut Mentari bangun sambil menaruh jari telunjuknya dibibir.
"Di kira bocah kecil ini bisa kabur dari aku," batin Jesica tertawa dalam hati.
Revalina dengan terpaksa bangun dari tidurnya, dengan lambat Revalina menurunkan kakinya. Revalina mencoba membangunkan Mentari tanpa membuat Jesica marah. Revalina berpikir keras menatap Jesica dengan rasa takut.
"Aduh, perut ku," ucap Revalina sambil memegangi perutnya.
Mentari mendengar Revalina bersuara langsung bangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa Va?" tanya Mentari belum menyadari jika ada Jesica.
Jesica hanya menekan ludahnya dengan kasar, pandangan Mentari sangat mengintimidasi.
"Tante pagi-pagi disini ngapain." selidik Mentari.
"Kamu kenapa Va?" lanjutnya lagi.
"Nggak pa-pa kak, mau ke toilet," kilah Revalina mencari aman.
"Kalian itu bangun sudah pagi," ketus Jesica.
Mentari mengambil ponselnya di meja,"Astaga Tan, masih jam 03.30. Terlalu pagi untuk saya bangun," sungut Mentari.
"Kalian itu harus bersih-bersih dirumah ini. Karena tidak ada pembantu dirumah ini," terang Jesica.
"Suruh siapa Tante pecat mereka," jawab Mentari santai lalu naik ke ranjangnya lagi.
"Kamu itu ya! nggak tau diri. Udah numpang nggak mau bersihkan rumah," jelas Jesica sambil menarik tangan Mentari hingga terjatuh di bawah ranjang.
"Kakak!" teriak Revalina dengan dramatis.
Revalina berlari mendekati Mentari mencoba membangunkannya. Mentari bangun lalu berjalan mendekati Jesica dengan tatapan membunuh.
"Usir saya sekarang juga!" teriak Mentari.
"Tidak segampang itu saya mengusir kamu." Jesica terkekeh."Kamu itu adalah hiburan ku, jika kalian berdua pergi. Nanti saya tidak punya mainan," lanjutnya.
"Bangs*t!" Mentari hendak menjambak rambut Jesica.
"Udah kak, jangan kak jangan." Revalina mencoba melerai dan menahan tubuh Mentari.
Jesica tertawa sangat keras membuatnya bahagia mampu membuat anak tirinya marah. Saat Revalina lengah Mentari menendang kaki Jesica hingga terjatuh.
"Mampus lo," ucap Mentari penuh kemenangan.
Mentari keluar kamar pindah ke kamar Revalina untuk tidur kembali, Revalina mengikuti Mentari dari belakang. Jesica meringis kesakitan untuk berdiri saja susah, akhirnya Jesica menelepon Leo agar cepat membantunya.
"Astaga sayang, kamu kenapa?" tanya Leo panik.
"Ini gara-gara anak kamu, tendang aku sampai jatuh," sungut Jesica.
"Dimana mereka. Biar aku kasih pelajaran!" teriak Leo penuh emosi.
"Dikamar sebelah," ucap Jesica manja."Bantu aku dulu," lanjutnya.
Leo membantu Jesica berdiri,"Aauu sakit." Jesica berpura-pura.
"Apa kaki mu kekilir?" tanya Leo penuh kepanikan.
"Antar aku ke kamar sayang," titah Jesica.
Leo pun menuruti sang istri lalu mengangkatnya, menggendong ala bridal style. Sampai di kamar Leo menurunkan dengan perlahan, takut menyakiti Jesica.
"Mau kemana?" tanya Jesica.
"Mencari keberadaan dua anak itu. Akan ku beri pelajaran," ucap Leo kesal.
Leo berjalan menaiki anak tangga dengan cepat, ia gedor kamar Revalina yang ternyata di kunci oleh mereka.
"Mentari! Reva! buka," teriak Leo bergantian menyebut nama anaknya.
"Atau aku dobrak, pintu ini!" lanjut Leo tak kalah sengit berteriak.
Mentari di dalam kamar dengan santainya tetap memejamkan matanya. Revalina sudah panik takut sang ayah ngamuk ga jelas ingin sekali membuka pintu tapi takut dia yang jadi sasaran.
"Udah nggak usah di buka, biarin aja nanti kalo capek juga diem. Mana mungkin pria tua itu mendobrak pintu kamar," jelas Mentari.
"Lalu besok pagi gimana kak?" tanya Revina.
"Jam berapa sekarang?" Mentari tanya balik.
Revalina mengambil ponselnya."Jam 04.30 kak, kenapa?"
"05.30 kamu udah siap ya, kita berangkat pagi ke sekolahnya. Aku jamin jam segitu Nenek Sihir belum bangun tidur. Aku tidur bentar, 30 menit lagi bangunin aku ya," titah Mentari.
"Derita banget si nasib gue," gumam Revalina langsung menyetel alarm.
1 jam kemudiaan Mentari dan Revalina sudah siap berangkat sekolah.
"Va buruan! lama kali," gerutu Mentari.
"Sabar kak, ini lagi pakai dasinya."
"Aku tinggal yah," ejek Mentari.
"Jangan gitu dong kak." suara Revalina hampir menangis.
"Apaan si lo, cinggeng banget." Mentari berkacak pinggang.
"Ayo kak udah siap," ucap Revalina menutup pintunya dengan pelan.
"Jangan bersuara kita harus buru-buru keluar, dari neraka ini," Gerutu Mentari.
Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu, dan ternyata pintu masih di kunci oleh Jesica.
"Aduh gimana ini kak?" Revina panik.
"Ayo kita masuk kedalam kamarnya, ambil kuncinya." Mentari dengan semangat.
"Aku nggak berani kak."
"Ah, lemah kamu." Mentari mulai melangkahkan kakinya.
"Kamu jaga pintu ya, biar aku masuk," ucap Mentari dengan pelan.
Mentari membuka pintu kamar Jesica dan Leo, dengan pelan dan pasti.
"Ya, Tuhan. Bantu Mentari," gumam Mentari dengan pelan.
Mentari berjalan dengan hati-hati, Revalina menunggu di depan pintu kamar. Mentari sudah menemukan kunci di atas meja rias Jesica, ia sangat senang. Tak sengaja Mentari menyenggol benda di meja rias.
Prang...
Mentari langsung mentiarapkan badannya agar tidak ketahuan, Jesica dan Leo pun tak bergerak sama sekali. Mentari merangkak dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan. Diluar kamar Mentari mengusap dadanya dengan dramatis.
"Huh, hampir saja." Revalina selalu panik.
"Lemah kamu," cicit Mentari.
Lalu mereka berdua berjalan cepat menuju ruang tamu, akhirnya pintu terbuka Mentari dan Revalina tertawa bahagia.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu