Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Orang Kaya dari Kalimantan
“Dokter Ardi, ini Hartono Harahap. Saya ingin berterima kasih secara pribadi. Bisakah kita bertemu?”
Ardi berdiri di koridor RSUD Soetomo, masih memegang kartu nama Yuni di satu tangan dan ponsel di tangan lain.
Ia belum tidur sejak semalam. Di kepalanya masih ada bunyi monitor Livi, wajah Rania yang menangis di depan cermin, dan angka biru Sistem Modifier yang kini diam di sudut pandangnya.
Poin Modifikasi: 20 PM.
Uang di dompetnya belum sampai Rp 300.000, tapi di dalam sistem ia punya modal yang tidak bisa dilihat siapa pun.
“Pak Hartono,” kata Ardi, menjaga suaranya tetap formal, “Livi masih di ICU. Saya rasa Bapak lebih baik tetap di rumah sakit.”
“Saya sudah di rumah sakit,” jawab Hartono. “Dokter Fajar bilang kondisi Livi stabil. Saya tidak akan lama. Ada tempat makan kecil di seberang jalan, dekat parkiran lama. Saya tunggu di sana kalau Anda berkenan.”
Ardi diam sebentar.
Ia membayangkan Hartono di restoran hotel, ruang VIP, pengawal, meja panjang, dan kalimat-kalimat besar yang membuat orang kecil merasa harus menunduk. Tapi tempat makan kecil di seberang rumah sakit?
Itu bukan cara orang kaya pamer.
Itu cara orang kaya yang sengaja menurunkan jarak.
“Baik, Pak. Saya ke sana.”
Dokter Fajar muncul dari ruang tindakan, melihat wajah Ardi, lalu mengangkat alis. “Hartono?”
Ardi mengangguk.
“Pergi saja. Tapi jangan terlalu lama. Kamu masih harus hidup sampai sore.”
“Pak Fajar juga belum tidur.”
“Saya kepala IGD. Kurang tidur itu sudah termasuk tunjangan jabatan.” Fajar melirik ponselnya, lalu suaranya menjadi lebih serius. “Ardi, hati-hati menerima bantuan. Orang seperti Hartono punya jaringan besar. Bantuan mereka bisa jadi pintu, bisa juga jadi tali.”
Ardi menyimpan kartu Yuni ke dompet. “Saya tahu.”
“Tapi kalau dia tulus, jangan sok kuat sendiri.”
Kalimat itu membuat Ardi berhenti.
Fajar tidak menatapnya seperti atasan. Ia menatapnya seperti orang yang tahu betapa mahalnya harga berdiri sendirian.
Ardi mengangguk pelan. “Saya akan ingat.”
Warung makan itu berada di sudut jalan, beratap seng, dengan kipas angin dinding yang berputar malas. Aromanya sederhana: nasi panas, soto ayam, kopi hitam, dan minyak goreng yang sudah terlalu lama dipakai. Beberapa keluarga pasien duduk dengan mata lelah, makan tanpa banyak bicara.
Di meja paling belakang, Hartono Harahap duduk tanpa pengawal di sampingnya.
Kemejanya sudah diganti, tapi wajahnya masih menunjukkan malam panjang. Di atas meja ada dua gelas teh tawar panas. Tidak ada menu mahal. Tidak ada ruang privat.
Ketika Ardi datang, Hartono berdiri.
“Dokter Ardi.”
“Pak Hartono.”
Mereka berjabat tangan.
Genggaman Hartono kuat, tapi kali ini tidak menekan. Ia menunjuk kursi. “Silakan. Saya pesan teh tawar. Kalau Anda mau makan, pesan apa saja.”
Perut Ardi sebenarnya kosong, tapi ia belum yakin bisa menelan. “Teh cukup, Pak.”
Hartono mengangguk pada penjaga warung, lalu menunggu sampai mereka berdua benar-benar tidak terganggu.
“Livi membuka mata sebentar tadi,” katanya.
Ardi menatapnya. “Respons neurologis?”
“Dokter ICU bilang baik. Dia belum bisa bicara banyak, tapi dia menekan tangan saya.” Hartono menunduk pada gelas teh. “Tangannya kecil sekali. Semalam saya pikir... saya pikir saya akan kehilangan dia.”
Suara pria itu pecah di bagian akhir.
Ardi tidak menyela.
Ia tahu bagaimana rasanya menahan dunia dengan satu foto anak di dompet. Hartono punya tambang, kebun, perusahaan, orang-orang yang menunggu instruksinya. Tapi ketika anaknya terbaring di meja operasi, semua itu menyusut menjadi satu tangan kecil yang masih mau menggenggam.
“Ibunya Livi meninggal lima tahun lalu,” lanjut Hartono. “Sejak itu, dia satu-satunya rumah saya.”
Ardi menunduk sedikit. “Saya turut berduka.”
“Saya dengar Anda punya dua anak.”
Jari Ardi berhenti di sisi gelas.
Hartono tidak pura-pura tidak tahu. Orang seperti dia pasti sudah melakukan pengecekan dasar. Namun cara ia mengatakannya tidak seperti penyidik.
“Gatra dan Sari,” kata Ardi.
“Mereka tinggal dengan ibu mereka?”
“Untuk sekarang.”
Hartono menangkap jeda itu. “Untuk sekarang.”
Ardi mengangkat mata. “Saya akan mengambil mereka kembali lewat jalur hukum.”
“Hak asuh?”
“Ya.”
Hartono bersandar perlahan. “Saya dengar Anda pernah masuk penjara.”
Kalimat itu tidak tajam, tapi tetap membuat udara di antara mereka berubah.
Ardi sudah terlalu sering mendengar kata itu sebagai hinaan. Dari mulut Hendro, dari pesan Dewi, dari bisik-bisik koridor. Namun Hartono mengucapkannya seperti fakta yang perlu ditempatkan di meja sebelum mereka bicara lebih jauh.
“Saya pernah dipenjara,” kata Ardi. “Tapi saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan.”
“Malpraktik?”
“Kasusnya dibuat tampak seperti itu. Bukti yang meringankan hilang. Kesaksian berubah. MKEK memberi rekomendasi buruk. Setelah itu SIP saya dicabut dan jaksa membawa kasus ke pengadilan.”
Hartono diam.
Ardi melanjutkan, kali ini suaranya lebih rendah. “Orang yang berada di baliknya adalah Rangga Pradana. Dia juga dekat dengan mantan istri saya.”
Nama Rangga membuat mata Hartono menyipit sedikit.
“Surya Pradana punya anak bernama Rangga.”
“Orang yang sama.”
Di meja sebelah, seorang bapak tua menyeruput soto. Sendok beradu dengan mangkuk. Suara kecil itu terasa aneh di tengah pembicaraan yang tiba-tiba membuka luka lama.
Hartono mengaduk teh tanpa meminumnya. “Saya tidak suka ikut urusan rumah tangga orang. Tapi saya sangat tidak suka orang memakai hukum untuk menghancurkan hidup orang lain.”
Ardi menatapnya. “Pak Hartono, saya tidak minta Bapak berperang untuk saya.”
“Saya juga tidak menawarkan perang.”
Hartono mengeluarkan satu kartu dari dompet kulit hitam. Kartu itu sederhana, hanya nama firma hukum dan nomor langsung.
“Pengacara keluarga saya di Surabaya. Mereka biasa menangani sengketa perusahaan, pidana bisnis, dan perkara keluarga tingkat tinggi. Saya sudah minta mereka meninjau kemungkinan pemulihan nama Anda, pembukaan kembali berkas, dan persiapan hak asuh anak.”
Ardi tidak langsung mengambil kartu itu.
Utang pengacaranya Rp 200 juta saja sudah menjerat leher. Firma hukum keluarga Hartono pasti bernilai berkali-kali lipat.
“Saya tidak bisa membayar mereka sekarang.”
Hartono menatapnya lurus. “Saya tidak meminta Anda membayar.”
“Saya juga tidak mau menjadi orang yang berutang budi tanpa batas.”
Untuk pertama kalinya, Hartono tersenyum tipis.
“Bagus. Itu artinya Anda bukan penjilat.” Ia mendorong kartu itu sedikit. “Anggap ini bukan utang. Anggap ini jembatan. Anda menyelamatkan anak saya bukan karena saya kaya. Anda bahkan tidak tahu siapa saya saat masuk ruang operasi. Jadi saya membantu Anda bukan karena ingin membeli Anda.”
Ardi menatap kartu itu.
Nama firma tercetak rapi: Kantor Hukum Prabowo & Rekan.
Sebuah jembatan.
Selama dua tahun, semua pintu tertutup dari dalam. Sekarang seseorang meletakkan kunci di atas meja, dan Ardi harus cukup waras untuk tidak menolaknya hanya demi gengsi.
Ia mengambil kartu itu.
“Terima kasih, Pak Hartono.”
“Ada satu lagi.” Hartono mengeluarkan ponsel. “Sekretaris saya sudah menghubungi kantor Dinas Kesehatan. Bukan untuk memaksa. Hanya menanyakan prosedur yang benar agar SIP Anda tidak tertahan karena gosip lama.”
Ardi menahan napas.
SIP.
Satu lembar izin itu memisahkan dirinya dari posisi dokter yang hanya boleh membantu dan dokter yang bisa berdiri penuh atas nama sendiri.
“Pak Hartono, itu...”
“Dokter Fajar juga akan menyiapkan rekomendasi medis. Saya hanya memastikan surat itu sampai ke meja yang tepat, bukan hilang di laci orang yang takut pada nama Pradana.”
Nama Pradana diucapkan tanpa emosi, tapi Ardi mendengar bobotnya.
Hartono bukan Hendro yang bersembunyi di balik jabatan kecil. Hartono bergerak melalui jalur resmi, tapi jalur resmi yang dibersihkan dari tangan-tangan kotor.
“Saya tidak bisa menjanjikan hasil,” kata Hartono. “Tapi saya bisa menjanjikan proses yang adil.”
Untuk beberapa detik, Ardi tidak berkata apa-apa.
Proses yang adil.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagi orang yang pernah dihancurkan oleh proses palsu, keadilan bukan kata besar. Keadilan adalah meja yang tidak dimiringkan sebelum permainan dimulai.
“Itu sudah cukup,” kata Ardi akhirnya.
Hartono mengangguk. “Kalau suatu hari Anda perlu bicara tentang anak-anak Anda, pengacara saya akan mendengar. Kalau Anda perlu dokumen medis lama, kami cari jalurnya. Kalau ada orang menekan Anda di rumah sakit, beri tahu Dokter Fajar dulu. Kalau tidak selesai, beri tahu saya.”
Ardi hampir tertawa kecil. “Pak Hartono membuatnya terdengar mudah.”
“Tidak mudah. Tapi lebih mudah kalau Anda tidak sendirian.”
Kata-kata itu masuk lebih dalam daripada yang Ardi duga.
Ia memikirkan Gatra di balik pintu rumah Ibu Sumiati. Suara kecil yang memanggil “Ayah?” lalu menghilang. Ia memikirkan Sari yang mungkin bahkan tidak mengerti mengapa ayahnya tidak pernah datang menjemput.
Di sakunya, foto anak-anak terasa seperti punya berat sendiri.
“Saya akan menjemput mereka,” kata Ardi, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hartono.
Hartono tidak memberi nasihat kosong. Ia hanya berkata, “Kalau Anda mencintai mereka seperti saya mencintai Livi, maka Anda akan menang. Tidak cepat. Tapi Anda akan menang.”
Ponsel Ardi bergetar.
Kali ini dari Dokter Fajar.
Ardi mengangkat. “Pak?”
Suara Fajar tidak lagi santai.
“Ardi, kembali ke IGD sekarang. Ada kecelakaan di jalan luar kota. Korban utama pejabat Dinas Kesehatan Jawa Timur. Kondisinya buruk. Ambulans kita diminta jemput ke lokasi.”
Ardi berdiri begitu cepat sampai kursinya berderit.
Di saat yang sama, panel biru Sistem Modifier menyala di tepi pandangnya.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Misi Baru Terdeteksi!】 ║
║ Misi Lapangan: Detik-detik di Jalan║
║ ║
║ Target: Stabilkan korban trauma ║
║ sebelum tiba di RSUD Soetomo ║
║ ║
║ Hadiah: 20 PM + Bonus Pembuka ║
║ Batas Waktu: 90 menit ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi menutup telepon, lalu menatap Hartono. “Maaf, Pak. Saya harus pergi.”
Hartono ikut berdiri.
“Selamatkan dia, Dokter.”
Ardi menyimpan kartu firma hukum ke dompet, tepat di belakang foto Gatra dan Sari.
“Itu rencananya.”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭