NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Natalia

Kabar Naomi membungkam Helena di meja makan menyebar lebih cepat daripada aroma sup di dapur Wijaya Estate.

Keesokan paginya, pelayan yang mengantarkan teh ke kamar Darren menunduk sedikit lebih hormat. Felicia melewati Naomi di koridor tanpa menyapa, tetapi tidak lagi tersenyum mengejek. Bryan, yang bertemu mereka di tangga, hanya mengangkat ibu jari diam-diam sebelum kabur saat Darren menatapnya.

"Apa itu berarti dia mendukungku?" tanya Naomi.

"Itu berarti dia suka melihat ibunya kalah," jawab Darren.

"Kamu terdengar sangat mengenal keluarga ini."

"Sayangnya."

Darren harus mengikuti rapat singkat dengan pengurus estate dan Raymond melalui video call. Naomi menolak dikurung di kamar, jadi Darren mengantarnya sendiri ke taman dalam yang masih terlihat dari jendela ruang rapat.

"Aku hanya duduk di gazebo," kata Naomi.

"Aku tahu."

"Ada tiga pelayan dan dua pengawal di sana."

"Aku tahu."

"Kalau kamu tetap menatap seperti itu, aku akan benar-benar menginjak kakimu nanti."

Darren akhirnya tersenyum. "Protokol darurat hanya untuk situasi bahaya."

"Kamu mulai menjadi situasi bahaya bagi kesabaranku."

Ia tertawa pelan, mencium punggung tangan Naomi, lalu masuk ke ruang rapat setelah memastikan pengawal berdiri cukup jauh untuk tidak membuat Naomi merasa diawasi.

Taman dalam Wijaya Estate berbeda dari taman depan yang megah. Di sini suasananya lebih lembut. Kolam ikan kecil berada di tengah, dikelilingi bunga kamboja, anggrek, dan kursi rotan. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan teh melati dari nampan yang disiapkan pelayan.

Naomi baru duduk beberapa menit ketika suara lembut terdengar dari belakang.

"Kamu Naomi?"

Naomi menoleh.

Seorang perempuan muda berdiri di jalur batu, satu tangan menopang perutnya yang besar. Wajahnya cantik dengan cara yang tenang, matanya lembut, dan rambutnya diikat rendah. Gaun maternity berwarna peach membuatnya tampak hangat di antara dedaunan.

Naomi segera berdiri. "Iya. Kamu Natalia?"

Perempuan itu tersenyum. "Natalia Tanoto. Istri Ethan."

Naomi mendekat untuk membantunya duduk. "Hati-hati."

"Terima kasih. Bayinya akhir-akhir ini suka membuatku berjalan seperti nenek-nenek."

Naomi tertawa kecil. "Usianya sudah berapa bulan?"

"Delapan bulan lewat." Natalia mengusap perutnya, wajahnya melembut seketika. "Dokter bilang mungkin lahir lebih cepat. Anak perempuan."

"Sudah ada nama?"

"Belum resmi." Natalia tampak malu. "Aku suka Anneliese, tapi masih diperdebatkan keluarga."

Nama itu terdengar indah di telinga Naomi. "Anneliese cocok."

Mata Natalia berbinar. "Benarkah?"

"Lembut, tapi kuat."

Natalia menyentuh perutnya lagi. "Aku juga berharap dia begitu."

Percakapan mereka mengalir lebih mudah daripada yang Naomi duga. Natalia tidak bertanya tentang skandal Vanessa, tidak menilai Maison de Belle, tidak membicarakan garis darah atau posisi keluarga. Ia bertanya tentang desain gaun, makanan di Kota Megah, dan apakah Naomi suka teh melati atau oolong.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki Wijaya Estate, Naomi merasa bisa duduk tanpa menghitung kata.

"Aku dengar semalam Tante Helena membuatmu tidak nyaman," kata Natalia setelah beberapa saat.

Naomi tersenyum tipis. "Tidak terlalu."

"Kamu baik. Aku kalau dulu mungkin sudah menangis di kamar."

"Kamu terlihat lebih kuat dari itu."

Natalia menunduk, tersenyum kecil. "Aku tidak tahu. Di rumah ini, kadang kekuatan berarti bisa diam lebih lama."

Kalimat itu membuat Naomi memperhatikan wajahnya lebih saksama. Natalia masih tersenyum, tetapi ada lelah halus di bawah matanya. Bukan lelah hamil saja. Ada sesuatu yang lebih sunyi.

"Ethan memperlakukanmu baik?" tanya Naomi sebelum sempat menahan diri.

Natalia mengangkat wajah. Tidak tersinggung. Justru seperti pertanyaan itu membuatnya terkejut karena jarang ada yang bertanya.

"Ethan?" Ia tersenyum lembut. "Dia sangat baik."

Naomi tidak menjawab.

Natalia melanjutkan, "Dia sibuk, tapi selalu memastikan dokter datang tepat waktu. Dia tidak pernah membentakku. Kalau aku sulit tidur, dia duduk di kamar sampai aku tenang."

Di permukaan, itu terdengar seperti suami yang perhatian. Namun Naomi teringat Darren berkata: terutama kalau dia terlihat membantu.

"Kamu dan Darren tidak terlalu akrab dengan Ethan, ya?" tanya Natalia pelan.

Naomi memilih kata dengan hati-hati. "Darren hanya sangat protektif."

"Aku tahu." Natalia tersenyum sedih. "Ethan juga sering bilang begitu. Katanya Darren selalu melihatnya sebagai musuh sejak kecil."

"Dan kamu percaya?"

Natalia menatap kolam ikan. "Aku percaya Ethan punya banyak hal yang tidak mudah dipahami orang."

Jawaban itu bukan ya, bukan tidak.

Naomi merasa ada pintu kecil terbuka, tetapi Natalia segera menutupnya dengan senyum.

"Maaf. Aku terlalu banyak bicara."

"Tidak apa-apa."

Natalia meraih piring kecil berisi kue lapis, lalu mendorongnya ke arah Naomi. "Makanlah. Di rumah ini, kalau kita tidak makan saat ada kesempatan, nanti ada drama dan makanan jadi dingin."

Naomi tertawa. "Itu nasihat paling berguna sejak aku datang."

Mereka makan kue lapis bersama. Natalia bercerita tentang bayi yang sering menendang saat mendengar musik piano, tentang dokter kandungan yang terlalu cerewet, dan tentang keinginannya membuat kamar bayi berwarna hijau muda meski Helena bersikeras warna emas lebih pantas untuk cucu Wijaya.

Naomi mulai menyukai perempuan itu.

Mungkin karena Natalia tidak berusaha tampak kuat. Mungkin karena kelembutannya tidak terasa palsu. Atau mungkin karena di rumah yang penuh topeng, Natalia tampak seperti satu-satunya orang yang lelah memakai topeng.

"Kalau kamu tidak sibuk," kata Natalia tiba-tiba, "maukah sesekali duduk denganku?"

Naomi menoleh.

Natalia tampak malu dengan permintaannya sendiri. "Aku tahu kita baru bertemu. Tapi di rumah ini, orang lebih sering bicara tentang bayi di perutku daripada bicara denganku. Kadang aku ingin mendengar cerita yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya."

Hati Naomi melunak.

"Aku bisa datang," jawabnya. "Aku juga bisa membawa sketsa kain kalau kamu mau melihat."

"Untuk baju bayi?"

"Kalau kamu mau."

Wajah Natalia bersinar dengan cara yang membuatnya tampak jauh lebih muda. "Aku mau. Jangan beri tahu Tante Helena dulu. Nanti dia memesan sepuluh set brokat emas."

Naomi tertawa. "Rahasia kita."

Sebuah bayangan bergerak di jendela lantai dua.

Naomi menoleh.

Ethan berdiri di balik kaca, menatap taman. Begitu mata mereka bertemu, ia tersenyum kecil dan mengangkat tangan, sopan.

Natalia mengikuti arah pandang Naomi, lalu wajahnya langsung cerah.

"Itu Ethan," katanya. "Dia pasti khawatir aku terlalu lama duduk."

Naomi mengangguk pelan.

Ethan memang tampak seperti suami yang khawatir. Dari jauh, senyumnya hangat, tangannya tenang di sisi jendela, sapu tangan abu-abu terselip rapi di jari.

Namun di dada Naomi, rasa dingin yang sama dari koridor malam tadi kembali muncul.

Orang baik, pikirnya, seharusnya tidak membuat udara di sekitar terasa seperti pintu yang terkunci dari luar.

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!