Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Beri Aku Satu Bulan
Senin pukul delapan lewat dua puluh, Mandy meletakkan secangkir kopi di meja Amaya.
"Oh iya, Mbak," katanya sambil merapikan tablet. "Pagi ini ada rapat penilaian ahli untuk Pusat R&D Bersama di Adhikara. Jam setengah sepuluh."
Jari Amaya berhenti di atas papan ketik.
"Rapat apa?"
"Penilaian laporan tahap pertama. Saya baru ingat belum meneruskan undangannya. Maaf sekali."
"Kapan undangan itu masuk?"
Mandy mengalihkan mata. "Semalam, sepertinya."
"Jam berapa?"
"Saya nggak memperhatikan."
Amaya mengangkat ponsel. Pukul delapan lewat dua puluh satu. Dari kantor Amerta di SCBD menuju gedung Adhikara masih mungkin ditempuh sebelum rapat jika lalu lintas baik, tetapi ia belum membaca bahan apa pun.
"Kirim undangan dan seluruh lampirannya sekarang."
"Baik, Mbak."
Mandy keluar terlalu cepat.
Surel yang diteruskan satu menit kemudian menunjukkan waktu asli penerimaan: Minggu, pukul delapan malam. Ada lampiran laporan, catatan evaluator, dan permintaan kehadiran koordinator proyek.
Ini bukan lupa.
Mandy pernah bekerja setahun di bawah Selena sebelum dipindahkan ke tim Amaya. Membuat koordinator terlambat mungkin hanya langkah pertama. Jika jebakannya sesederhana kursi kosong dalam rapat, Selena tidak akan menunggu dua hari setelah dipermalukan di pesta.
Amaya mengambil laptop dan flashdisk, lalu berangkat tanpa menyentuh kopi.
***
Pukul sembilan lewat tiga puluh tujuh, pintu lift Adhikara lantai dua puluh tiga terbuka.
Orang-orang sudah keluar dari ruang rapat. Dua ahli membawa map biru dengan wajah serius. Staf hukum berbicara pelan dengan kepala laboratorium, sementara layar presentasi di dalam sedang dimatikan.
Amaya terlambat delapan menit.
Selena berdiri di dekat pintu dengan setelan krem dan senyum prihatin.
"Maya? Kok baru datang?"
"Undangannya baru sampai pagi ini."
"Aduh, kasihan sekali. Koordinator seharusnya punya sistem pengingat sendiri, bukan cuma bergantung pada asisten."
"Benar." Amaya tersenyum. "Makanya aku heran, orang yang sudah setahun jadi penanggung jawab masih meninggalkan data berantakan untuk penerusnya."
Senyum Selena menegang.
"Kamu belum tahu apa yang terjadi."
"Karena itu aku akan bertanya langsung."
"Papa sedang marah. Kalau kamu butuh bantuan untuk menjelaskan, aku bisa ikut masuk."
"Supaya bisa menyelamatkanku?"
"Kita saudara."
"Kalau begitu doakan saja dari luar, Ci. Aku takut kalau terlalu banyak orang baik di dalam, ruangannya nggak cukup."
Amaya melewatinya.
***
Robert berdiri di depan jendela kantornya. Sebuah laporan terbuka di meja dengan tiga penanda merah mencuat dari sisinya.
"Tutup pintu."
Amaya menurut.
"Kamu tahu kenapa rapat dihentikan?"
"Belum. Saya baru menerima undangan pagi ini."
Robert membalik badan. "Itu masalah pertama. Koordinator seharusnya tahu jadwal tanpa harus saya cari."
"Saya setuju."
"Duduk."
Ia mendorong laporan ke depan Amaya. Halaman ringkasan menunjukkan tiga kolom angka. Dua belas sampel memiliki nilai yang berbeda antara laporan akhir dan catatan awal. Rata-rata selisihnya hampir tujuh belas persen.
"Tim ahli mengambil sampel acak," ujar Robert. "Data klinis awal dalam laporan tidak cocok dengan catatan mentah. Mereka mempertanyakan keandalan seluruh kumpulan data."
Amaya membalik halaman demi halaman. Beberapa nomor sampel tidak berurutan. Catatan pengulangan uji berada di lampiran terpisah tanpa penanda silang. Angka yang masuk ke laporan tampaknya diambil dari putaran berbeda.
"Proyek Mercusuar ditunda?"
"Subproyek yang terkait laporan ini ditangguhkan. Amerta juga harus menyusun ulang sumber daya klinis sampai kita bisa membuktikan datanya dapat dipercaya."
Kerugian waktu jauh lebih berbahaya daripada teguran. Keterlambatan satu tahap bisa menggeser uji berikutnya, jadwal pasien, pengadaan, dan kepercayaan mitra.
"Kenapa ini lolos saat serah terima?" tanya Robert.
Amaya tidak segera menjawab. Ia membuka folder digital dari laptop. Berkas mentah memang ada, tetapi dipecah berdasarkan laboratorium, tanggal, dan pengulangan. Tidak ada indeks tunggal yang menghubungkannya ke tabel akhir.
Ia terlalu fokus memahami alur negosiasi, perizinan, dan jadwal proyek. Ia menganggap laporan teknis yang sudah ditandatangani tim lama telah melewati pemeriksaan dasar.
Amaya membuka salah satu catatan sampel. Nomor `A-114` muncul tiga kali dengan hasil berbeda, tetapi hanya pengujian kedua yang dimasukkan ke tabel. Tidak ada keterangan mengapa pengujian pertama dan ketiga dikeluarkan.
Pada sampel lain, waktu pengambilan tertulis pukul delapan pagi di laporan, sedangkan buku penerimaan laboratorium mencatat pukul sebelas lewat empat puluh. Perbedaan beberapa jam dapat mengubah stabilitas bahan dan membuat hasilnya tidak layak dibandingkan.
"Siapa yang menyusun laporan akhir?" tanya Amaya.
"Tim lama Selena, lalu diperbarui tim transisi. Asistenmu bertugas mengumpulkan lampiran untukmu."
"Mandy."
"Ya."
Potongannya tersusun rapi. Data mentah sengaja atau tidak sengaja dipisahkan ke banyak folder. Mandy tidak membuat indeks, tidak mengingatkan rapat, lalu kemungkinan besar akan mengundurkan diri sebelum pertanyaan dimulai. Jika Amaya mengejarnya, perempuan itu cukup berkata bekerja berdasarkan berkas yang tersedia.
Tidak ada perintah tertulis dari Selena. Tidak ada pesan yang bisa dijadikan bukti.
Jebakan paling bersih memang dibangun dari kelalaian yang masih bisa disebut manusiawi.
"Apa kamu melihat tanda manipulasi?" tanya Robert.
"Belum bisa disimpulkan. Ada kemungkinan hasil dipilih tanpa dasar, ada kemungkinan pencatatan buruk. Keduanya sama-sama membuat laporan tidak dapat dipercaya."
"Evaluator memakai kata yang lebih keras."
"Karena mereka nggak wajib memberi kita prasangka baik. Kita yang harus membuktikan setiap angka."
Amaya memotret tiga halaman penting, lalu menuliskan nomor sampel yang harus dilacak terlebih dahulu. Rasa malu tetap ada. Hanya saja ia tidak punya waktu untuk memeliharanya.
Itu kesalahannya.
Selena mungkin menyusun jalan berlubang. Mandy mungkin memastikan ia masuk tanpa lampu. Namun Amaya tetap orang yang menginjak pedal.
"Saya melewatkannya," katanya.
Robert mengerutkan kening. "Hanya itu?"
"Berkasnya dipisah dan indeks penghubungnya tidak lengkap. Tapi saya menerima serah terima. Saya seharusnya mengecek sebelum rapat penilaian."
"Asistenmu tidak memberi undangan."
"Itu menjelaskan kenapa saya terlambat. Bukan kenapa datanya salah."
Robert diam.
Ia sudah menyiapkan kemarahan untuk anak yang akan menangis, menyalahkan bawahan, atau meminta keluarga menutup masalah. Pengakuan singkat Amaya membuat sebagian kata-katanya kehilangan sasaran.
"Kamu paham akibatnya?"
"Ya. Kepercayaan ahli turun, sumber daya klinis Amerta harus dijadwalkan ulang, dan proyek kehilangan waktu."
"Selena bekerja dari staf paling bawah selama setahun sebelum saya beri tanggung jawab. Dia tidak pernah membiarkan kesalahan seperti ini masuk ruang evaluasi."
Perbandingan itu menusuk lebih tajam karena baru dua malam lalu Robert memeluknya sebagai putri.
Amaya menutup laporan.
"Kalau Papa ingin mengembalikan proyek kepadanya, lakukan sekarang."
"Saya tidak bilang begitu."
"Tapi Papa sedang menunggu saya membuktikan bahwa keputusan memberi proyek ini bukan kesalahan."
Tatapan Robert mengeras. "Apa yang akan kamu lakukan?"
"Turun ke bagian klinis."
"Kamu bukan tenaga medis."
"Saya tidak akan menyentuh pasien atau melakukan tindakan. Saya akan mengikuti alur sampel, mencocokkan setiap nomor dengan catatan sumber, dan meminta uji yang perlu direplikasi dilakukan oleh orang berwenang. Saya harus tahu di titik mana tujuh belas persen itu muncul."
"Kamu bahkan belum pernah bekerja di laboratorium klinis."
"Karena itu saya akan masuk sebagai koordinator, bukan berpura-pura jadi dokter. Saya belajar prosesnya, mencatat siapa yang berwenang di setiap tahap, dan memastikan tidak ada data yang pindah tanpa jejak."
Robert mengetuk meja dengan ujung pena. "Orang-orang di sana nggak punya waktu mengajar anak pemilik perusahaan dari nol."
"Kalau saya datang sebagai anak pemilik, usir saya. Kalau saya datang membawa daftar masalah dan mau bekerja, beri saya kesempatan."
"Berapa lama?"
Amaya menghitung cepat. Ribuan baris data, akses lintas unit, jadwal tenaga laboratorium, dan validasi ulang. Dua minggu terlalu sombong. Lebih dari sebulan akan mematikan momentum.
"Beri saya satu bulan."
"Dan kalau gagal?"
"Saya keluar dari proyek. Nggak perlu Papa memecat saya."
Robert berjalan kembali ke meja. "Jangan membuat janji karena emosi."
"Saya nggak emosional."
"Satu bulan untuk membersihkan data yang bahkan tim lama tidak berhasil rapikan bukan pekerjaan kecil."
"Makanya saya mempertaruhkan posisi."
"Dan sumber daya klinis? Amerta baru saja diminta menyusun ulang semuanya."
"Saya akan mendapatkannya kembali."
"Dari siapa?"
Wajah seorang pria berkacamata muncul dalam pikiran Amaya, disusul rasa panas samar di bibir yang seharusnya sudah hilang sejak Sabtu malam.
"Saya akan bicara dengan orang yang berwenang."
Robert menatapnya cukup lama, lalu mengambil pena.
"Satu bulan. Setiap Jumat, kirim laporan kemajuan langsung kepada saya. Kalau ada satu lagi kejutan seperti pagi ini, kamu keluar lebih cepat."
"Setuju."
"Dan jangan berharap saya melindungimu hanya karena pesta kemarin."
"Saya justru berharap Papa menilai hasilnya."
Robert menandatangani catatan keputusan. Kemarahannya belum hilang, tetapi nada suaranya mereda.
"Pergilah. Perbaiki ini."
Amaya berdiri, membawa laporan yang ditolak, lalu keluar dari kantor.
Selena sudah tidak berada di depan pintu.
Amaya membuka WhatsApp dan mengirim pesan kepada Jessica.
`Gue baru pasang leher untuk satu bulan. Butuh akses klinis penuh.`
Balasan datang cepat.
`Sebastian bakal kasih? Setelah lo bikin bibirnya bengkak?`
Amaya tersenyum kecil sambil menekan tombol lift.
`Sebastian bagian gue. Gue yang bujuk.`
Pintu lift terbuka tepat di depannya.
Di dalam pantulan logam, wajahnya terlihat tenang. Tidak ada yang akan menduga bahwa posisi barunya kini hanya memiliki umur tiga puluh hari, dengan ribuan baris data sebagai hakimnya.
Setidaknya soal itu, ia yakin sedang menghadapi pertanyaan paling mudah hari ini.