NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok di lantai puncak

Siang itu, sinar matahari masuk membelah kaca-kaca besar Gedung Artha Mas, menciptakan pantulan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Di lantai dua puluh, lantai tertinggi yang menjadi pusat kekuasaan dan kemewahan, suasana selalu berbeda dibandingkan lantai-lantai di bawahnya. Udara terasa lebih dingin karena penyejuk ruangan yang disetel suhunya rendah, aroma ruangan berbau wangi dan mahal, serta kesunyian yang berwibawa, seolah setiap sudut di sana tahu betapa tingginya nilai uang yang berputar di tempat itu. Di sinilah ruangan-ruangan direksi, ruang rapat utama, dan kantor pribadi pemilik gedung berada. Area yang jarang sekali disinggahi oleh para pekerja kebersihan seperti Bagas, kecuali saat ada jadwal pembersihan rutin atau saat diperintahkan secara khusus.

Pagi itu, Bagas baru saja selesai memoles lantai marmer putih yang berkilau bak cermin. Ia bekerja dengan sangat teliti, gerakan tangannya terlatih dan luwes, memastikan tak ada satu pun noda, debu, atau jejak kaki yang tertinggal. Bagi orang lain, menjadi OB hanyalah pekerjaan kasar yang membosankan, namun bagi Bagas, setiap gerakan adalah pelajaran, setiap sudut adalah pengamatan, dan setiap ruangan adalah jendela untuk melihat dunia yang jauh lebih besar dari kehidupannya yang sempit. Ia mengenakan seragam biru dongker yang sudah agak pudar, kemeja berkerah pendek yang dimasukkan ke dalam celana bahan, lengkap dengan sepatu karet hitam yang sudah tipis bagian bawahnya. Meski berpakaian sederhana dan berpenampilan apa adanya, jika dilihat lebih dekat, rupa Bagas sebenarnya sangat menawan. Ia memiliki rahang yang tegas, alis yang rapi, mata berwarna cokelat tajam yang menyimpan kecerdasan tinggi, serta hidung dan bibir yang membentuk wajah sangat tampan—sebuah anugerah fisik yang sering kali terlindas oleh nasib buruk dan kemiskinan.

Namun, sejak kecil, Bagas sudah belajar satu hal penting: agar selamat dan tidak menimbulkan masalah, seorang anak miskin haruslah pandai menempatkan diri. Ia selalu berjalan menunduk, bicara seperlunya saja, bergerak pelan, dan berusaha menjadi sosok yang "tak terlihat". Ia tahu, ketampanannya tidak ada gunanya jika ia tidak punya apa-apa. Bahkan, ketampanan itu bisa menjadi bumerang jika sampai membuat orang lain merasa terancam atau iri. Maka, setiap kali ada pegawai kantor atau atasan lewat, kepalanya otomatis tertunduk rendah, pandangannya terkunci pada lantai atau ujung sepatu orang yang lewat, seolah-olah ia hanyalah seonggok bayangan tak bernyawa yang tidak pantas dilihat.

Saat ia sedang membereskan peralatan kebersihannya ke dalam kereta dorong beroda empat yang sudah agak berkarat, terdengar bunyi lonceng khas tanda pintu lift terbuka. Suara itu nyaring dan bergema di koridor panjang yang kosong. Bagas menepikan keretanya ke sisi dinding, memberi jalan seperti biasa, sambil tetap membungkukan badan sedikit dan menunduk hormat. Ia mengira itu adalah pak satpam atau mungkin salah satu manajer yang datang lebih pagi, namun detik berikutnya, langkah kaki yang terdengar bukanlah langkah kaki berat atau tergesa-gesa, melainkan ketukan ritmis dan tegas dari sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer. Bunyi tak... tak... tak... itu terdengar berirama, penuh percaya diri, dan memancarkan wibawa yang tinggi.

Saat Bagas memberanikan diri melirik sekilas dari balik bahunya, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Seorang wanita muda melangkah keluar dari pintu lift kaca itu dengan anggun, seolah sedang berjalan di atas permadani merah. Itu adalah Naya, anak tunggal dari Bapak Ardiansyah, pemilik tunggal Gedung Artha Mas dan beberapa perusahaan cabang lainnya. Di seluruh gedung ini, tak ada satu pun yang tidak mengenal wajah itu. Naya adalah putri tunggal, penerus tunggal, dan mutiara paling berharga bagi keluarga pemilik gedung.

Naya kini berusia 24 tahun, baru saja menyelesaikan pendidikan tingginya di luar negeri dan kini mulai membantu ayahnya mengelola perusahaan. Kecantikannya bukan sekadar cantik biasa, melainkan kecantikan yang memukau, berkelas, dan memancarkan kemewahan. Wajahnya tirus dengan kulit seputih susu yang terawat sempurna, mata bundar besar yang tajam dan cerdas, sepasang alis yang indah, serta bibir merah alami yang sering kali terkatup rapat seolah enggan tersenyum. Rambut hitam panjangnya disisir rapi jatuh terurai hingga ke bahu, berkilau terkena cahaya lampu gantung di langit-langit. Pagi itu ia mengenakan setelan jas wanita berwarna krem yang pas di badan, terbuat dari bahan mahal yang jatuhnya begitu halus, dipadukan dengan rok selutut dan sepatu hak tinggi berwarna senada yang tampak berkilauan. Di tangannya tergantung tas tangan kecil bermerek yang harganya mungkin melebihi gaji Bagas selama dua tahun bekerja tanpa henti.

Namun, yang paling terasa bukanlah kecantikannya, melainkan auranya. Naya memiliki wajah yang dingin, tatapan yang tajam, dan raut muka yang penuh keangkuhan. Ia terbiasa menjadi pusat perhatian, terbiasa disanjung, terbiasa diperlakukan istimewa, dan terbiasa semua orang menuruti kemauannya. Saat ia berjalan melewati koridor itu, kepalanya sedikit mendongak ke atas, pandangannya menatap lurus ke depan, seolah tak ada satu pun makhluk hidup di sekitarnya yang setara atau pantas untuk ia sapa. Bagi Naya, orang-orang di gedung ini terbagi dua: mereka yang bernilai dan diajak berunding, serta mereka yang sekadar bekerja untuknya—termasuk para satpam, tukang kebun, dan tentu saja, para OB seperti Bagas.

Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi akan berpapasan, jantung Bagas berdegup semakin kencang. Ia mencoba menunduk lebih rendah lagi, berusaha mengecilkan tubuhnya agar tidak menghalangi jalan. Namun, entah karena gerakan tangannya yang sedikit bergetar atau karena posisi keretanya yang agak keluar, bahu Bagas tak sengaja menyenggol sedikit gagang pintu ruangan, menimbulkan bunyi kecil yang memecah kesunyian.

Langkah Naya terhenti sepersekian detik. Ia menoleh ke samping, tepat ke arah Bagas. Mata mereka bersitatap.

Detik itu, dunia Bagas serasa berhenti berputar. Ia sempat menatap manik mata Naya yang indah namun dingin itu. Di dalam hati yang paling dalam, ada rasa kagum yang meledak hebat. Bagi Bagas yang hidup di tengah keterbatasan dan kesuraman, sosok Naya bagaikan cahaya matahari yang terang benderang. Ia melihat kecerdasan di balik tatapan itu, melihat ketegasan, melihat kemegahan yang selama ini hanya ia bayangkan ada di dalam buku cerita. Ia merasa tersentuh hanya karena wanita itu menoleh sedikit ke arahnya.

Namun, tatapan itu hanya berlangsung sekejap. Mata Naya meneliti Bagas dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cepat—melihat seragam lusuhnya, melihat tangan yang kotor terkena debu, melihat wajah pemuda itu yang tertunduk malu—lalu kembali beralih ke depan dengan ekspresi yang sama sekali tak berubah, datar, acuh tak acuh, dan sedikit meremehkan. Baginya, Bagas hanyalah salah satu dari sekian banyak pekerja rendahan yang ada di gedung milik ayahnya. Tidak lebih. Tidak ada rasa penasaran, tidak ada rasa simpati, bahkan tidak ada rasa ingin tahu sedikit pun. Bagas hanyalah debu yang sedang ia lewati.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa sekalipun mengangguk atau tersenyum, Naya kembali melanjutkan langkah kakinya. Ia berjalan lewat tepat di samping Bagas, begitu dekat hingga Bagas bisa mencium aroma wangi bunga mawar dan kayu cendana yang sangat mahal yang melekat pada tubuh dan pakaian wanita itu. Wangi itu melekat lama di udara, bahkan setelah sosoknya menghilang di balik pintu ruangan besar bertuliskan "Kantor Direktur Utama" yang berat itu tertutup kembali.

Bagas masih diam terpaku di tempatnya, napasnya tersendat. Ia memegangi dadanya yang berdegup tak beraturan. Perasaan apa ini? Rasa kagum yang luar biasa? Rasa tertarik yang tak bisa ia tolak? Atau sekadar kekaguman pada sesuatu yang begitu indah namun begitu jauh jangkauannya? Ia tidak tahu. Yang ia tahu, pertemuan singkat kurang dari satu menit itu berhasil mengacak-acak isi kepalanya.

Perlahan, senyum getir tersungging di bibirnya. Ia menunduk memandang pakaiannya sendiri yang kusam, lalu menatap pintu tertutup tempat Naya menghilang tadi.

"Sejauh langit dan bumi..." gumamnya pelan, suaranya sangat rendah hingga tak mungkin didengar siapa pun selain dirinya sendiri.

Ia sadar betul. Ia sadar posisinya. Ia sadar siapa dirinya dan siapa wanita itu. Naya adalah putri pemilik gedung, wanita yang lahir di atas kemewahan, dididik di luar negeri, hidup dalam kemudahan, dan kelak akan bersanding dengan pria terpandang, kaya raya, dan berderajat sama dengannya. Sedangkan dirinya? Bagas hanyalah anak janda miskin yang rumahnya bocor kalau hujan turun, anak yang harus memikul beban biaya pengobatan ibunya setiap hari, pemuda yang tak punya ijazah tinggi, tak punya harta, dan tak punya koneksi. Jarak antara mereka bukan sekadar jarak lantai gedung atau jarak status pekerjaan, melainkan jarak kasta, jarak kekayaan, dan jarak masa depan yang sangat berbeda.

Mencintai Naya sama saja dengan memimpikan bulan di langit: indah dilihat, mempesona hati, tapi mustahil untuk diraih. Bahkan untuk sekadar berbicara empat mata pun rasanya adalah hal yang tak mungkin terjadi. Bagas tahu, jika ia sampai meluapkan perasaannya, ia hanya akan ditertawakan, dianggap kurang ajar, atau bahkan diusir karena berani bermimpi terlalu tinggi.

Namun, anehnya, rasa itu tak mau pergi. Justru pertemuan singkat itu menanamkan benih-benih tekad yang lebih kuat di dada Bagas. Ia kembali bergerak membereskan alat kebersihannya, tapi kali ini semangatnya terasa berbeda. Di balik tatapan matanya yang kembali tertunduk rendah, ada api kecil yang mulai menyala. Ia tahu sekarang ada alasan lain selain ibunya untuk terus berjuang. Ia tidak bisa selamanya begini. Ia tidak bisa selamanya menjadi bayangan yang hanya bisa menatap Naya dari kejauhan dengan rasa minder.

"Suatu hari nanti..." bisik hatinya dalam diam saat ia mulai berjalan menuju lift untuk turun kembali ke lantai dasar, "Aku akan berdiri di sana, di lantai itu, di depan pintu itu, dan saat itu terjadi... aku tidak akan lagi sekadar menjadi debu yang dilewati."

Pertemuan tak sengaja itu menjadi titik balik kecil namun berarti bagi Bagas. Ia kembali sadar betapa rendahnya posisinya saat ini, tapi juga menyadari betapa besarnya mimpi yang ingin ia gapai. Dan rasa suka diam-diam pada wanita yang jauh di atas sana itu perlahan berubah menjadi bahan bakar yang mendorongnya untuk terus mengasah akal, mengumpulkan pengetahuan, dan bersabar menunggu waktu yang tepat untuk mengubah nasibnya. Di dalam hatinya, ia menyimpan wajah Naya sebagai standar kemewahan dan kehormatan yang kelak ingin ia raih, sekaligus menjadi pengingat keras akan perbedaan yang harus ia hapuskan.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!