NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007: Mediasi yang Salah Hitung

Pak Surya tidak banyak bicara saat pertama kali duduk di ruang belakang kios.

Ia membuka map, mengeluarkan kertas kosong, lalu menatap Sari dengan mata seorang pengacara yang sudah terlalu sering melihat orang terluka mencoba tetap rapi.

"Bu Sari, saya perlu kronologi dari awal. Pelan-pelan saja."

Sari duduk di kursi plastik. Nadia di sampingnya menyiapkan ponsel, rekaman, dan dokumen. Ayu menjaga kasir di depan sambil sesekali melirik tirai pemisah.

Sari menceritakan semuanya.

Makan malam sebelum keracunan. Rumah sakit. Surat keterangan kematian yang terlalu cepat. Kain kafan. Video resepsi. Hendra bersama Ratna. Raka dan Bayu di acara itu. Pengakuan tentang Tania. Barang Ratna di rumah. Ponsel lama yang hilang.

Pak Surya mencatat tanpa memotong.

Setelah Sari selesai, ruangan belakang kios terasa lebih sempit.

"Kita akan ajukan cerai gugat," katanya akhirnya. "Karena Ibu Muslim, jalurnya Pengadilan Agama. Nanti ada proses mediasi. Untuk harta bersama, kita bisa ajukan kesepakatan kalau pihak Pak Hendra setuju."

"Saya ingin cepat."

"Cepat boleh, tapi rapi harus lebih penting."

Sari mengangguk.

Pak Surya mengambil dokumen kios. "Kios ini atas nama Ibu?"

"Ya."

"Dibeli saat pernikahan?"

"Iya, tapi modal dan pengelolaan dari saya. Ada catatan."

"Baik. Kebun?"

"Sewa panjang dan sebagian investasi bibit dari rekening usaha saya."

"Pabrik?"

Sari menatapnya. "Biarkan Hendra ambil."

Pak Surya meletakkan pulpen. "Saya paham Ibu punya strategi. Tapi saya harus tanya sekali lagi. Ibu yakin?"

"Yakin."

"Dua pabrik itu terlihat besar. Kalau nanti pihak sana sadar dan menyesal, mereka bisa menuduh Ibu menyembunyikan kondisi sebenarnya."

"Saya tidak menyembunyikan. Mereka tahu pabrik itu ada. Mereka hanya tidak mau tahu isinya."

Pak Surya tersenyum tipis. "Jawaban bagus. Tapi di dokumen tetap harus rapi. Kita tulis bahwa Pak Hendra mengambil alih kepemilikan operasional, kewajiban, utang usaha, kontrak kerja, dan tanggungan terkait pabrik. Ibu mempertahankan kios, kebun, rekening usaha yang tercatat, dan barang pribadi."

Nadia langsung menulis poin itu.

"Untuk transfer ke Ratna?" tanya Pak Surya.

Sari diam sebentar.

Ia bisa mengejar semuanya. Ia bisa menghitung rumah, mobil, uang bulanan, biaya sekolah Tania, hadiah, perhiasan, semua yang dibeli Hendra dari uang rumah tangga.

Tapi mengejar semuanya berarti bertahun-tahun terseret dalam lumpur Hendra dan Ratna.

"Simpan sebagai tekanan," kata Sari. "Kalau dia mempersulit cerai atau mengganggu kios dan kebun, kita buka."

Pak Surya mengangguk puas. "Itu masuk akal."

Siang itu mereka menyiapkan draft gugatan dan daftar dokumen. Sari menandatangani surat kuasa. Tangannya sempat bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena tubuhnya belum pulih.

Nadia melihat. "Bu, istirahat dulu."

"Sebentar lagi."

Pak Surya menutup map. "Saya bisa daftarkan besok pagi. Namun sebelum sidang pertama, kemungkinan pihak Pak Hendra akan menghubungi untuk negosiasi. Jangan bertemu tanpa saya."

"Dia sudah minta bertemu."

"Tolak."

"Saya mau bertemu."

Nadia langsung menoleh. "Bu?"

Sari menatap Pak Surya. "Dengan Anda. Di tempat umum. Saya ingin dia melihat bahwa saya tidak takut."

Pak Surya berpikir beberapa detik. "Baik. Kita pilih kafe yang punya CCTV, tempat duduk terbuka. Saya hadir."

Pertemuan itu terjadi tiga hari kemudian.

Sari datang memakai tunik biru tua dan kerudung abu. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi bibirnya sudah diberi warna tipis. Nadia duduk di meja lain, cukup dekat untuk melihat. Pak Surya duduk di samping Sari, membuka map.

Hendra datang terlambat dua puluh menit.

Ia memakai kemeja putih yang belum disetrika rapi. Wajahnya tampak lebih tua dari minggu lalu. Matanya langsung menatap Sari, berhenti pada kerudungnya yang rapi, ponsel baru di meja, dan tas sederhana tapi baru.

"Kamu dandan?"

Kalimat pertama.

Sari hampir mengasihani dirinya yang dulu pernah menganggap laki-laki ini pusat dunia.

"Kamu terlambat," kata Pak Surya sebelum Sari menjawab.

Hendra meliriknya tidak suka. "Saya mau bicara dengan istri saya."

"Klien saya."

"Dia masih istri saya."

"Maka bicaralah sesuai prosedur."

Hendra duduk kasar. "Baik. Kamu mau apa, Sari?"

"Cerai."

"Selain itu?"

"Harta dibagi sesuai kesepakatan."

Pak Surya menggeser draft ringkas ke depan Hendra. Hendra mengambilnya, membaca dengan cepat. Awalnya dahinya berkerut. Lalu perlahan, sudut bibirnya naik.

"Kamu tidak mau pabrik?"

"Tidak."

"Dua-duanya?"

"Dua-duanya."

Hendra menatapnya curiga. "Kamu pikir saya bodoh?"

Sari menatap balik. "Kamu ingin jawaban jujur atau sopan?"

Pak Surya batuk kecil.

Hendra menggertakkan rahang. "Pabrik itu milik keluarga saya. Memang dari awal kamu tidak pantas mengambil."

"Bagus kalau kita sepakat."

"Tapi kios dan kebun itu juga dibangun saat pernikahan."

Pak Surya membuka suara. "Kios tercatat atas nama Bu Sari, modal usaha dan pembukuan terpisah, dan Pak Hendra selama ini tidak terlibat operasional. Kebun juga tercatat dalam kontrak usaha Bu Sari. Jika Pak Hendra tetap menuntut, kami juga akan membuka aliran dana untuk pihak ketiga selama perkawinan."

Hendra langsung diam.

Pihak ketiga.

Ratna.

Kafe terasa lebih dingin.

"Kamu mengancam saya?" tanya Hendra.

Sari menjawab, "Aku menawarkan jalan yang tidak membuat semua orang makin kotor."

Hendra membaca lagi. Ia melihat bagian utang usaha pabrik. Wajahnya sedikit berubah, tapi ia cepat menutupinya.

"Utang operasional itu normal. Semua usaha punya utang."

"Kalau begitu tidak masalah kamu ambil."

"Saya memang akan ambil."

"Silakan."

Hendra menatapnya lama. Ia tampak ingin mencari jebakan di wajah Sari, tetapi yang ia temukan hanya ketenangan.

Dulu Sari akan menjelaskan panjang lebar. Dulu ia akan memberi peringatan: Hendra, hati-hati, utangnya banyak. Hendra, pelanggan lama sudah kecewa. Hendra, jangan ambil bahan baku dari pemasok itu kalau belum bayar invoice lama.

Dulu ia akan menyelamatkannya bahkan saat laki-laki itu tidak meminta.

Sekarang tidak.

Hendra mengambil pulpen.

Pak Surya menahan kertas. "Ini baru draft pembicaraan. Kesepakatan final harus masuk mediasi dan dituangkan dalam dokumen resmi."

"Saya tahu." Hendra terdengar tersinggung. "Saya bukan orang bodoh."

Sari memandang cangkir teh di depannya.

Ia tidak berkata apa-apa.

Pertemuan berlangsung kurang dari satu jam. Hendra berulang kali mencoba menyindir usia Sari, kios kecil, dan kemungkinan ia menyesal. Sari menjawab pendek.

"Kamu tidak akan bisa hidup sendiri."

"Aku sudah mulai."

"Anak-anak akan marah."

"Mereka boleh belajar mengelola marahnya."

"Ratna bukan penyebab semuanya."

"Benar. Kamu penyebab utamanya."

Setelah Hendra pergi, Nadia pindah ke meja mereka. Ia tampak menahan banyak kata.

"Bu, Ayah kelihatan senang."

"Memang harus begitu."

"Dia benar-benar pikir menang."

Sari mengambil teh yang sudah dingin. "Orang yang terlalu cinta wajahnya sendiri jarang melihat lantai di bawahnya retak."

Pak Surya menutup map. "Saya akan siapkan pendaftaran gugatan. Bu Sari, setelah ini jangan terpancing kalau Pak Hendra atau keluarganya mengirim pesan. Mereka mungkin akan merasa di atas angin."

"Biarkan."

Nadia menatap ibunya dengan kagum sekaligus ngeri. "Ibu sudah lama tahu pabrik akan jatuh?"

Sari mengangguk.

"Kenapa dulu tidak bilang Ayah?"

Sari tersenyum hambar. "Ibu sering bilang. Dia tidak pernah mendengar kalau yang bicara istrinya."

Nadia terdiam.

Di luar kafe, hujan mulai turun tipis. Sari melihat air mengenai kaca, mengaburkan bayangan dirinya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak takut pada bayangan itu.

Tiga hari kemudian, mediasi pertama di Pengadilan Agama berlangsung tegang tetapi singkat. Hendra datang bersama pengacara yang tampak lebih sibuk menenangkan kliennya daripada membaca berkas. Ibu Sri menunggu di luar, tidak berhenti mengirim pesan ke grup keluarga.

Mediator meminta kedua pihak mempertimbangkan perdamaian.

Sari hanya berkata, "Saya ingin bercerai."

Hendra sempat menatapnya, mungkin menunggu ia goyah.

Ia tidak goyah.

Kesepakatan harta dibawa masuk sebagai bahan mediasi lanjutan. Hendra menyetujui garis besar karena masih yakin ia mempertahankan aset paling bergengsi.

Saat keluar dari ruang mediasi, Ibu Sri menghampiri.

"Pabrik tetap di Hendra?"

Hendra mengangguk.

Ibu Sri langsung menghela napas lega. Ia bahkan menatap Sari dengan sedikit kemenangan.

"Syukurlah. Setidaknya kamu masih tahu diri."

Nadia hampir maju, tetapi Sari menahan lengannya.

"Iya, Bu Sri," kata Sari tenang. "Saya akhirnya tahu diri."

Ia berjalan melewati mereka.

Di belakangnya, Ibu Sri berbisik pada Hendra bahwa kios dan kebun kecil tidak ada apa-apanya dibanding pabrik. Hendra menjawab pelan, terdengar puas.

Nadia menggenggam tangan ibunya.

"Mereka benar-benar tidak tahu."

Sari menatap pintu keluar Pengadilan Agama.

Di luar, langit setelah hujan tampak bersih.

"Belum waktunya mereka tahu."

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!