Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Ting!
[Mendeteksi rentetan omong kosong dan janji kebohongan yang diikrarkan dengan sangat arogan di depan publik.]
[Kebohongan: Dokumen palsu itu dianggap asli, uang 1 Triliun dituduh milik Clara, dan Herman bertaruh seluruh sahamnya.]
Suara mekanis sistem berdenging sangat nyaring dan panjang di dalam kepala Rizal.
Inilah momen panen raya yang paling ditunggu-tunggu olehnya sejak semalam.
[Memproses manipulasi realitas secara menyeluruh dan permanen...]
[Manipulasi berhasil dieksekusi. Rekening fiktif yang dituduhkan kini telah dimanipulasi menjadi rekening sah atas nama Anda.]
[Saldo sebesar 1 Triliun Rupiah telah ditarik paksa dari seluruh akun lepas pantai ilegal milik Herman Wijaya untuk mengisi rekening tersebut.]
[Jejak forensik digital pada dokumen di layar telah dibalikkan sepenuhnya untuk menjerat Herman dan Lukman.]
[Dokumen legal pengalihan seluruh saham milik Herman Wijaya kini telah berpindah ke dalam saku jas bagian dalam Anda.]
Senyum yang sangat mematikan dan mengerikan perlahan terbentuk di bibir Rizal.
Dunia ini benar-benar tidak adil bagi orang-orang bodoh yang suka berbohong di depan sistemnya.
"Pernyataan yang sangat berani dan luar biasa bodoh, Tuan Herman."
Rizal menoleh ke arah meja operator komputer yang berada di sudut panggung.
"Kalian para kru IT, bisakah kalian membuka sistem perbankan langsung di layar proyektor itu sekarang?"
Kepala kru IT itu menoleh ke arah Herman dengan pandangan ragu.
"Lakukan saja apa yang dia minta! Buka sistem banknya dan biar dia lihat sendiri kebenarannya!"
Herman memberikan perintah dengan sangat angkuh karena dia yakin dokumen palsunya tidak akan bisa ditembus.
Kru IT itu mengangguk dan dengan cepat mengetikkan nomor rekening yang tertera di dokumen tersebut ke dalam portal bank.
Hanya butuh waktu lima detik hingga layar raksasa itu berubah menampilkan data rekening secara langsung.
Semua orang di dalam aula menahan nafas dan menatap layar itu tanpa berkedip.
"A-apa yang terjadi?! Ini mustahil!"
Lukman yang berdiri di sebelah Herman tiba-tiba menjerit histeris dan mundur beberapa langkah.
Herman mengerutkan keningnya dan ikut menoleh menatap layar proyektor di belakangnya.
Mata pria paruh baya itu seketika melotot lebar hingga seolah ingin melompat keluar dari rongganya.
Nama pemilik rekening yang tertera di layar raksasa itu bukanlah nama perusahaan cangkang atau nama Clara.
Nama yang tercetak tebal di sana adalah RIZAL.
Namun bukan itu yang membuat jantung Herman seakan berhenti berdetak saat ini juga.
Di bawah nama pemilik rekening, tertera riwayat transaksi masuk senilai 1 Triliun Rupiah.
Uang raksasa itu tidak ditransfer dari kas utama Wijaya Group seperti yang Herman tuduhkan.
Riwayat pengirimnya secara gamblang menampilkan nama Herman Wijaya dari sebuah bank lepas pantai di Cayman Island.
"B-bagaimana bisa nama pengirimnya adalah namaku?!"
Herman berteriak panik dan merebut mikrofon dari tangan Lukman dengan kasar.
"Ini pasti diretas! Komputer ini pasti sudah disusupi virus!"
Jepret. Jepret. Jepret.
Puluhan kamera wartawan langsung menyorot layar raksasa itu dan merekam kepanikan Herman tanpa henti.
"Wah, ini sungguh kejutan yang sangat luar biasa, Paman Herman."
Rizal melipat tangannya di dada dan menatap Herman dengan tatapan mengejek.
"Ternyata selama ini Paman Herman lah yang diam-diam mentransfer uang satu triliun ke rekening saya."
"T-tidak! Aku tidak pernah memberimu uang sepeser pun dasar gembel!"
Herman tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang justru membenarkan kejahatannya sendiri.
"Uang satu triliun itu adalah tabungan rahasiaku di luar negeri! Bagaimana bisa pindah ke rekeningmu?!"
Aula yang tadinya hening seketika meledak menjadi lautan kekacauan dan teriakan.
Para wartawan mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyudutkan Herman.
"Tuan Herman, apakah Anda baru saja mengakui memiliki tabungan ilegal di luar negeri?"
"Apakah penggelapan dana ini sebenarnya adalah rencana Anda sendiri untuk menjatuhkan Nona Clara?"
"Tolong jelaskan darimana Anda mendapatkan uang satu triliun tersebut secara diam-diam!"
Wajah Herman kini sudah sepucat mayat dan keringat dingin membasahi seluruh jas mahalnya.
Dia menyadari bahwa dia baru saja membongkar rahasianya sendiri karena saking paniknya melihat hartanya lenyap.
Lukman yang tidak mau ikut terseret ke dalam penjara langsung berlutut di atas panggung.
"Itu semua ide Tuan Herman! Saya hanya disuruh memalsukan dokumen untuk memfitnah Nona Clara!"
Lukman menangis meraung-raung meminta ampun di depan semua orang dan sorotan kamera.
"Saya dibayar lima miliar untuk melakukan ini semua! Tolong ampuni saya!"
Pengakuan terbuka dari kepala departemen keuangan itu menjadi paku terakhir di peti mati Herman Wijaya.
Bruk.
Kaki Herman kehilangan seluruh tenaganya dan dia jatuh terduduk di atas panggung dengan tatapan kosong.
Rencananya yang tersusun sangat rapi dan sempurna hancur lebur dalam hitungan detik.
Tidak hanya gagal melengserkan Clara, dia kini kehilangan seluruh harta rahasianya dan terancam hukuman penjara seumur hidup.
Rizal melangkah santai menaiki tangga panggung dan berdiri tepat di hadapan Herman yang gemetar ketakutan.
"Sesuai dengan taruhan bodoh Anda tadi, saya berhak menagih hadiahnya sekarang."
Rizal merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam.
Dia membuka map itu dan menunjukkannya tepat di depan wajah Herman serta sorotan kamera media.
Itu adalah dokumen pengalihan seratus persen saham milik Herman Wijaya kepada Rizal secara legal dan sah.
"T-tanda tanganku... sejak kapan aku menandatangani surat itu?!"
Herman menggelengkan kepalanya dengan histeris melihat tanda tangannya terpampang nyata di atas materai.
"Sejak kebohongan Anda merusak batas realitas di hadapan saya."
Rizal membisikkan kalimat itu dengan sangat pelan hingga hanya Herman yang bisa mendengarnya.
Rizal kemudian berbalik menghadap ke arah hadirin dan kamera yang terus menyala.
"Saudara-saudara sekalian, dengan dialihkannya saham milik Tuan Herman ini kepada saya."
Rizal mengumumkan kemenangannya dengan suara bariton yang menggema kuat menguasai seluruh aula.
"Maka mulai detik ini, saya adalah pemegang saham mayoritas dan pengendali utama dari seluruh aset Wijaya Group."
Keheningan mutlak langsung menyelimuti aula raksasa tersebut selama beberapa detik.
Namun sedetik kemudian, tepuk tangan riuh dan sorak sorai mulai menggema dari kubu pendukung Clara.
Clara Wijaya berdiri dari kursinya dan menatap punggung Rizal dengan air mata haru yang menetes di pipinya.
Pemuda itu benar-benar menepati janjinya untuk membersihkan parasit di perusahaannya tanpa sisa.
Hari ini, Herman Wijaya bukan hanya kehilangan harga dirinya, tapi dia kehilangan segalanya secara mutlak.
Dan bagi Rizal, dunia bisnis elit Jakarta kini resmi berada di dalam genggaman tangannya.