Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
KentangGila
Raka kembali ke kamar nomor tiga, tapi rumah gadang tidak kembali seperti sebelum ia pergi.
Entah sejak kapan, Ayu mulai menghitung pekerjaannya dengan memasukkan keberadaan Raka. Kalau ada konten baru, ia otomatis bertanya apakah Raka sempat mengambil gambar. Kalau pemasok datang membawa karung beras, ia menoleh ke halaman mencari sosok tinggi berkacamata itu. Kalau Nenek Sari mulai membongkar paket Shopee, Raka sering menjadi saksi tambahan yang membantu Ayu memutuskan barang mana yang benar-benar perlu.
Raka sendiri tidak banyak bicara soal perubahan itu.
Ia hanya melakukannya.
Pagi hari, setelah sarapan, ia menulis dua sampai tiga jam di kamar. Menjelang siang, ia turun membantu hal-hal kecil: memeriksa pesan booking, mengangkat galon, memindahkan kursi, atau mengedit video pendek. Sore hari, ia kadang menemani Datuk Harun memberi makan ayam dan bebek. Malam hari, setelah makan, ia mencuci piring dengan busa yang sudah lebih masuk akal.
Pada hari kelima setelah ia kembali, Ayu menemukan selembar kertas ditempel di pintu kulkas.
`Jadwal bantuan Raka`
Senin: cek stok minuman homestay.
Selasa: bantu konten dapur.
Rabu: angkat bahan berat.
Kamis: edit video.
Jumat: backup foto dan file.
Sabtu-Minggu: sesuai kebutuhan, kecuali deadline.
Ayu membaca daftar itu dengan mulut sedikit terbuka.
"Kak Raka."
Raka yang sedang menuang kopi di ruang makan menoleh. "Iya?"
"Ini apa?"
"Jadwal. Supaya saya tidak mengganggu alur kerja Mbak Ayu."
"Kak Raka tamu."
"Tamu yang tinggal dua bulan dan makan rendang hampir setiap hari."
"Sudah bayar."
"Uang tidak bisa mengangkat galon."
Di meja sebelah, Nenek Sari langsung mengangguk penuh dukungan. "Betul."
Ayu memandang mereka berdua bergantian. "Nenek jangan cepat berpihak."
"Nenek berpihak pada orang yang mau angkat galon."
Raka menunduk, tapi senyumnya terlihat.
Sejujurnya, Ayu tersentuh. Tapi ia juga khawatir. Raka datang untuk menulis, bukan menjadi pegawai restoran tidak resmi. Ia tahu bagaimana rasanya pekerjaan menyedot hidup pelan-pelan. Ia tidak ingin menjadi orang yang melakukan itu kepada orang lain.
Siang itu, saat restoran agak lengang, Ayu duduk di meja pojok tempat Raka biasa menulis.
"Kak Raka, boleh tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Kalau Kakak bantu terus di sini, naskah Kakak aman?"
"Aman."
"Jujur."
Raka menutup laptop setengah. "Jujur. Justru sejak di sini, produktivitas saya naik."
"Tapi penghasilan penulis online itu stabil?"
Pertanyaan itu keluar lebih serius daripada yang Ayu maksud. Ia tidak sedang menilai. Ia hanya ingin tahu apakah Raka benar-benar punya ruang aman untuk hidup dengan pilihannya sendiri.
Raka tampak tidak tersinggung. Ia malah membuka dashboard penulis di laptopnya, lalu memutar layar sedikit ke arah Ayu.
"Saya menulis di NovelMe dan Wattpad. Nama pena saya KentangGila."
Ayu menatapnya.
"Maaf. Kentang... apa?"
"KentangGila."
Ayu menutup mulut dengan punggung tangan. "Kak Raka yang rapi, sopan, tanda bacanya baik, nama penanya KentangGila?"
"Itu keputusan masa kuliah yang telanjur menjadi brand."
Ayu tertawa sampai bahunya bergetar. Raka terlihat pasrah, seperti orang yang sudah menerima nasib diejek setiap kali nama itu disebut.
"Pembacanya tidak protes?"
"Mereka malah ingat."
Nenek Sari yang lewat membawa baskom cabai berhenti. "Kentang apa tadi?"
Ayu langsung menutup mulut.
Raka menjawab dengan pasrah, "KentangGila, Nek. Nama pena saya."
Nenek menatapnya dari atas ke bawah. "Nama baik-baik kok dibuat seperti sayur kena masalah."
Sejak hari itu, Nenek memanggil akun Raka `si Kentang` setiap kali bertanya apakah naskahnya sudah selesai.
Ia menunjukkan dashboard pendapatan. Ayu tidak membaca detail pribadi terlalu jauh, tapi angka bulanannya cukup jelas. Tiga puluh juta. Empat puluh dua juta. Lima puluh delapan juta. Beberapa bulan lebih tinggi, beberapa bulan turun, tapi jauh dari gambaran penulis kelaparan yang sering dibayangkan orang.
Ayu terdiam.
"Ini dari novel?"
"Iya. Royalti, bonus platform, iklan, dan beberapa kontrak eksklusif."
Raka membuka halaman lain yang berisi daftar judul, jadwal update, dan komentar pembaca. Ada yang memuji plot twist, ada yang marah karena tokoh favoritnya terluka, ada juga yang menulis dengan huruf besar meminta bab baru malam itu juga.
"Pembaca Kak Raka galak."
"Sangat."
"Tapi mereka bayar?"
"Sebagian. Ada sistem koin, ada bonus baca, ada kontrak. Kalau update saya telat, pendapatan bisa turun. Jadi walaupun kelihatannya saya hanya duduk di kamar, sebenarnya saya bekerja dengan deadline juga."
Ayu melihat daftar bab yang rapi, target kata, dan catatan revisi. Pandangannya pada Raka berubah pelan. Laki-laki ini bukan orang yang kabur dari Jakarta untuk bermalas-malasan di rumah gadang. Ia membawa pekerjaannya sendiri, tekanan sendiri, dan cara bertahan yang ia bangun tanpa banyak dukungan.
"Kak Raka tidak pernah cerita."
"Tidak ada yang bertanya."
"Aku pikir Kakak mungkin... ya, menulis karena passion."
"Passion yang tidak bisa bayar kos akan cepat berubah menjadi stres." Raka tersenyum kecil. "Saya suka menulis, tapi saya juga menghitung."
Ayu menyandarkan punggung ke kursi. Ia suka kalimat itu. Suka terlalu banyak.
"Jadi Kak Raka bisa tinggal di sini lama karena memang mampu."
"Saya tidak ingin Mbak Ayu mengira saya lari dari tanggung jawab."
"Aku tidak mengira begitu."
"Tapi mungkin orang lain mengira."
Ayu teringat ibu-ibu di warung. "Orang lain terlalu banyak waktu."
"Mungkin. Tapi saya tetap ingin jelas. Saya punya pekerjaan. Saya punya penghasilan. Dan kalau saya membantu di sini, itu bukan karena saya tidak punya kegiatan." Raka menatapnya, suaranya pelan tapi tegas. "Saya membantu karena saya ingin."
Ayu menatap layar laptop, lalu jari Raka yang masih berada di dekat touchpad. Ada jarak aman di antara mereka. Jarak yang cukup untuk tidak bersentuhan, tapi tidak cukup untuk membuat jantungnya tenang.
"Baik," katanya akhirnya. "Tapi jadwal bantuan harus saya revisi."
"Kenapa?"
"Sabtu-Minggu bukan `sesuai kebutuhan`. Sabtu-Minggu biasanya paling ramai. Kalau Kak Raka tulis begitu, Nenek akan menganggap Kak Raka siap disuruh apa saja."
Raka langsung melihat ke arah dapur. Nenek Sari sedang memotong cabai, tapi senyumnya sangat mencurigakan.
"Terlambat, Nak Raka," kata Nenek tanpa menoleh. "Nenek sudah baca."
Raka menutup mata sebentar.
Ayu tertawa lagi, dan kali ini Raka ikut tertawa tanpa menahan diri.
Malamnya, jadwal di kulkas sudah berubah.
Di bagian bawah, Ayu menambahkan satu baris dengan spidol merah.
`Setiap hari: Raka wajib menulis minimal 2 jam sebelum membantu siapa pun.`
Besok paginya, Ayu menemukan balasan kecil di bawahnya.
`Setiap hari: Ayu wajib makan sebelum jam 2 siang.`
Ayu berdiri di depan kulkas lama yang sekarang terasa seperti papan perjanjian rumah tangga tidak resmi.
Tanpa sadar, ia tersenyum lama sekali.