NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Andai adik perempuanku yang belum pernah kutemui bisa setenang gadis itu.

Keira tentu tidak mendengar pikiran pria berjaket jeans itu.

Saat ia kembali ke Mansion Tanuwijaya Sabtu sore, yang menyambutnya justru garasi yang terlalu hening. Rolls-Royce Phantom baru saja masuk ketika Lexus di sisi lain langsung berbisik lega.

"Nona pulang! Saksi penyelamat datang! Aku sudah diperiksa tiga kali. Rasanya seperti medical check-up mobil VIP."

Keira mematikan mesin.

Ko Darren berdiri tidak jauh dari Lexus. Jasnya sudah berganti, tetapi Bros Kepala Naga tetap berada di sudut kerah yang presisi. Brandon duduk di bangku garasi, bermain ponsel tanpa benar-benar melihat layar.

Begitu Keira turun, Ko Darren melangkah maju.

"Keira, aku ingin bicara."

Keira menatapnya dengan wajah polos. "Ko Darren mau bicara? Sudah buat janji tiga puluh menit sebelumnya?"

Brandon mendadak batuk.

Ko Darren berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, pria itu tampak seperti sistem internalnya mengalami gangguan.

"Belum."

"Sayang sekali."

Lexus terkikik. "Kena aturan sendiri."

Ko Darren menarik napas sangat pelan. "Mulai sekarang, kamu tidak perlu buat janji untuk bicara denganku."

Keira berjalan melewatinya menuju ruang tamu kecil di samping garasi. "Terlambat. Sekarang saya yang butuh janji tiga puluh menit sebelumnya dari Ko Darren."

Brandon menunduk lebih dalam pada ponselnya, tetapi bahunya bergerak sedikit. Entah menahan tawa atau malu.

Ko Darren mengikuti dengan wajah yang masih dingin, tetapi telinganya sedikit merah.

Di ruang tamu, seorang pria bersetelan hitam sudah menunggu. Ia memperkenalkan diri sebagai manajer keamanan internal keluarga Tanuwijaya. Di atas meja ada tablet berisi rekaman CCTV, foto garasi, dan laporan singkat.

Ko Darren duduk. "Laporan."

Manajer keamanan membuka berkas. "Pelaku masuk sebagai pekerja car wash panggilan. Identitas yang digunakan palsu, tapi kami menemukan rute pembayaran. Ia menerima transfer dari rekening lapis ketiga yang terhubung ke vendor Shenhua Corp."

Nama itu membuat suhu ruangan berubah.

Keira pernah membaca sekilas tentang Shenhua Corp dari arsip bisnis di novel. Rival lama Yanzhen Jewelry. Mereka sering kalah tender dari Ko Darren, dan beberapa tahun terakhir mulai bermain kotor.

Ko Darren tidak tampak terkejut.

"Bukti cukup?"

"Untuk tindakan internal dan gugatan awal, cukup. Untuk pidana, tim hukum sedang menyiapkan rangkaian bukti tambahan."

Brandon akhirnya mengangkat wajah. "Jadi beneran kompetitor?"

Ko Darren menatapnya. "Kamu pikir masih Keira?"

Brandon langsung diam.

Keira tidak menambahkan apa pun. Kadang rasa malu bekerja lebih baik kalau tidak diberi komentar.

Manajer keamanan melirik Brandon sebentar, lalu kembali pada Ko Darren. "Kami juga sudah memeriksa akses keluarga. Tidak ada bukti Nona Keira berada di garasi sebelum pagi tadi. Rekaman menunjukkan beliau baru turun pukul 07.50."

Kalimat itu sebenarnya tidak perlu. Namun Keira tahu mengapa ia mengatakannya. Di ruangan ini, seseorang pernah menuduhnya. Laporan resmi baru saja menutup pintu untuk tuduhan itu.

Brandon menunduk. Jempolnya mengusap tepi ponsel, gerakan kecil yang terlalu gelisah untuk anak seberisik dia.

"Gue..." Ia berhenti. "Aku pikir..."

"Kamu terlalu sering berpikir setelah bicara," kata Ko Darren.

Brandon tidak membantah.

Keira menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan. Ia tidak membutuhkan permintaan maaf setengah matang. Belum. Yang ia butuhkan adalah mereka berhenti menjadikan Seline sebagai sumber kebenaran tunggal.

Ko Darren menutup berkas. "Kirim semua data ke tim hukum. Bekukan kontrak vendor terkait. Untuk Shenhua Corp, jangan bergerak terbuka dulu. Aku mau tahu siapa di dalam yang menyetujui pembayaran itu."

"Baik, Pak."

Manajer keamanan melanjutkan, "Ada satu hal lagi. Pelaku tahu jadwal kendaraan Pak Darren. Sabtu Lexus, Senin Mercedes, Selasa Range Rover, Rabu kembali Lexus. Polanya terlalu mudah diprediksi."

Ko Darren menatap layar tablet.

Rahangnya mengeras.

Keira berkata, "Karena Ko Darren membuat hidup seperti tabel Excel yang bisa dibaca musuh."

Brandon mengangkat kepala lagi, kali ini benar-benar hampir tertawa.

Ko Darren menoleh perlahan. "Solusinya?"

"Rotasi berbasis bilangan prima."

Manajer keamanan berkedip.

Keira mengambil kertas kosong dan pulpen dari meja. "Jangan pakai pola tujuh hari. Pakai interval 2, 3, 5, 7, 11, lalu acak dengan pembatas kondisi, misalnya jarak tempuh, kebutuhan meeting, dan rute. Kalau mau lebih rapi, pakai integer programming sederhana. Masukkan semua mobil sebagai variabel, masukkan batas servis dan keamanan sebagai constraint, lalu hasilkan jadwal yang tidak punya pola mudah."

Ruangan hening.

Manajer keamanan menatap catatan Keira seperti baru mendapat pekerjaan tambahan yang aneh tapi berguna. "Saya akan minta analis membuat simulasi, Pak."

Ko Darren mengangguk. "Masukkan ke protokol baru."

"Baik, Pak."

Manajer keamanan keluar dengan langkah cepat, membawa tablet dan catatan. Setelah pintu tertutup, ruangan terasa jauh lebih jernih daripada sebelum laporan dibuka.

Ko Darren menatap kertas itu.

Lalu menatap Keira.

"Kamu..." Ia berhenti sebentar. "Pintar juga."

Keira meletakkan pulpen. "Jangan bilang begitu seolah-olah Ko Darren terkejut."

Lexus berbisik, "Aku suka dia."

Ko Darren tidak membantah. Itu sendiri sudah terasa seperti perubahan.

Ia berdiri.

Gerakannya formal. Terlalu formal untuk percakapan keluarga. Lalu, di depan Keira, Brandon, dan manajer keamanan, Ko Darren membungkuk.

"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku."

Brandon benar-benar membeku.

Keira juga tidak langsung bicara.

Ko Darren Tanuwijaya, CEO Yanzhen Jewelry, orang yang bahkan meminta bantuan keluarga dengan format jadwal, membungkuk pada gadis yang beberapa hari lalu ia anggap gangguan baru di rumah.

"Kalau bukan karena kamu," katanya, masih dalam posisi sedikit menunduk, "aku kemungkinan besar sudah mengalami kecelakaan fatal pagi ini. Aku salah menilaimu."

Keira menatap punggung pria itu.

Ia tidak suka drama permintaan maaf panjang. Tetapi ia menghargai orang yang bisa mengucapkan kesalahan tanpa membungkusnya dengan alasan.

"Diterima."

Ko Darren kembali tegak.

Ia mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan meletakkannya di depan Keira. Kartu hitam itu polos, hanya ada logo kecil bank premium dan nama keluarga Tanuwijaya.

"Black card. Tanpa limit praktis untuk kebutuhan pribadi dan darurat. Gunakan kapan pun perlu."

Keira menatap kartu itu.

Brandon menatap kartu itu juga, dengan ekspresi seperti seseorang melihat hartanya pindah ahli waris dua kali dalam satu minggu.

"Selain itu," lanjut Ko Darren, "nomorku aktif dua puluh empat jam untukmu. Tanpa janji. Tanpa batasan tiga puluh menit."

Keira mengambil kartu itu.

Beratnya tidak seberapa, tetapi maknanya jelas. Di rumah Santoso, nyawanya tidak berharga. Di sini, satu nyawa yang ia selamatkan dibalas dengan kepercayaan yang bisa dipakai kapan saja.

"Akhirnya," gumamnya, "ada yang menghargai nyawanya sendiri di keluarga ini."

Ko Darren tampak ingin bertanya apakah itu sindiran.

Brandon menjawab lebih dulu dengan suara kecil, "Itu sindiran."

Keira memasukkan kartu ke dompet. "Bagus kalau terdengar."

Untuk pertama kalinya, Ko Darren tidak terlihat tersinggung.

Malam itu, Keira kembali ke kamarnya dengan kartu hitam di meja dan nomor Ko Darren tersimpan di ponsel.

Namun saat lampu dimatikan, suara benda-benda kembali naik seperti gelombang.

Black card bisa membeli apa saja.

Sayangnya, ia belum tahu apakah ada yang bisa membeli satu malam tanpa suara.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!