Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Titik Temu di Ujung Cakrawala
Fajar menyingsing di atas perbukitan hijau, memercikan cahaya jingga kemerahan yang perlahan-lahan mengusir pekatnya malam dari dataran Lembah Pengembara. Embun pagi yang menempel di pucuk-pucuk dedaunan pinus memantulkan kilau bagaikan jutaan berlian kecil yang bertaburan. Suasana di sekitar perkemahan Kaelen dan Lyra terasa begitu tenang, diiringi oleh desau angin pagi yang membawa kesegaran hutan purba serta suara aliran sungai kecil yang gemercik di dasar lembah.
Kaelen sudah berdiri tegak di tepi tebing bukit, kedua tangannya bersidekap di dada sementara pandangannya menerobos jauh ke arah ufuk timur. Pedang baja gelap di pinggangnya terpasang rapi, menyatu secara harmonis dengan esensi kosmik di dalam dantiannya. Meskipun dunia kultivasi telah kembali damai dan tidak ada lagi ancaman eksistensial yang membayangi, kebiasaan untuk tetap waspada dan menyelaraskan diri dengan alam telah menjadi bagian dari jiwa pemuda tersebut.
Beberapa langkah di belakangnya, Lyra sedang merapikan kain wol dan sisa perbekalan malam tadi ke dalam kantong kulit. Gadis itu mengenakan jubah perjalanan berwarna ungu muda, rambut peraknya tertiup pelan oleh angin pagi. Setelah semua barang tertata rapi, ia berjalan mendekati Kaelen dan berdiri di sisi kanannya, ikut menikmati pemandangan hamparan lembah yang luas di bawah sana.
"Pagi yang luar biasa," ucap Lyra lembut, menyunggingkan senyum manis sambil melirik Kaelen. "Aku rasa kita bisa meluangkan waktu sehari lagi di lembah ini sebelum memutuskan arah perjalanan berikutnya. Penduduk desa kemarin bilang ada pasar tahunan di kota kecil seberang bukit."
Kaelen menoleh, membalas tatapan jernih gadis itu dengan kehangatan di matanya. "Pasar tahunan? Kau berniat mencari bahan-bahan herbal baru untuk koleksi ramuanmu, atau sekadar ingin menikmati keramaian?"
"Keduanya," jawab Lyra terkekeh pelan. "Sebagai seorang alkemis, persediaan bahan langka tidak pernah cukup. Lagipula, menyenangkan juga melihat kehidupan masyarakat yang berjalan normal tanpa bayang-bayang konflik sekte."
Sebelum Kaelen sempat merespons, sebuah anomali kecil tertangkap oleh indra spiritualnya yang sangat tajam. Di kejauhan, menyusuri jalur setapak berbatu yang mendaki bukit menuju tempat mereka berdiri, tampak sesosok bayangan manusia melangkah dengan tempo cepat. Yang membuat Kaelen waspada bukan kecepatan orang tersebut, melainkan pola riak Qi yang dipancarkannya—sebuah sisa-sisa tenaga dalam yang bersih, tidak berniat membunuh, namun memancarkan urgensi yang tinggi.
"Kita kedatangan tamu," kata Kaelen pelan, mengubah arah pandangannya ke jalur setapak di sisi utara bukit.
Lyra mengikuti arah pandang Kaelen. Tidak lama kemudian, sosok yang dimaksud muncul dari balik rimbunnya semak belukar. Seorang pemuda berpostur tegap dengan pakaian praktis penjelajah, mengenakan topi jerami bundar untuk menghalau terik matahari pagi. Begitu melihat Kaelen dan Lyra berdiri di tepi tebing, pemuda itu menghentikan langkahnya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk mengatur napasnya yang sedikit tersengal, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan.
"Salam, pendekar... dan Nona Alkemis," sapa pemuda itu dengan suara lantang namun sopan. "Apakah benar aku sedang berbicara dengan Kaelen dan Lyra?"
Kaelen mengamati pemuda tersebut dengan saksama. Tidak ada niat jahat atau aura permusuhan yang terpancar dari tubuhnya. "Benar. Aku Kaelen, dan ini Lyra. Siapa kau, dan bagaimana kau bisa menemukan tempat perkemahan kami di tengah hutan terpencil ini?"
Pemuda itu tersenyum lega, menurunkan topi jeraminya sedikit. "Namaku Danendra. Aku adalah utusan khusus yang diutus oleh dewan penasihat daratan tengah. Selama tiga pekan terakhir, aku dan beberapa rekan penjelajah menyusuri jalur pos perdagangan barat, membawa pesan penting yang harus disampaikan langsung kepada kalian berdua."
Lyra mengerutkan kening halus. "Pesan dari dewan penasihat? Apa yang membuat para tetua di menara utama mengirim utusan khusus sampai ke wilayah perbatasan liar seperti ini?"
Danendra merogoh saku jubah dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tua yang diikat dengan pita sutra biru—lambang resmi dari dewan penasihat daratan tengah. Ia menyerahkan gulungan itu kepada Kaelen dengan kedua tangan.
Gulungan dari Daratan Tengah
Kaelen menerima gulungan perkamen tersebut. Begitu pita sutranya dilepaskan dan gulungan dibuka, segel energi spiritual tipis yang melindunginya melunak secara otomatis. Di atas perkamen itu, tertera tulisan tangan yang rapi dan tegas dari para tetua dewan penasihat, menguraikan sebuah situasi darurat yang sama sekali tidak mereka duga.
“Kepada Kaelen dan Nona Lyra, pelindung sejati keseimbangan dunia.
Melalui surat ini, kami menyampaikan berita mengenai sebuah penemuan mengejutkan di reruntuhan bawah tanah Provinsi Selatan—wilayah yang selama ini terisolasi akibat longsoran badai purba.
Para penjelajah kami menemukan sebuah bilik arsip rahasia yang belum pernah terjamah sejak runtuhnya era Sekte Langit. Di dalam bilah tersebut, terdapat ukiran peta kosmik dan gulungan nubuat yang menyatakan bahwa inti esensi dari Artefak Reruntuhan Langit memiliki cabang kembar di belahan bumi lain—sebuah artefak pendamping yang dikenal sebagai ‘Cermin Matahari Purba’, yang terkubur di dalam Kuil Kaca Bawah Laut di Samudra Selatan.
Kami menduga, jika artefak tersebut jatuh ke tangan pihak yang salah atau dibiarkan tidak stabil, ia dapat memicu ketidakseimbangan gravitasi global yang pernah terjadi ribuan tahun silam.
Kami tahu janji kalian untuk hidup bebas dari ikatan politik, namun hanya tangan yang telah terikat dengan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit yang mampu menyelaraskan diri dan mengamankan Cermin Matahari Purba tersebut.
Mohon pertimbangkan panggilan ini demi kelangsungan kedamaian dunia.”
Kaelen membaca setiap baris kalimat di perkamen itu dengan tatapan tenang. Setelah selesai, ia melipat kembali gulungan tersebut dan menoleh menatap Lyra, yang sejak tadi membaca isi surat dari balik bahunya.
"Cermin Matahari Purba di Samudra Selatan..." gumam Lyra pelan, alisnya terangkat sebelah. "Aku pernah mendengar legenda itu dari beberapa naskah alkimia kuno di perpustakaan menara. Katanya, cermin itu memiliki kekuatan untuk memanipulasi waktu dan memantulkan energi kosmik, tapi risikonya sangat besar jika tidak dikendalikan oleh wadah yang tepat."
Danendra menatap Kaelen dengan penuh harap. "Dewan penasihat tahu bahwa ini adalah permintaan yang berat setelah semua perjuangan melelahkan yang kalian lewati di daratan tengah dan puncak timur. Namun, tidak ada kultivator lain di dunia ini yang memiliki kecocokan spiritual dengan artefak purba selain kalian. Itulah sebabnya aku diperintahkan untuk mencari kalian sampai ke ujung dunia."
Kaelen menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah Lyra, seolah meminta persetujuan tanpa perlu mengeluarkan banyak suara.
Lyra membalas tatapan itu dengan senyuman hangat yang penuh pengertian. Ia tahu betul watak Kaelen; meskipun kekasihnya itu mendambakan kehidupan yang tenang di alam bebas, Kaelen tidak akan pernah berpaling jika melihat ada potensi ancaman yang dapat merenggut kedamaian orang banyak.
"Sepertinya masa pensiun kita harus ditunda sedikit lebih lama, Tuan Pahlawan," kata Lyra setengah menggoda.
Kaelen tertawa kecil. Ia kembali menatap Danendra yang masih berdiri menunggu keputusan mereka. "Sampaikan kepada para tetua di dewan penasihat bahwa kami menerima panggilan ini. Kami akan segera bersiap dan berangkat menuju wilayah selatan."
Danendra membungkuk dalam-dalam, rasa terima kasih yang mendalam terpancar jelas di wajahnya. "Terima kasih, Kaelen! Terima kasih, Nona Lyra! Keselamatan daratan ini kembali berhutang besar kepada kalian."
Setelah memberikan beberapa petunjuk arah mengenai lokasi pos persimpangan selatan dan peta rute tercepat kepada Danendra, pemuda utusan itu pamit undur diri untuk kembali menyampaikan kabar baik tersebut ke daratan tengah.
Menyongsong Samudra Selatan
Matahari kini telah sepenuhnya naik, menyinari perbukitan Lembah Pengembara dengan kehangatan yang menyengat. Kaelen dan Lyra segera membereskan seluruh sisa perkemahan mereka dalam waktu singkat. Tidak ada raut wajah terbebani di wajah mereka; sebaliknya, ada semangat baru yang menyala di dalam dada—semangat untuk berpetualang dan menuntaskan lembaran sejarah yang belum selesai.
"Samudra Selatan..." ucap Lyra sambil merapikan tas punggungnya. "Kita harus menyiapkan ramuan khusus tahan tekanan air laut dan penangkal badai garam sebelum memasuki wilayah Kuil Kaca Bawah Laut."
Kaelen mengangguk, menyarungkan pedang baja gelap ke pinggangnya dengan gerakan mantap. Ia merangkul bahu Lyra, memandangi jalan setapak ke selatan yang membentang di hadapan mereka.
"Apapun yang menanti kita di bawah lautan sana, kita akan menghadapinya bersama-sama," kata Kaelen penuh keyakinan.
Tanpa menoleh ke belakang lagi, keduanya melangkah meninggalkan perbukitan Lembah Pengembara, menyambut babak baru petualangan epik mereka menuju misteri Samudra Selatan—mengukir takdir keabadian di bawah langit luas yang tiada bertepi.