Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Syuhhh!
Angin siang berhembus cukup kencang menyapu permukaan danau yang tenang di pinggiran kota.
Amir duduk bersila di atas rerumputan yang agak basah.
Matanya yang lelah terus menatap pelampung pancing di tengah danau dengan penuh harap.
"Kapan hidupku bisa sedikit lebih mudah."
Amir bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil menghela napas panjang.
"Aku sudah menjadi kurir pengantar barang dari jam enam pagi sampai jam sebelas malam setiap hari."
"Gajiku seluruhnya kuberikan pada Siska untuk kebutuhan rumah."
"Tapi Ibu Mertua dan Rendy tetap saja memanggilku sampah tak berguna setiap kali aku pulang."
Amir menggenggam gagang pancingnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sudah tiga tahun ia menikah dengan Siska.
Sebagai anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa, ia tahu diri dan selalu mengalah.
Ia rela direndahkan dan disuruh-suruh layaknya pembantu di rumah mertuanya sendiri.
Tapi sehebat apapun ia berusaha, di mata Bu Rina dan Rendy, ia hanyalah parasit miskin.
Hari ini adalah satu-satunya hari liburnya dalam sebulan terakhir.
Amir memutuskan pergi memancing di danau dekat rumah mertuanya untuk mencari sedikit ketenangan.
Ia juga berharap bisa membawa pulang ikan yang besar agar Bu Rina berhenti mengomel tentang lauk pauk yang kurang hari ini.
Tiba-tiba, pelampung pancingnya tersentak keras ke bawah permukaan air.
Bloop!
Mata Amir terbelalak kaget.
"Tarikan yang sangat kuat, ini pasti ikan besar!"
Amir langsung berdiri dari posisi duduknya dan menarik joran pancingnya dengan sekuat tenaga.
Sringgg!
Tali pancingnya berbunyi nyaring menahan beban yang luar biasa dari dalam air.
Ujung joran melengkung tajam hampir membentuk huruf U.
"Ya ampun, berat sekali tarikannya."
"Jangan-jangan ini ikan raja yang sering dibicarakan orang-orang di sekitar danau ini."
Amir bergumam dengan nafas terengah-engah sambil terus menggulung reel pancingnya.
Otot-otot di lengannya menonjol keluar menahan perlawanan ikan misterius di dalam air.
Air danau bergejolak hebat di titik tali pancingnya tenggelam.
Sedikit demi sedikit, sisik keemasan yang berkilau mulai terlihat menembus permukaan air.
"Benar, itu ikan raja berukuran raksasa!"
"Kalau aku berhasil membawa ini pulang, Ibu Mertua pasti akan senang dan Siska bisa makan enak malam ini."
Amir tersenyum lebar melihat hasil tangkapannya sudah semakin dekat ke tepian.
Ia memajukan tubuhnya ke bibir danau dan bersiap meraih jaring serok di tanah.
Namun, di saat konsentrasinya sepenuhnya terfokus pada ikan di depannya, ia tidak mendengar suara langkah kaki dari arah belakang.
Bugh!
"Rasakan ini dasar sampah!"
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di punggung Amir.
Tendangan itu begitu tiba-tiba dan bertenaga.
Amir yang sedang kehilangan keseimbangan karena menarik pancing langsung terdorong ke depan.
Byurrr!
Air danau yang dingin langsung menyambut tubuh Amir.
Ia melepaskan pancingannya dan berusaha menggapai permukaan air.
Namun entah mengapa kakinya kram akibat tendangan keras tadi dan terkejutnya suhu air.
Blub blub blub.
Amir mulai tenggelam semakin dalam ke dasar danau.
Paru-parunya terasa terbakar karena kehabisan nafas.
"Apakah aku akan mati di sini?"
"Siapa yang menendangku dari belakang?"
Pandangan Amir mulai menggelap secara perlahan.
Di saat kesadarannya hampir sepenuhnya hilang, sebuah suara mekanis yang dingin tiba-tiba menggema di dalam kepalanya.
[Sistem Check-in Memancing Berhasil Diaktifkan]
[Mendeteksi Tuan dalam keadaan bahaya, melakukan pemulihan fisik darurat]
[Pemulihan selesai]
[Selamat, Tuan mendapatkan 100 Poin sebagai hadiah awal Sistem]
[Poin dapat digunakan di Toko Sistem untuk membeli berbagai barang dan kemampuan]
Mata Amir tiba-tiba terbuka lebar di dalam air.
Rasa sakit di punggung dan kakinya menghilang seketika.
Paru-parunya kembali terasa lega seolah ia bisa bernafas di bawah air.
"Suara apa itu tadi, apakah aku sedang berhalusinasi karena mau mati?"
"Sistem Check-in Memancing?"
Amir membatin kebingungan namun ia sadar bahwa ia harus segera naik ke atas.
Dengan tenaga yang entah datang dari mana, ia mengayunkan kaki dan tangannya berenang ke permukaan.
Brak!
Amir muncul dari permukaan air dan langsung merangkak naik ke daratan berlumpur.
Uhuk! Uhuk!
Ia terbatuk-batuk mengeluarkan sedikit air yang sempat tertelan.
Dengan pakaian basah kuyup yang menempel di tubuhnya, Amir menatap tajam ke arah dua orang yang berdiri tidak jauh darinya.
Mereka adalah Bu Rina, ibu mertuanya, dan Rendy, adik iparnya.
Rendy sedang melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum meremehkan.
"Wah wah wah, ternyata kau belum mati ya dasar kecoa air."
Rendy berkata dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Sayang sekali danau ini tidak cukup dalam untuk menenggelamkan parasit sepertimu."
Bu Rina menimpali dengan wajah jijik sambil menutupi hidungnya seolah Amir berbau busuk.
Mata Amir memerah menahan amarah yang sudah meledak di dadanya.
"Kalian yang menendangku dari belakang saat aku sedang memancing?"
"Apa salahku pada kalian sampai kalian ingin membunuhku!"
Amir berteriak keras menumpahkan emosinya yang tertahan selama ini.
Ia selalu bersabar, tapi percobaan pembunuhan sudah melewati batas kewarasannya.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu pada ibuku, dasar gembel!"
Rendy melangkah maju dan menunjuk-nunjuk wajah Amir dengan arogan.
"Kau pikir kau siapa di rumah kami, hah?"
"Kau itu cuma numpang makan, numpang tidur, dan tidak menghasilkan uang sama sekali!"
"Aku bekerja setiap hari dari pagi sampai malam, gajiku selalu kuberikan pada Siska!"
"Kalian tidak berhak memanggilku parasit ketika kalian sendiri hanya menghabiskan uang hasil jerih payahku dan Siska."
Amir membalas ucapan Rendy tanpa rasa takut lagi.
Persetan dengan sopan santun, orang-orang di depannya ini baru saja mencoba merenggut nyawanya.
Bu Rina tertawa sinis mendengar pembelaan Amir.
"Gajimu yang cuma tiga juta sebulan itu kau sebut uang?"
"Uang segitu bahkan tidak cukup untuk biaya perawatan kulitku ke salon dalam sebulan."
"Kau sadar tidak kalau anakku Siska itu menderita hidup bersamamu."
"Dia itu cantik, pintar, dan berhak mendapatkan pria yang jauh lebih mapan darimu."
Bu Rina memberikan isyarat pada Rendy dengan matanya.
Rendy merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Srak!
Rendy melempar amplop itu tepat ke wajah Amir yang masih terduduk di tanah basah.
"Ambil itu dan tanda tangani sekarang juga."
"Mulai hari ini, kau harus pergi dari kehidupan kakakku."
Amir memungut amplop tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar.
Ia membuka segelnya dan menarik selembar kertas bergaris rapi dari dalamnya.
Matanya langsung tertuju pada tulisan besar di bagian paling atas kertas tersebut.
"Surat Cerai?"
Amir bergumam tidak percaya sambil menatap nanar tulisan tersebut.
"Ya, itu surat cerai yang sudah disiapkan ibuku."
"Kakakku tidak pantas hidup menderita dengan pria miskin yang cuma bisa mancing di danau kotor seperti ini."
Rendy tertawa puas melihat ekspresi terkejut di wajah Amir.
"Ibu, apa-apaan ini, apakah Siska tahu soal surat ini?"
"Siska tidak pernah bilang padaku kalau dia ingin bercerai."
Amir menuntut penjelasan dari ibu mertuanya.
Walaupun ia sangat membenci mertuanya, ia masih memiliki perasaan pada istrinya.
"Tentu saja Siska sudah tahu, walau dia awalnya ragu, tapi aku yang memaksanya menyetujui ini."
"Asal kau tahu saja, aku sudah menjodohkan Siska dengan Nak Kevin."
"Nak Kevin itu anak pengusaha properti kaya raya, pewaris tunggal keluarga Dirgantara."
"Bulan depan Nak Kevin akan membelikan Siska mobil mewah seharga satu miliar."
"Sedangkan kau, jangankan mobil, membelikan Siska baju bagus saja kau harus mencicil!"
Bu Rina meluapkan semua hinaannya tanpa menahan diri.
Kata-katanya seperti belati tajam yang menusuk harga diri Amir sebagai seorang pria.
Amir terdiam menatap kertas di tangannya.
Ia teringat betapa lelahnya ia bekerja setiap hari demi memberikan Siska kehidupan yang lebih baik.
Ia rela makan mie instan setiap siang agar uangnya bisa ditabung untuk merenovasi kamar mereka.
Tapi apa balasannya sekarang.
Istrinya diam-diam menyetujui perjodohan dengan pria kaya dari belakangnya.
"Siska akan menikah dengan pria kaya dan kalian membuangku begitu saja seperti sampah."
Amir bergumam lirih dengan senyum getir yang terlukis di bibirnya.
"Tentu saja kami membuangmu, untuk apa menyimpan barang rongsokan di rumah."
"Cepat tanda tangani surat itu, kemasi barang-barang murahmu, dan pergi dari rumahku hari ini juga."
"Aku tidak sudi melihat wajah melaratmu itu sedetik pun lebih lama."
Bu Rina menyilangkan tangannya menunggu Amir menandatangani surat tersebut.
Amir perlahan bangkit berdiri.
Air menetes dari ujung rambutnya.
Namun kali ini, tatapan matanya tidak lagi memancarkan keputusasaan atau kesedihan.
Tatapan itu kini sedingin es dan setajam pisau.
Ia menyadari bahwa mengabdi pada keluarga ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Di saat bersamaan, suara sistem kembali terngiang di benaknya.
[Misi Pemula Tersedia]
[Tanda tangani surat cerai dan putuskan hubungan dengan keluarga beracun ini]
[Hadiah Misi: 500 Poin dan Satu Kail Keberuntungan Tingkat Rendah]
Amir tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Rendy dan Bu Rina sedikit merinding.
"Baiklah kalau itu mau kalian."
"Aku akan menandatangani surat ini sekarang juga."
"Tapi ingat baik-baik perkataanku hari ini."
"Suatu saat nanti, kalian akan berlutut di depanku dan memohon agar aku kembali, tapi saat itu tiba, aku tidak akan peduli."
Amir menatap tajam bergantian ke arah Rendy dan Bu Rina.
Ia tidak sabar untuk mengeksplorasi Sistem yang baru saja didapatkannya dan membalikkan keadaan.
Kehidupannya sebagai menantu sampah telah berakhir hari ini.
Mulai detik ini, hidupnya akan berubah sepenuhnya.