"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Kecocokan Sempurna
"Tapi dia sekarang..." Tatapannya tidak berpindah dari Wenny. "Duduk tidak jauh dariku."
Kalimat REYN itu menjadi potongan video paling banyak diputar semalaman.
Pagi berikutnya, saat Wenny turun ke area taman untuk rekaman hari ketiga, Kevin langsung menyambutnya dengan ekspresi sangat serius.
"Wenny, aku ingin mengucapkan selamat."
Wenny berhenti. "Untuk apa?"
"Karena secara nasional kamu sudah dinyatakan duduk tidak jauh dari REYN."
Natasha tertawa. Stella hanya menggeleng pelan, sementara Rosa yang sedang minum air tidak ikut tersenyum. Wenny menghela napas, tapi sudut bibirnya tetap naik.
"Kevin, kalau kamu terus begitu, penonton akan lebih ingat mulutmu daripada acara ini."
"Itu juga bentuk popularitas."
Koko bertepuk tangan dari tengah set. "Baik, cukup pemanasan. Hari ini kita masuk ke Tes Kecocokan."
Di depan para peserta sudah ada dua kursi berpasangan, papan tulis kecil, dan spidol. Aturannya sederhana. Dua orang akan dipasangkan, lalu menjawab pertanyaan tentang satu sama lain. Jika jawabannya sama atau benar, poin bertambah. Jika salah, peserta lain boleh menggoda tanpa batas.
"Tanpa batas?" Kevin terlihat hidup kembali.
"Untuk kamu, tetap ada batas," kata Stella.
Koko sengaja menatap tablet di tangannya lebih lama sebelum mengumumkan pasangan pertama.
"Wenny dan REYN."
Teriakan kecil dari kru terdengar di belakang kamera. Chelsea di ruang observasi langsung berdiri.
"Aku tahu! Mereka sengaja memasangkan, tapi aku tidak marah."
Jay tersenyum. "Koko terlalu mengerti bisnis."
"Bukan cuma bisnis. Ini pelayanan publik."
Wenny duduk di kursi kiri. REYN duduk di sebelahnya, jarak mereka diatur cukup dekat untuk terlihat manis di kamera, cukup jauh untuk membuat Wenny sadar setiap gerakan kecilnya sendiri. Ia mencium aroma sabun bersih dan parfum dingin yang sama seperti malam red carpet.
"Siap?" tanya Koko.
"Tidak," jawab Wenny jujur.
REYN meliriknya. "Aku siap."
"Tentu kamu siap," gumam Wenny.
Ia tidak bermaksud terdengar keras, tetapi mikrofon kecil di bajunya menangkap suara itu. Kevin langsung memegang dada.
"Aduh, dialognya sudah seperti pasangan lama."
Wenny menatap tajam. "Kevin."
"Diam. Aku diam."
Pertanyaan pertama muncul di layar.
`Warna favorit Wenny?`
Wenny menulis jawabannya cepat: biru muda.
REYN menulis tanpa ragu.
Ketika papan dibalik, keduanya sama.
`Biru muda.`
Koko mengangkat alis. "Mudah. Masih bisa ditebak dari gaun red carpet."
"Atau dari poster filmnya yang paling terkenal," kata Natasha.
Wenny mengangguk, mencoba santai. Itu memang bukan rahasia.
Pertanyaan kedua.
`Bunga favorit Wenny?`
Wenny menahan spidolnya. Tidak banyak orang tahu jawabannya. Di depan publik, ia sering menerima mawar dari penggemar karena manis di kamera. Tetapi yang ia simpan di rumah bukan mawar.
Ia menulis: kamboja putih.
REYN menulis.
Papan dibalik.
`Kamboja putih.`
Tawa dan seruan langsung pecah.
Wenny menoleh terlalu cepat. "Kamu tahu dari mana?"
REYN menatap papan tulisnya. "Cocok denganmu."
"Itu bukan jawaban."
"Tapi benar."
Pipi Wenny panas lagi.
Di ruang observasi, Chelsea memukul meja pelan. "Dia tidak menjawab karena jawabannya terlalu romantis atau terlalu rahasia?"
Jay tidak menjawab. Ia memperhatikan gelang tua yang sekilas terlihat ketika REYN menurunkan papan.
Pertanyaan ketiga.
`Jika Wenny gugup, kebiasaan kecil apa yang paling sering muncul?`
Wenny membeku.
Ia sendiri hampir tidak pernah membicarakan ini. Kebiasaan itu muncul sejak kecil, saat ia harus berdiri di depan kamera dan pura-pura tidak takut. Jika gugup, ia akan menekan kuku ibu jari ke telapak tangan, gerakan kecil yang biasanya tertutup lengan baju.
Ia menulis pelan: menekan ibu jari ke telapak tangan.
REYN menulis lebih lambat kali ini.
Ketika papan dibalik, Wenny merasakan kulit kepalanya menegang.
`Menekan ibu jari ke telapak tangan.`
Kali ini bahkan Kevin tidak langsung bercanda.
Koko menyipitkan mata, jelas senang. "REYN, ini bukan informasi umum."
REYN meletakkan papan di lutut. "Aku memperhatikan."
"Sejak kapan?" tanya Koko.
Wenny ikut menatapnya.
REYN diam satu ketukan. "Sejak cukup lama."
Komentar live langsung berlari.
`Cukup lama itu berapa lama?`
`Dia hafal kebiasaan gugup, aku menyerah.`
`Ini bukan crush biasa.`
Rosa menyilangkan kaki. "Kalau sering menonton drama Wenny, mungkin bisa terlihat."
"Tidak," jawab Wenny sebelum sempat berpikir.
Semua orang menoleh padanya.
Wenny sadar suaranya terlalu cepat. Ia menarik napas. "Maksudku, kebiasaan itu tidak terlihat jelas di layar. Aku biasanya menahannya."
REYN melihat tangannya.
Wenny cepat-cepat melepaskan ibu jarinya dari telapak tangan.
Pertanyaan berikutnya muncul.
`Apa yang paling ditakuti Wenny?`
Wenny hampir ingin menolak menjawab.
Ada jawaban yang aman untuk kamera. Ketinggian, kegagalan, kehilangan orang yang dicintai. Jawaban yang indah dan bisa dipotong menjadi kalimat motivasi.
Namun permainan ini meminta kecocokan, bukan citra.
Ia menulis kecil: laba-laba.
Lalu ia menatap papan REYN bahkan sebelum Koko memberi aba-aba.
REYN masih menulis.
Garis hurufnya tegas, tidak ragu.
Papan dibalik.
`Laba-laba.`
Wenny tidak bisa menahan ekspresinya kali ini.
"Serius?" Kevin akhirnya bersuara. "REYN, lo ini ikut tes kecocokan atau ujian data pribadi?"
Koko tertawa, tetapi matanya bersinar karena tahu ia sedang mendapatkan materi emas. "Wenny, benar?"
Wenny mengangguk pelan. "Benar."
"Publik tahu?"
"Tidak."
Satu kata itu membuat suasana berubah.
Natasha menutup mulut. Stella menatap REYN lebih lama. Felix melihat kamera, lalu kembali ke Stella, seolah sama-sama memahami bahwa ini bukan lagi sekadar gimik acara.
REYN tidak terlihat panik.
Ia hanya menatap Wenny dengan tenang, seperti semua jawaban itu bukan hasil hafalan, melainkan sesuatu yang memang tinggal di kepalanya sejak lama.
Giliran Wenny menjawab pertanyaan tentang REYN. Ia bisa menjawab beberapa hal yang publik tahu, warna panggung favoritnya hitam, minuman sebelum konser air hangat, kebiasaan menunduk saat menerima pujian. Ia pernah menjadi penggemar, meski tidak ada yang tahu. Tetapi setiap kali jawabannya benar, REYN menatapnya dengan mata yang terlalu lembut.
Seolah ia senang Wenny juga memperhatikannya.
Poin mereka unggul jauh.
Koko mengumumkan kemenangan dengan suara meriah, Kevin meminta audit, Chelsea hampir kehilangan suara di ruang observasi, dan komentar live berubah menjadi lautan `WenReyn`.
Namun Wenny tidak ikut tenggelam dalam tawa itu.
Ia menatap papan kecil di tangan REYN, pada kata `Laba-laba` yang masih terlihat jelas.
Bagaimana dia tahu?
Itu bukan informasi publik. Bukan dari wawancara. Bukan dari drama. Bahkan beberapa teman satu industrinya pun tidak tahu.
Wenny menggenggam spidol sampai tutupnya menekan telapak tangan.
Kru memberi jeda lima menit untuk mengganti posisi kamera. Peserta lain mulai berdiri, Kevin masih protes soal audit poin, Koko sibuk tertawa dengan produser. Wenny baru hendak meletakkan spidol ketika bayangan seseorang jatuh di depannya.
REYN berdiri di sana.
Ia tidak menyentuh tangan Wenny. Hanya menunduk, melihat telapak tangannya yang mulai memerah.
"Jangan ditekan terlalu keras," katanya pelan.
Wenny cepat membuka genggaman. "Aku tidak sadar."
"Aku tahu."
Dua kata itu membuatnya lebih sulit bernapas daripada semua jawaban di permainan tadi.
"Kamu tahu terlalu banyak," kata Wenny.
REYN menatapnya. Untuk sesaat, ada sesuatu yang hampir keluar dari matanya. Rindu. Takut. Atau mungkin keduanya.
"Belum semuanya," jawabnya.
Lalu ia berjalan menjauh sebelum Wenny sempat bertanya lebih jauh.
Mereka sungguh belum pernah bertemu sebelumnya?