Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Prang!
Gelas kaca tebal itu hancur berkeping-keping saat dilempar kuat menghantam dinding ruang kerja yang mewah.
Aris berdiri di balik mejanya dengan nafas terengah-engah dan wajah memerah seperti kepiting rebus.
Di depannya, manajer pengadaan bahan baku perusahaannya sedang berlutut ketakutan menatap lantai.
"Kau bilang semua ketua kelompok tani membatalkan kontrak sepihak malam ini juga?!" teriak Aris dengan urat leher yang menonjol keluar.
"B-benar Tuan Muda, pihak perusahaan Nadhira tiba-tiba datang membawa uang tunai belasan miliar rupiah."
"Mereka berani membeli seluruh hasil panen petani dengan harga dua kali lipat lebih mahal dari penawaran maksimal kita."
Brak!
Aris menendang meja kerjanya dengan sangat keras hingga jari kakinya sendiri terasa ngilu.
"Brengsek! Dari mana wanita sialan itu bisa mendapatkan uang tunai sebanyak itu dalam waktu hitungan jam?!"
Manajer itu hanya bisa menggelengkan kepalanya karena dia juga tidak tahu menahu dari mana datangnya dana gaib tersebut.
Tiba-tiba pintu ruangan Aris terbuka dari luar dan masuklah pemimpin preman yang dia utus tadi siang.
Kondisi preman itu sangat mengenaskan karena dia harus berjalan menggunakan kruk penyangga kayu.
"Bos, kami gagal menjalankan tugas menyergap pemuda bernama Bara itu," lapor pemimpin preman itu dengan suara bergetar ketakutan.
Aris menoleh cepat dengan tatapan mata yang sudah terlihat seperti orang gila.
"Gagal? Kalian berlima membawa senjata api tajam dan kalian bilang gagal mengurus satu orang pemulung gembel?!"
Pemimpin preman itu menelan ludahnya dengan susah payah mengingat kengerian di tempat parkir siang tadi.
"Pemuda itu bukan manusia biasa Bos, peluru tajam saya tepat mengenai perutnya dari jarak dekat."
"Tapi anehnya peluru itu tidak tembus dan malah hancur berkeping-keping seolah menabrak baja."
"Dia juga bergerak secepat kilat dan menghancurkan tulang kami semua hanya dalam waktu beberapa detik."
Mendengar laporan absurd yang tidak masuk akal itu, Aris langsung melangkah maju dan menarik kerah baju preman tersebut.
"Kau pasti sengaja mengarang cerita karena kalian takut padanya kan?!" bentak Aris menyemburkan ludah tepat di wajah preman itu.
"Saya berani bersumpah demi nyawa saya Bos, pemuda itu benar-benar monster yang kebal terhadap senjata api."
"Dia juga menitipkan pesan untuk Anda, katanya dia sengaja membiarkan saya hidup untuk menyampaikan pesannya."
Aris melepaskan cengkeramannya perlahan dengan raut wajah yang berubah semakin gelap.
"Pesan apa yang dikatakan oleh gembel itu?" tanya Aris dengan suara rendah.
"Dia bilang akan menghancurkan semua bisnis keluarga Anda mulai besok pagi sampai Anda sendiri yang merangkak mengemis di kakinya."
Tubuh Aris mendadak mundur selangkah dan punggungnya menabrak kursi kerja di belakangnya.
Pabriknya akan segera lumpuh karena kehabisan bahan baku dan pembunuh bayaran terbaiknya dipatahkan dengan sangat mudah.
Pemuda bernama Bara itu ternyata benar-benar datang untuk menghancurkan hidupnya sampai ke akar-akarnya.
"Aku tidak punya pilihan lain lagi, gembel ini terlalu berbahaya kalau dibiarkan berkeliaran," gumam Aris dengan wajah putus asa.
"Aku harus meminta bantuan pada Ayah malam ini juga untuk mengerahkan semua koneksi hitam keluarga kita."
Kalau ayahnya yang merupakan kepala keluarga Aristha turun tangan, mereka pasti bisa meratakan Bara dari kota ini.
Aris segera berlari keluar dari ruangannya menuju kediaman utama ayahnya dengan perasaan kacau balau.
Sementara itu di waktu yang sama, Bara sedang berdiri santai di balkon apartemen mewahnya.
"Malam ini Aris pasti tidak akan bisa tidur nyenyak memikirkan nasib perusahaannya yang akan bangkrut," batin Bara sambil menyesap kopi hitamnya.
Dia kembali masuk ke dalam ruang tengah dan melirik sekilas ke arah jam dinding.
Waktu pendinginan tungku daur ulang multiverse miliknya baru saja selesai sepuluh menit yang lalu.
Bara berjalan menghampiri tungku logam hitam yang tersimpan aman di sudut ruangan tersebut.
"Menghancurkan bisnis mereka dari luar saja rasanya masih kurang cepat dan kurang memuaskan untuk mengobati rasa sakit hatiku."
"Aku butuh mencari rahasia gelap atau dokumen ilegal milik keluarga Aristha untuk menjebloskan mereka semua ke penjara."
Untuk bisa melakukan hal tersebut, Bara tahu betul kalau dia butuh kemampuan khusus untuk menyusup tanpa ketahuan.
Bara mengambil sebuah kantong plastik dari lantai yang berisi beberapa barang bekas yang sengaja dia beli dari pemulung lain.
Dia mengeluarkan sebuah jas hujan plastik berwarna hitam yang sudah robek parah di beberapa bagian lengan dan punggungnya.
"Jas hujan kotor ini fungsinya untuk melindungi tubuh dari air hujan yang turun dari langit."
"Semoga saja sistem bisa memanipulasi konsep perlindungan ini menjadi perlindungan dari pandangan mata orang lain."
Bara langsung menjatuhkan jas hujan robek itu ke dalam lubang tungku yang memancarkan pusaran cahaya biru.
Slup!
Barang rongsokan itu langsung tertelan ke dalam pusaran cahaya tanpa menyisakan suara jatuhan sedikit pun.
[Mendeteksi material baru masuk ke dalam sistem.]
[Material: Pakaian penahan air primitif yang terbuat dari bahan polimer plastik berkualitas sangat buruk.]
[Memulai proses sinkronisasi saluran dengan Stasiun Daur Ulang Multiverse di Sekte Harmoni.]
Bara mendengarkan suara mekanis tanpa emosi di kepalanya dengan santai sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
[Mencari barang buangan atau residu dari Sekte Harmoni yang memiliki karakteristik perlindungan atau penyamaran setara.]
[Proses pertukaran antar dimensi sedang berlangsung... 10 persen... 50 persen... 100 persen.]
[Pertukaran dimensi berhasil dilakukan tanpa adanya hambatan berarti.]
Cahaya biru di dalam tungku tiba-tiba meredup sejenak sebelum akhirnya memuntahkan sebuah benda berwarna gelap ke udara.
Bara menadahkan tangan kanannya dan menangkap benda yang ternyata terasa seringan kapas tersebut.
Benda itu adalah sebuah jubah kain berwarna hitam pekat yang model jahitannya terlihat sangat kuno namun elegan.
[Selamat, Tuan berhasil mendaur ulang material penyamaran untuk pertama kalinya.]
[Sistem mendeteksi bahwa jas hujan rusak tersebut telah ditukar dengan jubah bekas milik anggota divisi intelijen bayangan Sekte Harmoni.]
[Mendapatkan: Jubah Penyamar Hawa Tingkat Dasar.]
Bara melebarkan jubah hitam itu dan mengamatinya dengan sangat teliti di bawah sorotan lampu apartemen.
"Jubah penyamar hawa? Apa ini sejenis jubah tembus pandang seperti yang sering ada di dalam film sihir?" tanya Bara merasa penasaran.
[Menjawab Tuan.]
[Jubah Penyamar Hawa tidak membuat tubuh fisik Tuan menjadi tembus pandang atau tidak terlihat secara mutlak.]
[Namun jubah ini memiliki kemampuan magis untuk memanipulasi cahaya sekitar dan menyerap segala bentuk suara serta panas suhu tubuh dari pemakainya.]
[Jika Tuan memakai jubah ini di tempat yang minim cahaya atau dalam kegelapan malam, keberadaan Tuan akan sepenuhnya menyatu dengan bayangan di sekeliling.]
[Bahkan sensor pendeteksi panas dan kamera keamanan modern tercanggih tidak akan bisa mendeteksi pergerakan Tuan saat tudung jubah ini diaktifkan.]
Mata Bara langsung berbinar-binar terang mendengar penjelasan fitur yang luar biasa hebat dari sistem tersebut.
"Ini adalah barang yang paling sempurna untuk digunakan dalam operasi penyusupan dan pencurian data rahasia," ucap Bara dengan tawa kemenangan yang pelan.
Bara langsung memakai jubah hitam itu menutupi kemeja kasualnya dan menarik bagian tudung kainnya menutupi kepala.
Dia berjalan perlahan menuju cermin besar di kamarnya dan sengaja mematikan saklar lampu ruangan tersebut.
Benar saja, bayangan dirinya di cermin perlahan memudar dan menyatu sangat sempurna dengan kegelapan sudut kamar.
Bahkan suara langkah sepatu Bara yang sengaja digesekkan dengan lantai kayu kini tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Benda gaib ini benar-benar gila, aku merasa diriku sudah berubah menjadi hantu sungguhan sekarang," gumam Bara dari balik kegelapan kamarnya.
Dia melepaskan tudung jubah itu dari kepalanya dan menyalakan kembali lampu kamar agar bisa melihat lingkungan dengan normal.
Bara kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan mencari kontak nama Nadhira di panggilan cepat.
Panggilan telepon itu langsung tersambung hanya pada nada dering kedua.
"Halo Bara, ada apa kamu meneleponku malam-malam begini? Apa ada masalah dengan transfer dananya tadi?" sapa Nadhira dengan suara lembut yang sedikit cemas.
"Tidak ada masalah dengan uangnya Nadhira, aku cuma butuh satu informasi penting darimu malam ini juga."
"Informasi penting apa yang kamu butuhkan dariku Bara? Aku pasti akan memberikan semua yang aku tahu."
"Di mana letak kantor pusat atau brankas utama tempat keluarga Aristha menyimpan semua dokumen rahasia bisnis mereka?" tanya Bara dengan nada suara yang sangat serius.
Terdengar suara helaan nafas yang cukup panjang dan berat dari Nadhira di ujung telepon.
"Bara, apa kamu berniat untuk mendatangi markas utama keluarga mereka sendirian malam ini?"
"Tolong jangan bertindak gegabah dan ceroboh Bara, markas utama mereka dijaga oleh puluhan mantan tentara bayaran yang dipersenjatai lengkap."
"Mereka juga punya kamera pengawas berlapis di setiap sudut ruangan, sangat mustahil bagi manusia biasa untuk masuk ke sana tanpa ketahuan."
Bara tersenyum tipis karena dia sangat menghargai bentuk kekhawatiran yang tulus dari rekan bisnisnya ini.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku berlebihan Nadhira, aku hanya ingin mengecek situasi dari jarak yang aman."
"Aku punya caraku sendiri yang sangat khusus untuk bergerak tanpa terlihat oleh mata siapa pun."
Nadhira terdiam beberapa saat karena dia tahu pria berkarisma ini tidak akan pernah bisa dilarang jika sudah mengambil keputusan.
"Baiklah kalau kamu memang memaksa, kantor pusat keluarga Aristha berlokasi di Gedung Mutiara Hitam lantai paling atas."
"Ruangan pribadi ayah Aris berada tepat di ujung lorong lantai itu dan di sanalah semua data kotor serta uang tunai perusahaan mereka disimpan."
"Terima kasih banyak atas informasinya Nadhira, kamu istirahatlah yang cukup dan biarkan aku yang mengurus sisanya malam ini."
Bara langsung memutus panggilan telepon itu dan menyimpan kembali ponselnya dengan aman ke dalam saku jubah bagian dalam.
"Gedung Mutiara Hitam lantai paling atas ya," gumam Bara sambil menatap ke luar jendela kaca ke arah gemerlap lampu kota yang terang.
Bara menepuk pelan dada kirinya untuk memastikan Kaos Dalam Sutra Ulat Es di balik bajunya sudah siap melindunginya dari tembakan.
Dia kemudian merapatkan ikatan Jubah Penyamar Hawa itu di tubuhnya dan melangkah keluar dari apartemen dengan langkah mantap.
Malam ini dia akan menyusup langsung masuk ke dalam sarang musuh besarnya untuk mencari kartu as yang paling mematikan.
Keluarga Aristha mungkin masih berpikir bahwa mereka bisa aman berlindung di balik tembok beton tinggi dan puluhan penjaga bersenjata api.
Tapi orang-orang sombong itu sama sekali tidak sadar kalau malaikat pencabut nyawa mereka sudah mulai bergerak menyatu dengan bayangan malam.