Ibu adalah orang yang paling bisa mengerti dan mengenal tentang kita. Tak ada cinta yang sekuat Cinta ibu. Kasih sayangnya begitu tulus sampai tak ada yang bisa menandinginya.
Novita adalah wanita paruh baya yang berstatus single parent, dia menghidupi kedua anak-anaknya seorang diri. Masalah dalam hidupnya datang silih berganti tak ada hentinya. Namun dia selalu berusaha sabar dan tegar untuk menghadapi semua masalah yang menimpanya. Baginya pengalaman adalah sebuah pelajaran berharga untuk dirinya.
Tapi hati ibu mana yang tak hancur ketika kedua anaknya berani untuk membenci ibunya sendiri. Akankah mereka sadar betapa besarnya kasih sayang yang tulus dari sang ibu? Bisakah Novita bertahan dan menyadarkan kedua anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas, walaupun di balas dengan kebencian?
Yuk berkelana dalam kisah hidup Novita bersama-sama😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yessie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesekolah
Sambil menghela nafas Raditya bergumam, “Cantika, aku harus bagaimana lagi memberikanmu pengertian mengenai meninggalnya ayah? Huft, semoga besok di saat dia sudah dewasa nanti, dia akan mengerti.”
Tepat pukul dua belas malam Novita pun pulang dari kerja.
Cklek!
“sepertinya anak-anak sudah pada tidur semua.” Ucap Novita dari dalam hati sembari melepas jaketnya.
Novita berjalan menuju ke kamar Cantika. Dia masuk lalu duduk di tempat tidur putrinya itu.
“ternyata peri kecilku sudah tidur. Emuch.” Gumam Novita sambil menyelimuti cantika yang sudah tertidur pulas.
Setelah itu novita mendatangi kamar Raditya.
Tok, tok, tok,
Cklek,
“loh, kamu belum tidur nak?”
“belum bu. Aku sedang belajar, karena besok ada ulangan.”
“tapi ini kan sudah malam sayang.”
Raditya hanya memperlihatkan senyumannya.
“lebih baik sekarang istirahat. Ini sudah jam dua belas lewat lima belas menit loh nak. Ibu rasa sudah cukup kamu belajarnya.”
“baik bu, raditya akan tidur sekarang.”
“tidur yang nyenyak ya sayang. Semoga besok kamu bisa mengerjakan soal ujiannya.”
“aamiin, makasih ya bu untuk doanya.”
Setelah itu, Raditya mendadak langsung memeluk ibunya. Dia menangis, sambil berkata, “ibu, Radit sangat menyayangi ibu.” Tutur Raditya.
“hey, hey, kamu kenapa kak? Kamu baik-baik sajakan?” tanya Novita terheran.
“aku baik-baik saja ibu. Aku hanya merasa kalau perjuangan ibu selama ini begitu besar untukku dan Cantika.” ujar Raditya.
“radit, ibu kasih tahu. Radit nggak usah memikirkan apapun tentang ibu. Radit cukup belajar dengan tekun agar menjadi anak yang hebat. Itu saja yang ibu mau. Biarkan ibu melakukan kewajiban dan tugas ibu nak. Karena semua itu sudah menjadi tanggung jawab ibu sayang.”
“baik ibu.”
“sekarang lebih baik, kamu tidur. Lagi pula besok kamu ujian kan?”
“iya bu.”
“ibu juga sayang sama kakak dan Cantika.”
Novita berusaha tegar di hadapan anak sulungnya itu. Dengan maksud dia tidak ingin melihat anaknya bersedih.
Ia kemudian keluar setelah melihat raditya merebahkan tubuhnya di tempat tidur .
Dari balik pintu kamar raditya, Novita berdiri sambil menundukkan kepalanya lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“hisk… hisk… hisk… tak kuasa aku mendengarkan apa yang baru saja Raditya ungkapkan. Aku memang sengaja berusaha tegar di hadapan anak-anakku, karena aku tidak ingin melihat mereka bersedih, walau hati ini masih rapuh setelah kepergiannya mas Kalendra. Aku juga berusaha menyembunyikan kesedihanku. Begitu berat rindu ini dengan kasih sayang yang selama ini dia berikan kepada ku. Tuhan, luaskanlah kesabaran hati ini agar aku bisa terus tegar menghadapi segala ujian yang kau berikan. Luruskan lah setiap langkahku mencari rezeki agar aku bisa menghidupi kedua anak-anakku. Kuatkan raga dan jiwaku dalam menjalani kehidupan yang sangat keras ini Tuhan.”
Tak terasa air matanya pun keluar membasahi pipinya. Novita juga menangis semalaman di kamarnya hingga membuat dirinya susah untuk tidur.
Tanpa dia sadari matahari mulai memperlihatkan cahayanya. Dia kemudian pergi ke dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk anak-anaknya.
“semua sudah siap, sebaiknya aku bangunkan anak-anak. Astaga, aku lupa kalau Raditya hari ini akan ujian.” Ucapnya dari dalam hati.
Ia kemudian bergegas pergi menuju ke kamar raditya lalu mengetuk pintu kamarnya.
Tok, tok, tok,
“kak, ini sudah siang. Katanya kakak ada ujian hari ini.”
“iya bu,” jawab raditya.
Raditya kemudian membuka pintu kamar.
“loh, kok kamu sudah siap untuk berangkat kak? Kapan bangunnya?”
“sebenarnya aku sudah bangun lalu mandi dari tadi waktu ibu sedang menjemur pakaian di depan.”
“owh, ya sudah sekarang kamu sarapan dulu nak.”
“baiklah bu,.”
“ibu akan membangunkan Cantika dulu ya kak.”
“iya bu.”
Novita lalu pergi menuju ke kamar anak bungsunya.
“cantika, bangun sayang.”
“hem,”
“bangun, ini sudah siang nak.”
“iya.”
“kakak sudah sarapan tuh. Sebentar lagi mau berangkat.”
“apa!” pekik cantika yang kemudian bergegas bangun dan beranjak dari tempat tidur.
Setelah itu dia mengambil handuk dan pergi menuju ke kamar mandi.
“minggir, minggir, aku mau mandi.” Ucap Cantika mengusir ibunya.
Novita hanya terdiam sambil mengelus dada.
Tak lama Cantika selesai mandi.
“kak, tunggu aku sebentar ya. Nih aku baru pakai seragam.” Teriak Cantika dari kamarnya.
“hem.” Jawab Raditya.
Novita duduk di kursi meja makan berhadapan dengan anak sulungnya pagi itu. Raditya mulai memperhatikan wajah ibunya. Di merasa ada yang aneh dengan ibunya yang tidak seperti biasanya.
“ibu, wajah ibu terlihat sangat pucat? Apa ibu sedang sakit?” Tanya Raditya.
Novita hanya memperlihatkan senyuman beratnya.
“ibu?” panggil Raditya.
“tidak nak, ibu tidak sakit. Ibu baik-baik saja. Habiskan makananmu. Tunggu adikmu sebentar ya. Berangkat lah bersamanya.” Pinta Naovita.
“baik bu. Aku akan menunggu Cantika lalu mengantarkannya ke sekolah.”
“terimakasih ya kak.”
“tapi, ibu benar tidak apa-apa?” Tanya Raditya yang khawatir.
“iya, ibu baik-baik saja kak.”
Tak lama Cantika keluar dari kamar.
“kak, aku sudah siap. Berangkat sekarang yuk.”
“sarapan dulu.”
“tapi ini sudah siang kak. Nanti kita terlambat?”
“sudah diam, lebih baik sekarang kamu sarapan dulu.”
“alah kak, biar nanti Cantika sarapan di luar saja kak. Lagi pula menunya juga masih itu-itu saja.” Cakap Cantika.
“Cantika?!” bentak Raditya.
Novita kemudian melirik ke arah Raditya meminta agar dia meredakan emosinya, karena Novita tidak ingin melihat anak-anaknya bertengkar.
“Cantika sayang, ibu memasak nasi goreng kesukaan kamu loh nak. Sebaiknya kamu coba dulu."
Cantika tiba-tiba pergi menuju ke rak piring dan mengambil tempat makan. Ia kemudian menuangkan nasi goreng itu di tempat makan untuk di bawa ke sekolahan.
“nih, aku akan makan di sekolahan saja nanti kak. Aku akan tunggu kakak di depan.”
“ya!”
Cantika lalu berjalan menuju ke depan pintu rumah.
“eh cantika,”
“apa lagi sih kak? Ini sudah siang. Ayuk berangkat sekarang!”
“kamu nggak mau berpamitan sama ibu dulu?” sindir Raditya.
Dengan merasa terpaksa Cantika pun berbalik dan mencium punggung tangan ibunya.
“owh, emang gitu ya cara kamu berpamitan sama orang tua?”
“Cantika berangkat bu.”
“hati-hati di jalan ya sayang.”
Novita terharu melihat sikap Cantika yang begitu sopan pagi itu. Dia lalu memeluk putrinya sangat erat. Tidak seperti biasanya.
Selesai memeluk Cantika, Radit pun juga berpamitan kepada ibunya.
“Radit berangkat dulu ya bu.”
“iya kak. Jaga adikmu ya. Kalian hati-hati berangkatnya.”
“iya bu.” Jawab Raditya.
Sedangkan Cantika langsung saja pergi seusai berpamitan kepada Novita.
Semenjak kematian Kalendra, Cantika menganggap Raditya itu tidak hanya sebagai kakak tetapi ayah untuk dirinya. Dia begitu sangat menyayangi kakaknya karena selama ini dia dekat dengan kakaknya di bandingkan dengan Novita.
Apa lagi dia sangat mematuhi perkataan atau pun perintah kakaknya dari pada ibunya sendiri. Dia justru sangat takut kalau kakaknya sampai marah kepada dirinya.
Dalam perjalanan menuju ke sekolah.
“Cantika,”
“iya kak?”
“kenapa sih kamu seperti itu sama ibu?”
“maksud kakak?”
“kenapa kamu tidak menyayangi ibu?” Tanya Raditya.
Cantika hanya terdiam. Dia enggan membahas soal ibunya.
bersambung...