NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018

Hubungan Resmi

Di dalam mobil yang meninggalkan studio, kata cemburu menggantung di antara Kiara dan Rayhan seperti aroma hujan yang belum hilang dari udara.

Kiara menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam.

Rayhan tidak menggenggam terlalu kuat. Ibu jarinya hanya sesekali mengusap punggung tangan Kiara, pelan, seperti sedang memastikan ia masih di sana.

Justru gerakan kecil itu membuat Kiara sulit berpura-pura tenang.

"Koko," panggilnya.

Rayhan menoleh.

Sekarang setiap kali kata itu keluar, wajahnya selalu berubah sedikit. Tidak banyak. Tapi Kiara sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa panggilan itu menyentuh tempat paling dalam pada pria itu.

"Kamu tidak boleh mengganggu pekerjaanku hanya karena cemburu."

"Aku tidak mengganggu."

"Kamu bilang Kevin tidak perlu latihan tambahan."

"Di luar jadwal resmi."

"Itu tetap terdengar seperti larangan."

Rayhan diam sebentar. "Aku tidak suka dia."

"Aku tahu."

"Aku tidak suka cara dia melihatmu."

"Itu juga aku tahu."

"Aku lebih tidak suka karena kamu tahu aku cemburu dan kamu terlihat senang."

Kiara langsung menoleh. "Aku tidak senang."

Rayhan memandang wajahnya yang memerah.

"Sayang, kamu hampir tersenyum."

Kiara menarik tangannya, tapi Rayhan tidak membiarkannya pergi jauh. Ia hanya mengendurkan genggaman agar Kiara bisa memilih. Setelah beberapa detik, Kiara tidak menarik lagi.

Adi yang menyetir tiba-tiba berkata dengan sangat profesional, "Bos, apakah langsung ke rumah Tanuwijaya?"

Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi Kiara merasa Adi sengaja memberi mereka ruang untuk mengubah topik.

Rayhan menatap Kiara. "Kamu mau pulang?"

Rumah Tanuwijaya.

Makan malam dengan Wenny yang pura-pura lembut. Hendra yang menimbang untung rugi setelah melihat Rayhan. Lina yang mulai lebih hati-hati bukan karena memahami Kiara, tetapi karena takut pada konsekuensi.

Kiara menghela napas.

"Aku belum mau pulang."

Rayhan berkata pada Adi, "Ke PIK."

Kiara langsung menegang. "Koh Rayhan."

"Bukan Mansion Purnawan. Ada kafe privat di tepi laut. Kamu bisa makan malam tanpa ada orang yang menatap."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Kalau kamu tidak mau, kita cari tempat lain."

Kiara menatapnya.

Perubahan kecil itu terasa jelas. Dulu Rayhan akan memutuskan dulu, menjelaskan belakangan. Sekarang ia masih cepat, masih dominan, tapi mulai menyisakan ruang untuk Kiara menolak.

"Kafe saja," jawabnya akhirnya.

Rayhan mengangguk.

Di kafe kecil yang benar-benar kosong selain dua staf, Kiara duduk di meja dekat jendela. Di luar, laut gelap PIK memantulkan lampu kapal jauh. Makanan datang dengan cepat, lagi-lagi hangat dan tidak pedas. Kiara sudah tidak heran.

Yang membuatnya heran adalah Rayhan tidak langsung menyuruhnya makan.

Ia duduk di seberang Kiara, menatapnya dengan serius.

"Aku ingin bertanya sesuatu."

Kiara meletakkan sendok. "Kenapa nadamu seperti mau rapat akuisisi?"

"Karena ini lebih penting."

Jantung Kiara berdetak lebih cepat.

Rayhan menatapnya tanpa mengalihkan mata.

"Aku ingin posisiku jelas di hidupmu."

Kiara diam.

"Selama ini aku terlalu banyak mengambil ruang," lanjut Rayhan. "Aku tahu. Aku muncul di rumahmu, di studio, di rumah sakit, di mimpimu."

Kalimat terakhir membuat pipi Kiara panas sekaligus dadanya bergetar.

"Tapi aku tidak mau terus berdiri di sampingmu dengan status yang membuat semua orang bisa menganggapmu salah. Aku juga tidak mau kamu merasa dipaksa oleh semua yang sudah kulakukan."

Rayhan berhenti.

Untuk pertama kalinya, pria itu tampak tidak sepenuhnya yakin.

"Kiara Tanuwijaya, maukah kamu menjadi kekasihku?"

Suara ombak di luar terdengar sangat jauh.

Kiara menatap pria di depannya. Ia memikirkan semua hal yang seharusnya membuatnya menolak. Rayhan terlalu kuat. Terlalu gelap. Terlalu mudah mengubah dunia di sekitarnya. Ia punya mimpi tentang rantai, masa lalu yang belum dijelaskan, dan cinta yang terasa seperti api besar.

Tetapi ia juga memikirkan sup hangat, mantel di bahu, tangan yang berhenti di udara menunggu izin, dan cara Rayhan berkata ia akan belajar.

"Kalau aku bilang iya," kata Kiara pelan, "kamu tidak boleh menganggap itu berarti kamu bisa mengatur semuanya."

"Aku akan tetap ingin mengatur semuanya."

Kiara menatapnya tajam.

Rayhan melanjutkan, "Tapi aku akan bertanya dulu."

Kiara tidak bisa menahan senyum kecil.

"Kamu benar-benar harus belajar banyak."

"Aku punya waktu."

"Dan kalau aku marah?"

"Aku bujuk."

"Kalau aku tetap marah?"

"Aku tunggu."

"Kalau aku menyuruhmu pergi?"

Rayhan diam lebih lama.

Kiara melihat jawabannya sebelum ia mengucapkannya.

"Aku akan pergi sejauh yang kamu minta," kata Rayhan pelan. "Tapi aku tetap akan memastikan kamu aman."

Itu bukan jawaban sempurna.

Tapi untuk Rayhan, itu mungkin bentuk kejujuran paling sulit.

Kiara mengulurkan tangan di atas meja.

Rayhan melihat tangannya seolah melihat sesuatu yang tidak berani ia minta.

"Iya," ucap Kiara. "Aku mau."

Rayhan menggenggam tangannya.

Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada musik besar. Hanya suara ombak, lampu kecil di meja, dan napas Rayhan yang tiba-tiba terdengar sedikit lebih berat.

"Sayang," katanya.

"Jangan pakai suara begitu."

"Sekarang boleh."

Wajah Kiara langsung panas. "Kekasih bukan berarti kamu boleh menggoda setiap menit."

"Berarti setiap dua menit?"

"Rayhan."

"Koko."

Kiara menatapnya, tidak percaya.

Rayhan mengangkat tangan Kiara dan mencium punggung jarinya.

"Pacarmu namanya Koko."

Kiara menunduk, malu luar biasa, tapi sudut bibirnya tidak bisa berhenti naik.

Setelah makan malam, Rayhan mengantar Kiara pulang. Sebelum turun, Kiara mengirim pesan ke Santi karena gadis itu sudah mengirim dua belas tanda tanya.

Kiara: Aku resmi pacaran dengan Rayhan.

Balasan Santi datang dalam tiga detik.

Santi: KAK??? AKHIRNYA???

Santi: Aku harus panggil Pak Rayhan apa sekarang?

Kiara menatap pesan itu, lalu melirik Rayhan yang membaca dari samping tanpa rasa bersalah.

Rayhan mengambil ponselnya pelan dan mengetik balasan.

Kiara: Panggil saja calon bos yang lebih menakutkan.

"Koko!" Kiara merebut ponselnya dengan panik.

Rayhan tertawa rendah.

Suara itu membuat dada Kiara hangat.

Pesan dari Ci Lucy menyusul beberapa detik kemudian.

Ci Lucy: Secara pribadi, selamat. Secara manajer, besok kita bahas cara menjawab media kalau hubungan ini bocor.

Kiara menatap layar, lalu menghela napas. Bahkan kebahagiaan pun di industri ini perlu strategi.

Rayhan membaca pesan itu dan berkata, "Aku bisa umumkan."

"Jangan."

"Baik. Tidak sekarang."

Di kursi depan, Adi membuka tablet dan bertanya dengan nada paling datar di dunia, "Bos, apakah jadwal antar jemput Nona Kiara mulai besok dibuat tetap?"

Rayhan menjawab tanpa ragu, "Ya."

Kiara memelototinya.

Rayhan menatap balik, wajahnya tenang.

"Aku bertanya setelah ini."

"Itu tetap belum bertanya."

"Sayang, boleh aku mengantar jemputmu mulai besok?"

Kiara menahan malu, kesal, dan senang yang datang bersamaan.

"Boleh. Tapi kalau aku ada jadwal sendiri, kamu harus dengar."

"Baik."

Jawaban itu terlalu cepat, tapi malam ini Kiara memilih percaya sedikit.

Saat ia turun di depan rumah Tanuwijaya, Rayhan menahan tangannya sebentar.

"Selamat malam, pacarku."

Kiara hampir tersandung.

Ia masuk rumah dengan wajah merah, sementara di luar gerbang, Rayhan Purnawan tersenyum seperti pria yang baru saja mendapatkan seluruh dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!