NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

Oma

Seline tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di depan Darren, masih memegang pintu lemari yang belum sempat ditutup. Di depannya, Vivian Liu tersenyum tipis, menunggu reaksi seperti seseorang yang baru saja melempar jarum dan ingin melihat apakah jarum itu menancap.

Kalau Seline marah, ia akan terlihat tidak tahu diri. Kalau ia membalas, hari pertamanya di rumah Hartono akan dimulai dengan keributan.

Maka Seline hanya menundukkan kepala sedikit.

"Terima kasih sudah mengingatkan," katanya pelan. "Saya akan hati-hati."

Vivian tampak tidak puas. Ia mengira Seline akan tersinggung atau membela diri. Namun yang ia dapat hanya suara tenang dan mata yang tidak cukup rendah untuk disebut takut.

"Bagus," ucap Vivian akhirnya. Ia melirik Darren sekali lagi. "Ajari juga adikmu. Di rumah besar, anak kecil pun harus tahu cara bersikap."

Darren mengepalkan tangan, tapi Seline menggenggam pergelangan tangannya dari belakang. Tidak keras. Cukup untuk mengingatkan bahwa malam itu mereka belum punya tempat selain kamar ini.

Vivian pergi tanpa menutup pintu rapat-rapat.

Seline baru menghela napas setelah langkah gadis itu menjauh.

"Kenapa Kakak diam saja?" Darren langsung bertanya, suaranya tertahan marah. "Dia menghina kita."

Seline menutup pintu, lalu berbalik. "Karena dia ingin Kakak terlihat salah."

"Tapi memang dia yang salah."

"Di rumah orang lain, belum tentu orang yang benar langsung menang."

Darren terdiam. Wajahnya masih panas oleh kesal, tapi ia menahan diri. Seline mendekat dan merapikan rambut adiknya yang berantakan.

"Kita tinggal dulu. Kita lihat dulu. Setelah itu baru kita tahu harus melangkah ke mana."

"Aku tidak suka dia."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, Seline hampir tersenyum.

"Kakak juga tidak bilang harus suka."

Malam pertama di rumah Hartono berjalan panjang. Seline tidur di ranjang single, Darren di sofa panjang yang dibuka menjadi tempat tidur kecil. AC berdengung halus. Dari luar jendela, lampu taman membuat bayangan daun bergerak di langit-langit.

Seline tidak benar-benar tidur.

Setiap kali matanya terpejam, ia melihat gerbang hitam, senyum tipis Tante Chen, tatapan Vivian, dan kaca mobil hitam yang menurun setengah. Rumah ini terlalu besar untuk dua anak yang datang tanpa bekal nama keluarga kuat. Tetapi untuk Darren, ia harus belajar bernapas di dalamnya.

Pagi harinya, Bi Zheng mengetuk pintu saat Seline baru selesai melipat selimut.

"Nona Seline," ucapnya dari luar. "Oma memanggil."

Tangan Seline berhenti di atas kain.

Darren yang sedang memakai sepatu langsung menoleh. "Oma yang di foto itu?"

Bi Zheng mengangguk. "Oma Mei. Pemilik rumah ini."

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat punggung Seline menegang. Ia cepat mengganti blusnya dengan kemeja putih paling rapi yang ia punya. Kemeja itu sudah dicuci berkali-kali sampai kainnya mulai menipis, namun kerahnya masih lurus karena ia menyetrikanya hati-hati sebelum berangkat dari Surabaya.

"Aku ikut?" tanya Darren.

"Oma meminta Nona Seline dulu," jawab Bi Zheng lembut. "Tuan kecil bisa sarapan di kamar. Nanti saya antar roti dan susu."

Darren jelas tidak suka ditinggal, tapi Seline menatapnya dengan tenang.

"Kakak hanya sebentar."

"Kalau mereka macam-macam?"

"Di depan Oma, tidak ada yang macam-macam," kata Bi Zheng tiba-tiba.

Nada perempuan itu begitu yakin sampai Darren menutup mulut. Seline menyimpan kalimat itu seperti menyimpan payung sebelum hujan.

Lorong menuju ruang tengah lebih terang daripada malam sebelumnya. Beberapa pelayan bergerak tanpa suara, membawa nampan teh, bunga segar, dan map-map kecil. Rumah Hartono pada pagi hari tampak seperti mesin tua yang mahal. Semua orang tahu posisinya. Semua orang tahu kapan harus menunduk.

Di depan pintu kayu besar, Bi Zheng berhenti.

"Masuklah, Nona. Jangan takut. Oma tidak suka orang pura-pura, tapi beliau juga tidak suka anak yang terlalu takut."

Seline mengangguk, lalu masuk.

Ruang keluarga utama itu luas, tetapi tidak terasa kosong. Jendela tinggi terbuka ke taman, cahaya pagi jatuh di atas lantai kayu mengilap. Di tengah ruangan, seorang wanita tua duduk di kursi berlengan, tubuhnya kecil, rambut putihnya disanggul rapi, matanya jernih seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kebohongan sampai tidak perlu lagi membongkarnya dengan suara keras.

Di sampingnya, Tante Chen duduk dengan senyum sopan. Vivian berdiri agak jauh, memakai dress biru muda. Ada gadis lain di dekat meja teh, wajahnya cerah, matanya langsung menatap Seline dengan rasa ingin tahu yang tidak menyakitkan.

"Seline?" suara wanita tua itu lembut.

Seline mendekat dan menunduk hormat. "Selamat pagi, Oma."

Tante Chen tampak sedikit terkejut mendengar Seline langsung memakai panggilan itu, tapi Oma Mei justru tersenyum.

"Duduk dekat Oma."

Seline mengikuti. Ia duduk di kursi kecil di sebelah wanita tua itu, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Oma Mei mengamatinya lama. Bukan seperti Vivian menilai pakaian atau koper. Tatapan Oma menembus hal lain, seperti sedang membaca bekas perjalanan di wajah Seline, cara ia menahan bahu, dan letak tangan yang terlalu rapi di pangkuan.

"Perjalanan dari Surabaya melelahkan?"

"Sedikit, Oma. Tapi kami baik-baik saja."

"Adikmu?"

"Darren juga baik. Dia hanya masih menyesuaikan diri."

Oma Mei mengangguk. "Anak laki-laki umur sebelas tahun memang begitu. Berani di mulut, tapi matanya gampang ketahuan."

Seline terkejut. Ia tidak tahu Oma sudah mendengar tentang Darren atau hanya menebak. Dari sudut mata, ia melihat Vivian menahan senyum, seolah menunggu Seline salah menjawab.

Namun gadis cerah di dekat meja teh tiba-tiba tertawa kecil.

"Oma memang selalu tahu. Aku dulu juga begitu. Waktu pertama pindah kamar sendiri, aku bilang tidak takut, padahal tiap malam tidur sambil menyalakan semua lampu."

Oma Mei meliriknya. "Jessica, kamu bangga sekali membuka aib sendiri."

Gadis itu, Jessica, mengangkat bahu. "Kalau bisa membuat Seline lebih santai, tidak apa-apa."

Nada bicaranya ringan, tapi Seline menangkap niat baik di sana. Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah Hartono, ada seseorang seusianya yang tidak melihatnya seperti gangguan.

Jessica tersenyum padanya. "Aku Jessica. Panggil saja Jess kalau mau. Nanti kalau bingung di rumah ini, tanya aku. Jangan tanya Vivian, dia suka bikin orang tambah bingung."

"Jess," tegur Tante Chen cepat.

Vivian tersenyum kaku. "Aku juga hanya membantu."

"Membantu orang takut, mungkin," gumam Jessica.

Seline menahan napas. Ia tidak menyangka ada orang yang berani bicara seterang itu di ruang Oma. Namun Oma Mei hanya mengambil cangkir teh, seolah pertengkaran kecil itu tidak layak diberi tempat.

"Cukup," kata Oma.

Satu kata itu membuat ruangan kembali rapi.

Oma Mei lalu membuka kotak kecil dari kayu gelap di meja samping. Dari dalamnya, ia mengeluarkan gelang giok berwarna hijau muda. Permukaannya halus, dingin, memantulkan cahaya lembut.

Tante Chen langsung menegakkan punggung. Vivian juga tidak bisa menyembunyikan perubahan wajahnya.

"Oma," Tante Chen berkata hati-hati, "itu gelang kesayangan Oma."

"Oma tahu barang Oma sendiri," jawab Oma Mei tanpa menoleh.

Seline membeku saat wanita tua itu meraih tangannya.

"Anak perempuan yang datang dari jauh tidak boleh merasa rumah ini hanya punya pintu dan aturan." Oma Mei memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Seline. Ukurannya sedikit longgar, tapi tidak jatuh. "Anggap ini hadiah pertemuan pertama."

"Oma, saya tidak bisa menerima ini." Suara Seline hampir hilang. "Ini terlalu berharga."

"Kalau Oma memberi, kamu menerima."

Tidak ada keras dalam suara itu. Justru karena itulah Seline tidak mampu menolak lagi. Gelang giok itu dingin di kulitnya, berbeda dengan liontin tua yang tersembunyi di balik bajunya. Satu benda berasal dari masa lalu yang tidak jelas. Satu benda baru saja diberikan oleh orang paling berkuasa di rumah ini.

Matanya tiba-tiba panas.

"Terima kasih, Oma."

Oma Mei memandangnya lama. Lalu, tanpa aba-aba, wanita tua itu mengangkat tangan dan menyentuh pipi Seline dengan ujung jari yang hangat.

Gerakan itu begitu lembut sampai Seline tidak sempat mundur.

Di mata Oma Mei, sesuatu bergetar. Bukan sekadar iba. Bukan juga kaget biasa. Seperti ada kenangan lama yang tiba-tiba membuka pintu dari dalam.

"Aneh," bisik Oma Mei.

Ruangan menjadi sunyi.

Seline menahan napas.

Oma Mei menatap wajahnya lebih dekat, lalu berkata pelan, "Kamu mirip seseorang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!