NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saintess Pingsan, Aku Jadi Tersangka Lagi

Ada satu hal yang kupelajari sejak masuk ke tubuh Evangeline.

Jika seseorang di istana pingsan, kemungkinan besar namaku akan disebut dalam tiga menit pertama.

Benar saja, keesokan paginya, saat aku baru saja berhasil tidur selama dua jam setelah insiden panah, seorang pengawal datang membawa kabar.

“Lady Evangeline, Anda diminta hadir di paviliun penyembuhan. Saintess Seraphina pingsan.”

Aku masih memegang selimut.

Mira yang sedang menyiapkan air hangat langsung menjatuhkan handuk.

“Lagi?!”

Aku memejamkan mata. “Apakah istana tidak punya hobi lain selain membuat orang pingsan dan menuduhku?”

Pengawal itu terlihat tidak tahu harus menjawab apa.

Cassian yang duduk di dekat jendela sambil membaca catatan ibuku berkata tanpa mengangkat kepala, “Secara statistik, dua kejadian pingsan dalam waktu berdekatan menunjukkan pola.”

Aku menatapnya. “Duke North, apakah Anda baru saja memakai statistik untuk membahas drama saintess?”

“Saya mencoba mengikuti zaman.”

Mira berbisik, “Zaman di utara pasti sangat kering.”

Kami berangkat ke paviliun penyembuhan. Sepanjang lorong istana, bisikan mengikuti langkahku.

“Itu dia Lady Evangeline.”

“Saintess pingsan lagi setelah dia bebas.”

“Jangan-jangan kutukan.”

Aku berhenti dan menoleh pada bangsawan wanita yang berbisik paling keras.

“Jika saya punya kemampuan mengutuk orang dari jarak jauh, Nyonya, Anda sudah cegukan sejak kemarin.”

Bangsawan itu pucat.

Mira menatapku kagum. “Nona, itu ancaman atau lelucon?”

“Strategi reputasi.”

“Reputasi Nona akan jadi apa?”

“Penjahat yang efisien.”

Di paviliun, Seraphina berbaring di ranjang putih, wajahnya pucat, rambut pirangnya tersebar indah seperti iklan sabun mahal. Lucien berdiri di sampingnya dengan wajah tegang. Para pendeta, tabib, dan pelayan berkumpul seperti penonton drama.

Begitu aku masuk, semua mata menoleh.

Aku otomatis mengangkat kedua tangan. “Sebelum ada yang bertanya, saya bahkan belum sarapan. Sulit meracuni orang dengan perut kosong.”

Mira mengangguk kuat. “Benar! Nona hanya menyentuh roti, teh, dan harga diri beberapa bangsawan.”

Lucien memijat pelipis. “Evangeline.”

“Apa penyebabnya?” tanyaku.

Tabib istana membungkuk. “Saintess mengalami kelemahan mendadak. Tidak ada tanda racun kuat, tetapi ada aroma lili pada saputangannya.”

Aroma lili lagi.

Aku menoleh pada Cassian. Ia juga menatapku.

“Boleh saya melihat saputangannya?”

Seorang pendeta langsung menolak. “Ini barang pribadi Saintess. Tidak layak disentuh oleh tersangka.”

Aku tersenyum. “Tersangka yang berhasil membuat hukuman matinya ditunda karena bukti Anda rapuh, maksudnya?”

Pendeta itu tersedak.

Lucien berkata, “Berikan.”

Saputangan itu diserahkan kepadaku. Aku tidak menyentuh langsung. Mira, dengan bangga, mengeluarkan penjepit kecil dari tasnya.

Aku menatapnya. “Kenapa kamu membawa itu?”

“Sejak Nona hampir mati, hamba memutuskan tas hamba harus siap untuk racun, pembunuhan, dan kudapan.”

“Kudapan?”

“Ketegangan membuat hamba lapar.”

Aku mengambil saputangan itu. Ada bordir kecil huruf S di sudutnya. Aromanya benar: lili, tetapi lebih ringan dari racun sebelumnya.

Cassian mendekat. “Ini bukan racun yang sama. Lebih seperti campuran pemicu pingsan.”

Aku menatap Seraphina yang masih memejamkan mata.

Pingsan yang sangat rapi. Bulu matanya bahkan tidak kacau.

Aku mendekat ke ranjang. Para pendeta hendak mencegah, tapi Lucien mengangkat tangan.

“Biarkan.”

Aku berdiri di samping Seraphina. “Saintess.”

Tidak ada reaksi.

Aku mencondongkan tubuh. “Kalau Anda benar-benar pingsan, saya akan bicara jujur.”

Diam.

“Rambut Anda hari ini agak miring.”

Jari Seraphina bergerak sedikit.

Aku hampir tersenyum.

Mira menutup mulutnya agar tidak tertawa.

Aku melanjutkan dengan suara lembut, “Dan Putra Mahkota tadi terlihat sangat khawatir. Sayang, Duke North tetap lebih tenang dan tampan.”

Mata Seraphina terbuka sepersekian detik.

Lucien melihat.

Cassian mengangkat alis.

Aku mundur satu langkah dengan senyum sopan. “Syukurlah, Saintess sudah mulai sadar.”

Seraphina membuka mata sepenuhnya, wajahnya masih pura-pura lemah. “Lady Evangeline... mengapa kau di sini?”

“Dipanggil, seperti biasanya. Rupanya setiap kali Anda pingsan, saya harus hadir seperti dokter pribadi dengan reputasi kriminal.”

Seraphina tersenyum sedih. “Aku tidak pernah menuduhmu.”

“Benar. Anda hanya pingsan di waktu yang sangat mendukung orang lain menuduh saya.”

Ruangan hening.

Lucien menatap Seraphina. “Kau sempat sadar saat Evangeline bicara?”

Seraphina terdiam. “Aku... samar-samar.”

“Cukup sadar untuk marah soal rambut?” tanyaku polos.

Mira tersedak batuk.

Seraphina menatapku. Senyumnya manis, tapi matanya tidak.

“Lady Evangeline, aku tahu kau marah karena orang-orang salah paham padamu. Tapi jangan jadikan aku musuh.”

Aku mendekat sedikit. “Saya tidak menjadikan siapa pun musuh, Saintess. Saya hanya menunggu mereka memperkenalkan diri.”

Cassian menyesap teh dari entah mana.

Aku benar-benar perlu tahu asal teh itu.

Tiba-tiba seorang pelayan masuk terburu-buru. “Yang Mulia! Ada keributan di luar paviliun. Rakyat berkumpul. Mereka mendengar Saintess pingsan dan meminta Lady Evangeline dihukum!”

Ah.

Tentu saja.

Seraphina menutup mata dengan wajah terluka. “Tolong jangan salahkan mereka. Mereka hanya mencintaiku.”

Aku menatapnya. Gadis ini luar biasa. Dia bisa pingsan, bangun, dan tetap memasarkan diri.

Lucien tampak bingung. Cassian menatapku seolah menunggu langkahku.

Aku tersenyum.

“Kalau rakyat berkumpul, lebih baik saya menemui mereka.”

Mira langsung pucat. “Nona, rakyat sedang marah.”

“Bagus. Kita beri mereka cerita baru.”

Aku keluar ke balkon paviliun. Di bawah sana, puluhan rakyat berdiri sambil berseru. Beberapa membawa bunga untuk Saintess. Beberapa membawa poster kecil bertuliskan “Hukum Villainess”. Kreativitas massa benar-benar mengagumkan.

Aku mengangkat tangan.

Kerumunan perlahan diam.

“Saya Lady Evangeline Arvella,” kataku lantang. “Saya tahu banyak dari kalian percaya saya bersalah. Sejujurnya, kalau saya membaca rumor tentang diri saya sendiri, saya juga mungkin akan kesal.”

Beberapa orang tampak bingung.

“Namun mulai hari ini, saya meminta satu hal. Jangan percaya rumor hanya karena ia terdengar indah. Racun bisa disembunyikan di gelas emas. Kebohongan bisa dibungkus dengan air mata.”

Bisikan mulai terdengar.

Aku melanjutkan, “Saya tidak meminta kalian menyukai saya. Reputasi saya bahkan mungkin sudah terlambat untuk diselamatkan tanpa mukjizat. Tapi saya meminta kalian menunggu bukti.”

Di belakangku, Mira berbisik keras, “Nona terdengar sangat bijaksana. Hamba merinding sampai ingin hidup dua kali.”

Aku hampir kehilangan fokus.

Seorang wanita dari kerumunan berteriak, “Kalau kau tidak bersalah, buktikan!”

Aku tersenyum. “Saya sedang melakukannya.”

Lalu aku mengangkat saputangan Seraphina yang sudah dimasukkan ke kantong bukti.

“Dan ketika pelakunya ditemukan, saya akan memastikan orang itu meminta maaf pada seluruh kerajaan karena membuat kita semua menonton drama murahan ini.”

Hening.

Lalu seseorang di belakang kerumunan tertawa kecil.

Kemudian beberapa orang lain ikut tertawa.

Tidak banyak. Tapi cukup untuk memecah amarah.

Saat aku kembali masuk, Seraphina menatapku dengan wajah yang masih lembut, tetapi tangannya mencengkeram selimut erat.

Aku tahu satu hal.

Dia tidak senang.

Dan itu membuat hariku sedikit lebih baik.

Tapi sebelum aku bisa menikmati kemenangan kecil itu, seorang pengawal berlari masuk.

“Yang Mulia! Lord Blackwell ditemukan tidak sadarkan diri di ruang tahanan.”

Lucien berubah pucat. “Apa?”

Pengawal itu menelan ludah.

“Di dinding ruang tahanannya tertulis dengan darah: Pengkhianat tidak boleh bicara.”

Aku menutup mata.

Baiklah.

Rupanya permainan ini punya penulis yang sama-sama suka cliffhanger.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!