Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Udara Puncak Dalam
Puncak Dalam Sekte Pedang Langit menjulang tinggi menembus awan, terpisah dari Puncak Luar oleh sebuah jembatan gantung raksasa yang terbuat dari rantai besi hitam purba. Di bawah jembatan itu, terbentang jurang tanpa dasar yang terus-menerus memuntahkan kabut spiritual yang sangat padat.
Lin Tian melangkah tenang melintasi jembatan tersebut, memapah Lin Chen yang masih meringis menahan nyeri di dadanya. Di depan mereka, seorang diaken sekte dalam berjalan memandu jalan dengan sikap yang sangat sopan—berbeda 180 derajat dengan perlakuan yang biasa diterima murid luar.
"Kakak Tian... energi spiritual di sini..." Lin Chen menghirup napas panjang, matanya terbelalak. "Setidaknya lima kali lebih padat daripada di Pelataran 404! Hanya dengan bernapas, aku merasa meridianku bergejolak."
"Ini baru permulaan, Chen'er," jawab Lin Tian dengan senyum tipis.
Diaken di depan mereka menoleh dan tersenyum ramah. "Tuan Muda Lin benar. Puncak Dalam dibangun di atas titik temu tiga nadi bumi spiritual. Dan sebagai Murid Elit, Anda berhak menempati salah satu dari tiga puluh enam paviliun mandiri yang letaknya paling dekat dengan pusat nadi bumi tersebut."
Mereka tiba di sebuah lereng yang dipenuhi pohon bambu giok. Di tengah rimbunnya bambu tersebut, berdiri sebuah bangunan dua lantai bergaya klasik dengan atap melengkung berwarna hijau zamrud. Di atas gerbang kayunya terpampang papan nama berukir kaligrafi emas: Paviliun Bambu Angin.
"Ini adalah kediaman baru Anda, Tuan Muda Lin," ucap diaken itu sambil menyerahkan sebuah plakat giok putih yang berfungsi sebagai kunci pelindung formasi paviliun. "Setiap bulan, seratus Batu Roh tingkat menengah dan lima botol Pil Kondensasi Roh akan dikirimkan langsung ke mari. Jika tidak ada hal lain, saya undur diri."
Setelah diaken itu pergi, Lin Tian mengaktifkan formasi pelindung paviliun. Seketika, lapisan cahaya keemasan tipis menyelimuti seluruh area kediaman, memblokir suara dan memisahkan mereka dari dunia luar.
Mereka masuk ke dalam. Ruangannya sangat luas, dihiasi perabotan dari kayu wangi dan dilengkapi dengan ruang meditasi khusus yang lantainya terbuat dari batu giok penarik Qi.
Lin Tian membaringkan adiknya di atas ranjang giok. Ia mengeluarkan Batu Roh tingkat menengah milik Zhao Lie dan meletakkannya di dada Lin Chen.
"Serap energi batu ini perlahan sambil menyembuhkan lukamu. Formasi paviliun ini sangat kuat, tidak akan ada anjing dari faksi Zhao yang bisa mendobrak masuk," instruksi Lin Tian. "Aku akan pergi ke Paviliun Seni Bela Diri Sekte Dalam untuk melihat-lihat."
Lin Chen mengangguk patuh. Keberadaan kakaknya telah memberinya rasa aman yang tak tertandingi.
Paviliun Seni Bela Diri Sekte Dalam jauh lebih megah dibandingkan yang ada di sekte luar. Bangunan ini memiliki sembilan lantai, menjulang seperti pagoda raksasa yang memancarkan pendaran cahaya formasi kuno.
Begitu Lin Tian menunjukkan plakat Murid Elit-nya, dua penjaga berzirah perak yang berada di ranah Mortal tingkat delapan segera memberi hormat dan membukakan pintu perunggu raksasa untuknya.
"Sebagai Murid Elit, Anda memiliki akses bebas hingga ke lantai tiga, tempat disimpannya teknik-teknik tingkat Bumi Rendah. Anda memiliki waktu dua jam," ucap salah satu penjaga.
Lin Tian mengangguk dan melangkah masuk. Ia sama sekali tidak membuang waktu di lantai satu atau dua yang berisi teknik tingkat Fana. Ia langsung menaiki tangga spiral menuju lantai tiga.
Begitu kakinya menginjak lantai tiga, sebuah tekanan gravitasi spiritual yang luar biasa berat langsung menekan tubuhnya. Jika seorang kultivator tingkat lima biasa masuk ke sini tanpa persiapan, organ dalam mereka pasti akan bergeser, dan mereka akan memuntahkan darah seketika. Ini adalah formasi penguji kelayakan; hanya mereka yang memiliki fondasi Qi yang sangat murni yang bisa berdiri tegak.
Bagi Lin Tian, tekanan ini tidak lebih dari pijatan ringan. Tulang naganya berderak pelan, menyerap tekanan itu tanpa perlawanan berarti.
Ruangan di lantai tiga tidak terlalu besar. Rak-raknya tidak terbuat dari kayu biasa, melainkan dari batu kristal es. Hanya terdapat sekitar tiga puluh gulungan giok yang melayang di atas alasnya masing-masing, memancarkan fluktuasi elemen yang kuat.
Lin Tian berjalan perlahan, memindai satu per satu.
[Pedang Pemecah Lautan - Tingkat Bumi Rendah]
[Zirah Api Penyucian - Tingkat Bumi Rendah]
Lin Tian menggelengkan kepalanya. Daya hancur dari Tinju Runtuh Sembilan Lapis miliknya sudah sangat cukup, dan pertahanan tubuhnya telah melampaui zirah apa pun. Yang ia butuhkan saat ini adalah kecepatan. Kemampuannya menutup jarak dengan musuh masih mengandalkan ledakan tenaga murni dari kakinya, yang mana mengonsumsi terlalu banyak stamina dan kurang lincah.
Di sudut ruangan yang dikelilingi percikan listrik statis, matanya menangkap sebuah gulungan giok berwarna ungu gelap.
[Langkah Kilat Guntur Pembelah Kekosongan - Tingkat Bumi Rendah]
Lin Tian menempelkan jarinya ke segel giok tersebut untuk membaca deskripsi singkatnya.
Teknik pergerakan yang memadatkan energi ke titik akupunktur di kedua kaki, meledakkannya untuk berpindah tempat secara instan layaknya kilatan petir. Di tahap puncak, pengguna dapat melangkah di udara kosong selama beberapa detik. Syarat: Membutuhkan ketahanan fisik yang mampu menahan ledakan elemen petir di meridian kaki. Jika tidak, kaki akan lumpuh.
Mata Lin Tian berbinar. Ini adalah teknik yang sempurna untuk melengkapi gaya bertarungnya yang meledak-ledak. Ia baru saja akan mengambil gulungan giok tersebut, ketika sebuah tangan putih ramping yang memancarkan hawa dingin sedingin gletser tiba-tiba muncul dari samping dan memegang ujung gulungan yang sama.
Suhu di ruangan itu mendadak anjlok hingga titik beku. Kristal es tipis mulai merambat di lantai giok.
Lin Tian menoleh ke samping tanpa melepaskan genggamannya. Di sebelahnya, berdiri seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun. Ia mengenakan jubah sutra biru es yang sangat elegan. Wajahnya sangat cantik hingga nyaris tidak nyata, namun ekspresinya begitu dingin sehingga seolah tidak memiliki emosi manusia.
Fluktuasi auranya sangat menekan, jauh melampaui Zhao Lie. Ini adalah kekuatan dari ranah Mortal tingkat sembilan puncak—hanya selangkah lagi menuju ranah Earth (Bumi).
"Murid baru yang menghancurkan meridian Zhao Lie dengan satu pukulan," ucap gadis itu. Suaranya merdu namun membawa hawa dingin yang mengiris. "Banyak orang membicarakanmu hari ini. Tapi gulungan ini, aku yang melihatnya lebih dulu."
Lin Tian membalas tatapan gadis itu dengan tenang. Cengkeramannya pada gulungan giok tersebut tidak mengendur sedikit pun.
"Aku tidak melihat namamu tertulis di atas gulungan ini," jawab Lin Tian datar.
Gadis itu sedikit menyipitkan matanya. Sebuah kejutan kecil melintas di pupil birunya. Aura es tingkat sembilannya saat ini dilepaskan hingga radius satu meter. Murid tingkat tujuh biasa yang berada sedekat ini dengannya pasti akan menggigil hebat dan kesulitan bernapas. Namun, pemuda berjubah putih di depannya ini bernapas dengan ritme yang sangat santai, dan hawa dingin itu seolah lenyap begitu menyentuh jarak satu inci dari kulitnya.
"Menarik," gumam gadis itu.
Trang!
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, gadis itu memancarkan gelombang Qi es yang tajam dari telapak tangannya, mencoba memaksa Lin Tian melepaskan gulungan itu.
Lin Tian tidak menghindar. Matanya berkilat keemasan. Alih-alih melawan dengan elemen, ia hanya mengaktifkan Seni Pemurnian Tulang Naga Astral di tangan kanannya. Kulitnya memancarkan pendaran tembaga, dan panas ekstrem dari sisa Teratai Api Berdarah meledak.
Es dan Api berbenturan di atas gulungan giok ungu tersebut.
Suara desisan uap air terdengar nyaring. Ruangan lantai tiga bergetar pelan. Hanya dalam waktu tiga tarikan napas, gadis berbaju biru itu perlahan menarik tangannya kembali, mengibaskan kristal air yang mencair dari ujung jarinya.
Gadis itu menatap Lin Tian dengan pandangan yang jauh lebih serius dari sebelumnya. "Api yang sangat murni dan fondasi fisik yang tak masuk akal. Tidak heran Zhao Lie yang bodoh itu kalah. Ambillah gulungan itu."
Lin Tian mengambil gulungan giok tersebut tanpa mengucapkan terima kasih, wajahnya tetap datar.
Saat Lin Tian berbalik untuk pergi, gadis itu kembali bersuara.
"Namaku Mu Qingxue. Murid Peringkat Kedua Sekte Dalam," ucapnya dingin. "Arogansimu mungkin bisa membunuh anjing-anjing kecil di sekte ini. Tapi Zhao Lie adalah cucu kesayangan dari Penatua Agung Zhao. Saat ini Penatua Agung sedang mengasingkan diri untuk menerobos ranah Earth tingkat menengah. Begitu beliau keluar bulan depan, tidak akan ada aturan sekte yang bisa melindungimu dari murkanya."
Lin Tian menghentikan langkahnya di dekat tangga. Ia tidak menoleh ke belakang, melainkan hanya menyisir jubahnya dengan santai.
"Terima kasih atas informasinya, Mu Qingxue," jawab Lin Tian. "Jika si tua bangka itu ingin membalas dendam untuk cucunya yang tidak berguna, suruh dia datang padaku. Aku akan memastikan faksi Zhao memiliki dua orang cacat dalam keluarga mereka."
Tanpa menunggu balasan dari gadis yang kini tertegun di tempatnya itu, Lin Tian menuruni tangga dan menghilang ke lantai bawah.
Mu Qingxue berdiri mematung di lantai tiga, menatap punggung Lin Tian yang telah menghilang. Wajahnya yang selalu sedingin gletser kini menampakkan senyum tipis yang sangat langka.
"Entah dia orang gila yang mencari mati... atau monster sejati yang akan menggoncang seluruh benua ini," gumamnya pada keheningan ruangan.