NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Kelam di Balik Hangatnya Pelukan

Suasana malam di kamar pengantin ndalem Pondok Pesantren Al-Hikmah terasa begitu syahdu. Lampu tidur berpijar kekuningan, memantulkan bayangan lembut di dinding kamar yang bernuansa putih dan kayu klasik. Udara malam yang sejuk dari luar berpadu sempurna dengan kehangatan yang tercipta di dalam ruangan berukuran luas tersebut.

Setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang pelarian, ketegangan kampus, dan proses hijrah yang melelahkan, malam ini adalah malam yang sesungguhnya bagi Revan dan Nayara. Status mereka sebagai suami istri kini telah sempurna dalam segala ikatan, baik di hadapan hukum agama maupun norma kemanusiaan.

Nayara duduk di tepi ranjang berseprai putih bersih. Jantungnya berdegup kencang, suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Ia mengenakan baju tidur malam berbahan satin lembut berwarna peach berlengan panjang yang dipadu dengan selendang tipis menutupi kepalanya. Jemarinya saling meremas satu sama lain, menyembunyikan rasa gugup yang luar biasa hebat di balik senyuman tipisnya.

Pintu kamar mandi perlahan terbuka, memecah keheningan. Revan melangkah keluar dengan mengenakan celana kain panjang hitam dan kemeja tidur tipis berwarna senada yang belum dikancingkan sempurna. Rambut hitamnya yang setengah basah dibiarkan tergerai natural, meneteskan sisa-sisa air segar yang mengalir di leher jenjangnya.

Melihat sosok istrinya yang duduk menunduk malu di tepi ranjang, langkah Revan terhenti sejenak. Ada gelombang kehangatan yang luar biasa besar menghantam dadanya. Perempuan di hadapannya bukan lagi sekadar gadis incaran di kampus, bukan pula sekadar murid yang ia temui secara diam-diam, melainkan separuh jiwanya istri sah yang dihalalkan Allah untuknya.

Revan berjalan mendekat dengan langkah pelan namun pasti. Aroma maskulin sabun mandi berpadu dengan wangi khas gaharu memenuhi indra penciuman Nayara.

Begitu Revan duduk di tepi ranjang tepat di sampingnya, kasur empuk itu sedikit berderit pelan. Nayara spontan menundukkan pandangannya, pipinya merona merah hingga ke leher, sementara napasnya mulai tidak beraturan.

Revan tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan kanannya, dengan sangat hati-hati menyentuh dagu Nayara, lalu mengangkat wajah gadis itu perlahan agar menatap manik matanya.

"Hei..." bisik Revan dengan suara baritonnya yang lembut, begitu dalam dan menghanyutkan. "Kenapa tegang begitu, Zawjati?"

Nayara menggigit bibir bawahnya gugup, manik matanya berkaca-kaca menatap kesungguhan dan cinta yang tulus terpancar dari sorot mata suaminya. "Aku... aku cuma merasa ini semua begitu cepat, Mas..."

"Aku tahu," balas Revan penuh pengertian. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup lembut puncak kepala Nayara yang tertutup kain tipis. "Tapi tenanglah, aku di sini. Aku tidak akan pernah menyakitimu."

Sentuhan-sentuhan kecil itu mulai meruntuhkan benteng pertahanan Nayara. Revan membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya, mendekap erat tubuh mungil Nayara ke dada bidangnya. Ciuman-ciuman lembut mulai mendarat di pelipis, pipi, hingga turun ke bibir Nayara dengan penuh kelembutan yang teramat sangat.

Suasana malam semakin larut, menghanyutkan keduanya ke dalam arus romansa yang membara. Revan, yang selama ini dikenal sebagai pemuda penuh gairah dan emosi meledak-ledak, kini menyalurkan seluruh sisa-sisa sisi liar dalam dirinya ke dalam bentuk cinta yang halal. Sentuhan tangannya berubah semakin intens, menelusuri lekuk tubuh istrinya dengan penuh penguasaan dan hasrat yang membuncah hingga ke ubun-ubun.

Napas Revan mulai memburu. Suasana yang begitu intim membuat kesadarannya seolah tersapu oleh gelombang gairah yang teramat kuat. Ia merebahkan tubuh Nayara secara perlahan di atas kelembutan ranjang, menatap wajah istrinya yang kini tampak memerah dengan mata setengah terpejam menahan rasa asing yang menggelora.

Namun, di detik-detik saat sentuhan Revan semakin mendalam dan ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri akibat terbawa oleh suasana malam itu...

Deg!

Sebuah kilatan memori mengerikan tiba-tiba melintas bagaikan sambaran petir di dalam kepala Nayara.

Bayangan tangan-tangan kasar preman bayaran malam itu... cengkeraman kuat yang mencoba merobek pakaiannya... suasana gelap di sudut parkiran... serta rasa takut luar biasa saat ia hampir kehilangan kehormatannya.

Seluruh trauma masa lalu itu mendadak bangkit kembali dengan durasi sepersekian detik, menghantam kesadaran Nayara secara brutal.

"Hiks—!"

Napas Nayara seketika tercekat. Tubuhnya menegang kaku di bawah kungkungan Revan. Air mata tumpah seketika membasahi pipinya tanpa bisa ia kendalikan. Rasa panik yang luar biasa mendominasi seluruh syaraf di tubuhnya, membuat bayangan pelecehan itu seolah terulang kembali di depan matanya.

Tanpa sadar, didorong oleh sisa-sisa rasa trauma yang belum sepenuhnya sembuh, kedua tangan Nayara terangkat kuat-kuat.

Bugh!

Nayara mendorong punggung Revan dengan sekuat tenaga, melepaskan diri dari dekapan suaminya secara kasar.

Revan yang sama sekali tidak menduga penolakan itu langsung terpelanting ke samping, jatuh terduduk di tepi ranjang dengan napas terengah-engah dan mata membelalak karena syok.

"Nay...?" panggil Revan dengan suara parau, bingung sekaligus kaget. "Ada apa? Kenapa, sayang?"

Namun, jawaban yang ia terima bukanlah pelukan, melainkan isak tangis yang pecah begitu pilu dari bibir Nayara. Gadis itu meringkuk di sudut ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya yang gemetar hebat, sambil terus menyeka air matanya yang bercucuran deras.

"Maaf... hiks... maafkan aku, Mas..." raca Nayara di sela isakannya, suaranya bergetar penuh rasa bersalah dan ketakutan yang tersisa. "Aku... aku belum siap... Bayangan malam itu... bayangan preman itu tiba-tiba datang lagi... Maafkan aku, Mas Revan... hiks!"

Mendengar pengakuan itu, seketika seluruh gairah yang tadinya membakar di kepala Revan padam tak bersisa.

Bagai disiram air es di tengah malam, Revan langsung tersadar sepenuhnya. Amarah atau kekecewaan sama sekali tidak terbersit di dalam benaknya. Yang ada hanyalah rasa sesak yang luar biasa perih saat melihat istrinya meringkuk ketakutan di hadapannya.

Ia baru ingat luka batin dan trauma mendalam akibat percobaan pelecehan yang dialami Nayara beberapa waktu lalu tidak akan bisa sembuh dalam hitungan hari, meskipun ia kini telah menjadi suami sahnya.

Revan menarik napas panjang, meredam seluruh gejolak nafsu dan hasrat yang sejak tadi sudah berada di ubun-ubun ubunnya. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia tidak mendekati Nayara secara agresif, melainkan menunjukkan ketenangan mutlak agar istrinya tidak merasa terancam.

"Hei... hei, lihat aku, Nay," ucap Revan dengan suara paling lembut yang ia miliki, berusaha menenangkan isak tangis istrinya. "Tenanglah... tidak apa-apa. Kamu tidak punya salah apa pun padaku. Jangan minta maaf."

Revan merangkak perlahan mendekati sudut ranjang, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Nayara dengan penuh kelembutan.

"Aku tidak akan memaksamu, Nay. Demi Allah, aku tidak akan pernah menyakitimu atau membuatmu merasa tertekan," ucap Revan tulus, manik matanya ikut berkaca-kaca melihat penderitaan di mata istrinya. "Simpan air matamu. Tarik napas dalam-dalam. Aku di sini... aku suamimu, dan aku akan selalu melindungi kamu dari bayangan buruk apa pun."

Nayara mendongak perlahan, menatap sorot mata Revan yang begitu tulus, penuh pengertian, dan sama sekali tidak menyiramkan kemarahan atas penolakannya. Rasa bersalahnya semakin membuncah, namun ketenangan mulai merambat masuk ke dalam dadanya.

Melihat kondisi Nayara yang masih butuh waktu untuk menenangkan diri dan memulihkan traumanya, Revan mengambil keputusan cepat. Ia tahu betul gejolak di dalam tubuhnya sendiri sedang berada di ambang batas maksimum, namun ia tidak boleh sedikit pun melampiaskannya dalam kondisi psikis istrinya yang belum siap.

Revan berdiri perlahan dari sisi ranjang. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu menatap Nayara sekali lagi dengan senyuman tipis yang menenangkan.

"Tidurlah, istirahatlah yang tenang, Nay," bisik Revan lembut. "Aku mau ke kamar mandi sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, Revan berbalik dan melangkah cepat meninggalkan kamar tidur menuju kamar mandi dalam.

Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan dikunci dari dalam, Revan menyandarkan punggungnya di balik pintu. Ia memejamkan mata erat-erat, mencengkeram tepi washbasin dengan kedua tangannya, melampiaskan sisa-sisa debaran napas dan gelora nafsu yang masih membara di ubun-ubunnya dengan cara membasuh wajahnya berulang kali menggunakan air dingin yang mengalir deras.

Di bawah guyuran air keran tengah malam itu, Revan menunduk, meredam setiap gejolak egonya sendiri. Ia menyadari bahwa ujian pernikahan mereka bukanlah sekadar tentang bersatunya dua raga, melainkan tentang kesabaran, proses penyembuhan luka batin, dan belajar mencintai dengan cara yang paling tulus dan suci menjaga kehormatan sang istri melebihi nafsunya sendiri.

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!