Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bima menghela napas panjang dan menatap keluar jendela lorong.
Sisa-sisa tikus yang terpojok memang selalu lebih berbahaya karena mereka tidak punya tujuan hidup lain selain membalas dendam.
"Mereka tidak tahu di mana aku tinggal, dan rumah sakit ini sekarang dijaga ketat oleh orang-orangmu."
"Satu-satunya tempat di mana aku akan muncul di depan publik tanpa perlindungan penuh adalah acara konferensi lusa."
Mata Leo membelalak lebar menyadari arah deduksi Bima.
"Konferensi Medis Nasional?"
"Itu sangat masuk akal, keamanan di acara itu hanya diisi oleh petugas sipil biasa."
Leo langsung meraih alat komunikasi di kerahnya dengan panik.
"Saya akan membatalkan kehadiran Anda dan Nona Kiara di acara tersebut sekarang juga."
Grep.
Bima menahan tangan Leo dengan sangat cepat.
"Jangan dibatalkan, Leo."
"Jika kita terus bersembunyi, mereka akan terus menjadi ancaman mematikan di masa depan."
"Lalu Anda ingin menjadikan diri Anda umpan hidup?" tanya Leo tidak percaya.
"Tepat sekali."
"Kita akan menggunakan konferensi itu untuk memancing mereka keluar dan menghabisi mereka semua sekaligus."
Bima tersenyum dingin yang membuat Leo merasa ngeri melihatnya.
"Siapkan tim elitmu secara diam-diam di lokasi acara, Leo."
"Jangan biarkan ada senjata api yang masuk ke gedung konferensi lusa."
"Aku sendiri yang akan mengurus sisa-sisa ular itu jika mereka berani muncul."
Dua hari kemudian.
Suasana di Gedung Balai Kartini sangat ramai dan dipenuhi oleh ratusan dokter dari seluruh penjuru negeri.
Mobil-mobil mewah terparkir berjejer di halaman depan gedung tersebut.
Bima melangkah turun dari mobil sedan hitam dengan mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi.
Di sebelahnya, Kiara berjalan anggun mengenakan gaun formal berwarna putih yang elegan.
Banyak pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua saat mereka berjalan memasuki lobi gedung.
Jepret, jepret, jepret.
Suara kilat kamera dari beberapa wartawan medis mulai menyilaukan mata.
"Itu dia Dokter Bima Aditya, dokter magang yang diangkat menjadi Spesialis Senior dalam satu bulan."
Terdengar bisik-bisik dari sekelompok dokter spesialis dari ibu kota yang berdiri di dekat pintu masuk.
"Kudengar dia berhasil menyembuhkan Kardiomiopati Hipertrofik tanpa operasi bedah."
"Ah, itu pasti hanya kebohongan media atau rumah sakitnya saja yang membesar-besarkan publisitas."
"Mana mungkin pemuda bau kencur sepertinya bisa melampaui kemampuan profesor senior seperti kita."
Bima mendengar semua cibiran itu dengan sangat jelas.
Namun dia sama sekali tidak peduli dan terus berjalan dengan kepala tegak.
Fokus utamanya saat ini bukan pada omong kosong para dokter sombong itu.
"Sistem, pindai seluruh area gedung ini," batin Bima sambil merangkul lengan Kiara.
[Memindai struktur bangunan dan pergerakan manusia secara real-time.]
[Terdeteksi lima ratus orang di lantai utama dan lima puluh staf keamanan sipil.]
[Peringatan, terdapat enam target dengan suhu tubuh tidak wajar di sekitar area ventilasi atas.]
Bima tersenyum tipis di balik ekspresi tenangnya.
Ternyata dugaannya benar seratus persen.
Tikus-tikus dari Ular Hitam itu sudah menyusup masuk sebelum acara dimulai.
"Mereka bersembunyi di jalur ventilasi atap," bisik Bima pada Leo yang menyamar sebagai tamu undangan di belakangnya.
Leo sedikit terkejut namun segera mengangguk paham.
"Mereka pasti berencana menggunakan racun gas udara, Dokter."
"Aku akan menyuruh anak buahku menyergap mereka di ruang kontrol udara sekarang juga."
"Lakukan dengan senyap, jangan sampai memicu kepanikan di acara ini," perintah Bima tanpa menoleh.
Leo segera memisahkan diri dari rombongan dan berjalan cepat menuju area koridor staf.
Bima kemudian menggandeng tangan Kiara untuk memasuki aula utama konferensi.
"Apakah semuanya akan baik-baik saja, Bima?" tanya Kiara pelan.
"Selama aku ada di sini, kau tidak perlu takut pada apa pun," jawab Bima menenangkan.
Teng, teng.
Suara lonceng peringatan berbunyi menandakan acara akan segera dimulai.
Semua dokter mulai mengambil tempat duduk mereka masing-masing.
Seorang pembawa acara naik ke atas panggung utama dan memberikan salam pembuka.
"Selamat pagi, para ahli medis kebanggaan negara."
"Hari ini kita akan memulai sesi pertama dengan pembicara tamu yang sangat spesial."
Pembawa acara itu menunjuk ke arah barisan depan tempat Bima duduk.
"Mari kita sambut, Dokter Bima Aditya dari Rumah Sakit Medika Utama!"
Prok, prok, prok.
Suara tepuk tangan menggema di dalam aula, meskipun beberapa dokter senior terlihat bertepuk tangan dengan sangat malas.
Bima berdiri dan merapikan jasnya sebelum melangkah naik ke atas panggung.
Dia berdiri di belakang mimbar dan menatap ratusan pasang mata yang meragukan kemampuannya.
"Selamat pagi, semuanya."
"Saya tidak akan membuang waktu kalian dengan teori-teori usang yang sudah sering kalian baca di buku cetak."
Bima memulai pidatonya dengan nada yang sangat percaya diri dan provokatif.
"Hari ini saya akan membahas tentang batasan bedah mikro dan bagaimana kita bisa menyembuhkan kelainan genetik tanpa membedah."
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan jas profesor berdiri dari kursi barisan tengah.
"Tunggu sebentar, Anak Muda."
Profesor itu menyela pidato Bima dengan nada yang sangat meremehkan.
"Sebelum kau menggurui kami semua di sini, bisakah kau membuktikan klaim gilamu itu terlebih dahulu?"
"Kau bilang kau menyembuhkan kelainan jantung genetik hanya dengan akupunktur dan cairan yang tidak jelas jenisnya."
"Itu adalah pembodohan publik dan sangat membahayakan integritas dunia medis kita."
Banyak dokter lain yang mengangguk setuju dan mulai berteriak menyalahkan pihak panitia karena mengundang dokter penipu.
Bima menatap profesor itu dengan pandangan sedingin es.
"Lalu bagaimana Anda menjelaskan pasien saya yang kini duduk dengan jantung sehat sempurna di barisan depan itu, Profesor?"
Bima menunjuk ke arah Kiara yang membalas tatapannya dengan tenang.
Profesor itu mendengus sinis dan melipat tangannya di dada.
"Diagnosis awalnya pasti salah sejak awal."
"Pasien itu pasti hanya mengalami pembengkakan otot jantung sementara akibat infeksi virus."
"Kau hanya beruntung virusnya mereda secara alami saat kau melakukan trik akupunktur konyolmu itu."
Bima tertawa pelan mendengar argumen yang dipaksakan tersebut.
Tepat ketika Bima hendak membalas argumen itu, alat komunikasi kecil di telinganya berbunyi.
Keresek.
"Dokter Bima, gawat."
Suara Leo terdengar sangat tegang dari balik alat komunikasi tersebut.
"Kami berhasil melumpuhkan lima orang penyusup di ruang kontrol udara atap."
"Tapi ternyata ada satu orang lagi yang menyamar sebagai pelayan katering di lantai bawah."
"Dia sedang membawa bom racun biologis menuju panggung utama sekarang!"
Mata Bima langsung membelalak dan menatap ke arah pintu masuk staf di samping panggung.
Benar saja.
Seorang pria berpakaian seragam katering sedang mendorong troli minuman menuju ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa.
Tangan kanan pria itu bersembunyi di balik kain penutup troli.
"Sistem, pindai troli itu sekarang!" batin Bima panik.
[Mendeteksi bahan peledak rakitan yang terhubung dengan tabung gas neurotoksin mematikan.]
[Radius ledakan racun akan membunuh seluruh orang di ruangan ini dalam hitungan kurang dari tiga menit.]
Pria pelayan itu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Bima dengan senyum gila.
"Mati kau bersama orang-orang sombong ini, Dokter Iblis!" teriak pria pelayan itu sambil menarik pemicu detonator di balik kain troli.