Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung malas di pucuk-pucuk pohon raksasa yang memagari Area Latihan Nomor Empat Puluh Empat. Tempat itu lebih dikenal dengan nama yang membuat bulu kuduk bergidik: Hutan Kematian. Sebuah kawasan hutan purba yang dikelilingi oleh pagar kawat berduri setinggi sepuluh meter, lengkap dengan gembok-gembok besi berkarat dan papan peringatan bertuliskan tanda bahaya yang sangat mencolok.
Ratusan Genin yang kemarin berhasil lolos dari siksaan mental Ibiki, kini berdiri berkerumun di depan gerbang utama. Angin pagi yang berembus dari dalam hutan membawa aroma yang tidak biasa—perpaduan antara bau lumut basah, pembusukan alami, dan samar-samar aroma besi yang khas dari darah kering. Beberapa ninja dari desa kecil tampak merapatkan jaket mereka, merinding bukan karena dingin, melainkan karena atmosfer pekat yang dipancarkan oleh hutan raksasa itu.
Anko Mitarashi berdiri di atas sebuah panggung kayu darurat di depan pagar pembatas. Di sampingnya, beberapa Chunin pengawas memegang tumpukan lembaran kertas tebal. Anko mengunyah dango terakhirnya dengan santai, lalu melempar tusuk bambunya hingga menancap sempurna di batang pohon terdekat.
"Selamat pagi, para kelinci percobaan yang manis!" Anko berteriak, senyum liarnya mengembang luas, memperlihatkan deretan giginya yang rapi namun memancarkan aura kegilaan. "Sebelum kita mulai, ada satu prosedur kecil yang harus kalian lakukan. Semua orang wajib menandatangani lembar persetujuan ini."
Dia mengangkat selembar kertas tinggi-tinggi agar semua peserta bisa melihatnya.
"Lembar persetujuan apa itu, Pengawas?" tanya seorang ninja dari Amegakure dengan nada curiga dari balik masker gasnya.
"Oh, ini hanya formulir sederhana," Anko terkekeh, suaranya terdengar sangat renyah namun isinya membuat beberapa orang menelan ludah. "Ini adalah surat pernyataan bahwa jika kalian mati, cacat, atau dimakan oleh monster di dalam hutan ini, pihak Konoha tidak akan bertanggung jawab dalam bentuk apa pun. Singkatnya, ini adalah surat perjanjian nyawa. Jika kalian tidak menandatanganinya, kalian tidak boleh masuk. Adil, bukan?"
"Mati?!" Naruto di barisan depan langsung berteriak dengan mata membelalak komikal. "Pantas saja tempat ini dinamakan Hutan Kematian, tahu!"
Di barisan Tim Guy, Lee berdiri dengan posisi tegak, kedua tangannya terlipat di depan dada. Jubah hijau ketatnya bergerak sedikit ditiup angin pagi. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah kanopi hutan yang tampak begitu gelap meskipun matahari sudah mulai meninggi. Di dalam benak Reymond, ada rasa takjub yang mendalam. Melihat Hutan Kematian di layar kaca sangat berbeda dengan berdiri langsung di depan gerbangnya. Tekanan kehidupan liar di tempat ini benar-benar terasa nyata dan berbahaya.
"Lee," Tenten mendekat, menyodorkan pena bulu ayam yang baru saja dia ambil dari pengawas. Wajahnya tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. "Ini... tanda tangani. Aku tidak tahu kenapa, tapi firasatku agak buruk tentang ujian kali ini. Kamu lihat tim dari Sunagakure di sebelah sana?"
Lee menoleh ke arah yang ditunjuk Tenten. Di sudut yang agak terisolasi, Gaara berdiri diam dengan gentong pasirnya, tatapan matanya yang kosong menatap ke arah kerumunan seolah-olah dia sedang memilih mangsa untuk makan malamnya. Kankuro dan Temari berdiri di dekatnya dengan ekspresi kaku, tidak berani mengajak adik mereka berbicara.
"Terima kasih, Tenten," Lee mengambil pena itu dan menorehkan tanda tangannya dengan goresan yang sangat tegas dan mantap. Tidak ada keraguan sedikit pun di jemarinya. Dia mengembalikan pena itu pada Tenten sambil tersenyum hangat. "Jangan khawatir. Selama kita tetap bersama dan menjaga komunikasi, tidak ada satu pun monster di hutan ini yang bisa menyentuh kita. Percayalah pada latihan kita selama satu tahun ini."
Neji melangkah maju setelah menyelesaikan tanda tangannya. Dia memandang Lee dengan mata putih susunya yang dingin. "Kamu terlalu percaya diri, Lee. Hutan ini tidak hanya berisi hewan buas. Musuh terbesar kita adalah manusia. Di dalam sana, tidak ada aturan. Pembunuhan adalah hal yang legal."
"Justru karena tidak ada aturan itulah, Neji," Lee membalas tatapan Neji dengan ketenangan yang setara, "kita bisa melihat siapa yang benar-benar kuat, dan siapa yang hanya berlindung di balik nama besar klannya."
Neji mengernyitkan dahi, merasakan sindiran halus dalam kalimat Lee. Sebelum dia sempat membalas, suara Anko kembali menggelegar, mengalihkan perhatian semua orang.
"Baiklah! Karena semua surat sudah dikumpulkan, sekarang perhatikan mekanisme ujiannya!" Anko mengangkat dua buah gulungan besar yang memiliki warna berbeda. Satu berwarna putih dengan kanji 'Ten' (Langit), dan satu lagi berwarna cokelat dengan kanji 'Chi' (Bumi).
"Total ada dua puluh enam tim yang ikut. Tiga belas tim akan mendapatkan Gulungan Langit, dan tiga belas tim lainnya akan mendapatkan Gulungan Bumi. Tugas kalian sangat sederhana namun brutal: rebut gulungan yang berbeda dari tim lain. Sebuah tim dinyatakan lulus jika mereka berhasil membawa sepasang Gulungan Langit dan Bumi ke menara pusat yang terletak di tengah hutan dalam waktu lima hari!"
"Lima hari?!" Tenten terkejut. "Bagaimana dengan masalah makanan dan air?"
"Hutan itu kaya akan sumber daya," Anko menyeringai sadis. "Ada banyak buah beracun, sungai yang dipenuhi lintah penghisap chakra, dan harimau raksasa yang kelaparan. Cari makan sendiri, atau jadilah makanan mereka! Oh ya, satu aturan tambahan yang sangat mutlak: jangan pernah membuka gulungan ini sebelum kalian sampai di dalam menara. Jika ada yang nekat membukanya di tengah jalan... kalian akan tahu sendiri akibatnya."
Beberapa Chunin pengawas mulai memanggil perwakilan tim satu per satu ke dalam tenda tertutup untuk membagikan gulungan secara rahasia. Ini dilakukan agar tidak ada tim yang tahu sejak awal siapa pemegang gulungan yang mereka butuhkan.
"Tim Sembilan! Silakan masuk!" seorang pengawas berteriak.
Neji melangkah memimpin jalan, diikuti oleh Lee dan Tenten. Di dalam tenda, mereka diserahkan sebuah gulungan sutra tebal berwarna putih—Gulungan Langit. Setelah menerima gulungan itu, mereka langsung diarahkan menuju Gerbang Nomor Dua Puluh, salah satu dari puluhan pintu masuk yang mengitari Hutan Kematian.
Mereka berdiri di depan pintu besi raksasa yang masih terkunci. Seorang Chunin pengawas memegang rantai gemboknya, siap untuk membukanya begitu jam digital di tangannya menunjukkan waktu yang tepat.
"Waktu tersisa tiga puluh detik," kata pengawas itu dengan nada dingin.
Lee memejamkan matanya sejenak, memfokuskan pikirannya. Dia bisa merasakan pusaran chakra di dalam tubuhnya mengalir dengan sangat lancar. Di dalam hatinya, Reymond berbisik, Hutan Kematian... tempat di mana Orochimaru akan menyusup untuk memberikan segel gaib pada Sasuke. Tempat di mana pertumpahan darah pertama dimulai. Aku harus memastikan bahwa timku bergerak dengan efisiensi maksimum.
"Sepuluh detik... lima... empat... tiga... dua... satu... GERBANG DIBUKA!"
KRAAAK!
Gembok besi itu terbuka, dan pintu raksasa itu bergeser ke samping dengan suara derit yang memekakkan telinga.
"Ayo!" Neji berteriak, tubuhnya melesat maju menjadi yang pertama menembus kegelapan kanopi Hutan Kematian.
Lee dan Tenten langsung mengikuti dari belakang, melompat dari satu dahan pohon raksasa ke dahan pohon lainnya dengan kelincahan yang luar biasa. Tirai babak kedua telah resmi dibuka, dan udara di dalam hutan itu langsung menyambut mereka dengan keheningan yang mematikan.