Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Keheningan yang Menenangkan
Melihat Sam yang terduduk frustrasi di atas sofa dengan wajah disembunyikan di kedua telapak tangannya, Mita tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengerti bahwa saat ini, suara sekecil apa pun hanya akan menambah beban di kepala pria itu. Tanpa banyak bicara, Mita melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat tenang.
Ia membungkuk sedikit, lalu dengan perlahan mengambil tas kantor yang sejak tadi tergeletak begitu saja di lantai—tas yang sore itu terpaksa diangkat dan dibawa sendiri oleh Sam karena pikirannya yang telanjur kacau. Mita juga memungut ponsel Sam dari atas sofa, mematikan layarnya yang sempat berkedip, lalu mengumpulkan jas kerja Sam yang tersampir acak-acakan.
Mita membawa barang-barang tersebut naik ke lantai atas, menuju kamar pribadi Sam. Di dalam kamar utama itu, Mita merapikan segalanya tanpa suara. Ia menggantung jas Sam di tempat semestinya, meletakkan tas kantor di atas meja kerja, dan menaruh ponsel pria itu di atas nakas. Tidak ada keluhan, tidak ada tuntutan, dan tidak ada basa-basi yang melelahkan.
Setelah memastikan kamar Sam kembali rapi, Mita turun ke lantai bawah dan langsung menuju dapur. Ia menyiapkan segelas air minum hangat yang dicampur sedikit madu—minuman kesukaan Sam setiap kali pria itu merasa kelelahan atau sedang didera stres berat.
Mita kembali ke ruang tamu, berjalan pelan mendekati sofa, lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja, tepat di hadapan Sam.
"Diminum dulu, Mas," ujar Mita sangat lembut, menjadi satu-satunya kalimat yang ia ucapkan sore itu.
Sam perlahan membuka tangannya, menengadah dan menatap gelas yang masih mengepulkan uap tipis itu, lalu beralih menatap Mita yang berdiri dengan sorot mata teduh tanpa penghakiman. Sam meraih gelas tersebut, menyesap isinya perlahan, dan merasakan kehangatan yang menjalar dari tenggorokan hingga ke dadanya. Rasa sesak yang sejak tadi mengimpitnya perlahan-lahan mulai mengurai.
"Terima kasih, Mit," ucap Sam lirih.
Mita hanya mengangguk tulus sebagai jawaban, lalu berbalik untuk memberikan Sam ruang dan waktu sendiri guna menenangkan pikiran.
Sambil menatap punggung Mita yang menjauh, Sam berkata dalam hatinya dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa takjub sekaligus tersentil. Di saat wanita yang dicintainya di luar sana terus-menerus menuntut, berteriak, dan memaksanya melanggar prinsip, justru gadis kecil yang dinikahinya tanpa cinta inilah yang selalu tahu cara meredam badai di kepalanya tanpa perlu meminta apa-apa sebagai imbalan.
Dalam hatinya, Sam merasa ada sesuatu yang bergeser dalam sudut pandangnya selama ini. Kenyamanan yang ia dapatkan di rumah ini terasa begitu nyata, berbanding terbalik dengan hubungan melelahkan yang sedang ia pertahankan di luar sana. Sentuhan kecil Mita yang penuh perhatian membuat Sam tersadar bahwa sebuah rumah bukan hanya tentang bangunan tempat berteduh, melainkan tentang siapa yang mampu menjadi penenang di kala badai dunia luar sedang meruntuhkan jiwanya.
Saat pikiran Sam sedang melayang jauh merenungi segalanya, netranya tiba-tiba terbentur pada sebuah benda di atas meja kopi tepat di hadapannya. Itu adalah ponsel Mita yang tertinggal. Layarnya yang semula gelap mendadak menyala terang karena sebuah getaran panjang, memperlihatkan deretan notifikasi yang membuat jantung Sam mencelos.
Di sana tertera angka yang begitu mencengangkan. Bukan lagi seratus, melainkan sudah menyentuh angka 205 panggilan tak terjawab dari satu nama kontak yang sama: "Duniaku".
Melihat rentetan panggilan yang sedemikian masif itu, Sam terpaku. Ia teringat kembali suara isakan pilu pria bernama Ludwig tempo hari di telepon. Kesadaran itu menghantam Sam dengan telak; di saat dirinya sedang sibuk mengeluhkan tekanan dari Vanya, Mita di sekitarnya justru sedang berdarah-darah mengorbankan kebahagiaannya sendiri, mengabaikan ratusan panggilan dari seseorang yang pernah menjadi dunianya demi menjaga komitmen pernikahan sepihak ini. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika menyelusup dan menyiksa dada Sam.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)