NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Bareng

Sepanjang jalan menyusuri koridor dari kelas menuju gerbang depan, Sephia terus-menerus menggerutu pelan di belakang punggung Alan. Matanya menatap tajam tas ransel hitam milik Alan, tempat di mana kotak cokelat berharga dari Jepang miliknya disita sepihak.

​"Alan, balikin gak? Itu punya gue, tahu! Licik banget sih lo jadi cowok," bisik Sephia sengit, berusaha menahan suaranya agar tidak memancing perhatian murid-murid lain yang juga sedang berjalan pulang.

​Alan sama sekali tidak menoleh. Dia tetap melangkah santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana abu-abunya. "Gak. Kan tadi gue udah bilang, ini jaminan."

​"Jaminan apaan? Emang gue mau kabur ke mana coba?!"

​"Ke cowok itu," jawab Alan singkat, lempeng, dan terdengar sangat ketus.

​Sephia langsung bungkam. Kalimat Alan barusan sukses bikin lidahnya mendadak kelu, ditambah lagi jantungnya mulai berulah memompa darah lebih cepat. Nih anak... beneran cemburu apa gimana sih? Gak jelas banget, batin Sephia menahan salting.

​Begitu mereka berdua melangkah melewati lapangan depan dan mendekati pos satpam di dekat gerbang sekolah, langkah Sephia otomatis melambat. Di sana, bersandar santai di dekat tiang pagar, sosok tegap Sagara sudah berdiri menunggu. Cowok kelas 12 itu sedang tersenyum ramah melayani sapaan beberapa siswi yang lewat, tapi begitu matanya menangkap siluet Sephia, senyumnya langsung mengembang lebih lebar.

​"Sephia!" panggil Sagara mengudara, melambaikan tangannya santai.

​Namun, senyum Sagara perlahan menyusut begitu dia melihat siapa yang berjalan di samping Sephia. Alan. Dan yang bikin suasana mendadak tegang adalah jarak berjalan Alan dan Sephia yang kelewat mepet, hampir tidak ada jarak.

​Alan menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan Sagara. Dia menatap kakak kelasnya itu dengan pandangan datar yang super dingin, persis seperti kulkas dua pintu yang siap membekukan siapa saja.

​Sagara menegakkan badannya, melangkah maju mendekati mereka berdua. Posisinya sekarang membuat Sephia berada tepat di tengah-tengah dua cowok jangkung berpostur atletis ini. Suasana di sekitar gerbang yang tadinya bising oleh suara knalpot motor dan obrolan murid, mendadak terasa sunyi senyap bagi Sephia. Beberapa murid yang menyadari ketegangan ini bahkan sengaja memperlambat langkah mereka demi menonton drama segar secara gratis.

​"Lama banget keluarnya, Pia? Tadi aku nungguin kamu di sini," ucap Sagara lembut, mengabaikan eksistensi Alan di samping Sephia. Tangannya terulur, berniat mengacak rambut Sephia seperti biasa.

​Set!

​Belum sempat telapak tangan Sagara menyentuh pucuk kepala Sephia, Alan dengan gerakan cepat langsung menarik bahu Sephia mundur satu langkah, menyembunyikan tubuh mungil cewek itu di balik lengan tegapnya. Tangan Sagara menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya turun kembali ke samping tubuhnya.

​Mata Sagara langsung menyipit tajam. Kilat ramah di wajahnya menguap, digantikan ekspresi serius seorang senior yang merasa wilayahnya diusik. "Maksud lo apa ya?" tanya Sagara dengan nada suara yang turun satu oktav, menatap Alan lekat-lekat.

​Alan tidak mundur sedikit pun. Dia membalas tatapan Sagara dengan binar menantang yang tenang namun mengintimidasi. "Gak usah pegang-pegang. Dia ada urusan sama gue."

Melihat tensi di antara kedua cowok jangkung ini mendadak terasa tegang dan menjadi pusat perhatian murid-murid di gerbang, Sephia langsung panik. Dia gak mau besok namanya makin viral di akun gosip sekolah. Mengambil napas dalam-dalam, Sephia langsung melangkah maju, memotong jarak di antara Alan dan Sagara.

​"E-eh... bentar, bentar! Gak usah tegang gini dong," potong Sephia sambil menyengir canggung, tangannya refleks bergerak menenangkan keadaan.

​Dia menoleh ke arah Sagara dulu. "Kak Saga, kenalin, ini Alan. Dia anak baru di kelas Pia, kebetulan rumahnya juga di kompleks kita, beda tiga rumah dari rumah Pia."

​Sagara menatap Alan sekilas, lalu mengangguk tipis dengan senyum ramah yang agak dipaksakan. "Sagara."

​Sephia beralih menatap Alan yang masih memasang muka tembok tanpa dosa. Sephia menyenggol lengan Alan sedikit kencang dengan sikutnya. "Alan, ini Kak Saga. Kakak kelas kita, sekaligus tetangga depan rumah gue dari orok."

​Alan cuma melirik Sagara dengan dingin, lalu mengeluarkan gumaman pendek yang kelewat irit. "Alan."

​Merasa perkenalan kilat itu sudah cukup, Sephia langsung menjentikkan jarinya, mencoba mengeluarkan ide solutif. "Nah, karena kita semua searah, rumahnya di kompleks yang sama, dan sama-sama mau pulang... gimana kalau kita pulang bareng aja bertiga? Jalan kaki kan seru, makin rame makin asyik!"

​Sagara sempat tertegun, tapi sedetik kemudian senyum hangatnya kembali terbit. "Boleh. Lagian udah lama juga kita gak jalan sore bareng semenjak aku ke Jepang, Pia."

​Sementara di sebelah Sephia, Alan langsung mendengus pelan, menatap Sephia dengan pandangan tidak suka. Tapi karena Sephia sudah berjalan duluan di tengah—memisahkan Alan di sebelah kiri dan Sagara di sebelah kanan—Alan mau tidak mau terpaksa mengikuti langkah mereka.

​Sepanjang perjalanan menyusuri trotoar kompleks yang teduh, suasana canggung yang luar biasa sebenarnya menyelimuti mereka. Tapi dasar Sephia orangnya aslinya cerewet dan sudah kangen berat sama Sagara, dia malah mengabaikan atmosfer mistis di sebelah kirinya.

​"Ih, Kak Saga beneran ya? Berarti di Jepang kemarin pas musim dingin Kakak beneran main salju sampai beku?" tanya Sephia antusias, matanya berbinar-binar menatap Sagara.

​Sagara tertawa renyah, tangannya refleks terulur mengacak pucuk kepala Sephia—membuat cowok di sebelah kiri Sephia langsung menoleh dengan tatapan menusuk. "Iya, Pia. Malah pas hari pertama salju turun, hidung aku sampai merah banget kayak badut. Nanti malam aku tunjukin fotonya dari balkon deh."

​"Wah, mau liat dong! Jangan lupa ya Kak, ntar malem teriak aja kalau udah siap!" seru Sephia heboh sambil tertawa lepas.

​Selama perjalanan itu, Sephia dan Sagara asyik melempar candaan lawas mereka, sesekali bernostalgia tentang masa kecil mereka di kompleks. Sephia benar-benar merasa nyaman, sampai dia melupakan satu hal: Alan.

​Di sebelah kiri Sephia, Alan berjalan dalam keheningan yang super mencekam. Pandangannya lurus ke depan, tapi telinganya panas mendengar setiap tawa lepas Sephia. Rahangnya mengeras setiap kali melihat Sagara memperlakukan Sephia dengan kelewat akrab.

​Alan mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana. Bisa-bisanya dia sedekat itu sama cowok lain. Sama gue aja mukanya selalu cemberut atau galak, tapi di depan cowok ini... dia ketawa terus dari tadi, batin Alan, ada rasa dongkol dan cemburu yang campur aduk di dadanya.

​Setiap kali Sagara mencoba mengajak Alan mengobrol untuk sekadar basa-basi, Alan cuma merespons dengan jawaban super pendek dan dingin seperti, "Iya," "Nggak," atau "Terserah." Bener-bener kayak kulkas dua pintu yang sedang berjalan.

​Tanpa terasa, langkah kaki mereka akhirnya tiba di depan pagar rumah nomor empat—rumah Alan.

​Alan menghentikan langkahnya mendadak, membuat Sephia dan Sagara ikut berhenti. Alan menatap Sephia lekat-lekat dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu melirik tas ranselnya sendiri, tempat di mana cokelat Jepang milik Sephia masih dia sita.

​"Gue duluan," ucap Alan pendek, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

​"Oh, oke. Bye, Alan!" sahut Sephia tanpa curiga, berniat lanjut berjalan bareng Sagara menuju rumah mereka yang tinggal beberapa meter lagi.

​Namun, sebelum berbalik masuk ke halaman rumahnya, Alan sengaja mendekatkan wajahnya ke arah telinga Sephia, berbisik pelan namun penuh penekanan yang sukses bikin bulu kuduk Sephia merinding.

​"Inget, Pia. Cicilan hari ini emang lunas karena lo pulang bareng gue. Tapi cokelat lo... masih ada di gue. Jangan harap lo bisa makan cokelat itu bareng cowok lain malam ini."

​Setelah membisikkan kalimat posesif itu, Alan langsung berbalik dan berjalan masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi, meninggalkan Sephia yang langsung matung di tempat dengan muka yang mendadak merah padam dan jantung yang kembali berdegup gak karuan.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!