NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

CAPTER 13

UPAYA MENCIPTAKAN SUASANA ROMANTIS

Sesuai instruksi yang google berikan, Hasan berniat untuk langsung mengambil langkah yang kedua, mengingat langkah yang pertama sudah dia lewati dan hasilnya zonk. Kepalanya terus berputar memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk menciptakan suasana romantis tapi tidak melanggar perjanjian, karena saran yang diberikan mbah google semuanya termasuk dalam perjanjian yang telah disepakati.

“Mumet juga mikirnya...coba nanya tiga kunyuk.” Mengambil telepon tapi tidak jadi menelfon.

“Minta ide ke mereka entar malah diketawain.” Sambil memijit pelipis.

“Ya Allah gini rasanya kalau wanita lagi ngambul...udah kayak mau kiamat dunia ni." Keluh Hasan.

Setelah mempertimbangkan beberapa menit lamanya, dia akhirnya memutuskan untuk minta ide dari tiga kunyuk. Dengan ragu dia menelfon Ilham sang ketua kunyuk. Tidak butuh lama dia langsung mengangkat panggilannya.

“Iya Mas assalamualaikum.”

“Waalaikumus salam...Ham kamu lagi dimana?.”

“Baru aja nyampek rumah habis beli makanan, kenapa Mas?.”

“Ohh...cuma,”

“Cuma apa Mas...apa ada masalah?.” Ilham menebak.

“Nggak...nggak ada apa-apa.”

“Kalau dari nada suaranya justru kebalikannya Mas...ada apa sih Mas?."

 “Tapi jangan cerita-cerita lo ya!."

“Kalau ke Andik sama Ilyas?.”

“Hmmm...cukup mereka jangan sampek ngegosip!.”

“Asiaapp bos!.”

“Ham kamu punya ide bikin suasana romantis tapi nggak yang ngeres gitu?.”

Ilham ketawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Hasan yang terdengar putus asa.

“Duhh Mas ku ini polos banget...jangan bilang sek belum goal ya!.”

“Mulutmu Ham!.” Sentak Hasan.

“Saya pikir dulu ya Mas...entar kalau dapat saya kabari OK!."

“Tapi jangan pakek lama...mendesak ini soalnya! ” Pinta Hasan.

“Siap!.”

Setalah mengakhiri panggilan Hasan keluar dari kamar mandi, supaya Naura tidak mendengarnya dia sengaja menelfon dikamar mandi. Tak lama kemudian dia turun kebawah untuk sarapan dan langsung berangkat ke kampus.

“Lo Naura nggak turun Nak?!.” tanya pak Malik.

“A-adek masih...,” Bingun mau jawab apa.

“Ya sudah biarin aja entar kalau laper dia bakal turun sendiri...nggak usah dimanja.”

“Iya Pa."

Selesai sarapan Hasan menghampiri bik Siti yang lagi bersih-bersih dapur, awalnya Hasan ragu untuk bertanya tapi dia kemudian dia membuang rasa malu itu demi istrinya yang masih merajuk.

“Bik....”

“Iya Den.”

“Saya...saya mau nanyain sesuatu ke Bibik?.” ada jedah panjang.

“Saya mau tahu...istri saya itu sukanya sama apa...maksud saya,”

“Den mba Naura itu emang kalo lagi marah susah dibujuknya...dia nggak suka dibantah, dia suka dilembutin sama perhatian yang hangat kayak yang bapak lakuin ke dia, tetap tenang dan tersenyum meski lagi marah...pasti luluh hatinya. Dia juga suka eskrim sama salad buah.”

“Ohhh gitu...makasih ya Bik.”

“Sama-sama Den."

Pak Malik yang melihat Hasan menghampiri bik Siti dan terlibat obrolan serius menjadi penasaran. Tidak ingin melewatkan sesuatu yang terjadi antara anak dan mantunya, dia juga menghampiri bik Siti.

“Bik...ada apa tadi sama Nak Hasan kok kayaknya serius?.”

“Ohh bukan apa-apa tuan...den Hasan cuma nanyain apa saja yang disukai Non Naura!.”

“Emmm...kayaknya Nana lagi ngambek, biarlah itu urusan mereka berdua.”

“Iya tuan biar mereka sendiri yang ngatasi...siapa tahu jadi lengket entar.” Sambil senyum tipis.

“Semoga kayak gitu nantinya!." Ucap pak Malik dan berlalu dari hadapan bik Siti.

Didalam kamar Naura yang masih emosi tidak bisa menahannya lagi, untuk menumpahkan kemarahannya pada Hasan dia segera turun dari kasur dan berjalan menuju sofa. Kakinya mulai menendang semua barang-barang Hasan termasuk paperba yang beberapa hari kemaren jadi rebutan mereka. Semua barang milik Hasan berserakan dilantai; mulai dari pakaian, buku dan juga kitab yang tiga kunyuk hadiahkan.

Ingat Hasan yang begitu posesiv terhadap isi paperbag itu, tangannya mengambil kitab itu dilantai. Dia membuka dan mulai membacannya, beberapa kali dia mengerutkan alisnya.

“Ihhh kok isinya kayak gini!.” Ucapnya tapi tetap lanjut membaca.

Bahkan kali ini Naura mengambil posisi yang nyaman di sofa untuk melanjutkan bacaannya. Baru beberapa baris membaca terdengar ketukan pintu, Naura buru-buru meletakkan kembali buku itu dilantai.

“Mati aku.”

“Non Bibik masuk ya.” Suara bik Siti membuatnya panik.

Naura berlari kekasur untuk pura-pura tertidur dan menutupi wajahnya dengan bantal guling. Namun dia teringat dengan barang Hasan yang berserakan dilantai, seketika dia bangkit dari tidur.

“Loh Non sudah bangun?!.”

“Sini makanannya...bik Siti keluar aja nggak usah nungguin aku makan.” Sambil mengambil nampan.

“Beneran dimakan ya Non.”

“Iya iya!.” Jawab Naura dan menutup pintu kamar dengan cepat.

Bik Siti melihat keanehan pada diri Naura tapi dia tidak berani mengoreknya, dia hanya bisa menceritakan hal itu pada tuannya.

“Gimana Nana Bik...apa sudah bangun?!.”

“Iya Tuan tapi...,”

“Tapi kenapa Bik?!." Mulai panik.

“Itu tadi pas saya ketuk nggak ada suara dari dalam tapi pas saya baru masuk Non langsung bangun terus ngambil makanannya."

“Huhhh dikira kenapa-napa ma putriku!.”

“Bukan gitu Tuan...Non langsung nyuruh saya keluar, malah langsung nutup pintu...aneh kan Tuan!."

“Masak ada sesuatu yang dia sembunyiin.”

“Atau jangan – jangan Non pura-pura ngambek Tuan!.”

“Bisa jadi.” Pak Malik tersenyum lebar.

“Kasian mantuku itu.” Gumannya.

----

Di kantin kampus

Sambil menyeruput es campur yang mereka pesan, tiga kunyuk tengah serius berdiskusi. Ilham memimpin diskusi itu dengan penuh semangat dan keseriusan level atas. Sementara dua temannya terus memutar otak dan sesekali mencari ide lewat mbah google.

“Giman wes dapet idenya?!.” Ilham tidak sabar.

“Jangan dipecut terus...tambah buntu ini!." Keluh Andik.

“Iya...bantuin mikir juga!.” Sambung Ilyas.

“Ini aku juga mikir!.” Jawab Ilham.

Mereka bertiga lanjut memutar otak dan tidak ada satu pun yang bersuara. Hanya keheningan yang menemani mereka.

“Hmmm...aku ada ide!.” Suara Ilham memecahkan keheningan.

“Apa itu?!.” Tanya kedua temannya.

“Gimana kalau ngasih setangkai mawar merah dan selembar kertas yang isinya SELAMAT PAGI SAYANG, taruh dimeja deket tempat tidur sama secangkir teh hangat?!."

“Ide bagus tuh Ham!.” Ucap Ilyas sambil mengacungkan jempol.

“Tapi harus bangun duluan...biar pas bangun tau-tau udah ada itu dimeja.” Tambah Ilham.

“Sip ide diterima...tinggal lapor sama mas Naruto!.” Ucap Andik.

“NARUTO!.” Ilham dan Ilyas tertawa terpingkal-pingkal.

Ide pun disepakati dan dengan cekatan Ilham langsung menelfon Hasan. Karena tidak ada jawaban, Ilham memberitahunya lewat chat.

“Gimana...udah dibaca?.” tanya Andik.

“Belum, paling masih dikelas.” Jawab Ilham.

“Yang penting udah terkirim...entar pasti dibaca kalo udah pegang hp” ujar Ilyas.

Disore hari ketika merapikan mejanya, Hasan yang iseng membuka hp mendapati beberapa chat termasuk salah satunya dari Ilham. Beberapa chat yang lain dilewatkannya, dia hanya membaca chat dari Ilham. Seyumnya mengembang tak kala membaca isi chat Ilham, jarinya mulai mengetik untuk mengirim balasan.

“Makasih." Balasnya singkat.

Disepanjang perjalanan pulang Hasan terus memikirkan ide yang diberikan Ilham, mengikutinya atau memilih hal lain. Ingat dengan omongan bik Siti terlintas dipikirannya untuk membelikan Naura eskrim dan salad buah. Dia pun singgah sebentar untuk membeli keduanya. Sementara ide Ilham dia akan menggantinya dengan mahar seperangkat alat sholat yang belum dia serahkan.

Sebelum menyalakan mesin sepeda motor, Hasan menghubungi mas Didik untuk menanyakan barang yang dia

pesan sebelumnya.

“Assalamualaikum Mas.”

“Waalaikumussalam...aku baru mau nelfon, udah ditelfon duluan.”

“Mas gimana ma pesananku?.”

“Entar malem rencananya aku ambil pesanannya ditemanku...kenapa udah nggak kuat nungguinnya ya?.”

“Ngomong apa sih Mas!.”

“Ya kan bener...puasa dulu sebelum mahar dibayar!.” Ucap mas Didik sambil tertawa.

“Terus aku bayarnya gimana Mas?." mengalihkan pembicaraan.

“Bayar apa ini?." goda mas Didik.

“Ya bayar yang aku pesen Mas.”

“Pesananya udah aku bayarin...bayarnya entar ke aku, terserah kamu wes bayarnya kapan aja.”

“Bayarnya tunai apa transfer?."

“Transfer aja!.”

“Kalau gitu kirimi aku nomor rekeningnya Mas.”

“Iya habis ini aku kirimin.”

“Mas kalau aku ambil besok bisa nggak?!."

“Bisa tapi agak siangan ya soalnya aku sek nganterin istri dulu.”

“Ohhh..kalo gitu aku ambil sore habis dari

kampus Mas.”

“Ok wes aku tunggu.”

Hasan kembali mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan maksimal, mengingat eskrim yang dia beli takut

mencair sebelum nyampek rumah. Begitu tiba dirumah dia lansung menuju lantai dua dengan tergesa-gesa. Pak Malik yang melihat menantunya tergesa-gesa mencoba menghentikannya.

“Ada apa Nak?.”

Langkah Hasan terhenti begitu mendengar suara pak Malik, sambil tersenyum tipis dia menjawabnya.

“Iya pa?”

“Kenapa kok buru-buru?” pak Malik menjelaskan.

“Maaf Pa...saya hanya takut eskrimnya cair” jawab Hasan malu-malu.

Sementara itu didalam kamar Naura terlarut dengan buku yang dia baca, sambil sesekali berguman dia membaca dengan serius. Tiba-tiba terdengar suara gagang pintu diputar, Naura yang panik langsung menyelipkan buku itu dibawah bantal dan pura-pua tidur.

Begitu masuk Hasan langsung mendekati Naura, menyentuh bahunya dengan lembut dan mencoba membangunkannya. Tangan yang satunya meletakkan makanan yang dia beli diatas meja.

“Mba bangun dulu bentar...ini aku bawa eskrim sama salad buah.” Ucap Hasan pelan.

“Hmmm....”

“Ayo bangun dulu habis itu lanjut tidur nggak apa-apa.” Pinta Hasan.

Naura tetap acuh dan bahkan menutupi telinganya dengan bantal sebelum akhirnya teringat dengan barang milik

Hasan yang berserakan dilantai.

“Kalo sampek tahu buku yang itu nggak ada...mampus lah aku” gumannya dalam hati.

Supaya bisa mengembalikan buku itu bersama dengan yang lainnya, Naura yang tadinya males untuk bangun langsung bangkit. Dan dengan terpaksa bersedia makan eskrim dan salad buah yang dibawakan Hasan.

“sendoknya mana?.”

“Tunggu bentar ya aku ambilin.”

Hasan bangkit dan segera turun untuk mengambil sendok, dia tidak menyadari barang miliknya yang berserakan dilantai.

Begitu Hasan tidak terlihat, Naura menarik buku itu dari bawah bantal dan melemparnya kearah barang lain

dilantai. Lalu dia pura-pura duduk terdiam diatas kasur sambil membuka kotak eskrim.

“Pasti Papa ini yang ngasih tau...siapa lagi yang berani bocorin kalau bukan Papa.” Gumannya.

Hasan kembali dengan membawa sendok ditangannya, lalu dengan lembut menyerahkannya ke Naura. Senyum manis terlukis diwajah Naura ketika memakan eskrim itu.

Hasan bangkit dari duduknya dan hendak meletakkan tas ranselnya di sofa, namun matanya dibuat kaget ketika mendapati semua miliknya berserakan dilantai. Dia menoleh ke Naura yang dengan suka cita memakan eskrim yang dia beli. Hatinya yang tadi terbakar emosi jadi mendingin sehingga dia bisa mengontrol emosinya dengan baik.

Dengan tatapan sedih dia memungut satu persatu barang miliknya dan merapikannya kembali. Matanya mengitari setiap sisi ruangan untuk menemukan tempat yang bisa digunakan untuk menaruh barang miliknya dan tidak mengganggu pandangan Naura.

Hasan melangkah kepojok ruangan yang tidak jauh dari tv, dia meletakkan semua barang miliknya disana termasuk tas ransel yang dipunggungnya. Naura menoleh dan melihatnya yang tengah sibuk dipojok ruangan, hatinya sedikit tersentuh tapi segera menepisnya.

“Mba makannya jangan diatas kasur... disana aja, biar kasurnya nggak kotor!.” Sambil menunjuk ke sofa.

“Hmm....” Berjalan ke sofa sambil membawa makanan.

Setelah menjatuhkan dirinya di sofa dan meletakkan salad buah dimeja, sambil menonton televisi dia lanjut menghabiskan eskrim ditangannya.

“Mba saya mandi dulu ya.”

“Emmm....” Jawab Naura yang malas bicara.

Tak lama kemudian Hasan keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian, dia mengenakan kaos warna biru muda dan celana longgar panjang warna coklat bisque. Badannya terasa berat dan capek, sebenarnya dia ingin istirahat sebentar disofa tapi berhubung ada Naura tengah duduk nyantai disana, dia membatalkan niatnya. Bingung harus istirahat dimana dia pun berjalan kepojok ruangan, mengambil sajadah dan menggelarnya dilantai. Tanpa berpikir lama Hasan merebahkan badannya diatas sajadah dan beberapa menit berikutnya dia sudah terlelap.

Naura tidak memperhatikan kalau Hasan tertidur, dia dengan nyantai menonton televisi dan menghabiskan makanan yang dibelikan Hasan untuknya. Begitu makanan itu habis Naura mematikan televisi dan berniat untuk mandi, namun sebelum melangkah dari sana dia melihat Hasan tertidur dilantai. Entah kenapa hatinya dibuat tergores dan matanya berkaca-kaca, dia ingin mendekati pria itu tapi mengurungkannya. Dia berjalan cepat ke kamar mandi dan membenamkan dirinya dibak mandi. Bayangan Hasan yang tidur dilantai terus berada dibenaknya, dan tak terasa air mata menetes membasahi pipinya yang mulus.

Setelah beberapa lama, Naura keluar dari kamar mandi dan dia masih mendapati Hasan terbaring dilantai. Hatinya meminta untuk membangunkan pria itu dan menyuruhnya pindah ke sofa tapi egonya menghentikannya. Rupanya kali ini ego masih menguasai dirinya dan dia membiarkan Hasan terbaring disana sementara dia berada diatas kasur yang empuk.

Adzan magrib berkumandang dan Hasan terbagun dari tidur, badannya semakin terasa berat dan kepalanya sedikit pusing. Tapi dia harus turun kebawah untuk sholat berjamaah, melihat Naura tertidur dia tidak ingin membangunkannya. Sebenarnya hatinya masih merasa sakit dengan perbuatan Naura tapi dia berusaha tetap tenang. Sambil menenteng plastik yang berisi kotak eskrim dan salad yang sudah kosong, dia turun kebawah.

“Bik tempat sampahnya dimana?.” tanya dia begitu berada dibawah.

“Sini Den biar bibik yang naruhnya ditempat sampah.” Jawab bik Siti sambil mengambil kantong plastik dari tangan Hasan.

“Nana nggak turun?.” tanya pak Malik.

“Adek lagi halangan Pa.” Jawab Hasan asal.

“Ohhh...kalau gitu ayo sholat!.”

----

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!