NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahanku yang mana lagi?

Aku sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Bastian akan benar-benar tinggal bersamaku. Selama ini, aku bahkan mengira pernikahan mendadak kami hanyalah sebuah langkah darurat karena dia sudah terdesak oleh situasi keluarganya.

Setelah Bastian selesai memberikan instruksi, dia langsung melangkah masuk ke dalam vila. Aku memandangi punggungnya sejenak, lalu menoleh ke arah Rian yang masih berada di kursi kemudi. "Dia serius?" tanyaku ragu-ragu.

Rian melirikku melalui spion, lalu mengangkat tangan untuk mengepalkan tinjunya di depan mulut sambil terbatuk kecil dengan canggung. "Nyonya, mohon bantuannya dan bimbingan Anda di masa depan."

Aku hanya bisa tertegun mendengar sebutan itu.

Belum sempat aku membalas ucapannya, Rian sudah langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya pergi membelah malam.

Aku menatap sisa asap knalpot mobil yang perlahan menghilang di ujung jalan. Ujung bibirku sedikit berkedut. Aku akhirnya berbalik dan mulai berjalan masuk menuju vila.

Vila yang kutempati sekarang ini bernama "Vila Serasi". Aku tidak tahu siapa yang mencetuskan nama itu, terdengar sangat kaku dan aneh di telinga.

Begitu aku melangkah masuk ke dalam rumah, aku mendapati Bastian sudah duduk tegak di atas sofa ruang tamu. Dia tampak sedang melonggarkan ikatan dasinya sedikit, memperlihatkan lekukan tulang selangkanya yang tegas.

"Kenapa malah berdiri diam di sana?" Bastian mendongak, menatap lurus ke arahku.

"Eh, tidak apa-apa..." Aku melangkah mendekat dan mengambil posisi duduk tepat di sebelah Bastian. Aku memiringkan kepalaku untuk menatap wajahnya dari samping, mencoba memaksakan sebuah senyuman santai, namun setelah beberapa detik mencoba, aku gagal total. Pada akhirnya, aku menyerah dan langsung mengubah ekspresi wajahku menjadi serius.

"Bastian, apa kamu benar-benar yakin ingin tinggal satu rumah bersamaku?"

Mendengar pertanyaanku, mata Bastian yang tajam langsung menajam, memancarkan kilat berbahaya yang tak kentara. "Amara, apa maksud pertanyaanmu itu?"

"Aku tidak bermaksud apa-apa! Aku hanya penasaran, maksudku..." Kalimatku mendadak terbata-bata. Aku tahu persis apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalaku saat ini, tetapi lidahku rasanya mendadak kelu untuk menyuarakannya.

Bagaimana cara menanyakannya dengan benar?

Apakah kamu berharap aku menganggap hubungan kita ini hanya sebatas teman tapi mesra? Kamu sebenarnya tidak pernah berniat serius untuk menikahiku, kan?

Jujur saja, sejak pertama kali melihat Bastian di rumah sakit malam itu, aku sudah tahu kalau aku akan terlibat dalam hubungan yang rumit bersamanya. Mungkin ini yang biasa disebut sebagai intuisi wanita. Karena itulah, ketika Bastian menarik tanganku masuk ke dalam mobilnya malam itu, meskipun aku sempat berontak, perlawananku sebenarnya hanya sandiwara belaka.

Kalau dipikir-pikir kembali, jika malam itu aku menggunakan cara yang sama seperti saat aku menghajar Handoko di toilet kantor, Bastian yang sedang mabuk berat pasti tidak akan sanggup menandingiku.

Melihatku hanya terdiam membisu, Bastian menggeser posisi duduknya menjadi lebih tegak. Dia menyentak dasi yang melilit lehernya hingga terlepas, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja.

Sudut bibir tipisnya sedikit terangkat saat dia menatapku dengan intens. "Amara, apa kamu pikir aku menikahimu hanya demi memuaskan ambisi orang-orang licik di keluargaku?"

"Memangnya bukan begitu?" bantahku.

Begitu kalimat itu keluar dari mulutku, Bastian mendengus pelan. Dia mengulurkan tangannya yang kokoh, mencengkeram tengkukku dengan lembut namun pasti, lalu menarik wajahku hingga jarak di antara kami terkikis habis. "Amara, terkadang aku benar-benar curiga kalau kamu ini hanya sedang berpura-pura bodoh di hadapanku."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Bastian melepaskan cengkeramannya, berdiri dari sofa, dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama.

Aku tetap terpaku di sofa selama beberapa saat, benar-benar kebingungan dengan arah pembicaraannya. Aku mengusap bagian tengkukku yang baru saja disentuh oleh jemarinya, merasakan sisa kehangatan kulitnya yang berbeda dengan hawa dingin pendingin ruangan yang mulai menusuk kerah kemejaku.

Tidak lama setelah Bastian masuk ke dalam kamar, aku pun bangkit berdiri dan ikut menyusulnya masuk. Mendengar suara kucuran air dari arah shower kamar mandi, aku merebahkan diri di atas ranjang king size yang empuk sambil bergumam pelan, "Pak CEO, kamu tidak punya sindrom kebersihan kompulsif, kan? Kenapa harus mandi berkali-kali dalam sehari?"

Selesai menggerutu sendiri, aku menundukkan kepala untuk membuka ponselku. Tepat pada saat itu, ponsel milik Bastian yang tergeletak di atas meja nakas mendadak menyala dan bergetar, menandakan ada pesan teks yang masuk.

Aku sempat mendongak, melirik layar ponselnya sekilas tanpa berniat melihat isinya lebih dekat, lalu kembali fokus pada layarku sendiri. Namun baru saja aku menunduk, ponsel Bastian mulai berdering berturut-turut tanpa henti. Aku langsung mengangkat sebelah alis—jangan-jangan ada wanita lain yang sedang mencarinya?

Tepat saat aku sedang menimbang-nimbang kemungkinan itu, sebuah notifikasi panggilan video masuk memenuhi layar ponsel Bastian.

Aku mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel tersebut, dan ternyata nama Julian yang tertera di sana. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.

"Julian?" sapaku membuka suara.

"Kak Amara?!" sahut Julian kaget.

Wajah Julian yang tampak memenuhi layar ponsel bergeser sedikit menjauh. Aku bisa melihatnya menelan ludah dengan susah payah. "Kak Amara, kamu..."

Belum sempat Julian menyelesaikan kalimatnya, layar ponsel di seberang sana mendadak bergoyang hebat akibat guncangan. Detik berikutnya, wajah Sheila yang dipenuhi amarah langsung mengambil alih sorot kamera video.

Melihat ekspresi wajahnya yang menahan kekesalan itu, aku justru tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh. Aku sengaja mengubah posisi tubuhku menjadi berbaring miring di atas kasur, mengibaskan rambut panjangku dengan gaya santai, lalu bertanya dengan senyum tipis, "Sheila, ada keperluan dengan Bastian? Dia sedang mandi di dalam. Apa perlu saya panggilkan sekarang?"

"Kenapa kamu bisa ada di kamar Mas Bastian?!" tuntut Sheila dengan suara meninggi.

"Ini sudah lewat tengah malam, menurutmu untuk apa lagi seorang istri ada di dalam kamar suaminya?" jawabku santai sambil mengedipkan mata beberapa kali. Aku kemudian berpura-pura menoleh ke arah kamar mandi dan berteriak, "Mas Bastian, mandi-nya belum selesai juga?"

Awalnya, aku melakukan ini murni karena iseng dan ingin membalas kejengkelan ku akibat ulah Sheila di pesta tadi. Namun siapa yang menyangka, tepat setelah suaraku mereda, pintu kamar mandi terbuka. Bastian keluar hanya dengan sebuah handuk putih yang terlilit di pinggangnya, sementara sisa air masih menetes dari ujung rambutnya. Dia berjalan beberapa langkah mendekati ranjang, lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Dia menempelkan dahinya ke dahiku. "Kamu tahu di mana letak kesalahanmu malam ini?"

Kesalahanku yang mana lagi?

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!