Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Mencari Petunjuk
Fajar baru saja pecah di ufuk timur ketika Galang menyelinap keluar dari pintu samping rumah. Tas ransel kusamnya menempel ketat di punggung, berisi beberapa helai pakaian, seluruh sisa uang tabungannya, dan secarik kertas lusuh bekal ia mencari petunjuk.
Kertas itu berisi catatan tulisan samar mengenai sebuah nama desa terpencil di lereng Gunung Lawu kawasan Ngrambe, batas utara wilayah Ngawi, tempat di mana almarhum ayahnya pertama kali bertemu dengan seorang pria misterius itu belasan tahun lalu.
Galang meyakini bahwa pria misterius itu adalah Pak Sapta.
Di sepanjang perjalanan menumpangi bus antarkota yang menderu membelah jalanan Madiun menuju utara, pikiran Galang terus terbayang pada raut wajah ketiga adiknya yang lugu.
Ia tahu keputusannya meninggalkan rumah selama beberapa hari membawa risiko besar. Namun, berdiam diri menyaksikan Pak Sapta memperluas jangkauan pesugihannya sama saja dengan menyerahkan leher adik-adiknya ke atas talenan pembantaian ghaib.
Pukul sepuluh pagi, bus berhenti di terminal kecil wilayah Ngawi. Dari sana, Galang melanjutkan perjalanan menumpangi angkutan pedesaan yang kian merayap naik menyusuri jalanan sempit yang menanjak, melintasi hamparan kebun teh dan hutan pinus yang diselimuti kabut tipis.
Udara pegunungan yang menusuk tulang seharusnya menyegarkan, tetapi bagi Galang, setiap kilometer yang ditempuhnya justru menghadirkan hawa dingin yang teramat membekukan—sebuah pertanda bahwa ia sedang mengikis jarak menuju muara kegelapan yang menaungi keluarga mereka.
Angkutan pedesaan berhenti di sebuah pertigaan berdebu di pinggir hutan. Sopir angkutan—seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan selinting rokok klembak menempel di bibirnya—menunjuk ke arah jalan setapak berdinding batu kali yang membelah pepohonan rindang.
"Kalau lewat situ ... jalan masuk ke Desa Karangsewu, Mas," kata sopir itu seraya menghembuskan uap asap rokok yang tajam. "Tapi kalau sudah lewat jam tiga sore, mending jangan jalan sendirian di situ. Desanya agak janggal."
Galang mengernyitkan dahi. "Janggal bagaimana, Pak?"
Sopir itu meludah ke tepi jalan, mematikan puntung rokoknya. "Orang-orang sana tertutup rapat. Nggak suka ada orang luar tanya-tanya. Dulu pernah ada juragan kayu dari Jatim yang datang mau cari dukun di sana, pulangnya malah hilang tanpa jejak. Pokoknya hati-hati saja lah."
Galang menyanggupi peringatan itu dengan anggukan pelan, lalu menyesuaikan tali ranselnya dan mulai melangkah menyusuri jalan setapak batu kali tersebut.
"Hem, ngeyelan." Sang sopir menggerutu pelan sambil menatap punggung Galang yang bergerak menjauh.
Galang terus melangkah, melewati pepohonan jati dan pohon beringin tua yang menutupi pendar sinar matahari, menciptakan lorong hijau yang remang dan lembap.
Suara derik tonggeret bersahut-sahutan di atas dahan, berpadu dengan bunyi derak ranting kering yang terinjak sepatu Galang.
Setelah berjalan hampir empat puluh menit menembus kerindangan hutan, pemukiman Desa Karangsewu mulai terlihat.
Desa itu tampak tenang—bahkan terlalu tenang. Rumah-rumah warga masih berarsitektur tradisional Jawa kuno dengan dinding papan kayu jati berwarna gelap dan atap genteng tanah yang telah ditumbuhi lumut tebal.
Di pekarangan depan, beberapa warga yang didominasi para sepuh tampak duduk bersedekap di atas balai-balai kayu, namun mata mereka yang kusam dan redup langsung tertuju lurus ke arah Galang begitu ia melintasi jalan desa.
Tak ada senyum kearifan khas warga desa; yang ada hanyalah tatapan curiga, dingin, dan sarat akan penolakan.
Galang menghentikan langkahnya di depan sebuah warung kelontong kecil yang menjual rokok dan minuman hangat. Seorang pria tua berkopiah lusuh sedang menata bungkus tembakau di atas meja kayu.
"Kulonuwun, Mbah," sapa Galang sopan dengan bahasa Jawa halus seraya mendekat.
Pria tua itu menghentikan gerakannya lambat-lambat. Matanya yang juling menatap Galang dari balik kacamata murahan yang tangkainya disambung isolasi bening.
"Cari siapa, Nak? Nampaknya kamu bukan orang sini."
"Perkenalkan saya Galang, Mbah. Saya dari Madiun," sahut Galang dengan nada setenang mungkin. "Saya datang kemari mau mencari seseorang bernama Pak Sapta. Kata almarhum ayah saya, Pak Sapta ini dulunya berasal dari desa ini dan pernah tinggal di sekitar Karangsewu."
Galang sebetulnya asal tembak, Pak Broto tidak menjelaskan sedetail itu di lembar kertasnya, selain nama Pak Sapta, dan alamat lengkapnya. Ia sengaja ingin melihat reaksi bapak tua tersebut.
Benar saja. Mendengar nama "Pak Sapta", jari-jari pria tua itu mendadak gemetar pelan. Tembakau di tangannya terlepas dan jatuh meluncur ke atas lantai semen.
Raut wajahnya yang kusam berubah pasi seketika, dan matanya melirik liar ke sekeliling pekarangan seolah-olah nama itu adalah sebuah mantra terlarang yang sanggup memanggil bahaya.
"Nggak ada nama Sapta di desa ini," bisik pria tua itu cepat, suaranya mendadak serak dan kaku. "Kamu salah desa, Mas. Pulang sana, balik ke Madiun."
"Tapi Mbah," desak Galang seraya mengeluarkan selembar foto tua yang menampilkan sosok almarhum Pak Broto muda berdiri di samping seorang laki-laki sebayanya. "Ini foto beliau waktu muda bersama ayah saya. Coba Mbah lihat dulu. Ayah saya pernah punya urusan besar sama Pak Sapta belasan tahun lalu!"
Pria tua itu menolak menyentuh foto tersebut. Ia justru mundur satu langkah, menepis pelan tangan Galang dengan wajah yang dipenuhi ketakutan luar biasa.
"Saya katakan tidak ada, ya tidak ada!" desis pria tua itu seraya menunjuk ke arah jalan keluar desa. "Jangan sebut nama orang itu di Karangsewu kalau kamu masih sayang sama nyawamu! Di sini nggak ada yang namanya Sapta!"
Melihat reaksi ketakutan yang teramat hebat dari warga lokal, Galang tidak patah semangat. Ia sadar, reaksi berlebihan itu justru menjadi bukti kuat bahwa nama Pak Sapta menyembunyikan rahasia besar yang teramat kelam di desa ini.
Foto yang ditunjukan pun hanya bagian dari trik semata. Itu hanya foto lama sang ayah dengan kerabatnya. Sengaja ia tunjukan untuk menegaskan kembali reaksi si bapak tua.
Galang berbalik, melangkah menyusuri gang-gang kecil di antara rumah kayu warga. Setiap kali ia mencoba mendekati warga lain—baik ibu-ibu yang sedang memetik sayur di pekarangan mau pun pria dewasa yang mengangkut kayu bakar—reaksi yang didapatkannya selalu sama.
Begitu nama Pak Sapta diucapkan, orang-orang itu akan langsung mengunci pintu rumah mereka rapat-rapat, mengusirnya secara halus, atau berpura-pura tidak mendengar sama sekali.
Hingga akhirnya, saat matahari mulai tergelincir ke barat dan membias warna jingga keperakan di sela-sela dahan pohon, Galang bertemu dengan seorang pria tua bungkuk yang sedang duduk menyendiri di pinggir pemakaman tua desa. Pria itu memakai ikat kepala kain dan sedang meraut ganjalan kayu.
Galang duduk berlutut di tanah berdebu dekat pria bungkuk itu, menyodorkan sebungkus rokok kretek premium yang sengaja dibelinya di terminal tadi.
"Rokok, Mbah," tawar Galang. Tanpa diduga, pria bungkuk tersebut langsung menerima. Mengambil satu batang rokok dan langsung menyalakannya.
Kepulan asap pun menjadi pengiring perkenalan keduanya. Setelah dirasa orang tersebut sudah membuka diri, Galang pun langsung mengambil kesempatan untuk berbicara lebih jauh.
"Tolong saya, Mbah," ucap Galang penuh kepasrahan dan kejujuran. "Dua saudara saya kini sudah meninggal secara tidak wajar di Madiun. Dan orang bernama Pak Sapta ini ... dia yang mengendalikan rumah kami sekarang. Kalau saya nggak tahu siapa dia sebenarnya, tiga adik saya yang kecil bakal menyusul mereka."
Pria tua bungkuk itu menghentikan sesapannya. Matanya yang berselaput katarak menatap bungkus rokok kretek di tanah, lalu beralih menatap wajah Galang yang didera duka mendalam. Pria itu menghela napas panjang—sebuah desahan berat yang berbau tembakau dan napas tua.
Ia mengambil bungkus rokok tersebut, kembali merogoh untuk batang kedua, dan menyalakannya dengan gesekan korek kayu.
"Anak muda ...," kata pria bungkuk itu pelan, suaranya parau beradu dengan deru angin sore yang menggoyangkan dahan pohon kamboja di atas makam. "Nama Sapta yang kamu cari itu ... sebenarnya tidak pernah ada di atas lembaran surat lahir mana pun di tanah Jawa ini."
Jantung Galang berdegup kencang seketika. Ia mendekat satu jengkal.
"Maksud Mbah bagaimana? Apa Sapta itu ... nama fiktif?"
Pria bungkuk itu menghembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi ke udara malam yang kian mendingin.
"Puluhan tahun lalu ... memang ada seorang pria yang tinggal di gubuk pinggir hutan Karangsewu. Tapi dia bukan pedagang atau juragan. Dia adalah dukun pencabut nyawa yang mengabdi pada entitas Pesugihan Garis Keturunan. Nama aslinya sudah lama mati dan terkubur di bawah akar beringin tua ...."
Pria itu menoleh kaku, menatap lurus ke dalam bola mata Galang dengan tatapan yang amat mengerikan.
"... nama 'Sapta' itu hanyalah topeng atau nama pinjaman yang dia pakai setiap kali dia pindah dari satu kota ke kota lain untuk mencari keluarga yang bodoh—keluarga yang mau menukarkan darah anak-anaknya demi tumpukan uang. Dan kalau kamu mau mencari tempat tinggal aslinya ...."
Pria tua itu mengarahkan jarinya yang gemetar menuju puncak bukit gundul yang diselimuti kabut tebal di balik hutan jati.
"Kamu harus pergi ke Desa Kedung Lembah di atas sana."
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya