Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Tak Sengaja Sejalan
Pagi itu, Aluna terbangun lebih awal dari biasanya.
Entah sejak kapan, kebiasaannya berubah. Jika dulu ia selalu terburu-buru berangkat kerja, kini ia justru meluangkan waktu beberapa menit untuk memilih buku yang akan dibawanya ke toko.
Tangannya berhenti pada sebuah novel klasik.
Ia menyelipkan pembatas buku kayu pemberian Niel di halaman pertama, lalu tersenyum kecil.
"Aneh..."
"Kenapa setiap lihat ini, aku malah ingat dia?"
Di sisi lain kota, Niel sudah berada di ruang kerjanya.
Beberapa berkas penting tersusun rapi di atas meja.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
"Tuan."
Darren masuk sambil membawa map berisi jadwal hari itu.
"Ini agenda Anda."
Niel membacanya sekilas.
"Pukul sembilan rapat."
"Ya."
"Setelah itu?"
"Kunjungan proyek."
Niel menutup map tersebut.
"Majukan semua jadwal."
Darren mengernyit.
"Majukan?"
"Aku ingin semuanya selesai sebelum sore."
Darren menatap atasannya beberapa saat, lalu tersenyum tipis.
"Baik, Tuan."
Ia tidak perlu bertanya alasannya lagi.
Jawabannya hampir selalu sama.
Menjelang pukul empat sore.
Niel kembali tiba di depan toko buku.
Namun kali ini ia tidak langsung masuk.
Tatapannya tertuju pada Aluna yang sedang berdiri di luar toko sambil berusaha memasang spanduk promosi.
Tangga kecil yang digunakan tampak sedikit bergoyang.
"Sedikit lagi..."
gumam Aluna.
Saat ia berjinjit untuk meraih ujung tali, tangga itu tiba-tiba bergeser.
"Ah!"
Tubuh Aluna kehilangan keseimbangan.
Sebelum sempat terjatuh, seseorang dengan sigap menangkap lengannya.
Aluna memejamkan mata beberapa detik.
Ketika membukanya kembali...
Ia mendapati dirinya berada dalam pelukan Niel.
"Kamu nggak apa-apa?"
Suara tenang itu terdengar sangat dekat.
Aluna langsung berdiri tegak sambil mundur satu langkah.
"I-iya..."
"Maaf."
"Aku nggak lihat tangganya bergeser."
Niel memastikan tangga itu sudah berdiri kokoh sebelum menatap Aluna lagi.
"Lain kali panggil orang kalau butuh bantuan."
"Aku kira bisa sendiri."
"Kalau sampai jatuh?"
Aluna tersenyum canggung.
"Untung ada kamu."
Kalimat sederhana itu membuat Niel terdiam.
"Untung..."
Ia mengulang kata itu pelan, seolah menyimpannya dalam hati.
"Kalau boleh..."
ucap Niel sambil mengambil ujung spanduk.
"Biar aku saja."
Aluna mengangguk.
Beberapa menit kemudian, spanduk itu terpasang dengan rapi.
"Wah."
Aluna menatap hasilnya.
"Lebih bagus dari yang biasanya."
Niel tersenyum tipis.
"Setidaknya aku berguna."
"Kamu sangat membantu."
Siska yang baru keluar dari dalam toko langsung bersiul pelan.
"Wah..."
"Kerja sama yang kompak."
Aluna spontan melotot.
"Siska."
"Apa? Aku cuma bilang kenyataan."
Niel justru terkekeh pelan melihat tingkah keduanya.
Setelah pekerjaan selesai, Aluna mengajak Niel masuk.
"Aku traktir kopi."
"Sebagai ucapan terima kasih."
Niel mengangguk.
"Baik."
Mereka kembali duduk di sudut baca yang kini sudah menjadi tempat favorit mereka.
"Aku penasaran."
Aluna memandang Niel.
"Sehari-hari kamu sebenarnya kerja apa?"
Niel terdiam sejenak.
"Aku mengurus perusahaan."
"Perusahaan?"
"Iya."
"Pasti sibuk."
"Cukup."
"Lalu kenapa hampir setiap sore kamu sempat datang ke sini?"
Niel tersenyum kecil.
"Aku meluangkan waktu."
"Hanya untuk beli buku?"
Tatapan mereka bertemu.
Niel menjawab tanpa ragu.
"Bukan."
"Lalu?"
"Untuk bertemu seseorang."
Jantung Aluna kembali berdegup lebih cepat.
Ia buru-buru menunduk sambil mengaduk kopinya yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk lagi.
"Kamu ini..."
"Selalu bikin aku bingung."
Niel tersenyum tipis.
"Aku hanya sedang jujur."
Tak jauh dari sana, sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di pinggir jalan.
Pria misterius yang selama beberapa hari mengawasi mereka menatap layar tablet di tangannya.
Di sana terpampang informasi singkat mengenai Aluna.
"Usia..."
"Pekerjaan..."
"Alamat..."
Semuanya telah berhasil ia kumpulkan.
Ponselnya berdering.
"Ya."
Suara berat dari seberang terdengar tenang.
"Laporan."
"Target mulai dekat dengan Niel."
"Hm."
"Apakah saya mulai bergerak?"
"Tidak."
"Tunggu."
"Biarkan hubungan mereka semakin dalam."
"Semakin besar rasa sayang..."
"...semakin besar pula rasa sakit ketika kehilangannya."
Panggilan terputus.
Pria itu menatap kembali ke arah toko buku.
Dari balik kaca, ia melihat Aluna dan Niel tertawa bersama untuk pertama kalinya.
Senyumnya perlahan berubah dingin.
"Tertawalah selagi kalian masih bisa."
"Karena sebentar lagi..."
"...permainan yang sesungguhnya akan dimulai."
Di dalam toko, Niel dan Aluna sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkah mereka kini sedang diawasi.
Takdir memang telah mempertemukan mereka kembali.
Namun di balik pertemuan itu...
Seseorang telah menyiapkan babak baru yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah mereka bayangkan.
___________________________________________
Lanjutan
Senja mulai menyelimuti langit kota.
Setelah menghabiskan secangkir kopi bersama, Niel berdiri dari kursinya. Ia melirik jam tangan, lalu mengembuskan napas pelan.
"Sepertinya aku harus pergi."
Aluna yang sedang merapikan cangkir mengangguk.
"Pekerjaan?"
"Iya."
"Kalau terus bolos sore-sore begini, nanti perusahaanmu marah."
Niel tersenyum kecil.
"Tenang."
"Aku pemiliknya."
Aluna tertawa pelan.
"Benar juga."
Suasana kembali dipenuhi keheningan yang tidak terasa canggung.
Kini mereka mulai terbiasa berada di dekat satu sama lain.
Bahkan tanpa banyak percakapan, keduanya tetap merasa nyaman.
"Tunggu sebentar."
Aluna berlari kecil ke arah rak novel, lalu mengambil sebuah buku bersampul biru.
Ia kembali menghampiri Niel.
"Ini."
Niel menerima buku itu sambil membaca judulnya.
"Novel favoritmu?"
Aluna mengangguk.
"Aku sudah membacanya berkali-kali."
"Kalau kamu mau mulai suka membaca..."
"...coba mulai dari buku ini."
Niel menatap buku itu beberapa saat.
"Lalu kalau aku selesai membacanya?"
"Kita diskusi."
"Diskusi?"
"Iya."
"Aku penasaran, apakah pendapat kita akan sama."
Senyum tipis muncul di wajah Niel.
"Baik."
"Kalau begitu aku akan membacanya sampai selesai."
Di luar toko, Darren sudah menunggu di samping mobil.
Melihat Niel keluar sambil membawa satu buku lagi, ia menggeleng pelan.
"Tambah koleksi lagi, Tuan?"
Niel melihat buku di tangannya.
"Bukan."
"Lalu?"
"Pinjaman."
Darren mengangguk sambil membuka pintu mobil.
"Tuan harus mengembalikannya."
"Iya."
"Tepat waktu."
Niel tersenyum kecil.
"Aku memang berniat datang lagi."
Darren menahan tawanya.
Kini ia semakin yakin, alasan atasannya datang ke toko buku sama sekali bukan karena buku.
Sementara itu, setelah Niel pergi, Siska menghampiri Aluna sambil menyandarkan tubuh di meja kasir.
"Aku boleh jujur?"
"Apa?"
"Dia benar-benar perhatian."
Aluna tersenyum tipis.
"Iya."
"Dan..."
Siska menyipitkan mata.
"Aku belum pernah lihat kamu senyaman ini sama laki-laki."
Aluna terdiam.
Ucapan Siska membuatnya berpikir.
Benarkah begitu?
Padahal baru beberapa hari mengenal Niel.
Namun setiap kali pria itu datang, suasana hatinya selalu berubah menjadi lebih baik.
Ia merasa tenang.
Merasa aman.
Seolah-olah...
Pria itu memang sudah seharusnya berada di dekatnya.
Malam mulai turun.
Tanpa disadari Aluna, di seberang jalan seorang pria berjaket hitam kembali mengamati toko buku itu.
Ia menatap buku yang kini berada di tangan Niel melalui kaca mobil yang mulai menjauh.
"Lumayan cepat..."
gumamnya pelan.
"Hubungan mereka berkembang lebih cepat dari perkiraan."
Ia mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan singkat.
"Fase pertama berhasil. Siapkan rencana berikutnya."
Beberapa detik kemudian, balasan datang.
"Jangan biarkan mereka terlalu bahagia."
Pria itu tersenyum tipis sebelum menyalakan mesin mobilnya.
Dari balik kemudi, tatapannya masih tertuju ke arah toko buku.
Permainan baru belum dimulai.
Namun bidak-bidaknya...
Telah mulai bergerak satu per satu.
— Bersambung —