NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Aku yang Urus

Naomi kehilangan pekerjaan minimarket pada hari Selasa sore.

Tidak ada adegan besar. Tidak ada teriakan. Tidak ada surat resmi yang membuat semuanya terlihat profesional. Manajer hanya memanggilnya ke ruang kecil di belakang rak minuman, tempat bau kardus basah dan stok kopi sachet bercampur menjadi satu.

"Naomi, mulai minggu depan kamu tidak perlu ambil shift lagi."

Naomi menatapnya. "Maksudnya saya diberhentikan?"

Manajer itu menghela napas seperti dialah yang paling lelah. "Bukan diberhentikan. Jam kerja dikurangi dulu. Kamu kan sekarang juga sibuk kuliah dan kerja lain."

"Tapi semua shift saya hilang."

"Untuk sementara."

Sementara adalah kata yang sering dipakai orang saat tidak mau mengatakan selesai.

Naomi melihat jadwal di tangan manajer. Nama sepupu manajer yang baru bekerja dua minggu muncul di slot malam yang biasanya miliknya.

"Kalau saya ada salah, saya bisa perbaiki," kata Naomi, menjaga suaranya tetap stabil.

Manajer menutup map. "Kamu tidak salah. Tapi toko butuh orang yang bisa fleksibel. Akhir-akhir ini kamu sering tukar shift."

"Saya tukar shift karena jadwal saya diubah mendadak."

Wajah manajer mengeras sedikit. "Naomi, jangan dibuat sulit. Kamu masih bisa cari kerja lain. Sekarang kamu juga punya koneksi bagus, kan?"

Kalimat itu lebih menghina daripada kalau ia langsung berkata iri.

Naomi menggenggam tali tas. "Gaji minggu ini?"

"Nanti ditransfer sesuai jam masuk."

"Kapan?"

"Secepatnya."

Naomi mengerti. Ia harus menagih lagi nanti.

Ia keluar dari ruang belakang dengan seragam minimarket yang mendadak terasa seperti kulit lama yang tidak lagi boleh ia pakai. Di dekat kasir, pegawai baru yang masih sering salah scan barang menunduk, tidak berani menatapnya.

Naomi tidak marah pada gadis itu.

Ia hanya lelah.

Di luar minimarket, langit mendung. Naomi berdiri di bawah kanopi, membuka aplikasi bank. Saldo yang tersisa tidak cukup untuk cicilan pinjol minggu depan jika gaji minimarket terlambat. Honor dari Felix ada, terjemahan ada, tapi semua punya tanggal masing-masing. Tagihan tidak peduli tanggal orang lain.

Ponselnya bergetar.

Pesan pinjol.

"Pembayaran jatuh tempo 3 hari lagi. Hindari penagihan ke kontak darurat."

Naomi merasakan perutnya melilit.

Ia memasukkan ponsel ke tas, lalu berjalan ke halte. Sepanjang jalan, ia menghitung angka di kepala sampai angka-angka itu berubah menjadi suara bising.

Di bus, Naomi membuka tiga chat sekaligus. Satu untuk klien terjemahan yang belum membayar, satu untuk teman kampus yang pernah menawarkan proyek transkrip, satu lagi untuk grup lowongan part-time mahasiswa. Ia mengetik dengan ibu jari yang kaku.

"Maaf, untuk invoice minggu lalu apakah bisa diproses hari ini?"

Pesan itu ia baca ulang berkali-kali sebelum dikirim. Rasanya seperti mengemis, padahal itu uang pekerjaannya sendiri.

Di grup lowongan, ada tawaran menjaga booth skincare selama akhir pekan, tapi jamnya bertabrakan dengan jadwal Felix. Ada tawaran jadi tutor anak SMP, lokasinya terlalu jauh. Naomi menyimpan semuanya tetap saja.

Menyerah bukan pilihan. Hanya saja, malam itu, semua pilihan terlihat terlalu sempit.

***

Kelvin tahu ada yang salah sebelum Naomi mengatakan apa pun.

Malam itu, Naomi pulang ke apartemen dengan wajah tenang yang terlalu rapi. Ia menggantung tote bag di kursi, mencuci tangan, memberi makan Felix, lalu duduk di meja makan membuka laptop seperti biasa.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada cerita.

Justru itu yang membuat Kelvin meletakkan cangkir kopinya.

"Kamu dipecat."

Naomi menekan tombol keyboard terlalu keras. "Apa?"

"Minimarket."

Ia menatap Kelvin. "Kamu pasang CCTV di kepala saya?"

"Wajahmu seperti orang yang baru kehilangan uang."

"Itu wajah saya setiap hari."

"Hari ini lebih parah."

Naomi menutup laptop perlahan. Felix yang sedang makan berhenti mengunyah dan menoleh, seolah ikut membaca udara.

"Shift saya dikurangi," kata Naomi.

"Semua?"

Naomi diam.

Kelvin sudah mendapat jawabannya.

"Berapa kekuranganmu?"

Pertanyaan itu datang terlalu cepat, terlalu tepat, dan terlalu menyakitkan.

Naomi berdiri. "Saya bisa urus."

"Aku tanya berapa."

"Saya bilang saya bisa urus."

"Dengan apa?"

Naomi menatapnya. "Dengan kerja."

"Kerjamu baru hilang."

"Masih ada terjemahan. Masih ada Felix."

"Tagihan pinjol menunggu?"

Naomi membeku.

Kelvin melihat wajahnya, lalu suaranya turun. "Berapa?"

"Jangan."

"Naomi."

"Jangan pakai nada itu untuk uang saya."

Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang ia rencanakan.

Kelvin diam.

Naomi menggenggam tepi meja. Ia tidak ingin bertengkar. Tidak setelah hari yang sudah terlalu panjang. Tapi jika ia membiarkan Kelvin membayar semuanya, apa yang tersisa dari dirinya? Pekerjaan hilang, kos hilang, sekarang bahkan utang pun akan hilang dengan satu transfer darinya.

"Saya tahu bagi kamu uang itu mudah," katanya pelan. "Tapi bagi saya, kalau semua masalah saya selesai karena kamu bayar, saya tidak tahu lagi bagian mana yang masih milik saya."

Felix mendekat ke kakinya, menekan kepala ke betis Naomi.

Kelvin menatapnya lama.

"Aku bukan mau membeli kamu."

"Saya tahu."

"Aku mau menghentikan orang-orang itu mengancam kamu."

"Saya juga tahu." Naomi menelan ludah. "Tapi tolong, jangan."

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain AC dan napas Felix.

Kelvin akhirnya berkata, "Baik."

Naomi tidak langsung percaya.

"Baik?"

"Kamu tidak mau aku bayar. Aku tidak bayar di depanmu."

Kalimat itu terdengar aneh, tapi Naomi terlalu lelah untuk memeriksanya.

"Aku yang urus bagian lain," lanjut Kelvin.

"Bagian lain apa?"

"Gaji minimarketmu. Kalau mereka terlambat, mereka bayar."

Naomi ragu. "Jangan buat masalah."

"Mereka yang membuat masalah."

"Kelvin."

"Aku cuma telepon."

Naomi tidak percaya definisi cuma telepon versi Kelvin, tapi setidaknya itu bukan membayar utangnya langsung.

"Baik," katanya akhirnya. "Untuk gaji saja."

Kelvin mengangguk.

Namun malam itu, setelah Naomi masuk kamar dan Felix tertidur di depan pintu kamarnya, Kelvin berdiri di balkon apartemen dengan ponsel di telinga.

"Cari data pinjol yang menagih dia," katanya rendah.

Di seberang sana, suara asistennya menjawab singkat.

Kelvin melihat lampu kota di bawah. "Lunasi. Tapi pastikan semua kontak daruratnya dihapus dari sistem. Kalau mereka pernah kirim ancaman, simpan bukti."

Ia berhenti sebentar.

"Jangan ada nama aku."

***

Dua hari kemudian, Naomi bersiap menelepon pihak pinjol untuk meminta keringanan jatuh tempo.

Ia sudah menulis kalimat di notes agar tidak terdengar panik. Ia akan menjelaskan bahwa gaji minimarket terlambat, bahwa ia bisa membayar sebagian dulu, bahwa ia tidak kabur. Tangan kirinya memegang ponsel, tangan kanannya mengepal di atas meja kamar.

Sebelum ia menekan tombol panggil, notifikasi masuk.

"Pinjaman Anda telah dilunasi. Terima kasih telah menggunakan layanan kami."

Naomi menatap layar.

Ia membaca ulang.

Sekali.

Dua kali.

Lalu membuka aplikasi pinjol.

Status tagihan: lunas.

Tidak ada cicilan berikutnya.

Tidak ada denda.

Tidak ada ancaman kontak darurat.

Naomi duduk diam begitu lama sampai layar ponsel mati sendiri.

Ia tidak pernah membayar.

Dan hanya ada satu orang di hidupnya yang bisa membuat utang yang mencekik berbulan-bulan lenyap seolah itu cuma debu di meja.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!