NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

Pesanan Lama

Di luar, hujan makin rapat. Di dalam, jarum Coisíní bergerak pelan di pergelangan Nathanael, menghitung detik yang tiba-tiba terasa terlalu panjang.

Louisa tidak tahu harus menatap jam itu atau wajah Nathanael.

Keduanya sama-sama menyimpan jawaban yang tidak siap ia terima.

"Kamu lihat aku waktu itu," katanya pelan.

"Iya."

"Kamu tahu aku mau beli jam itu untuk Kevin."

"Iya."

"Lalu kamu tetap membelinya?"

Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan. Nathanael tidak tersinggung. Ia hanya menatap jarum jamnya sebentar, lalu menurunkan tangan ke lutut.

"Aku tidak mengambilnya dari kamu."

"Tapi kamu tahu aku menginginkannya."

"Kamu datang setelah unit itu sudah tidak tersedia."

Louisa terdiam.

Kalimat itu terdengar seperti fakta, tetapi tidak menjawab luka di balik fakta. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak. Jam itu dulu untuk Kevin. Seharusnya melihat Nathanael memakainya tidak perlu membuatnya merasa dikhianati. Namun di sana, di antara hujan dan kotak lama yang terbuka, ia merasa seolah ada bagian dari masa lalunya yang ternyata sejak dulu dilihat oleh orang lain.

Bukan hanya dilihat.

Diingat.

"Aku perlu tidur," katanya akhirnya.

Nathanael tidak menahan.

"Baik."

Ia membantu menutup kotak penyimpanan, mendorongnya ke sisi dinding, lalu berdiri lebih dulu. Ketika Louisa bangkit, ia tetap memberi jarak, tidak menawarkan tangan seperti biasanya. Mungkin ia takut sentuhan kecil itu akan terasa seperti jawaban yang terlalu cepat.

Di depan pintu kamar, Louisa berhenti.

"Nathanael."

"Iya?"

"Kalau aku tanya lagi nanti, jawab jujur."

Tatapannya tenang, tetapi wajahnya tampak lebih pucat di bawah lampu koridor.

"Aku akan jawab sebisaku."

"Bukan sebisamu."

Louisa menelan ludah.

"Sejujurnya."

Nathanael diam sebentar, lalu mengangguk. "Sejujurnya."

Malam itu Louisa tidak langsung tidur.

Ia duduk di tepi ranjang dengan lampu kamar dimatikan, hanya cahaya gedung SCBD yang masuk dari celah tirai. Di meja kerja, bunga hari itu masih segar. Di ponselnya, LINE Webtoon menampilkan notifikasi komentar baru dari pembaca lain. Di kepalanya, kata Coisíní berdetak seperti jarum jam.

Jantung berdebar lebih cepat.

Dulu ia memilih nama itu karena Kevin membuatnya berdebar. Sekarang, yang membuat dadanya tidak tenang justru Nathanael, pria yang duduk di lantai ruang tengah, memakai jam yang pernah ia incar, dan berkata, aku tidak.

Pagi berikutnya, Nathanael tidak membeli bubur Mangga Besar.

Di meja makan hanya ada roti kukus, telur, buah potong, dan teh hangat. Louisa tahu itu bukan karena ia berhenti memperhatikan. Justru sebaliknya. Ia sedang memberi ruang.

Mereka sarapan dengan kalimat-kalimat pendek.

"Tidur cukup?" tanya Nathanael.

"Lumayan."

"Matamu masih merah?"

"Sudah lebih baik."

"Kalau perlu obat tetes, ada di meja."

"Aku tahu."

Setelah itu hening.

Tidak buruk. Tidak dingin. Hanya penuh dengan hal yang belum mereka sentuh.

Menjelang siang, ketika Louisa sedang mencoba menggambar tetapi hanya menghasilkan garis-garis pendek yang tidak jelas, ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Ia hampir tidak mengangkat. Lalu melihat foto profil kecil berupa logo butik jam di Pacific Place.

"Selamat siang, Bu Louisa," suara staf perempuan terdengar. "Saya dari butik jam yang kemarin Ibu datangi. Maaf mengganggu."

Jantung Louisa langsung bergerak.

"Iya, tidak apa-apa."

"Kami sudah mendapat sebagian data dari arsip pusat untuk model Coisíní yang Ibu tanyakan."

Jari Louisa berhenti di atas buku sketsa. "Oh."

"Data lamanya tidak lengkap, Bu, karena model itu memang limited edition dan sudah lama. Tapi kami menemukan catatan pesanan unit terakhir."

Louisa menatap garis pendek di kertasnya. Garis itu tiba-tiba terlihat seperti jarum jam.

"Bisa saya datang ke butik?" tanyanya.

"Bisa, Bu. Kalau Ibu berkenan, saya bisa bantu jelaskan langsung."

Satu jam kemudian, Louisa kembali berdiri di depan etalase yang sama.

Kali ini ia tidak masuk sebagai perempuan yang ingin membeli hadiah untuk Kevin. Ia masuk sebagai istri seseorang yang mungkin sudah sejak lama berdiri di sisi cerita yang tidak pernah ia baca.

Staf yang sama menyambutnya dengan tablet di tangan.

"Terima kasih sudah datang lagi, Bu."

"Saya yang terima kasih sudah mengecek."

Mereka duduk di meja kecil dekat etalase. Staf itu membuka halaman arsip yang tampaknya hasil pindai dari dokumen lama. Ada beberapa kolom yang disamarkan, tetapi nama model, tanggal pemesanan, dan nama pelanggan terlihat cukup jelas.

Louisa belum membaca semuanya. Ia menahan diri.

"Sebelumnya saya perlu sampaikan, detail pelanggan lama biasanya tidak kami buka penuh," kata staf itu hati-hati. "Tapi karena Ibu menanyakan model, bukan data pribadi, saya hanya bisa menjelaskan status unitnya secara umum."

"Saya mengerti."

"Unit Coisíní yang Ibu maksud memang tidak pernah masuk display umum lebih dari beberapa hari. Sebagian besar sudah masuk pre-order."

"Pre-order?"

"Iya, Bu. Bahkan sebelum katalog kecilnya dibagikan ke customer reguler."

Louisa memegang tali tasnya.

"Jadi saat saya datang dulu..."

"Unitnya sudah reserved."

Kata itu jatuh seperti bunyi pintu yang terkunci dari dalam.

"Oleh siapa?" tanya Louisa, meskipun ia sudah takut pada jawabannya.

Staf itu melihat layar tablet, lalu kembali menatap Louisa.

"Di sistem tertulis atas nama keluarga Susanto."

Louisa tidak bernapas.

"Susanto?"

"Iya, Bu." Staf itu menurunkan suara sedikit, mungkin karena mengenali nama besar itu. "Catatan kontak utamanya Pak Nathanael Susanto."

Huruf-huruf di tablet seperti bergerak.

Louisa melihat tanggalnya.

Jauh sebelum Kevin resmi menjadi Direktur Utama.

Jauh sebelum ia mengumpulkan uang cukup.

Jauh sebelum ia berdiri di etalase dengan kartu ucapan untuk Kevin.

Tanggal itu membuat ujung jarinya dingin.

Ia masih ingat kapan ia pertama kali melihat Coisíní. Saat itu model itu baru dibicarakan di forum kecil pencinta jam. Belum banyak orang tahu. Ia bahkan merasa beruntung karena menemukannya lebih dulu, seolah semesta memberi jalan kecil untuk keberaniannya yang selalu terlambat.

Ternyata bahkan saat itu, ia sudah terlambat.

"Pesanannya masuk sebelum katalog dibuka?" tanyanya.

Staf itu memeriksa lagi. "Iya, Bu. Ada tanda prioritas. Sepertinya langsung dari daftar private client."

"Private client?"

"Beberapa pelanggan lama mendapat informasi model limited lebih awal. Biasanya harus membayar booking fee, lalu menunggu produksi dan alokasi unit."

Louisa mengangguk, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya menangkap penjelasan itu.

Nathanael tidak membeli jam itu karena melihatnya kecewa di depan etalase.

Ia sudah memesannya sebelum Louisa datang.

Sebelum kartu ucapan untuk Kevin terselip di tasnya.

Sebelum Louisa tahu bahwa ada jam bernama Coisíní yang artinya jantung berdebar.

"Apakah mungkin," katanya, suaranya lebih pelan, "ada Susanto lain?"

Staf itu ragu sepersekian detik, lalu menunjuk bagian catatan kontak yang tidak disamarkan penuh. "Nama keluarga memang Susanto, Bu, tapi kontak follow-up dan pengambilan unit tercatat oleh Pak Nathanael. Ada tanda tangan digital beliau di sini, tetapi detailnya tidak bisa saya buka."

Louisa tidak meminta melihat tanda tangan itu.

Ia tidak perlu.

Rasanya seperti potongan kecil yang selama ini tersebar di hidupnya tiba-tiba bergerak ke arah yang sama. Bunga yang datang sebelum ia meminta. Bubur yang dibeli sebelum ia bangun. Webtoon tentang seseorang yang menunggu dari jauh. Jam yang dipesan sebelum ia bahkan tahu ingin memberikannya kepada orang lain.

"Jadi bukan setelah saya datang?" suaranya hampir tidak terdengar.

Staf itu menggeleng sopan.

"Bukan, Bu. Pak Susanto sudah lama sekali memesan model ini."

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!