NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

PROK! PROK! PROK!

Tiba-tiba Dendi bertepuk tangan keras-keras.

Semua orang di kantin langsung menolehkan kepala. Suara tepuk tangannya terdengar tajam—lebih mirip sebagai bentuk pelampiasan rasa malu ketimbang pujian tulus.

"Hebat," ucap Dendi dengan nada vokal yang teramat sinis.

"Lo cukup jago juga, Repan. Bisa menumbangkan tiga anak buah gue sekaligus? Luar biasa... Tapi sayangnya, gue nggak bakal membiarkan lo melenggang pergi gitu aja."

Ia mulai meletupkan ruas-ruas jarinya satu per satu, bersiap untuk turun tangan sendiri.

Repan tetap berdiri tenang di posisinya, bahkan tak bergeming sedikit pun. Sepasang matanya menatap tajam, vokalnya terdengar dingin menembus keheningan.

"Lo? Anak manja yang selama ini disuapi fasilitas sama bokap lo? Lo pikir lo punya kapasitas buat menghajar gue? Bahkan embusan napas lo aja nggak bakal sempat menyentuh muka gue."

"Nggak usah SOMBONG lo, Bangsat!" raung Dendi murka. Tanpa membuang waktu lagi, ia melesat menerjang ke arah Repan seraya mengepalkan tinju kanannya ke udara.

WUSH!

Namun dalam satu gerakan kilat yang teramat presisi...

PLAAAKK!!

Suara tamparan telak terdengar sangat nyaring, memantul menggema di sekeliling area kantin.

BRAAAAK!!

Tubuh Dendi terpental bebas hingga menghantam meja kayu, lalu tersungkur mengenaskan di atas lantai.

Seluruh siswa yang menonton seketika membelalakkan mata tak percaya.

"ASTAGA! DENDI DITAMPAR!"

"Anjir... tamparan doang?! Tapi kok efeknya bisa separah itu?!"

"Dia kan anak perwira polisi! Masa ditampar pelak-pelok gitu kayak anak TK?!"

Kerumunan massa di kantin kian menyemut. Sebagian siswa mulai tertawa terbahak-bahak tanpa canggung, sementara sebagian lainnya sibuk mengabadikan momen langka itu lewat kamera ponsel.

Dendi menggertakkan giginya rapat-rapat. Separuh pipinya seketika membengkak kemerahan.

'Bajingan keparat! Berani-beraninya dia melakukan hal se-mempermalukan ini ke gue!' Namun bukan rasa perih di pipi yang membakar dadanya, melainkan hancurnya harga diri di depan publik.

"Bangsat! Goblok lo! Lo berani menampar gue... di depan SEMUA ORANG?!" teriak Dendi melengking dipenuhi gejolak murka.

"ANAK MISKIN SIALAN! GUE BAKAL BIKIN LO HANCUR!" Dendi kembali bangkit berdiri dan melesat merangsek maju secara kalap menuju ke arah Repan.

Repan hanya bergumam pelan, vokalnya nyaris tak terdengar.

"Bodoh... Gue udah cukup baik cuma ngasih lo satu tamparan penyesuaian. Tapi lo malah minta jatah tamparan kedua."

WUSH!!

Pukulan melayang dari Dendi nyaris mengikis pipi Repan, namun...

PLAAAK!

Tamparan kedua melayang kilat, mendarat mulus di pipi sebelahnya.

BRAAAAK!

Tubuh Dendi kembali ambruk menghantam lantai, kali ini benturannya jauh lebih keras. Kedua belah pipinya kini membengkak merah simetris, mirip bagaikan badai sirkus yang salah mengoleskan riasan.

"HAHAHAHA!"

"GILA! LIHAT MUKANYA, WOI!"

"MUKANYA SEKARANG MIRIP BADUT SIRKUS!"

"APAAN NIH?! PENAMPILAN BARU DENDI?! BADUT SMA 09 CIMANGGU?!"

Gelak tawa meledak riuh tanpa ampun di sekeliling kantin.

"HAHAHA LO MEMANG LAYAK MENDAPATKAN ITU, DENDI!"

Dendi bangkit berdiri dengan napas yang tersengal-sengal, kedua tangannya mengepal erat.

Namun kali ini, bukan karena ia siap memasang posisi tempur kembali—melainkan karena rasa frustrasi yang memuncak di ubun-ubun.

"DIAM KALIAN SEMUA!! MAU CARI GARA-GARA SAMA GUE, HAH?! KALAU GUE ADUKAN HAL INI KE BOKAP GUE, KALIAN SEMUA BAKAL—"

"HAHAHA Tuh kan! Ujung-ujungnya mulai main adu bokap!"

"ANAK BOKAP! DASAR ANAK BOKAP!"

"LAPORIN SANA! KITA KAGAK ADA YANG TAKUT!"

Sorak-sorai ejekan dari para siswa menyambut ancaman gertakan tersebut. Tak ada satu pun yang gentar. Di mata warga sekolah saat ini, Dendi telah kalah telak—baik secara fisik maupun kehormatan harga dirinya.

Vina yang berdiri di belakang Repan menatap dengan sepasang mata yang tak berkedip. 'Dia... dia benar-benar beda dari cowok lain. Repan bukan cuma sekadar berani... tapi dia punya kontrol penuh, ketenangan, dan kekuatan yang absolut.'

Sementara itu di sudut kerumunan, Zahra diam-diam memperhatikan Repan dengan binar mata yang bergetar.

'Repan... kenapa kamu kelihatan makin keren aja... Apa yang kamu lakukan barusan cuma bikin aku makin kagum sama kamu! Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu terus.'

Di sisi lain, di dalam benak Dendi yang makin meluap...

'Kalian semua bakal menyesal setengah mati. Gue pastikan kalian semua bayar mahal gara-gara udah mempermalukan gue hari ini. Terutama lo, Repan... dan lo juga, Vina.'

Sepasang matanya menyala membara dipenuhi dendam.

Suasana kantin perlahan mulai agak mereda, namun satu hal yang pasti—bentrokan hari ini barulah babak pembuka. Dendam Dendi baru saja bertunas, dan bayangan konflik yang jauh lebih raksasa kini mulai membayangi SMA 09 Cimanggu.

TRING! TRING!

Bel sekolah kembali berbunyi nyaring, menandakan jam istirahat siang telah usai.

Keriuhan di kantin yang tadinya dipenuhi sorakan ejekan perlahan-lahan mulai membubar.

"Woi! Udah, bubar-bubar! Balik ke kelas masing-masing sebelum Pak Arman keliling patroli!"

"Sial! Padahal gue masih mau lihat si Dendi ditampar sekali lagi."

"Mempermalukan banget emang tuh anak. Mulai sekarang panggil aja dia Badut SMA 09 Cimanggu!"

"Haha! Setuju banget, Bro! Badut Pipi Merah!"

Para siswa tertawa-tawa seraya mengayunkan kaki kembali menuju ke kelas mereka.

Kondisi kantin masih dipenuhi serpihan meja dan kursi kayu yang rusak, namun fokus perhatian seluruh warga sekolah kini telah tertuju lurus pada satu nama—Repan.

Vina menatap Repan dengan ukiran senyum manis di wajahnya, kedua belah pipinya sedikit merona.

"Repan... terima kasih banyak ya. Berkat lo, gue nggak perlu repot-repot berurusan sama orang gila itu lagi."

Repan menoleh, raut wajahnya tetap lempeng. "Gue bukannya lagi pasang badan buat lo, Vina. Gue cuma muak aja lihat si Dendi bersikap sok kayak raja kecil di sekolah ini."

"Iya, gue tahu kok... tapi gue tetap mau berterima kasih. Lo bener-bener luar biasa," pukas Vina pelan.

Ia kemudian melangkah mendekat, memajukan wajahnya ke dekat telinga Repan lalu berbisik dengan nada manja,

"Gue harap kapan-kapan kita bisa jalan bareng lagi... kayak waktu di mall kemarin, ya."

Repan hanya menatapnya dengan pandangan kosong tanpa kata, namun Vina tak menunggu jawaban lebih lanjut.

"Daaaah Repan! Sampai ketemu lagi!" ucap Vina riang seraya melambaikan tangannya sebelum berlari kecil meninggalkan kantin.

Repan memperhatikan punggung Vina yang kian menjauh dengan tatapan datar.

'Cewek ini... bener-bener merepotkan. Kehadirannya selalu sukses memicu kegaduhan buat gue,' batinnya seraya menghembuskan napas panjang.

Ia pun mengayunkan langkah kaki pergi, meninggalkan area kantin yang kini berantakan tak ubahnya medan pertempuran kecil.

Sementara itu, Dendi dan tiga pengawalnya masih terduduk lemas di atas lantai kantin. Tak ada satu pun dari mereka yang bersuara atau bergerak, semuanya terbungkam dalam himpitan rasa malu dan perih yang teramat sangat.

Nama Repan dipastikan bakal menggema memantul di seluruh penjuru lorong sekolah.

Waktu bergerak menuju siang hari, dan jam pulang sekolah akan segera tiba.

Di luar gerbang utama SMA 09 Cimanggu...

Dua pria asing berjaket kulit lusuh tampak berdiri bersembunyi di balik rimbunnya pohon besar, memantau situasi area sekolah dari jarak jauh.

"Jadi ini sekolahnya?" tanya pria bertubuh kekar dengan nada suara yang berat.

"Iya, kata Bos Bastian, target bernama Repan sekolah di sini. Bocah yang ditengarai bikin kekacauan di markas Geng GBA."

Pria satunya membuka lipatan kertas lusuh lalu memperlihatkan foto wajah Repan.

"Target kelihatan kayak murid SMA biasa, tapi kita nggak boleh meremehkan dia gitu aja. Bos Bastian mengonfirmasi kalau dia sanggup menumbangkan 30 personel kita sendirian."

"Benar. Instruksi misi kita cuma membuntutinya buat melacak keberadaan lokasi rumah barunya."

Namun, tepat sebelum mereka sempat merencanakan pergerakan lebih jauh...

"Heh... Sedang apa dua ekor kecoa berkeliaran di depan gerbang SMA 09 Cimanggu?"

Suara vokal yang berat dan dalam mendadak bergaung dari arah belakang mereka.

Keduanya berbalik cepat dan mendapati sesosok remaja berpostur tinggi besar dengan rambut acak-acak. Remaja itu mengenakan seragam sekolah dengan kancing atas terbuka lebar serta dasi yang sengaja disampirkan acuh tak acuh di pundaknya.

Dialah Jhonson—satu-satunya berandalan independen yang paling disegani di SMA 09 Cimanggu.

Raut wajahnya terlihat sangar, dipadu dengan pendar mata yang tajam dan sarat akan kepercayaan diri.

Ia sengaja datang ke sekolah hari itu karena mendengar kabar burung heboh yang menyebutkan ada seorang murid yang baru saja ngebantai tiga atlet karate di kantin.

Meskipun perawakannya ugal-ugalan, Jhonson adalah siswa resmi di sekolah tersebut—dan seluruh warga sekolah tahu betul kalau ia tak akan segan-segan melayangkan tinju pada siapa pun yang memancing emosinya.

"Cabut lo! Kita nggak lagi ada urusan sama anak sekolah kayak lo!" bentak salah satu pria berjaket kulit, berusaha mengusirnya.

Jhonson justru menyunggingkan seringai dingin.

"Oh? Jadi kalian berdua lagi nungguin seseorang nih? Siapa emangnya? Gue mendadak jadi penasaran..."

"Brengsek lo! Mau gue bikin bonyok muka lo, hah?!" gertak pria lainnya seraya melangkah maju.

"Kalian ini komplotan Geng GBA brengsek itu, kan? Yang biasa memalak uang saku anak-anak sekolah? Sialan. Kalian kira gue bakal membiarkan berandalan luar kencing sembarangan di wilayah sekolah gue?"

Jhonson melepas jaketnya lalu merenggangkan otot-otot pundaknya hingga berbunyi kerotok.

"Pas banget. Udah lama tangan gue gatal pengin memukuli orang."

"SIALAN! BANTAI DIA!" bentak pria pertama, dan kedua mata-mata itu langsung pasang kuda-kuda.

Namun Jhonson sudah lebih dulu berdiri tegap, kedua kakinya merenggang kokoh seraya mengangkat kedua tangannya membentuk posisi siaga tempur.

"Ayo, berandalan ecek-ecek... Pemanasan dulu sebelum gue nemuin si Repan," gumamnya diiringi seringai tipis.

Bentrokan baru pun resmi meledak—kali ini tepat di depan gerbang sekolah, dan SMA 09 Cimanggu bersiap menjadi panggung pertempuran yang jauh lebih besar.

#Note

pertanyaan?

Siapa Nanti yang bakal menjadi kekasih Repan?

1.Vina

2.Zahra

Berikan jawaban kalian di kolom komentar ya.

Sampai jumpa di Episode berikutnya.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!