NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Matahari pagi bersinar melalui pilar jendela. Marco mengerjap. Ia bahkan memakai boxer tanpa atasan. Pria itu baru saja terbangun dan kini terduduk sembari mengumpulkan tenaga karena baru saja bangun tidur.
Kebiasaan paginya ia membuka pintu balkon kamarnya, pemandangan itu jatuh ke kolam renang yang berada di bawah kamar tidur pria itu. Yang membuat Marco membeku.
"Hah?" Mata Marco membulat saat menjumpai liora berenang menggunakan bikini miliknya. Bahkan gadis itu terlihat dari atas.
Marco memutar tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih keras.
Sial!
"Sepertinya dia benar-benar ingin menggodaku."
"PAMAN! AYO BERENANG!" teriaknya.
Marco tersenyum kikuk. Baru saja mereka tinggal bersama dan ia melihat sisi lain dari dalam diri Liora. Ntah gadis itu memang sengaja menggodanya atau tidak.
Semalam, Marco merasa menggigil bukan karena demam atau yang lain, melainkan ia menahan gelora yang diam-diam membakar tubuhnya sejak gadis itu datang.
Sialan!
Marco mengembuskan napas panjang, lalu menggeleng pelan. Ia segera meraih kaus yang tergeletak di kursi dan mengenakannya sebelum melangkah keluar menuju balkon.
"Liora," panggilnya dengan nada datar.
Gadis itu menghentikan gerakan renangnya lalu mendongak sambil tersenyum lebar.
"Selamat pagi, Paman!"
"Kau bangun terlalu pagi."
"Rumah ini terlalu besar. Aku bosan, jadi kupikir berenang akan lebih menyenangkan."
Marco memperhatikan kolam beberapa saat. Airnya berkilauan diterpa matahari pagi, sementara embusan angin membuat dedaunan di taman bergoyang pelan.
"Lain kali gunakan pakaianmu dengan benar Liora."
Liora menaikkan alis tebalnya. "Memangnya kenapa paman? Orang berenang harus memakai celana panjang atau kaos? Ini pakaian renangku. Aku menyukainya."
Marco memejamkan mata. Sungguh gadis ini ternyata diluar dugaan. Ia memakai bikini bermotif minion, seperti anak-anak. Yatuhan ia bahkan tidak habis pikir karena Kakak angkatnya mempunyai putri yang berubah-ubah kadang ia terlihat galak. Kadang juga seperti anak-anak.
Marco menuruni anak tangga ia meninggalkan kamar dan ia menghiraukan Liora. Pria itu pergi ke sisi kanan kolam untuk berolahraga. Langkahnya tenang dan teratur. Sampai memasuki ruangan yang lengkap dengan alat olahraga.
Liora yang sedang berenang. Kepalanya terangkat dari air dan melihat Marco dari balik kaca luar. Mata Liora mengerjap saat menatap Marco melepas kaos yang membungkus tubuhnta. Tubuh yang kekar dan bagus milik Marco kini terlihat begitu jelas
Gadis belia itu menelan ludah susah payah. "Gila, dia sangat tampan." gumamnya nyaris tak terdengar.
Tanpa sadar, Liora menggigit bibir bawahnya. Marco, pria tengil yang selalu mengejeknya dan tiba-tiba menjadi paman angkatnya. Dan sekarang pria itu berada di hadapannya sedang berolahraga.
Seketika Liora naik ketepi kolam. Gadis itu tanpa memakai handuk menghampiri sang paman.
Ia berjalan pelan sampai berdiri di balik pintu. Air masih menetes membawahi rambutnya turun kebahu.
Melihat Marco berolahraga, Liora terpaku. Tubuh pria itu mengkilap oleh keringat membuat semakin terlihat begitu seksi. Pantas saja jika banyak yang mengejar Marco. Pantas saja jika semua wanita menyukainya. Mungkin ia melihat sisi lain dari diri Marco.
Marco yang sedang mengangkat barbel dan merasa ada yang melihatnya. Pria itu berhenti, ia tahu Liora sedang berdiri menatapnya.
Pria itu melirik sang gadis yang sedang berdiri dengan memakai bikini tanpa handuk.
"Ehem, pakai pakaianmu!"
Liora tersadar dari lamunannya. Gadis itu kikuk.
"Pakai, atau pengawal melihatmu tanpa pakaian."
Liora, segera mengambil jubah handuk yang terletak di kursi.
"A—aku lupa."
Marco tersenyum tipis. "Apa kau mau belajar?"
"Belajar?"
"Ya mengangkat beban Liora seperti ini."
"Pasti berat."
"Tidak juga."
Dari situlah kedekatan mereka mulai semakin menjadi dan dari situlah cinta di antara paman dan keponakan angkat mulai terjalin.