Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Racun yang Tersembunyi
Besok, dunia akan memberinya alasan baru untuk menjadi lebih kuat.
Alasan itu datang sebelum makan siang.
IGD RSUD Soetomo yang biasanya sudah ramai berubah menjadi banjir manusia. Satu ambulans datang, lalu mobil pribadi, lalu ojek online yang membawa pasien dengan wajah pucat dan keringat dingin. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, lebih dari dua puluh orang memenuhi area triase.
“Keluhan sama!” teriak perawat. “Mual, muntah, diare, nyeri perut, sebagian pusing berat!”
Rudi berlari sambil membawa map triase. “Satu keluarga besar, plus tetangga. Katanya habis makan di acara tahlilan kecil. Ada tiga yang tekanan darahnya turun.”
Ardi baru saja selesai memeriksa seorang anak laki-laki ketika panel Sistem Modifier muncul di tepi pandangnya.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【SISTEM MODIFIER】 ║
║ ║
║ Kondisi darurat massal terdeteksi. ║
║ Skill tersedia untuk upgrade: ║
║ ▸ Toksikologi Diagnostik - Pemula ║
║ ▸ Kedokteran Darurat Klinis - ║
║ Pemula ║
║ ║
║ Poin Modifikasi: 60 PM ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Di ujung ruangan, Hendro mengambil alih dengan suara keras.
“Ini reaksi alergi makanan massal. Beri antihistamin, steroid, observasi cairan. Yang sesak diprioritaskan.”
Beberapa perawat mulai bergerak mengikuti instruksi.
Ardi menatap pasien-pasien itu.
Muntah. Diare. Nyeri perut. Pupil sebagian melebar. Keringat dingin. Dua orang tampak bingung, bukan sekadar lemas. Tidak ada ruam jelas. Tidak ada pembengkakan bibir. Tidak ada pola sesak alergi yang meyakinkan.
Ada yang salah.
Ia membuka panel dengan pikiran yang sudah lebih tenang daripada minggu lalu.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ Upgrade beruntun tersedia: ║
║ Toksikologi Diagnostik ║
║ Pemula → Menengah → Lanjutan → ║
║ Mahir ║
║ ║
║ Biaya total: 20 PM ║
║ Lanjutkan? [YA] [TIDAK] ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi memilih [YA].
Informasi membanjir masuk. Bukan seperti daftar hafalan, melainkan pola: bau muntahan, warna kulit, waktu onset, kombinasi gejala saraf dan saluran cerna, jenis makanan yang sering menjadi sumber, kesalahan diagnosis yang paling mematikan.
Panel berganti.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Upgrade Berhasil!】 ║
║ Toksikologi Diagnostik: Mahir ║
║ ║
║ Saldo PM: 40 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ia langsung memilih panel kedua.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ Upgrade beruntun tersedia: ║
║ Kedokteran Darurat Klinis ║
║ Pemula → Menengah → Lanjutan ║
║ ║
║ Biaya total: 10 PM ║
║ Lanjutkan? [YA] [TIDAK] ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
[YA]
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Upgrade Berhasil!】 ║
║ Kedokteran Darurat Klinis: Lanjutan║
║ ║
║ Saldo PM: 30 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Dunia IGD berubah.
Pasien yang tadi terlihat seperti kerumunan keluhan acak kini terbagi jelas di mata Ardi: ringan, sedang, berat; dehidrasi, gangguan neurologis awal, risiko kolaps; yang harus dipasang infus besar, yang harus dipantau elektrolit, yang harus segera masuk ruang resusitasi.
Dan satu kata muncul dingin di kepalanya.
Solanin.
Racun glikoalkaloid dari kentang hijau atau bertunas.
“Rudi,” kata Ardi. “Tanya keluarga. Makanan apa yang sama dimakan semua pasien. Fokus ke kentang, umbi, atau sayur yang terasa pahit.”
Rudi tidak bertanya balik. Setelah Bab 6, ia sudah belajar bahwa saat Ardi berbicara dengan nada itu, lebih baik bergerak dulu.
“Siap.”
Hendro mendengar. “Kentang? Ardi, jangan bikin panik. Ini alergi makanan.”
Ardi berjalan ke pasien perempuan yang paling pucat. “Bu, ada ruam? Gatal? Bibir bengkak?”
Perempuan itu menggeleng lemah. “Pahit... sambal gorengnya pahit... saya pikir bumbunya gosong...”
Rudi kembali dengan wajah berubah. “Ada kentang balado dari acara. Katanya sebagian kentangnya kehijauan, tapi tetap dimasak karena sayang dibuang.”
Ardi menoleh pada perawat. “Hentikan protokol alergi massal sebagai diagnosis utama. Pasang IV, koreksi cairan bertahap, cek elektrolit, fungsi ginjal, EKG untuk pasien berat. Ambil sampel muntahan dan sisa makanan kalau ada. Minta lab uji glikoalkaloid atau rujuk toksikologi cepat.”
Hendro melangkah maju. “Saya yang Kepala Instalasi di sini!”
IGD mendadak diam.
Beberapa perawat memegang obat di tray, menunggu siapa yang harus mereka ikuti.
Ardi menatap Hendro. “Dan saya dokter dengan SIP aktif yang sedang menangani pasien. Kalau ini solanin dan kita membuang waktu dengan terapi alergi, tiga pasien di resusitasi bisa masuk syok lebih dalam.”
“Kamu baru resmi sehari sudah mau mengajari saya?”
“Saya tidak mengajari. Saya mencegah kematian.”
Hendro menunjuk tray obat. “Lanjutkan instruksi saya.”
Tidak ada yang bergerak.
Fajar muncul dari koridor, membaca situasi dalam satu tarikan napas. “Apa yang terjadi?”
Hendro langsung bicara, “Pasien keracunan makanan dengan gejala alergi. Ardi membuat spekulasi solanin tanpa hasil lab.”
Ardi menyerahkan catatan cepat. “Tidak ada ruam, tidak ada angioedema, tidak ada pola anafilaksis jelas. Onset seragam setelah makan kentang pahit kehijauan. Gejala gastrointestinal dominan dengan gejala neurologis awal. Saya minta terapi suportif keracunan solanin dan konfirmasi lab.”
Fajar membaca.
Satu detik.
Dua detik.
“Ikuti protokol Ardi,” katanya.
Wajah Hendro berubah. “Pak Fajar!”
“Kalau lab membuktikan alergi, saya yang tanggung jawab. Sekarang pasien berat masuk resusitasi. Rudi, bantu Ardi.”
Rudi mengangkat dua jempol kecil ke arah Ardi tanpa terlihat perawat lain. “Siap, Kepala.”
Ardi hampir memelototinya. “Jangan mulai.”
Mereka bergerak.
Dua puluh menit berikutnya menjadi badai teratur. Cairan masuk. EKG dipasang. Pasien berat dipantau ketat. Ardi memerintahkan antiemetik, koreksi elektrolit, observasi neurologis, dan konsultasi toksikologi. Satu anak yang mulai mengalami kebingungan ditangani lebih cepat sebelum kondisi memburuk.
Hendro berdiri di dekat meja perawat, wajahnya makin lama makin gelap.
Lalu telepon lab datang.
Fajar mengangkat, mendengar, lalu menutup telepon.
Ia menatap seluruh ruangan.
“Sampel makanan positif glikoalkaloid tinggi. Dugaan solanin sesuai. Lanjutkan protokol yang dibuat Dokter Ardi.”
Kalimat itu seperti pintu yang dibanting tepat di depan wajah Hendro.
Perawat yang tadi ragu kini bergerak tanpa menoleh pada Hendro lagi.
Rudi berbisik di dekat Ardi, “Kalau tadi ikut alergi, pasien nomor tiga bisa lewat, ya?”
“Minimal memburuk.”
“Bahasa dokter sopan banget. Maksud lo mati.”
Ardi tidak menjawab. Karena Rudi benar.
Menjelang sore, semua pasien stabil. Tiga pasien berat masih observasi, tapi tanda vital membaik. Tidak ada yang meninggal.
Panel biru muncul.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Misi Selesai!】 ║
║ Penanganan Keracunan Massal ║
║ ║
║ Hadiah: +30 PM ║
║ Saldo: 60 PM ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi menutup panel.
Di seberang ruangan, Hendro membalik badan tanpa bicara. Langkahnya cepat, terlalu cepat untuk orang yang ingin terlihat tenang.
Ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.
Di balik pintu itu, wajah sopannya runtuh.
Hendro mengambil ponsel dari laci, mencari satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi langsung.
Rangga.
Panggilan tersambung.
“Rangga,” katanya dengan suara rendah. “Kamu bilang dulu mau bantu saya urusan dokter itu?”
Di ujung sana, terdengar suara laki-laki malas. “Ardi?”
Hendro menatap kaca buram pintu ruang kerjanya. Di luar, beberapa perawat masih membicarakan diagnosis solanin itu.
“Sekarang dia sudah kembali,” kata Hendro. “Dan kalau kita tidak bergerak, sebentar lagi semua orang di rumah sakit ini akan berdiri di belakangnya.”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭