Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.
Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.
Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
Bilqist tak yakin apa kesalahannya. Dia tak diberi waktu untuk menjelaskan kejadian dari sudut pandangnya. Dan mereka semua memakai bahasa Julunda yang tak ia pahami. Pria yang membawanya tadi, Sa’id, Bilqist ingat namanya. Dia sempat bersitegang dengan seorang yang pangkatnya lebih tinggi. Sampai akhirnya Sa’id ditodong kepalanya dan dipaksa keluar dari sel yang Bilqist tempati.
Bilqist tak tahu siapa nama pria bengis itu. Yang ia tahu, orang itulah yang memerintahkan seorang algojo mencambuknya. Bilqist yang ketakutan berkali-kali memohon ampun dan memohon belas kasihan dari pria itu, tapi dia tak mau mendengarkan. Memang Bilqist tak bisa berbahasa Julunda, tapi seharusnya pria itu mencarikan penerjemah untuknya.
Hari itu adalah pertama kalinya dia diperlakukan layaknya kriminal, dan hari itu juga dia dihukum tanpa persidangan. Bilqist merasa ketidakadilan ini sangat kejam. Dia berdoa agar hukuman itu segera berhenti. Bilqist menangis tapi tak ada yang mau mendengar dan menolongnya. “Apakah hanya sampai di sini ajalku?” tanya Bilqist dalam benaknya.
“Aku ingin bertemu keluargaku. Mom, Dad, dan saudara-saudaraku.
Apa aku akan meninggal di tempat yang jauh dari keluargaku?”
“Mom, Dad, Al, Dee, Sisi, Daniella, I love you all.” Bilqist duduk menunduk, punggungnya terasa sangat sakit. Dia merasakan sakit dan tak berdaya, sampai kegelapan memenuhi indera penglihatannya.
-----
“Bilqist belum kirim pesan,” keluh Gwen yang sudah tak terhitung berapa kali memandangi layar ponselnya.
Zach yang setiap Sabtu berusaha selalu di rumah juga merasa khawatir. Bagaimanapun Bilqist adalah anak perempuan. Meskipun Bilqist selalu mandiri sejak kuliah, tapi Zach tak pernah melepaskan putrinya selama ini. Di LA, dua minggu sekali Zach selalu mengunjungi putrinya.
Sudah lewat dua jam dari waktu yang biasanya Bilqist berkirim pesan. Dan Zach merasakan ada sesuatu yang salah. Biasanya seorang ibu yang lebih kuat firasatnya, tapi Zach justru lebih dulu merasakan hal itu. Bukan khawatir saja, ada perasaan takut yang menyertai.
“Aku akan coba hubungi kedutaan. Mungkin ada yang bisa mencarikan info langsung ke camp.”
Di Nu’mani sejak adanya perang saudara, banyak kantor kedutaan yang ditutup. Mereka terlalu takut menjadi sasaran penyerbuan dan penjarahan. Mereka kemudian berkantor sementara ke negara terdekat. Tapi karena perang tak kunjung usai, maka kedutaan Indonesia untuk Nu’mani dialihkan sepenuhnya. Beberapa atase dikurangi dan duta besar dipulangkan ke Indonesia.
-------
Di saat yang sama, Andrew meminta Ahmad untuk memberikan ponselnya dan ponsel Bilqist.
“Kamu tahu sendiri bagaimana kondisi Bilqist. Kalau kamu masih punya hati, serahkan ponselnya. Aku harus menghubungi keluarganya.”
Ahmad akhirnya mau memberikan ponsel mereka.
“Di sini sangat sulit mendapatkan sinyal,” kata Ahmad.
Andrew mencoba menyalakan ponselnya, lalu ponsel Bilqist. Mereka berdua sejak berangkat ke Nu’mani tidak mengaktifkan kunci pass layar. Sehingga siapapun bisa mengakses ponsel mereka. Hal itu dilakukan agar bila sewaktu-waktu ada sesuatu terjadi dengan pemilik ponsel, maka teman atau orang yang menolong bisa menggunakan ponsel itu untuk menghubungi keluarganya.
“Pesan-pesan Bilqist belum terkirim. Aku akan mengetik pesan lagi.”
“Kamu harus pergi ke atas bukit supaya bisa mendapatkan sinyal. Tapi resikonya sangat besar. Kalau tentara Julunda melihatmu, kamu bisa ditembak.”
“Lalu bagaimana aku bisa memberi kabar kepada orangtua Bilqist?” tanya Andrew yang kebingungan.
“Aku saja yang berangkat ke bukit, aku yang paham daerah itu,” jawab Ahmad.
“Aku ikut denganmu,” kata Andrew.
“Jangan. Kau tidak akan bisa mengikutiku. Aku harus berangkat malam hari tanpa penerangan sama sekali biar tentara Julunda tak melihatku.
Ketiklah pesan pada ponsel Bilqist dan ponselmu sendiri lalu matikan lagi. Aku akan menyalakannya sebelum berangkat agar tidak kehabisan batrei.”
Ahmad mengawasi ketika Andrew mengetikkan pesan. “Apa aku boleh memberitahukan tempat ini?” tanya Andrew dengan hati-hati.
“Tidak. Ketikkan kabar seperti biasa.” Harapan Andrew untuk bisa pulang pupus.
Tapi Ahmad kemudian melanjutkan, “Kau akan kembali setelah dua pasienmu sembuh.” Yang Ahmad maksud adalah anak laki-laki yang terluka karena tembakan dan pria muda yang sakit lambung.
Semangat Andrew kembali lagi, ia percaya dengan kata-kata Ahmad. Dia memperkirakan dua hari lagi pria yang sakit lambung sembuh, sedangkan anak laki-laki itu butuh waktu seminggu. Setelah Andrew mengetikkan pesan penting dan mengirimkannya, ia mematikan lagi ponselnya dan ponsel Bilqist. Ahmad mengambilnya kembali.
“Antibiotiknya akan habis dua hari lagi,” kata Andrew. Semula antibiotik akan sampai malam itu saja ketika Yahya masih ada di antara mereka. Tapi sekarang obat itu masih bisa digunakan hingga dua hari lagi.
“Tuliskan apa yang kamu butuhkan. Aku akan mencarikannya besok,” jawab Ahmad lalu ia meninggalkan klinik.
-------
Zach sudah terhubung dengan kedutaan, tapi mereka belum bisa langsung ke lokasi camp. Mereka berjanji akan mendapatkan kabar secepatnya. Ia juga menghubungi Henry, dan meminta tolong untuk menghubungi temannya yang masih bertugas di Nu’mani.
Gwen tampak tak bisa tenang. Ia menghubungi ketiga anaknya untuk membantu berdoa agar Bilqist segera menghubungi rumah.
Al yang waktu itu ada di apartemen segera mengambil kunci mobil untuk pulang ke rumah orangtuanya. Dania meminta ijin kepada pamannya—Naufal—untuk pulang ke Indonesia. Mereka masih dalam proses pengerjaan proyek pembangunan gedung Observatorium dan bangunan tertinggi di Fukuoka.
“Aku juga ingin pulang denganmu. Aku akan pesankan tiket untuk kita berangkat pagi besok,” kata Naufal.
“Bagaimana dengan proyeknya Om?”
“Profesor Yamashita sudah dengar rencanaku pulang seminggu yang lalu, tapi aku belum memutuskan kapan. Kurasa ini saat yang tepat. Lagipula semua sudah diatur oleh tim dari Jepang. Sesekali ambil cuti tidak mengapa, Dee. Kamu jarang melakukannya.”
----
Chrystal mendekati putrinya yang memberi makan ikan-ikan yang Chrystal bawa dari apartemen Bilqist. Ia menanyakan kepada putrinya apakah mau pulang ke Indonesia. Ternyata Daniella terlihat sangat senang. Ia sudah lama tidak pergi ke Indonesia karena sudah aktif sekolah. Juga karena kakek dan neneknya selalu datang mengunjunginya ke New York setelah mengunjungi Aunty Bilqist di LA.
“Apa aku boleh berenang ke danau?” tanya Daniella kepada ibunya. Di rumah kakek dan neneknya terdapat sebuah danau buatan yang sekarang sudah terlihat seperti danau alami.
Chrystal sudah aktif seperti anak biasa seusianya. Meskipun dua tahun lalu dia menderita kanker leukemia, tapi Daniella menjadi anak yang tak pernah kehilangan semangat. Dia sangat suka beraktivitas fisik. Selama tubuhnya masih sehat, dia akan mencoba berbagai hal.
Chrystal cukup percaya pada putrinya, sehingga ia membolehkan Chrystal untuk berenang ke danau.
“Thank you, Mom. You are the best!” Daniella menghadiahkan ciuman di pipi kepada ibunya.