NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:611
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Panggilan Tengah Malam

Kereta Hana tiba hampir pukul dua pagi. Senja menemukan adiknya di peron Gambir, lebih tinggi tiga sentimeter darinya, pucat, dan hanya membawa ransel.

Hana langsung memeluknya. "Kak, aku takut."

"Sekarang aman."

Mereka naik Grab ke penginapan murah yang sudah dipesan. Dinding kamarnya tipis, seprai agak kusam, tetapi resepsionis berjaga dan pintu memakai kartu akses.

Hana melihat Senja meletakkan uang tunai di meja. "Kenapa aku enggak tinggal di rumah Kakak?"

"Rumahnya jauh. Suamiku kerja pagi."

"Kakak sudah menikah, tapi suami enggak jemput tengah malam dan Kakak takut bawa adik pulang." Mata Hana berkaca. "Pernikahan macam apa itu?"

Senja merapikan selimut untuk menghindari tatapannya. "Suamiku baik. Cuma situasinya belum enak."

Di Bintang Residence, Damar tidak bisa tidur. Ia merasa bersalah karena membiarkan adik istrinya tinggal di penginapan, lalu kesal kepada dirinya sendiri karena memikirkan hal yang bukan urusannya.

Pukul tiga, Bintang menjerit dari kamar. Ia bermimpi Senja pergi dan tidak kembali. Damar menggendongnya, Bik Inah membuat susu hangat, tetapi tangis anak itu makin keras.

"Mau Mama!"

Damar akhirnya menelepon Senja.

"Bintang menangis. Bawa adikmu sekalian. Tinggal di sini."

Senja melihat Hana yang baru tertidur. "Saya pulang sekarang. Hana biar di sini dulu."

"Aku bilang bawa dia."

"Dia aman. Bintang lebih butuh saya."

Hana terbangun ketika Senja mengenakan jaket. "Kakak balik lagi?"

"Bintang mimpi buruk."

"Kalau aku sukses nanti, Kakak cerai saja. Ikut aku."

Senja mencubit pipinya pelan. "Tidur. Jangan buka pintu."

Di rumah, Damar menyuruh Bik Inah menyiapkan kamar tamu. Ia berencana pindah ke apartemen agar Hana tidak canggung. Namun mobil yang datang hanya menurunkan Senja.

Perempuan itu berlari masuk tanpa sempat melepas sandal, lalu mengambil Bintang dari pelukan Damar.

"Mama datang."

Bintang langsung diam dan menempel di lehernya.

Damar melihat pintu kosong di belakang Senja. "Adikmu mana?"

"Di penginapan. Dia sudah tidur."

"Aku sudah bilang bawa."

"Saya enggak mau merepotkan."

Senja membawa Bintang masuk kamar. Damar berdiri di ruang tengah bersama Bik Inah dan kunci kamar tamu yang sudah disiapkan.

Apa aku sekejam itu sampai dia tidak berani membawa adiknya?

Pertanyaan tersebut hanya bertahan sesaat. Damar memaksa dirinya percaya semua ini mungkin taktik Senja untuk membuatnya merasa bersalah.

Setelah Senja pulang, Bintang menangis sampai batuk. Senja duduk di lantai dan mengusap punggungnya sampai tenang. Damar memperhatikan. Selama satu jam ia gagal menenangkan anak itu, sementara suara Senja saja mampu membuat tubuh kecil tersebut rileks.

"Dia belum minum," kata Damar.

"Nanti. Jangan dipaksa saat masih sesenggukan."

Senja memeriksa suhu dan napas Bintang. Damar baru sadar perempuan itu datang dari perjalanan tengah malam, tetapi tidak sekali pun mengeluh lelah.

Setelah semua tidur, Damar masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan. Handuk, air, dan perlengkapan mandi tersusun rapi.

"Bu Senja mungkin enggak enak hati," kata Bik Inah.

"Aku sudah mengizinkan."

"Izin dan membuat orang merasa diterima itu beda, Pak."

Damar menoleh tajam. Bik Inah menunduk, tetapi kalimat itu tinggal ketika lampu kamar kosong dimatikan.

Ia kembali ke kamar Bintang. Senja tertidur setengah duduk dengan anak itu di dada. Rambutnya masih lembap oleh hujan, jaket tipis belum dilepas. Satu tangannya mengusap punggung Bintang secara otomatis bahkan dalam tidur.

Damar mengambil handuk dan meletakkannya di sandaran kursi. Ia hendak membangunkan Senja agar berganti pakaian, tetapi suara ponsel bergetar lebih dulu.

Pesan Hana muncul di layar: `Aku aman. Kakak jangan khawatir. Kalau nanti aku sukses, aku bawa Kakak pergi dari pernikahan ini.`

Damar hanya melihat bagian pertama sebelum Senja terbangun dan membalik ponsel.

"Maaf, saya ketiduran."

"Ganti pakaianmu. Kamu basah."

"Bintang bisa bangun kalau saya pindah."

"Aku yang pegang."

Senja ragu, lalu memindahkan anak itu perlahan ke pelukan Damar. Bintang mengerang dan mencari tangan Senja. Damar menahan perasaan aneh karena putrinya menolak kenyamanan yang dulu selalu cukup.

Senja kembali dengan pakaian kering. Ia berniat mengambil Bintang, tetapi Damar menggeleng.

"Tidur di sisi sini. Kalau dia bangun, kamu ada."

Mereka duduk di dua sisi ranjang anak, dipisahkan tubuh kecil yang terlelap. Damar bertanya apakah Hana benar-benar aman.

Senja melihat jam. Perjalanan dari Gambir belum hilang dari tubuhnya; napas masih pendek, rambut basah menempel di leher, dan telapak kakinya perih karena berlari dari halaman. Namun pertanyaan Damar tidak terdengar seperti pemeriksaan. Untuk pertama kalinya, ia terdengar benar-benar ingin tahu.

Damar menggeser segelas air hangat ke sisi Senja. Ia tidak meminta penjelasan sebagai ganti bantuannya malam itu. Gerakan sederhana itu membuat Senja akhirnya menceritakan bagian yang paling memalukan tanpa harus dipaksa.

"Aman. Besok saya antar uang dan urus tiket balik setelah orang tua kami pergi."

"Apa mereka memaksanya menikah?"

Senja terdiam terlalu lama.

"Iya. Mereka menerima mahar tanpa persetujuan Hana."

"Berapa?"

"Rp 250 juta."

Rahang Damar mengeras. "Kalau ada upaya membawa paksa, buat laporan. Bayu bisa siapkan pengacara."

Senja menatapnya. Ini pertama kalinya Damar menawarkan kekuasaan tanpa meminta imbalan.

"Terima kasih. Untuk sekarang keamanan kampus sudah bantu."

"Dan Hana tetap boleh tinggal di sini."

Senja mengangguk kecil, tetapi tidak membangunkan adiknya lagi tengah malam. Kesempatan itu sudah lewat.

Pagi menjelang ketika Damar keluar dari kamar. Ia masih kesal karena Senja tidak percaya rumahnya aman untuk Hana, tetapi kini tahu ketidakpercayaan tersebut ia ciptakan sendiri.

Alih-alih mengakui kesalahan, ia kembali berlindung pada prasangka lama. Lebih mudah menyebut Senja sedang membuatnya merasa bersalah daripada menerima bahwa dirinya memang bersalah.

"Batalkan kamar tamunya," katanya kepada Bik Inah. "Dan jangan biarkan aku masuk perangkap perempuan itu."

Bik Inah tidak segera bergerak. "Kalau kamar dibatalkan sekarang, Bu Senja akan makin yakin adiknya tidak diterima."

"Dia sendiri yang tidak membawa Hana."

"Karena takut Bapak tidak suka."

Damar mengusap wajah. Kelelahan membuat pertahanannya menipis. "Biarkan kamar tetap siap sampai besok."

"Baik, Pak."

Perubahan perintah itu kecil, tetapi cukup menunjukkan ia tidak benar-benar percaya pada tuduhannya sendiri. Sebelum kembali tidur, Damar mengirim pesan kepada Senja bahwa kamar tamu tetap tersedia. Senja membalas dengan foto Hana sudah aman di penginapan dan ucapan terima kasih.

Damar memandang foto itu. Dua saudari tersebut sama-sama membawa tas murah dan wajah lelah. Tidak ada jebakan, hanya perempuan-perempuan yang terlalu terbiasa menyelamatkan diri tanpa bantuan.

Kesadaran itu membuat kata perangkap terasa memalukan. Damar menghapus pesan yang sempat ia tulis untuk menyalahkan Senja, lalu menyimpan ponsel tanpa mengirim apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!