Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Ingat Hutangmu?
Naomi menatap koper itu lama sekali.
Ukurannya kecil. Terlalu kecil untuk dua bulan yang terasa lebih panjang daripada bertahun-tahun hidupnya sebelumnya. Saat pertama kali pindah ke apartemen ini, ia membawa beberapa baju, buku, dokumen, dan keberanian yang sebenarnya tidak banyak.
Sekarang koper yang sama tampak seperti mulut kosong.
Siap menelan semua yang harus ia bawa pergi.
Naomi menarik napas, lalu membuka resleting.
Suara giginya berderit pelan di kamar sunyi. Bunyi kecil itu membuat dadanya nyeri, seolah bukan koper yang dibuka, melainkan sesuatu di dalam dirinya.
Ia berdiri dan mengambil pakaian dari lemari.
Satu kaus putih.
Satu celana panjang.
Satu sweter tipis yang sering ia pakai saat belajar malam.
Tangan Naomi berhenti pada sweter itu. Di bagian lengan, ada bekas lipatan yang tidak rapi karena kemarin ia menariknya sampai menutupi tangan saat Kelvin duduk di karpet dan menertawakan kepura-puraan pingsannya.
Ia memasukkan sweter itu ke koper, lalu mengeluarkannya lagi.
Tidak.
Lipat dulu.
Ia menaruhnya di atas ranjang dan melipat perlahan. Terlalu perlahan. Seolah kalau lipatannya dibuat rapi, perpisahan juga akan terasa lebih rapi.
Konyol.
Perpisahan tidak pernah rapi.
Naomi mengambil baju lain. Yang satu ini baru dicuci, masih berbau deterjen dan sedikit jeruk dari pelembut pakaian yang dibeli Kelvin setelah sekali melihat ia mengendus lengan bajunya sendiri.
Ia tertawa tanpa suara.
Hal-hal kecil lagi.
Terlalu banyak hal kecil.
Lampu hangat di meja. Air hangat di gelas. Bubur tanpa sambal berlebihan. Pulpen yang tidak mudah putus tintanya. Kalimat jangan terlalu lama yang terdengar seperti permintaan, tetapi tidak cukup jelas untuk dijadikan alasan tinggal.
Naomi menaruh baju itu di koper.
Jari-jarinya gemetar lebih kuat.
"Berhenti," bisiknya pada diri sendiri.
Tidak ada yang menjawab.
Ia mengambil tumpukan buku dari meja. Kamus kecil Jerman tidak berat, tetapi begitu masuk ke koper, Naomi merasa seolah ada batu diletakkan di dadanya.
Di samping kamus, sertifikat BEM masih tergeletak dalam map bening.
Naomi memegangnya.
Foto dari Sinta muncul lagi di kepala. Kelvin berdiri di belakangnya, tidak melihat kamera, hanya melihat dia.
Pacarmu kalau lihat kamu kayak CCTV premium.
Naomi cepat-cepat memasukkan sertifikat ke tas kuliah, bukan koper. Entah kenapa ia tidak sanggup menaruhnya di antara barang-barang yang berarti pergi.
Ia berjongkok lagi.
Koper baru terisi sedikit.
Terlalu sedikit untuk disebut pindah.
Terlalu banyak untuk disebut tidak apa-apa.
Dari luar kamar, suara televisi masih menyala pelan. Acara memasak yang tadi mereka tonton entah sudah berganti ke apa. Suara pisau memotong sayur bercampur dengan bunyi hujan yang mulai turun di luar jendela.
Hujan.
Naomi memejamkan mata.
Malam pertama di minimarket juga hujan.
Kelvin membeli es kola dengan wajah dingin, berdiri di bawah lampu putih yang membuat dunia terlihat tidak nyata. Saat itu Naomi mengira hidupnya hanya akan melewati Kelvin sekali lagi, seperti orang asing yang tidak sempat menoleh.
Lalu sekarang, ia berada di kamar Kelvin, melipat pakaian dengan tangan gemetar karena tidak tahu cara meminta agar tidak pergi.
Naomi mengambil satu lagi baju dari gantungan.
Kali ini, tangannya gagal.
Gantungan itu jatuh ke lantai dengan suara keras.
Naomi membungkuk cepat untuk mengambilnya, tetapi matanya sudah panas.
Jangan nangis.
Jangan sekarang.
Kalau menangis, ia tidak akan bisa berhenti. Kalau tidak bisa berhenti, ia akan keluar dan melakukan hal paling memalukan yang pernah ia lakukan dalam hidup.
Meminta Kelvin menahannya.
Itu tidak boleh.
Kelvin pernah berkata minta.
Tapi meminta agar seseorang tidak pergi atau tidak membiarkan dirinya pergi, itu bukan tisu. Bukan air hangat. Bukan hal kecil yang bisa dikembalikan dengan terima kasih.
Itu berarti menyerahkan seluruh diri dan berharap tidak dijatuhkan.
Naomi belum seberani itu.
Ia mengangkat gantungan, menggantungnya lagi, lalu mulai melipat baju di ranjang.
Satu lipatan.
Dua lipatan.
Tiga.
Setiap lipatan terasa seperti menghitung mundur.
Langkah kaki terdengar di koridor.
Naomi membeku.
Langkah itu tidak terburu-buru. Tidak berat. Justru karena terlalu tenang, Naomi langsung tahu siapa pemiliknya.
Kelvin berhenti di depan pintu.
Pintu kamar memang tidak terkunci.
Naomi tidak menoleh.
Ia bisa merasakan Kelvin berdiri di ambang pintu. Bisa merasakan tatapannya jatuh ke koper kecil yang terbuka di lantai, ke baju yang baru ia lipat separuh, ke tangan Naomi yang masih gemetar.
Beberapa detik berlalu.
Televisi di ruang tengah terus berbicara sendiri.
Hujan menempel di kaca.
Lalu suara Kelvin terdengar.
Ringan.
Terlalu ringan untuk luka sebesar ini.
"Ingat hutangmu?"
Naomi menahan napas.
Kelvin bersandar di kusen pintu. Ia tidak masuk dulu. Kepalanya sedikit miring, wajahnya datar seperti sedang mengingatkan sesuatu yang sangat biasa.
"Masih banyak yang belum lunas."
Naomi menggenggam baju di tangannya.
Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut Kelvin bisa mendengarnya dari pintu.
"Kelvin," katanya, tetapi suaranya hampir tidak keluar.
"Hm?"
"Kontraknya..."
Kelvin tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat itu.
"Aku tidak sedang bicara soal kontrak."
Naomi akhirnya menoleh.
Mata Kelvin gelap, tenang, dan jauh lebih berbahaya daripada semua godaan malasnya selama ini. Tidak ada senyum lebar. Tidak ada candaan yang bisa Naomi pakai sebagai tempat bersembunyi.
Hanya Kelvin yang berdiri di sana, melihat koper itu seperti benda paling mengganggu yang pernah masuk ke apartemennya.
"Aku sedang bicara soal hutang kamu padaku," katanya.
"Hutang apa lagi?"
"Banyak."
Kelvin melangkah masuk.
Satu langkah.
Naomi tidak bergerak.
"Hutang ciuman."
Satu langkah lagi.
"Hutang main serius tanpa pura-pura tidak mau."
Langkahnya semakin dekat.
"Hutang bilang apa yang kamu inginkan."
Naomi berdiri di sisi ranjang, baju setengah terlipat masih di tangannya.
Kelvin berhenti tidak jauh darinya.
Ruang di antara mereka hanya diisi suara hujan dan koper terbuka.
Lalu Kelvin melangkah lagi.