Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. ( Posisi Mematikan )
"Akhirnya pulang ke rumah juga!" seru Andrea sambil merentangkan kedua tangan begitu masuk ke dalam kamar. "Kasur dan gulingku, aku sangat merindukan kalian. Ayo kita berpelukan."
Sambil tertawa lepas, Andrea melompat ke atas kasur lalu menggerakkan badan seperti kupu-kupu. Tiga hari berada di rumah sakit membuatnya kebosanan setengah mati. Padahal tubuhnya sudah baik-baik saja sejak sehari dirawat, tapi sikap arogan Lucien membuatnya tetap tertahan di sana.
"Dasar bocah. Badan sudah sebesar itu masih saja memeluk guling."
Andrea menoleh. Uforianya seketika terhenti begitu melihat siapa yang sedang berdiri menyender di pintu.
"Apa?" ejek Lucien saat Andrea menatapnya galak.
(Harusnya aku yang dipeluk, bukan malah bantal dan guling busuk itu. Kan aku yang berkorban uang banyak demi membuatmu sehat kembali, kenapa yang dapat reward malah mereka? Tidak adil)
"Bos, kau memang paling pintar merusak suasana. Memangnya kenapa kalau aku memeluk guling? Guling-gulingku, kenapa kau sewot?" protes Andrea sinis. Apalagi kali ini. Bahkan guling pun tak luput dari mulut tajam bosnya.
"Siapa yang sewot. Aku cuma bicara sesuai fakta yang terjadi."
"Halah alasan saja kau. Pantas jadi pemimpin perusahaan, mulutmu sangat lihai berkilah."
"Tak cukup kalau cuma pandai berkilah, An. Seorang pemimpin juga harus memiliki kesempurnaan fisik karena itu bisa menunjang kesuksesan dalam berkarir. Lihat saja aku. Tampan, berkarisma dan kaya raya. Tentu saja sangat pantas menjadi pemimpin dan pengusaha muda yang sukses."
Usai menyombongkan diri, Lucien meng*lum senyum. Betapa hebat dirinya, rugi jika Andrea tak meliriknya. Dia yakin betul fakta yang dimiliknya akan membuat Andrea semakin tergila-gila. Tampan, mapan, pokoknya Lucien sempurna dari segala sisi.
"Ngomong-ngomong kapan kau mau pergi dari sini, bos?" tanya Andrea berusaha menahan mual yang bergejolak. Lagi-lagi dia disuguhi pengakuan narsistik dari bosnya. Ingin menyangkal pengakuannya, tapi dari orang inilah dia menerima gaji. Jadi dengan sangat terpaksa Andrea harus membiasakan diri dengan rasa mual ketika bosnya mulai narsis. "Tiga hari cuma berbaring di ranjang rumah sakit membuat sekujur tubuhku jadi sakit. Aku ingin dipijit."
(W-WHAATTT!!! Dia memintaku untuk memijitnya? Astaga. Baiknya dimulai dari bagian mana dulu ya?)
"Eh, kau mau apa?" tanya Andrea kaget saat Lucien tiba-tiba berjalan cepat menuju ranjang lalu duduk di sampingnya.
"Bukankah kau bilang ingin dipijit?" sahut Lucien balik bertanya.
"Iya aku memang ingin dipijit, tapi apa hubungannya dengan kau duduk di kasurku?"
Lucien mengerutkan kening. Andrea ini bagaimana sih. Tadi bilang ingin dipijit, giliran dia mendekat reaksinya malah seperti ini. Aneh.
"Tunggu-tunggu. Jangan bilang kau mengira aku memintamu untuk memijitku. Apa benar?"
"Bukannya memang begitu ya?" Tampang Lucien polos. Dia jadi bingung sendiri sekarang.
"Astaga, Lucien."
Antara kesal dan juga tergelitik, Andrea membenamkan wajah ke atas bantal lalu tertawa terbahak-bahak. Dia tak menyangka kalau bosnya punya pemikiran seperti itu.
"Hahahhaha! Hahahhaa!"
"An, kau kenapa? Kerasukan hantu rumah sakit apa bagaimana?" panik Lucien melihat tubuh Andrea berguncang cepat sambil tertawa seperti kuntilanak. Tengkuknya merinding.
"Bos, astaga. Hahaha, Ya Tuhan," ....
Tak bisa mengontrol tawa, Andrea berguling ke sana kemari hingga tak sadar menendang Lucien. Sungguh, dia merasa sangat konyol dengan reaksi bosnya.
"Oke, astaga. Hahahaha," Andrea lanjut tertawa saat terbayang wajah bosnya barusan.
"Sudah cukup. Hentikan!"
Kesal, Lucien reflek menarik pinggang Andrea agar berhenti bergerak. Niat hati ingin membuatnya berhenti tertawa, Lucien terkejut ketika tubuhnya tertarik ke depan saat Andrea berjengit karena kaget dengan sentuhannya di pinggang. Alhasil, Lucien jatuh terlentang dengan posisi Andrea berbaring di atasnya.
Glukkk
Hening. Tak ada lagi tawa yang membahana di dalam kamar. Baik Andrea maupun Lucien, keduanya sama-sama membeku, syok atas apa yang sedang terjadi. Saling tindih dengan posisi sama-sama terlentang, Andrea bisa merasakan jelas di bawah bokong ada pergerakan aneh di mana ada semacam tongkat yang semakin membesar.
(Ini apa ya?)
"K-k-kau mau sampai kapan tidur di atasku?" tanya Lucien gugup setengah mati. Posisi mematikan. Juniornya langsung menegang, siap dengan posisi tempur paling menantang.
"Bos?"
"Apa?"
"Sepertinya ada binatang didalam celanamu. Gerakannya aneh dan terus membesar. Kau diam-diam beternak ular ya?" Andrea bergidik ngeri. Takut dipatuk, cepat-cepat dia berguling ke samping lalu reflek memperhatikan celana bosnya. Ada gundukan di sana. "Tapi kenapa rasanya tak asing dengan benda ini? Aku ....
"DIAM!!"
Nenek Erwita yang berada di ruang tamu berjengit kaget saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Khawatir terjadi perkelahian, dia memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Jangan sampai cucunya itu membuat masalah lagi.
"Cepat menjauh dariku, An. Ini bahaya!" usir Lucien lalu merebut selimut dari tangan Andrea. Setelah itu dia menutupi juniornya yang sudah mengacung tegak di balik celana. Salah tingkah, dia berdehem lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Wajahnya? Merahnya tomat pun kalah. "Kau itu perempuan. Harusnya bisa menjaga sikap dan ucapan. Bagaimana sih!"
"Lho, kok jadi aku yang salah? Yang di dalam celanamu kan bukan aku yang memasukkan, kenapa malah ....
Krik krikk kriikk
Mata Andrea membelalak lebar begitu dia menyadari binatang aneh di dalam celana Lucien. Seketika wajahnya memerah seperti piring rebus. Malu, dia berbalik memunggungi Lucien lalu menggigit jari.
"Sial. Kenapa aku bisa lupa kalau dia itu laki-laki normal. Harusnya aku tidak asing dengan perubahan ukuran burungnya. Ya ampun, Andrea. Sebenarnya kau simpan di mana otakmu itu."
Pintu kamar yang terbuka membuat Nenek Erwita melihat langsung keanehan yang terjadi antara dua orang yang tengah duduk di ranjang. Sama-sama membelakangi dengan wajah memerah, Nenek Erwita jadi penasaran.
"Wajah kalian kenapa merah sekali? Kalian bertengkar ya?"
"Tidak." Andrea dan Lucien kompak menjawab. Setelah itu mereka kembali saling memunggungi setelah tak sengaja saling menatap.
"Haihh, sikap kalian menunjukkan bahwa memang telah terjadi pertengkaran. Kali ini apa sebabnya?" cecar Nenek Erwita sembari menggelengkan kepala.
"Tanya saja pada orang mesum ini," sahut Andrea cemberut. Mana mungkin di depan neneknya dia membahas soal burung Lucien yang tiba-tiba bangun. Memalukan.
"Enak saja. Kau penyebabnya, jadi kau yang harus menjelaskan," sahut Lucien enggan mengalah. Gila apa. Hal sevulgar ini masa iya harus dibahas di depan orang tua. Dia masih waras ya.
Dengan tatapan tajam, Andrea berbalik lalu menatap Lucien sengit. Nafasnya menderu, tak terima diminta untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sambil menekan suaranya agar tetap kecil, dia mencubit punggung Lucien.
"Burung itu peliharaanmu, bos. Tidak mungkin aku menjelaskannya pada Nenek. Kau saja yang bicara."
"Sudah tahu aku punya burung peliharaan, kau malah sembarangan bergerak. Sekarang dia bangun, kau mana boleh menyalahkan aku."
"Lantas bagaimana cara penyelesaiannya? Nenekku masih menunggu penjelasan dari kita."
"Aku mana tahu, An."
"Kau ini ya,"
Saat Lucien dan Andrea masih adu debat, Nenek Erwita sudah lebih dulu pergi dari depan pintu kamar. Urusan anak muda, begitu pikirnya. Jadi dia tak terlalu ingin mendengar penyebab kenapa wajah kedua orang itu memerah.
"Ekhhmm, jadi begini Nek. Tadi aku dan .... hah, nenekku pergi ke mana?" ucap Andrea cengo saat tak menemukan siapapun di depan pintu.
"Matilah kau, An. Nenekmu marah. Dia pasti salah paham pada kita," seloroh Lucien sambil menahan senyum. Baguslah kalau neneknya Andrea salah paham. Orang tua itu lumayan peka, siapa tahu nanti bisa membantu gadis ini agar segera mengungkapkan perasaan kepadanya.
"Sudah tahu begini kau masih bisa tersenyum? Yakk Lucien, apa sebenarnya rencanamu? Jangan-jangan tadi kau sengaja berbuat mesum karena merasa Nenek ada di pihakmu. Apa benar begitu?!"
Tergagap, Lucien melompat turun dari kasur lalu pergi melarikan diri. Takut tertangkap dan dihukum oleh Andrea, dia langsung tancap gas menuju mobil tanpa sempat pamit pada Nenek Erwita yang kala itu sedang duduk di ruang tamu.
"Anak muda zaman sekarang ada saja tingkahnya. Ada orang tua di sini malah pergi begitu saja seusai bersenang-senang. Hmmm,"
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂