Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
"Orang Pak Tujuh. Haji Mansur."
Nama itu membuat William Koh berhenti menulis.
Ricky mengangkat wajah dari ponsel. "Dia minta bertemu malam ini. Lokasi di gudang lama dekat Pelabuhan Sunda Kelapa."
Amy langsung membuka peta. "Area itu bukan wilayah aman."
Bella tersenyum tipis. "Kalau aman, dia tidak akan memilihnya."
William menatap Mei Li. "Miss Lim, Haji Mansur bukan preman biasa. Di Jakarta Utara, banyak jalur logistik informal lewat orang-orangnya. Dia punya pengaruh di pelabuhan, pergudangan, bahkan beberapa ormas lokal."
"Koneksi ke Tan?"
"Lama," jawab Ricky. "Tan Bao Shan pernah memakai jasanya untuk mengamankan proyek. Tapi Pak Tujuh bukan orang yang mudah dibeli penuh. Dia membantu siapa yang menurutnya menguntungkan, lalu menjaga aturan wilayahnya sendiri."
Mei Li menatap titik merah di peta. "Apa pesannya?"
Ricky membaca ulang. "Kalau Nona Lim ingin menggerakkan barang di utara, datang sendiri. Jangan kirim anak buah."
Bella langsung menolak. "Tidak."
Mei Li menoleh padanya.
Bella mengatupkan bibir. "Maksud saya, tidak tanpa tim lengkap."
"Dia meminta aku datang sendiri?"
"Dengan dua orang maksimal," kata Ricky. "Dan tanpa polisi."
Amy mengerutkan kening. "Jelas jebakan."
"Mungkin." Mei Li menutup kipas batiknya. "Tapi jebakan juga bisa menjadi pintu."
***
Haji Mansur salat Isya lebih dulu sebelum menerima tamu.
Di mushola kecil di sisi gudang, ia berdiri paling depan dengan sarung hitam dan baju koko putih. Orang-orangnya menunggu di luar tanpa suara keras. Tidak ada musik, tidak ada rokok di dekat pintu mushola. Untuk seseorang yang hidup di wilayah abu-abu, Haji Mansur punya garis yang tidak boleh dilanggar bawahannya.
Selesai berdoa, ia duduk sebentar, memutar tasbih di tangan.
Seorang anak buah mendekat. "Jie itu sudah datang."
Haji Mansur membuka mata. "Jangan panggil dia Jie sebelum aku tahu dia pantas."
"Baik, Pak Tujuh."
Lelaki berusia lima puluhan itu bangkit. Tubuhnya besar, tetapi gerakannya tidak lamban. Bekas luka kecil melintang di dekat alis kiri, membuat wajahnya tampak lebih keras daripada suaranya. Ia sudah terlalu lama melihat orang kaya mengira uang bisa membuat jalan kotor menjadi bersih.
Lim Mei Li, menurut kabar, adalah perempuan yang membuat dua putri Tan jatuh dalam satu minggu.
Orang bilang ia cantik.
Orang bilang ia kejam.
Haji Mansur lebih tertarik pada satu hal: apakah ia punya nyali datang ke gudang tanpa membawa pasukan besar.
Di area utama gudang, lampu kuning menggantung rendah. Tumpukan peti kayu berjajar di sisi dinding. Pintu besar menghadap dermaga kecil yang gelap. Bau laut, solar, dan besi tua bercampur di udara.
Lim Mei Li berdiri di tengah ruangan bersama Amy dan Bella.
Hanya tiga orang.
Tidak ada polisi. Tidak ada media. Tidak ada rombongan mobil mencolok.
Haji Mansur tersenyum.
"Berani juga."
Mei Li menatapnya. "Saya tidak datang untuk dipuji."
"Bagus. Saya juga tidak suka memuji orang sebelum tahu beratnya." Ia berjalan mendekat, berhenti beberapa meter darinya. "Anda mengganggu jalur Tan Group."
"Saya mengambil apa yang mereka pakai untuk bernapas."
"Kalau mereka berhenti bernapas, banyak orang kecil ikut sesak."
"Itu sebabnya gaji pekerja lapangan tetap saya lindungi."
Mata Haji Mansur bergerak sedikit.
Ia tidak menyangka jawaban itu.
"Kata orang, Anda pulang untuk balas dendam."
"Benar."
"Orang yang balas dendam biasanya tidak sempat memikirkan sopir truk."
"Saya tidak membenci sopir truk."
Beberapa anak buah Haji Mansur saling melirik. Mereka terbiasa mendengar negosiasi penuh angka. Perempuan ini menjawab seperti memotong tali satu per satu.
Haji Mansur menunjuk kursi plastik di dekat meja kayu. "Duduk."
Mei Li tidak duduk.
Amy dan Bella tetap diam.
Haji Mansur tertawa pendek. "Di wilayah saya, orang duduk kalau diajak."
"Di wilayah saya, orang tidak memberi perintah sebelum punya hak."
Udara berubah.
Anak buah Haji Mansur langsung menegang. Salah satu menyentuh gagang pisau di pinggangnya. Bella bergerak setengah inci. Amy sudah menghitung pintu keluar.
Haji Mansur mengangkat tangan, menghentikan anak buahnya.
"Tajam sekali lidahnya, Nona Lim."
"Saya menghemat waktu."
"Tan Bao Shan menawarkan banyak uang agar saya menahan jalur Anda."
"Ambil saja."
Kening Haji Mansur bergerak. "Anda menyuruh saya menerima uang musuh Anda?"
"Kalau dia masih sanggup membayar, ambil. Setelah itu, putuskan apakah Anda ingin berdiri di sisi orang yang sedang tenggelam."
Kali ini Haji Mansur benar-benar tertawa. Suaranya menggema di gudang.
"Saya paham sekarang kenapa keluarga Tan marah. Anda tidak meminta jalan. Anda datang membawa peta sendiri."
"Saya datang untuk memastikan Anda tidak berdiri di tengah jalan."
Haji Mansur meletakkan tasbihnya di meja.
Senyum di wajahnya menghilang.
"Saya punya satu aturan, Nona Lim. Orang yang ingin melewati wilayah Pak Tujuh harus menunjukkan bahwa dia bukan cuma kaya."
Bella maju. "Kalau Anda ingin bertarung, saya yang maju."
"Tidak," kata Haji Mansur, matanya tetap pada Mei Li. "Saya bicara dengan dia."
Mei Li membuka kancing lengan bajunya pelan, melipatnya sampai siku.
Amy menatapnya. "Nona."
"Tidak apa-apa."
Haji Mansur memberi isyarat. Anak buahnya mundur, membuat lingkaran kosong di tengah gudang. Di luar, suara kapal kecil lewat pelan di air gelap.
"Satu gerakan cukup," kata Haji Mansur. "Kalau Anda bisa membuat saya mundur satu langkah, saya dengarkan."
Mei Li mengangkat mata.
"Kalau lebih dari satu?"
Haji Mansur menyipit.
Mei Li melangkah masuk ke lingkaran.
"Kalau lebih dari satu langkah, Pak Tujuh, Anda ikut saya."