NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Diam Bukan Berarti Kalah

Selasa pagi, Liana tidak mengunggah klarifikasi.

Nadia sudah menyiapkan perang di kolom komentar. Apa pun yang Liana tulis akan dipotong, ditafsirkan, dan dipakai untuk memperpanjang perhatian.

Sebagai gantinya, Liana berdiri di depan layar ruang rapat kecil dengan enam folder bukti.

Bu Ratna duduk di sisi kiri. Kepala IT dan dua auditor digital berada di seberang. Renard memilih kursi paling ujung, sengaja memberi Liana posisi pemimpin rapat. Rizal menjaga daftar tamu dan memastikan tidak ada orang masuk tanpa izin.

Karina bergabung melalui panggilan video.

"Mulai," kata Bu Ratna.

Liana menampilkan foto pertama. "Unggahan menyatakan ini diambil di hotel Menteng pukul dua pagi. Metadata asli mencatat pukul 22.51 di Kuningan. Papan minimarket dan riwayat perjalanan mobil mengonfirmasi lokasi."

Slide kedua menunjukkan foto lift.

"Foto ini diambil dari area tunggu tamu. Waktunya sama dengan kunjungan vendor K-17. Kami belum menyatakan Nadia sebagai pemotret, tetapi narasi bahwa foto berasal dari pegawai anonim tidak sesuai daftar akses."

Kepala IT membuka temuannya. "Perangkat yang membuat token palsu masuk melalui gateway vendor. Sidik perangkat cocok dengan laptop yang didaftarkan untuk K-17. Token Mbak Liana dicuri melalui halaman reset palsu yang dibuka staf administrasi Jumat lalu."

"Apakah Liana membuka halaman itu?" tanya Karina.

"Tidak. Token miliknya direplikasi dari cache lama dalam sistem dukungan."

"Jadi aksesnya dibuat terlihat seperti dia."

"Benar."

Karina memandang Liana di layar. Ia sudah mengetahui keberanian perempuan itu dari ruang terapi, tetapi baru kali ini melihat ketenangan yang sama dipakai memimpin krisis perusahaan.

"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Karina.

Pertanyaan itu bukan tentang audit.

"Saya masih bisa bekerja."

"Itu juga bukan jawaban."

Liana sempat melihat Renard. Kakak dan adik itu ternyata memiliki cara bertanya yang sama saat khawatir.

"Saya terluka," jawabnya jujur. "Tapi saya nggak sendirian, dan saya tahu apa yang harus dilakukan."

Karina mengangguk sekali. "Kalau keadaan berubah, kita berhenti. Nggak ada strategi yang lebih penting daripada keselamatanmu."

Untuk pertama kalinya, perlindungan Karina terdengar bukan sebagai kewajiban pengelola kontrak. Ia bicara kepada Liana, bukan Nona Terapis.

"Kenapa temuan ini belum diumumkan?" tanyanya.

"Karena pelaku mengira jejaknya berhasil," jawab Liana. "Kalau kita buka sekarang, dia akan menghapus komunikasi dan berhenti sebelum hubungan dengan pembeli terbukti."

Renard menyilangkan tangan. "Risikonya nama Liana tetap dihancurkan selama kita menunggu."

"Saya tahu."

"Berapa lama?"

"Maksimal empat puluh delapan jam untuk tahap berikutnya. Kalau ada ancaman fisik atau penyebaran alamat, kita hentikan dan lapor segera."

Bu Ratna mengangguk. "Batas itu masuk akal."

Karina menatap adiknya, lalu kembali ke Liana. "Aku setuju menahan publikasi selama dua hari. Semua keputusan tetap lewat legal."

***

Rapat berhenti sepuluh menit untuk kopi.

Renard mengikuti Liana ke lorong. "Ada tim keamanan di dekat apartemenmu mulai tadi malam."

Liana berhenti. "Tanpa memberi tahu saya?"

"Mereka di area publik dan tidak mengikuti kegiatanmu. Tapi kamu benar, aku seharusnya bilang."

Permintaan maaf cepat itu meredakan sebagian kekesalannya.

"Saya nggak mau diawasi."

"Bukan itu tujuannya. Ada akun yang menebak alamatmu. Aku juga bisa memindahkanmu sementara ke unit yang lebih aman dekat Menteng. Kontrak sewa atas nama perusahaan, bukan namaku."

"Nggak."

"Pertimbangkan dulu."

"Saya sudah mempertimbangkan. Kalau saya pindah ke tempat yang Bapak sediakan saat mereka menuduh saya naik karena kedekatan, foto berikutnya akan lebih mudah dipelintir."

Renard mengencangkan rahang. Ia tahu argumen itu benar dan tetap tidak menyukainya.

"Kalau begitu pilih keamanan sendiri," katanya. "Tan Group menanggung biaya karena ancaman muncul dari perkara kantor. Kamu menentukan penyedia dan menerima laporan langsung."

Liana berpikir. Solusi itu memberinya kendali.

"Baik. Hanya sampai ancamannya turun."

"Baik."

"Dan nggak ada orang di depan pintu kamar."

"Area lobi saja."

Mereka kembali ke ruang rapat dengan kesepakatan yang tidak sepenuhnya memuaskan siapa pun, tetapi menghormati keduanya.

***

Tahap kedua rencana Liana memiliki tiga bagian.

Pertama, IT membuat satu folder umpan di lingkungan terpisah. Isinya formula yang tampak bernilai tinggi tetapi sengaja diubah dan diberi penanda digital. Tidak ada bahan produksi aktif. Mengaksesnya tidak merusak sistem nyata.

Kedua, legal meminta pengawasan gateway vendor dan salinan komunikasi yang memang berada di perangkat perusahaan. Mereka tidak menyadap akun pribadi tanpa dasar.

Ketiga, hubungan Nadia dan Aldi harus dibuat retak.

"Saya punya pesan lama yang menunjukkan Nadia pernah menyembunyikan uang dari Aldi," kata Liana. "Kita bisa mengirim tip anonim bahwa nilai penjualan sebenarnya lebih besar."

Bu Ratna mengangkat telunjuk. "Bukan menyamar sebagai polisi atau pihak Cheron. Jangan membuat bukti palsu dan jangan mendorong mereka mencuri. Hanya informasi yang punya dasar."

"Setuju. Tujuannya membuat mereka saling memeriksa, bukan menciptakan kejahatan baru."

Kepala IT menampilkan folder umpan. Nama proyeknya `Arunika Reserve`, formula melati-cendana yang terlihat seperti versi premium dari berkas pertama.

"Akses hanya bisa terjadi kalau seseorang sengaja mencari proyek itu," katanya. "Setiap unduhan menghasilkan penanda unik."

Renard menatap Liana. "Kamu yakin mereka akan mengambilnya?"

"Aldi takut kehilangan uang. Nadia takut kehilangan kendali. Begitu mereka saling curiga, keduanya akan mencari hasil yang lebih besar untuk menyelamatkan diri sendiri."

Karina diam di layar. Kemampuan Liana membaca orang jauh lebih tajam daripada yang seharusnya dimiliki asisten berusia dua puluh dua tahun. Namun ia tidak mempertanyakan sumbernya di depan tim.

"Kalau mereka tidak mengambil umpan?" tanya Renard.

"Kita tetap punya bukti token palsu dan fitnah. Umpan hanya memperjelas niat."

Bu Ratna menutup map. "Bagus. Tidak ada tindakan tanpa persetujuan legal."

Liana memandang seluruh tim.

"Mereka pikir sedang memburu saya," katanya. "Padahal mereka sedang berjalan masuk ke perangkap yang mereka buat sendiri."

***

Malam itu, setelah Bu Ratna menyetujui kalimatnya, Liana mengirim pesan dari nomor yang tidak terhubung ke identitas pribadi.

`Kamu tahu nilai yang Nadia laporkan ke kamu bukan nilai kontrak sebenarnya? Cek sendiri percakapannya sebelum dia pergi membawa semua uang.`

Pesan itu tidak mengaku berasal dari Cheron. Tidak meminta Aldi melakukan apa pun. Hanya membuka pintu bagi kecurigaan yang memang sudah ada.

Di layar Liana, tiga titik muncul.

`Aldi sedang mengetik...`

Tiga titik itu menghilang, muncul lagi, lalu menghilang.

Aldi tidak membalas malam itu. Namun lima menit kemudian, sistem pemantauan legal mencatat ia membuka kembali tautan pembayaran yang pernah dikirim Nadia melalui perangkat usaha mereka.

Liana tidak tersenyum. Satu gerakan belum membuktikan pengkhianatan, hanya membuktikan pesan tersebut mengenai ketakutan yang tepat.

Ia menutup laptop pada pukul sebelas dan mengaktifkan alarm pintu apartemen. Di lobi, petugas keamanan yang ia pilih sendiri mengirim laporan pertama tanpa foto dan tanpa pelacakan kegiatan pribadi.

Diamnya Liana bukan kekalahan.

Itu adalah waktu yang ia berikan kepada lawannya untuk membuat kesalahan berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!