Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-013
Semua orang menatap wajah Khafi. Mereka menunggu kata kata keluar dari mulutnya. Bahkan seorang wanita yang sedang mengupas buah di ruangan makan ikut mendongakkan lehernya ke arah ruangan keluarga, menunggu sebuah kalimat keluar dari mulut Khafi.
“Abi kenapa pertanyaannya seperti itu? Nggak tau ah, Khafi nggak mau jawab lagi. Minta pendapat dengan orang yang baru Khafi kenal. Khafi mau mandi.” Khafi hendak keluar dari ruangan itu.
“Duduk,” satu kata ucapan Umar membuat Khafi kembali duduk. “Sebentar lagi Bilal dan istrinya akan tiba disini. Sebelumnya Abi dan Bilal sudah pernah mengusulkan agar kamu dan Ariqah dijodohkan. Ariqah anak yang sholehah. Dia gadis yang baik dan pintar, abi setuju saja karena tidak ada jeleknya jika kamu langsung ta’aruf dengannya,” lanjut Umar.
“Ta’aruf?” Mata Khafi sedikit terbelalak mendengar kata ta’aruf yang diucapkan abinya. Kepala Khafi yang tadinya tertunduk langsung mendongak ke arah Umar. “Abi Khafi,” ucapannya terhenti.
“Kamu dengar dulu penjelasan abi, jika masuk akal maka kamu setuju. Jika kamu tidak setuju maka berikan alasan yang tepat kenapa menolak,” potong Umar.
“Kita dengar dulu nak, anggap saja ini sebagai diskusi,” ujar Saodah, tangan kiri Saodah mengelus lengan Khafi agar tenang.
“Tahun ini usia mu memasuki 27 tahun, abi tak melihat tanda tanda kamu akan mengajukan sebuah pernikahan kepada abi. Tak seperti abang mu Shaleh, dia melirik seorang wanita yang dianggapnya layak, kemudian langsung meminta abi melamar untuknya. Jadi sekarang abi pikir abi akan membantu mu mencari gadis yang pantas dan sesuai untuk mu, dari keluarga dengan latar belakang dan pemahaman ilmu agama yang sangat baik,” ucap Abi lembut.
“Khafi? Menikah? Dengan Ariqah?” ucap Khafi menatap protes ke arah abinya.
Khafi berpikir keras mencari alasan untuk menolak Ariqah. Tak sedikitpun terbesit dalam benaknya akan menghabiskan sisa hidupnya bersama Ariqah. Sedikit pun Khafi tak tertarik dengan wanita yang terlalu pintar.
....
Setelah selelsai mandi dan berpakaian rapih, Elisabeth bergegas menuju rumah Syekh Umar untuk menemui bik Saodah.
Namun saat hendak melangkah keluar kamar ponsel genggam Elis berdering.
“Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya..” Nada dering yang keluar dari ponsel Elisabeth sekaligus lagu kesukaan Darian.
Elis pun kembali dan mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Siapa yang sudi menelponku sekarang? Apa ayah?
“Darian? Kenapa dia menelponku?” Gumam Elis.
Pria yang tak disangka sangka tertera namanya tertera diatas ponsel. Pria yang telah menyakiti hatinya paling dalam, pria yang paling dibenci Elis di seantero jagad raya.
Ada apa dia menelponku? Apa dia menyesali perbuatannya? Darian ingin kembali padaku? Batin Elisabeth kemudian menekan tombol hijau pada layar ponsel. Harap dan cemas disertai keinginan yang besar agar Darian kembali ke sisinya.
“Halo? Elis itu kamu kan? Kamu dimana? kamu baik baik saja?” suara Darian begitu peduli akan keadaan Elis.
Darian masih peduli denganku, dia masih sangat mencintaiku.
Akhirnya Elis memberanikan diri membuka suara. “Aku baik baik saja,” ucap Elis apa adanya.
“Syukurlah kamu baik saja, Elis ada yang ingin aku bicarakan. Kamu dengarkan baik baik. Minggu depan aku dan Reyna akan melangsungkan pernikahan, sebelum perut Reyna semakin membesar. Tapi Elis aku mohon, kamu tau aku tak...”
Tangan kanan Elis yang memegang ponsel terkulai begitu saja disamping badannya.
Menikah? Darian, kamu menghubungiku hanya ingin memberitahuku hal ini? Apapun alasan mu menikah tak perlu kau katakan pada ku. Aku sangat sulit move on dari kamu, tapi kamu dengan santai nya menghubungiku dan mengabariku akan hari bahagiamu.
Air mata kembali menetes di kedua sisi pipinya. Perasaan marah, kecewa, sakit dan sedih mengaduk ngaduk relung kalbu Elis.
Jari jempol Elis menekan tombol power off pada ponsel kemudian meletakkan kembali ponsel itu ke dalam tasnya.
Aku harus menemui bik Saodah sekarang, aku ingin tinggal disini selamanya...
.....
“Jika nggak ada yang ingin kamu ucapkan berarti Ariqah adalah gadis yang tepat untuk dirimu,” ucap Umar.
Bagaimana ini? Jika aku mengatakan aku tak mencintai Ariqah Abi pasti akan langsung memukul kepalaku. Abi selalu melarang aku berpacaran, abi selalu ucapkan cinta dan berpacaran itu hanya akan menimbulkan dosa.
“Assalamualaikum,” ucap seorang wanita dari depan pintu.
“Siapa itu?” tanya Sodah.
Hardian memiringkan badannya menoleh ke pintu keluar. “Itu nona yang tak memakai jilbab, Hardian nggak tau namanya.”
“Amel panggil Elis bersama mu,” ujar Saodah.
Amel pun keluar menghampiri Elis.
“Waalaikumsalam. Elis sini masuk, temani teteh mengupas buah. Ibu masih sibuk diskusi dengan syekh,” ujar Amel.
“Baik teh,” jawab Elis kemudian berjalan masuk kedalam rumah melewati ruang tamu kemudian ruang keluarga yang nampak tenang.
Elis nggak berani menoleh ke beberapa orang yang duduk pada sofa ruangan kedua yang dilaluinya, kepala Elis tertunduk menatap lantai.
“Abi, Khafi akan menikahi Elisabeth,” seru Khafi lantang.
Mendengar hal itu, mata Elisabeth terbelalak menatap lantai sambil berjalan kemudian menabrak punggung Amel yang kala itu langkahnya terhenti.
Shaleh dan Hardian keheranan. Abi menutup kedua matanya membayangkan ucapan anaknya yang sangat gegabah. Sedangkan Saodah menyunggingkan senyuman kecil di kedua sudut bibirnya.
“Elis kamu dengar ucapan Khafi?” ucap Amel sangat pelan.
Elish mengangkat kepalanya kemudian bertanya. “Elisabeth, apakah itu aku?”
“Tentu saja, memangnya ada berapa banyak nama Elisabeth yang dikenal Khafi didunia ini?” jawab Amel pelan.
“Ta tapi aku kan?!?!” Elisabeth kebingungan dengan ucapan Khafi.
Beberapa saat kemudian tangan Elisabeth serasa ditarik menuju ruang keluarga. Ya Khafi menuntunnya berdiri di hadapan Umar dan Saodah.
Tak dapat berucap sepatah katapun, Elis hanya menatap wajah pria tinggi tegap disampingnya. Wajahnya terlihat tegas dan yakin akan keputusannya.
“Kamu sudah memikirkan ini dengan baik? Apa yang harus abi ucapkan agar kamu mengerti kenapa abi nggak akan pernah merestui hubungan kalian?!” ucap Umar setelah terdiam beberapa menit.
“Abi cukup merestui kami,” ucap Khafi pelan. Warna wajahnya sedikit pucat dan terlihat tegang.
Tentu saja Khafi sedang panik. Apakah tindakannya ini tepat atau salah? Yang pastinya Khafi belum siap untuk menikah. Tapi wanita disampingnya saat itu adalah Elisabeth seorang wanita beragama non muslim yang pertama kali bertemu dengannya dipinggir jalan, tentu saja abi akan menolak hubungan mereka. Yang terpenting usaha dulu, agar dirinya tak dinikahkan dengan Ariqah.
Umar menutup kembali kedua matanya, mengernyitkan dahinya seoalah sedang berpikir, mungkin juga sedang berdoa atau mungkin sedang istigfar. Jemarinya terus memilin tasbih.
Elisabeth menatap Soadah kemudian menggelengkan kepalanya. Wajahnya sedikit bingung dan heran seolah tak mengerti akan hal yang sedang berlangsung saat itu.
Saodah mengedipkan kedua matanya, sebuah isyarat agar Elis diam dan tak bicara.
Tasbih berhenti dipilin, kedua mata umar terbuka menatap kedua orang yang berdiri dihadapannya.
“Khafi, kamu tau Elisabeth itu seorang wanita non muslim. Hal itu sudah menjadi perbedaan yang paling mencolok diantara kalian. Apakah selama ini kalian berpacaran?” tanya Umar.
Elis segera menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Umar.
“Khafi, apa kamu mencintai Elisabeth. Dan juga sebaliknya, Elisabeth apakah kamu mencintai Khafi?” tanya Umar.
Lagi lagi Elisabeth menggelngkan kepalanya.
Khafi menatap wanita jujur disampingnya. Wanita ini pasti sangat kaget akan keputusan sepihak Khafi yang tiba tiba ingin menikahinya. Setelah ini Khafi akan mencari cara untuk menjelaskan hal ini kepada Elisabeth. Tapi sekarang, bagaimana Khafi harus membatalkan rencana abinya dengan kedua orang tua Ariqah yang sebentar lagi tiba?
“Khafi, apakah kamu mencintai Elisabeth?” tanya Abi.
“Tidak, Khafi tidak mencintainya Elisabeth,” jawab Khafi pelan.
“Jadi kenapa kamu memutuskan untuk menikah dengan Elisabeth? Apa karena kamu tidak ingin menikah dengan Ariqah?” tanya Abi lagi.
Khafi mengangguk mengiyakan. Wajahnya lesu dan tak bersemangat.
“Khafi pernah berjanji akan menikah dengan Elisabeth, Khafi juga berjanji akan menyayanginya. Khafi pernah berucap Insya Allah akan menikahinya asal Elisabeth tidak bunuh diri. Waktu itu Elisabeth hendak melompat ke sungai.” jelas Khafi.
Elisabeth menatap Khafi.
Dia masih ingat akan hal itu? Bagaiman mungkin janjinya itu berlaku, saat itu aku sedang mabuk.
Suasana diruangan itu menjadi tenang seketika. Tak ada yang berbicara, semua orang sibuk berpikir dengan jalan pikiran mereka masing masing.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁