Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Tertawa? Kenapa Sekarang Diam?
Sesaat, suasana di depan markas itu begitu sunyi.
Namun, keheningan tersebut hanya bertahan beberapa detik.
Tiba-tiba, suara tawa meledak dari dalam markas.
“HAHAHAHA! Dari mana datangnya orang bodoh ini? Apa semua anak buah Blood Fox sudah mati sampai mereka mengirim tukang masak untuk bunuh diri?”
“Lihat pakaiannya! Jangan-jangan turis yang tersesat!”
Seorang pria bertubuh besar dengan wajah penuh daging bahkan berdiri dengan angkuh. Ia mengangkat senapan mesin yang dibawanya, lalu berteriak kepada Adrian dengan bahasa Inggris yang terdengar kacau.
“Hei, bocah! Kemari! Kakek akan memberimu satu peluru!”
Adrian menghentikan langkahnya.
Ia mengangkat kepala dan memandang sekelompok anggota Black Mamba yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Wajahnya tetap tenang.
Tanpa mengatakan apa pun, Adrian mengangkat AK-47 di tangannya.
Gerakannya sederhana dan tegas.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada basa-basi.
Namun, tepat ketika jarinya menarik pelatuk—
Klik!
Suara benturan logam terdengar jelas.
Tidak ada peluru yang keluar.
Senjata tua yang sudah penuh bekas pemakaian itu justru mengalami macet pada saat yang paling tidak tepat.
Tawa dari pihak lawan langsung terhenti sesaat.
Lalu—
“FUCK! HAHAHAHA! Senjatanya macet!”
“Ya Tuhan! Apa bocah ini dikirim untuk menghibur kami?”
“Bunuh dia! Cepat! Habisi dia!”
Dalam sekejap, belasan senjata langsung diarahkan kepada Adrian.
Bagi mereka, pemuda Asia Tenggara yang bahkan tidak mampu membuat senjatanya menembak itu sudah dianggap sebagai mayat yang sedang berjalan.
Tetapi Adrian sama sekali tidak panik.
Ia bahkan tidak mengerutkan kening.
Dengan kemampuan Penguasaan Senjata Tingkat Sempurna, gangguan seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
Tangan kirinya bergerak cepat.
Ia menghantam bagian mekanisme senjata, sementara tangan kanannya langsung menarik lalu mengembalikannya ke posisi semula.
Ting!
Sebuah peluru yang sedikit berubah bentuk terlempar keluar.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Kurang dari setengah detik.
Bahkan mata orang biasa hampir tidak mampu mengikuti gerakannya.
Dan tepat ketika Adrian selesai mengatasi masalah pada senjatanya, para anggota Black Mamba juga menarik pelatuk.
Namun, Adrian lebih cepat.
Jarinya bergerak dengan presisi luar biasa.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Rentetan tembakan pendek menggema di depan gerbang markas.
Para pria yang beberapa saat lalu masih tertawa kini tubuhnya tersentak satu demi satu.
Tawa mereka berhenti seketika.
Belasan orang tumbang hampir bersamaan.
Hanya dalam beberapa detik, area depan markas berubah menjadi sunyi.
Tawa yang tadi memenuhi tempat itu lenyap tanpa jejak.
Para anggota Black Mamba yang bersembunyi di balik perlindungan di bagian belakang menatap dengan wajah pucat.
Mereka tidak memahami apa yang baru saja terjadi.
Bagaimana mungkin?
Pemuda yang beberapa saat lalu mereka anggap badut itu baru saja menjatuhkan belasan orang dalam waktu singkat.
Dan yang lebih mengerikan lagi—
Dia hanya menggunakan sebuah AK-47 tua.
Adrian berdiri sambil memegang senapan dengan satu tangan.
Ia meniup ringan ujung laras yang masih mengeluarkan sedikit asap.
Kemudian matanya menyapu seluruh markas.
Tatapannya berhenti pada beberapa orang yang masih bersembunyi di balik perlindungan.
Dengan bahasa Inggris yang lancar, ia berkata dingin,
“Kenapa diam?”
“Bukankah tadi kalian tertawa?”
Adrian memiringkan kepalanya sedikit.
“Kalian sudah mengganggu jam pulang kerja saya. Sanggup membayar lembur saya?”
Tidak ada jawaban.
Namun, sebelum siapa pun sempat bereaksi—
BRAK!
Sebuah suara keras tiba-tiba mengguncang seluruh markas.
Pintu kayu sebuah bangunan dua lantai di bagian dalam hancur berantakan.
Dari balik debu, seorang pria raksasa menerobos keluar.
Tingginya lebih dari dua meter.
Tubuhnya dipenuhi otot, dan sebuah rompi antipeluru berat membungkus bagian atas tubuhnya.
Di tangannya terdapat senjata berat dengan beberapa laras yang berputar.
Kemunculannya langsung membuat suasana berubah.
Pria itu menatap Adrian dengan mata merah penuh amarah.
“Kurang ajar!”
Ia melangkah maju dengan langkah berat.
Wrrrrrrr!
Laras senjata mulai berputar.
Suara putarannya terdengar semakin cepat.
Pria itu mengangkat senjatanya dan mengarahkannya tepat kepada Adrian.
“MATI KAU!”
DARRRRRRR!
Semburan tembakan langsung menerangi seluruh area.
Suara ledakannya begitu keras hingga hampir menenggelamkan suara lainnya.
Rentetan peluru menghantam tempat Adrian berdiri.
Pasir beterbangan.
Tanah tercabik.
Sisa-sisa perlindungan di sekitar Adrian hancur dihantam tembakan.
Namun, tepat pada saat laras mulai bergerak—
Adrian sudah menghilang dari posisi semula.
Tubuhnya bergerak secara refleks.
Peningkatan kemampuan tubuh dari Serum Super Dasar membuat reaksi dan kendali ototnya jauh melampaui manusia biasa.
Ia menjatuhkan tubuh ke samping, berguling di atas pasir, lalu berlindung di balik reruntuhan.
Satu peluru panas melintas sangat dekat dengan tubuhnya.
Ujung kausnya bahkan terkena panas hingga meninggalkan bekas gosong.
Adrian mencium aroma kain yang terbakar.
DOR-DOR-DOR-DOR!
Pria raksasa itu terus mengejarnya dengan tembakan.
Ia menggeser arah senjatanya, membuat rentetan peluru mengikuti pergerakan Adrian.
Adrian bergerak dari satu perlindungan ke perlindungan lainnya.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki markas, ia berada dalam posisi yang benar-benar tidak nyaman.
Bukan karena ia takut.
Melainkan karena senjata yang digunakan lawannya memiliki daya hancur yang jauh lebih besar daripada AK tua di tangannya.
Adrian melirik lawannya.
Pria itu mengenakan perlindungan tubuh berat dengan pelat pelindung.
Tembakan senapan biasa tidak akan mudah menembus bagian tersebut.
Harus ada titik lemahnya.
Adrian terus bergerak sambil mengamati.
Leher?
Wajah?
Persendian?
Atau mungkin—
Tit!
Jam digital murah di pergelangan tangannya tiba-tiba berbunyi.
Adrian secara refleks melihat layarnya.
Angka merah menunjukkan:
23:50.
Gerakannya berhenti sesaat.
Wajahnya perlahan berubah.
Bukan karena takut menghadapi senjata berat.
Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih mengganggunya.
Sudah hampir tengah malam.
Sepuluh menit lagi hari ini selesai.
Adrian menatap jamnya beberapa detik.
“Jam sepuluh malam sudah masuk jam kerja malam.”
Ia menghela napas.
“Berarti ini sudah masuk lembur.”
Rentetan peluru kembali menghantam perlindungan di sampingnya.
DARRRR!
Adrian menoleh ke arah lawannya.
Ekspresinya semakin tidak senang.
Ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan hari ini, menerima 500 juta rupiah, lalu mencari tempat untuk tidur.
Besok ia masih harus bekerja lagi.
Tapi sekarang?
Orang-orang Black Mamba bukan hanya menghalangi pekerjaannya.
Mereka juga membuatnya harus bekerja melewati jam yang seharusnya.
Adrian menggenggam AK-47 lebih erat.
Tatapannya perlahan menjadi dingin.
“Sudah mengganggu jam pulang…”
Ia menarik napas panjang.
“…sekarang kalian juga mau menyuruh saya lembur tanpa bayaran?”
Amarah seorang pekerja akhirnya benar-benar tersulut.