NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Getar yang Masih Jelas

Selasa pagi, Vania berdiri di depan kulkas dengan gelas kosong.

"Nai, bagi lemon madunya dua iris lagi, ya. Punyaku sudah habis."

Naila yang sedang menyusun buku menoleh. Setelah ingatannya kembali, satu stoples yang tersisa terasa berbeda. Setiap iris dibuat oleh tangan Radhika dari buah pohon yang dijaga empat belas tahun untuknya.

"Maaf, Van. Yang ini mau kusimpan."

"Cuma dua iris."

"Kemarin aku sudah kasih satu stoples penuh."

Vania membuka kulkas dan meraih wadah itu. Naila lebih cepat menahan tutupnya.

"Jangan diambil."

"Kita teman, kan? Pelit amat cuma soal lemon."

"Justru karena teman, kamu harus bisa dengar kalau aku bilang nggak." Naila menarik stoples ke dadanya. "Ini punyaku. Yang mau numpang gratis itu kamu."

Wajah Vania berubah. "Sekarang mentang-mentang punya lima ratus juta, sok kaya banget."

Gita menutup pintu lemari dengan keras. "Apa hubungannya uang Naila sama kamu?"

"Aku bicara sama Naila."

"Dan kamu mau mengambil barangnya tanpa izin."

Naila menaruh stoples kembali lalu mengunci pintu kulkas kecil dengan kunci bawaan kos. "Mulai sekarang masing-masing saja. Barangku jangan disentuh, barangmu nggak akan kusentuh."

Vania tertawa mengejek. "Baik. Jangan menyesal kalau butuh bantuan."

Ia menyambar tas dan pergi. Begitu pintu tertutup, Gita mengembuskan napas.

"Dari awal aku nggak suka caranya melihat barang-barangmu."

"Kenapa nggak bilang?"

"Kupikir dia cuma kagum. Sekarang beda." Gita menepuk bahu Naila. "Aku di pihakmu."

Naila mengangguk. Sekar sedang sibuk mengikuti orientasi Pradipta Entertainment dan jarang berada di kos, tetapi setidaknya ia masih punya Gita yang bicara lurus tanpa permainan.

Ketegangan itu bertahan sampai Jumat.

Pagi menjelang siang, Naila keluar dari toilet kampus dan mendengar suara Vania di dekat wastafel.

"Anjing orang kaya," desis Vania. "Nempel terus sama Naila karena mau ikut terkenal? Mau jadi artis juga? Paling jadi ayam kelas atas."

Gita berdiri di depannya dengan tangan mengepal. "Jaga mulutmu. Kamu yang mencuri kesempatan berteman lalu marah ketika nggak diberi barang gratis."

"Siapa yang mencuri?"

Naila melangkah di antara mereka sebelum pertengkaran berubah fisik. "Git, ayo."

Ia menarik Gita keluar. Di koridor, Gita masih gemetar karena marah.

"Aku berteman sama kamu bukan karena uang," katanya. "Aku bahkan nggak tahu soal lima ratus juta sebelum Vania menguping teleponmu."

"Aku tahu." Naila menggenggam tangannya. "Kalau nggak percaya kamu, aku sudah pergi sendirian."

Gita menatapnya, lalu mengangguk. Mereka berjalan ke kelas tanpa menoleh lagi.

Sepanjang kuliah, Vania duduk dua baris di belakang dan tidak sekali pun menyapa. Naila sempat merasa kehilangan. Mereka pernah makan mi instan dari satu panci dan begadang menyelesaikan presentasi bersama. Namun, pertemanan yang memaksa satu pihak terus memberi bukan pertemanan yang layak dipertahankan.

Saat kelas selesai, Gita membantu membawakan satu buku tebal sampai gerbang.

"Kalau Vania ganggu lagi, kabari aku," katanya.

"Kamu juga. Jangan hadapi sendirian."

Mereka menyentuhkan kepalan tangan sebagai janji sederhana.

Pukul tiga sore, sebuah Cullinan hitam menunggu di gerbang UI.

Radhika berdiri di sampingnya dengan potongan rambut baru dan jaket hitam pendek. Baru satu minggu tidak bertemu, tetapi Naila merasa waktunya lebih lama.

"Maaas!"

Ia berlari kecil. Radhika sempat membuka kedua tangan, tetapi Naila berhenti tepat di depannya karena sadar banyak mahasiswa melihat.

"Kenapa berhenti?" tanyanya.

"Nggak kenapa-kenapa."

Radhika mengusap puncak kepalanya. "Anak pintar."

"Mas tahu nilaiku?"

"Belum. Tapi kamu kelihatan lebih rajin."

"Itu pujian paling malas yang pernah kudengar."

Radhika mengambil buku tebal dari tangan Gita dan memasukkannya ke bagasi. "Terima kasih sudah menemani Naila."

"Sama-sama, Mas." Gita menatap Naila sambil tersenyum penuh arti. "Selamat akhir pekan."

Anehnya, Naila tidak lagi menepis tangan itu.

Saat ia berbalik memasukkan tas, pandangan Radhika turun tanpa sengaja ke rok pendek yang memperlihatkan kaki panjang Naila. Ia terpaku beberapa detik sebelum memalingkan muka dan membuka pintu penumpang lebih keras dari perlu.

"Mas marah?"

"Nggak. Masuk."

Di mobil, Naila menceritakan konflik dengan Vania, jadwal baru Sekar, dan tugas presentasi yang membuat seluruh kelas panik. Radhika mendengarkan sambil membawa mobil ke jalan tol.

"Oh iya, jaket Mas hilang," kata Naila. "Aku sudah pesan pengganti."

"Hilang bagaimana?"

"Katanya jatuh dari balkon kena angin."

Radhika meliriknya. "Kamu percaya?"

"Masa Vania bohong soal jaket? Paket barunya segera sampai, kok."

"Mas nggak butuh pengganti."

"Aku yang menghilangkan, aku yang ganti."

"Keras kepala."

"Mas juga."

Di lampu merah, Radhika kembali mengusap rambutnya. Naila menangkap pergelangan tangannya dan membuka telapaknya.

"Bekas yang dulu masih jelas," katanya sambil melihat luka setengah bulan. "Aku gigit lagi biar seimbang, ya?"

"Jangan."

Naila mendekatkan tangannya ke mulut. Radhika segera menjepit kedua pipinya dengan satu tangan, membuat bibirnya mengerucut seperti ikan.

"Lepasin!"

Ucapan itu tidak jelas. Naila menggeliat dan menjulurkan lidah untuk mengganggunya. Ujung lidahnya tanpa sengaja menyentuh bagian tengah telapak tangan Radhika.

Sentuhan itu hanya berlangsung sekejap.

Radhika menarik tangan seolah tersengat. Getaran halus berlari dari telapak ke lengan, lalu berhenti di dada. Napasnya berubah berat. Tatapannya jatuh ke bibir Naila yang masih mengerucut, dan tenggorokannya mendadak kering.

Klakson mobil belakang menyadarkannya. Lampu sudah hijau.

"Udah, jangan iseng," katanya dingin.

Naila langsung duduk tegak. "Maaf. Mas marah?"

"Nggak."

"Terus kenapa galak?"

Radhika menggenggam kemudi, masih merasakan panas samar di telapak tangan. "Mas juga nggak tahu."

Baru setelah papan petunjuk arah Bandung muncul, Naila sadar mereka tidak menuju Menteng.

"Kita mau ke mana?"

"Tebak."

"Mas culik aku?"

"Penculik nggak menunggu di gerbang kampus lebih dari satu jam."

Naila menoleh tajam. "Mas datang jam berapa?"

"Pesawat sampai sekitar satu. Pulang mandi, potong rambut, sebelum dua sudah di UI."

"Kelasku selesai jam tiga!"

"Mas tahu."

Naila memandang potongan rambut barunya. Bagian samping dibuat lebih pendek, membuat garis rahangnya tampak semakin tegas. "Jadi Mas pulang, mandi, potong rambut, terus langsung menjemputku?"

"Iya."

"Kenapa nggak tidur dulu?"

"Takut seseorang menangis lagi karena merasa ditinggal."

Naila memalingkan wajah ke jendela agar Radhika tidak melihat senyumnya.

Perjalanan Jumat sore memakan waktu hampir empat jam karena beberapa titik padat. Matahari telah turun ketika mobil memasuki kawasan Dago dan berhenti di depan rumah dua lantai yang terlindung pepohonan tua.

Pagar besinya tidak terkunci rapat.

Naila turun perlahan. Jantungnya berdebar saat mendorong pagar itu hingga terbuka. Jalan batu, teras lebar, dan bayangan pohon lemon di halaman terasa seperti bagian mimpi yang pernah hilang.

Udara Bandung lebih dingin daripada Depok. Aroma tanah basah naik dari taman, disertai suara dedaunan yang bergesekan. Lampu teras menyala tepat saat Radhika melangkah di belakangnya, seolah rumah itu selama ini hanya menunggu mereka kembali.

Ia melangkah masuk.

"Ini rumahku waktu kecil."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!