NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Rahasia yang Tersimpan

Malam itu, setelah panggilan telepon berakhir, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara.

Reynard masih memegang ponselnya.

Sementara Almira duduk diam dengan kedua tangan terlipat di atas meja.

Kalimat terakhir Arman Mahardika masih terngiang jelas di kepala mereka.

"Besok datanglah bersama Almira."

Bukan hanya Reynard.

Bersama Almira.

Seolah ayah Reynard tahu persis apa yang sedang mereka lakukan.

Seolah ia tahu bahwa mereka menyelidiki hal yang sama.

Dan kemungkinan itu membuat suasana menjadi jauh lebih tidak nyaman.

"Aku tidak suka ini."

kata Almira akhirnya.

"Nomor berapa?"

tanya Reynard.

"Apa?"

"Kamu sudah mengatakan kalimat itu sekitar lima puluh kali sejak kita memulai investigasi."

Biasanya Almira akan membalas.

Biasanya.

Namun kali ini ia hanya menghela napas.

Karena ia terlalu lelah untuk berdebat.

"Menurutmu dia tahu sejauh mana penyelidikan kita?"

tanya Almira.

Reynard berpikir beberapa saat.

"Lebih banyak daripada yang kita kira."

"Itu tidak menenangkan."

"Aku tidak berniat menenangkanmu."

"Itu juga tidak membantu."

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Reynard sedikit terangkat.

Dan anehnya, hal itu membuat Almira merasa sedikit lebih baik.

Meski begitu, keduanya tetap sulit tidur malam itu.

Terlalu banyak kemungkinan yang berputar di kepala mereka.

Jika ayah Reynard memang mengetahui sesuatu, kenapa baru sekarang berbicara?

Kenapa menunggu?

Kenapa membiarkan mereka menyelidiki sendiri selama berminggu-minggu?

Dan yang paling penting...

Apakah semua ini benar-benar berhubungan dengan keluarga mereka?

Keesokan paginya, Jakarta terasa lebih panas dari biasanya.

Atau mungkin itu hanya perasaan mereka.

Mobil yang membawa Almira menuju kediaman keluarga Mahardika bergerak perlahan melewati jalanan ibu kota.

Di kursi belakang, ia terus menatap keluar jendela.

Tidak benar-benar melihat apa pun.

Pikirannya terlalu sibuk.

Ketika mobil berhenti di depan gerbang besar rumah keluarga Mahardika, Reynard sudah lebih dulu tiba.

Pria itu berdiri di dekat teras.

Mengenakan kemeja biru tua sederhana.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, mereka bertemu bukan di kantor.

Bukan di ruang rapat.

Bukan karena pekerjaan.

Dan itu terasa sedikit aneh.

"Kamu terlihat gugup."

kata Reynard.

"Aku tidak gugup."

"Bohong."

"Aku hanya waspada."

"Itu versi elegan dari gugup."

Almira langsung menatap tajam.

Namun sebelum ia sempat membalas, pintu rumah terbuka.

Dan seorang pelayan mempersilakan mereka masuk.

Rumah keluarga Mahardika sangat besar.

Namun tidak terasa dingin seperti kebanyakan rumah keluarga konglomerat.

Sebaliknya, suasananya hangat.

Hidup.

Penuh foto keluarga.

Penuh kenangan.

Sesuatu yang membuat Almira sedikit terkejut.

Mereka dibawa menuju ruang kerja pribadi Arman Mahardika.

Ruangan luas dengan rak buku tinggi dan jendela besar menghadap taman belakang.

Di sana, Arman Mahardika sudah menunggu.

Dan ia tidak sendirian.

Pradipta Valencia juga ada di sana.

Langkah Almira langsung terhenti.

"Ayah?"

Pradipta menoleh.

Wajahnya terlihat tenang.

Namun matanya menyimpan sesuatu yang tidak biasa.

Sesuatu yang membuat Almira langsung tahu.

Mereka memang sudah menunggu momen ini.

"Silakan duduk."

kata Arman.

Tidak ada senyum.

Tidak ada basa-basi.

Langsung ke inti.

Dan itu membuat suasana semakin tegang.

Begitu semua duduk, tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Akhirnya Arman menghela napas panjang.

"Lalu."

katanya.

"Sejauh mana kalian sudah menemukan?"

Pertanyaan itu membuat Almira dan Reynard saling menatap.

Karena itu bukan pertanyaan seseorang yang tidak tahu apa-apa.

Itu pertanyaan seseorang yang sudah tahu cukup banyak.

"Lebih baik Ayah yang menjelaskan."

kata Reynard.

Arman tersenyum tipis.

"Jadi memang sudah sejauh itu."

"Jawab pertanyaan kami."

kata Almira.

Nada suaranya jauh lebih tajam.

Biasanya ia akan merasa tidak sopan berbicara seperti itu kepada orang tua.

Namun situasi ini berbeda.

Sangat berbeda.

Arman dan Pradipta saling bertukar pandang.

Seolah sedang memutuskan sesuatu.

Lalu akhirnya Pradipta yang berbicara lebih dulu.

"Nusantara Connect."

Ruangan langsung hening.

Karena nama itu akhirnya diucapkan oleh salah satu dari mereka.

"Ayah mengenal perusahaan itu."

lanjut Pradipta.

"Bukan hanya mengenal."

kata Reynard.

"Kalian terhubung dengan mereka."

Pradipta tidak membantah.

Dan justru itulah yang membuat jantung Almira berdegup lebih keras.

"Tiga tahun lalu."

kata Arman perlahan.

"Kami menemukan sesuatu."

"Sesuatu apa?"

tanya Almira.

Arman diam sejenak.

Kemudian menjawab.

"Sebuah jaringan."

Almira mengerutkan dahi.

Jaringan?

Apa maksudnya?

"Bukan jaringan bisnis biasa."

jelas Pradipta.

"Bukan juga organisasi resmi."

"Lalu?"

tanya Reynard.

"Kelompok orang."

jawab Arman.

"Orang-orang yang menggunakan perusahaan legal untuk memindahkan informasi dan aset secara diam-diam."

Ruangan kembali sunyi.

Karena kalimat itu jauh lebih serius daripada yang mereka bayangkan.

"Ayah sedang mengatakan ada organisasi ilegal?"

tanya Almira.

"Bukan organisasi seperti di film."

jawab Pradipta.

"Lebih seperti aliansi."

"Aliansi apa?"

"Aliansi orang-orang berpengaruh."

Almira langsung teringat daftar nama di flashdisk.

Para direktur.

Pemilik perusahaan.

Petinggi bisnis.

Mendadak semuanya terasa masuk akal.

Atau justru semakin tidak masuk akal.

"Nusantara Connect bagian dari mereka?"

tanya Reynard.

Arman mengangguk pelan.

"Dulu."

"Dulu?"

"Itulah masalahnya."

Untuk pertama kalinya, ekspresi Arman berubah.

Bukan seperti pengusaha besar.

Bukan seperti ayah yang tenang.

Melainkan seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat.

"Tiga tahun lalu kami mencoba menghentikan mereka."

katanya.

Dan kalimat itu membuat Almira membeku.

"Kami?"

ulangnya.

"Siapa kami?"

Pradipta tersenyum tipis.

Lelah.

Sangat lelah.

"Kami berdua."

Ia menunjuk dirinya dan Arman.

"Ayah dan Om Arman?"

"Ya."

jawab Pradipta.

"Kami bekerja sama."

Untuk sesaat, seluruh kepingan puzzle yang selama ini bertebaran mulai bergerak.

Pertemuan rahasia.

Daftar nama.

Kode-kode.

Foto.

Semuanya mulai membentuk gambaran yang lebih jelas.

"Jadi daftar pertemuan itu..."

kata Reynard.

"Bukan daftar pelaku."

Arman menggeleng.

"Itu daftar penyelidikan."

Almira dan Reynard langsung saling menatap.

"Tunggu."

kata Almira.

"Itu berarti..."

"Kami sedang mengumpulkan bukti."

jawab Pradipta.

"Selama bertahun-tahun."

Almira merasakan dunia berputar sedikit lebih lambat.

Karena itu mengubah segalanya.

Seluruh asumsi mereka selama ini salah.

"Kalau begitu kenapa tidak memberitahu kami sejak awal?"

tanya Reynard.

Pertanyaan yang langsung membuat ruangan kembali sunyi.

Pradipta dan Arman saling berpandangan lagi.

Lalu Pradipta menjawab.

"Karena kalian tidak seharusnya terlibat."

Jawaban itu langsung membuat Almira berdiri.

"Terlambat."

katanya.

Suaranya bergetar.

"Banyak sekali yang terjadi karena kami tidak tahu apa-apa."

Arman mengangguk pelan.

Tidak membantah.

Karena ia tahu Almira benar.

"Ada satu hal lagi."

kata Arman.

Nada suaranya berubah.

Lebih serius.

Lebih berat.

Dan itu membuat semua orang kembali diam.

"Apa?"

tanya Reynard.

Arman menatap putranya.

Kemudian menatap Almira.

Lalu mengucapkan kalimat yang membuat keduanya membeku.

"Kalian bukan orang pertama yang mencoba menyelidiki ini."

Tidak ada yang berbicara.

"Siapa sebelumnya?"

tanya Almira.

Pelan.

Hampir berbisik.

Pradipta menundukkan kepala sejenak.

Seolah mencari kata yang tepat.

Kemudian ia menjawab.

"Dimas."

Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Karena untuk pertama kalinya mereka tahu alasan sebenarnya di balik hilangnya Dimas.

Dan itu berarti satu hal yang sangat mengerikan.

Dimas tidak tersandung masalah ini secara kebetulan.

Dimas sengaja mencari kebenaran.

Sama seperti mereka.

Dan jika Dimas menghilang setelah menemukan sesuatu...

Maka kemungkinan besar mereka sedang berjalan menuju nasib yang sama.

Di luar jendela, angin sore mulai bertiup kencang.

Sementara di dalam ruangan, sebuah rahasia yang tersimpan selama bertahun-tahun akhirnya mulai terbuka.

Namun semakin banyak jawaban yang muncul, semakin jelas bahwa bahaya yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.

Dan permainan yang sebenarnya...

Baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!