Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13.
Salindra turun dari motor Arya kemudian berjalan masuk setelah mengucapkan terimakasih. Baru saja Arya keluar dari area perusahaan, Haikal turun dari mobil melihat motor Arya, merasa heran. Haikal melihat ke arah pintu. Namun tidak melihat seseorang masuk di sana dan ingin menghentikan, tapi Arya sangat cepat menghilang. Ia pun memutuskan berjalan masuk ke perusahaan.
Semalam suntuk Haikal tidak tidur, setelah menangkap orang yang sudah mencuri dokumen penting dan mengambil beberapa uang di bagian administrasi. Sekarang orang itu masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian.
Saat melintas di depan ruangan Salindra, ada yang ingin ia tanyakan kepada Salindra tentang semalam, berhubung waktu bekerja ia mengurungkan keinginannya dan berjalan masuk ke ruangannya.
Asisten Rayan melihat bosnya masuk dengan wajah lesu dan mata panda, merasa heran. Tidak biasanya bosnya nampak tidak bersemangat, ia menutup laporan yang sedang dibaca.
"Sepertinya semalam begadangnya berhasil membuat wajah Direktur terlihat sangat lelah, ada kerjaan baru, Pak?" tanya Asisten Rayan menyelidik.
Haikal duduk menyenderkan punggungnya yang terasa lelah dan kurang tidur, ia menguap sambil menutup mulutnya, sejenak memejamkan mata.
"Ada penyusup malam-malam di kantor," sahut Haikal memijat kepalanya.
Asisten mengerutkan alisnya mendengar jawaban Haikal, sambil duduk di seberang dengan rasa penasaran. "Siapa orangnya terus apakah sudah tertangkap ?"
Haikal menegakkan punggungnya mengambil minuman dan meneguknya. "Dedi... Sedang dalam proses penyelidikan,"
Asisten mengingat kejadian dua tahun lalu sambil berpikir keras. "Lalu, apa yang diambil?"
“Dokumen yang isinya tentang data klien dan beberapa uang cash kurang lebih lima ratus juta rupiah," jawab Haikal.
“Apa...Darimana dia tahu tempat menaruh dokumen dan uang sebanyak itu?" Asisten Rayan terkejut mendengarnya.
"Bisa saja dia menggeledah semua tempat atau dia sudah merencanakan sejak dulu?" sahut Haikal merasakan kepalanya pusing.
Tok Tok Tok
Asisten Rayan beranjak dari tempat duduk membuka pintu. Terlihat Salindra dengan senyum tipis tapi terkesan cuek. Asisten Rayan mempersilahkan Salindra masuk.
"Maaf, Pak Haikal. Ini dokumen milik Bapak, ada di ruangan saya," Salindra menyerahkan dokumen kepada Haikal.
Dua pria saling pandang tidak paham mengenai dokumen tersebut. Haikal langsung membuka dan membaca dokumen tersebut. Lalu, melihat Salindra lekat dan menutup dokumen.
"Bagaiamana bisa ada di ruangan kamu?" tanya Haikal merasa heran.
"Saya tidak tahu apapun mengenai dokumen tersebut. Tadi waktu saya sedang beberes ruangan, melihat warna map-nya berbeda dari yang lain kemudian saya ambil, maaf jika saya lancang sudah membaca isi dokumen tersebut. Saya jadi teringat kejadian semalam," jelas Salindra dengan perasaan takut dan gelisah.
Haikal senang melihat dokumen itu ternyata aman. "Lalu, dokumen yang dibawa orang itu dokumen apa?“ batinnya heran.
Ponsel Haikal berdering sebuah nomor dari kepolisian menghubunginya, langsung diangkat.
“Bagaimana, Pak?" tanya Haikal.
Sekitar sepuluh menit Haikal berbicara dengan pihak berwajib sambil melirik Asistennya dan Sekretarisnya bergantian kemudian mematikan panggilan telepon.
"Ternyata ada orang lain yang terlibat tapi dia tidak mau mengatakan siapa orang tersebut," kata Haikal sambil menahan amarah.
"Mungkin dia balas dendam kepada anda. Karena anda tidak memberi pesangon," tebak Asisten Rayan mengingat saat Haikal memecat Dedi seorang mantan staf divisi pemasaran.
Haikal mengingat dua tahun lalu saat akan memecat Dedi karena sudah melakukan kecurangan dan secara sembunyi bekerjasama dengan orang luar. Ia sangat murka waktu itu dan langsung memberhentikan Dedi tanpa belas kasihan.
Bukannya kapok Dedi justru semakin dendam kepada Haikal dan ingin menghancurkan perusahaan itu. Hingga saat ini masih dendam dan bekerjasama dengan klien yang tidak suka dengan berkembangnya perusahaan Haikal.
“Pak Haikal, saya ingin bertanya siapa sekretaris sebelumnya?" tanya Salindra.
Haikal dan Asisten saling pandang, Haikal merasa ada yang menarik perhatiannya mendengar pertanyaan Salindra, ada perasaan yang tersembunyi sejak lama tentang seseorang. Seorang perempuan yang membuatnya jatuh hati sekaligus patah hati di waktu hampir bersamaan.
“Sekretaris Pak Haikal dulu adalah Valeri dan dia berhenti karena ada masalah pribadi yang harus diselesaikan," jawab Asisten Rayan sambil melirik Haikal.
Salindra mengangguk paham, merasa tidak enak hati dan tidak ingin membuat suasana tidak nyaman berpamitan.
"Maaf, saya sudah lancang bertanya tentang mantan sekertaris anda, kalau begitu saya permisi," Salindra beranjak dan keluar dari ruangan.
“Rayan, coba kamu periksa dokumen lainnya siapa tahu ada yang hilang," perintah Haikal.
Assisten Rayan segera memeriksa dokumen penting lainnya. Haikal ikut membantu seperlunya saja. Tiba-tiba Haikal teringat pernah memberikan sebagian saham kepada Valeri mantan kekasihnya, karena mereka dulu pernah berjanji akan menikah dengan Haikal memberikan sebagian saham di perusahaan untuk Valeri.
Haikal menarik napas dalam sambil memijat pelipisnya. Kepalanya berdenyut nyeri, dan baru menyadari kalau pria yang mengambil dokumen itu adalah orang suruhan Valeri karena Valeri menginginkan saham itu. Haikal sangat mencintai Valeri sehingga dengan mudah terpengaruh oleh kata-kata perempuan itu.
Penyesalan itu menghantui pikirannya dan membuatnya hilang konsentrasi. “Sudahlah, percuma di cari gak bakalan ketemu, dokumen itu sudah di tangan pemiliknya,"
Asisten Rayan terdiam lalu menoleh menatap Haikal. Ia tidak paham dengan perkataan bosnya. "Apa maksudnya?"
Haikal menceritakan kisah asmaranya dulu dengan Valeri dan berakhir perpisahan. Asisten Rayan terkejut dan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Haikal sudah dibutakan oleh cinta. Kalau orang sudah cinta berlebih tidak akan lihat siapa dan kondisi orang yang dicintainya.
“Apakah anda akan menuntut, Nona Valeri?" tanya Asisten Rayan.
"Aku tidak bisa menuntut karena saham itu sudah terbukti sah dimata hukum dan tidak bisa diubahu, tapi mengenai perusahaan masih atas nama papa jadi dia tidak bisa mengambil alih," jelas Haikal.
"Saya salut sama anda dan saya ingin memuji tapi setelah mendengar penjelasan anda pujian itu belum sepenuhnya karena anda terlihat bodoh dalam menempatkan hati anda," kata Asisten Rayan.
...----------------...
Menjelang sore Salindra menunggu taksi online yang sudah ia pesan, tapi sayangnya taksinya sedang bermasalah jadi ia urungkan dan memilih naik bus kota. Saat akan berjalan ke arah halte, sebuah motor berhenti di sampingnya.
“Ayo aku antar pulang," ajak pemilik motor tersebut tak lain Arya dengan senyum ramah.
Salindra teringat kejadian kemarin malam, ia merasa sungkan dan hendak menolak tapi Arya tidak mempedulikannya.
"Maaf aku naik bus saja,“ tolak Salindra dengan halus sambil berjalan lebih cepat.
"Tunggu,"
Salindra berhenti lalu menoleh dengan canggung. Arya mengikuti langkah Salindra sambil mematikan mesin motornya
"Apakah aku salah jika mengantarmu pulang, atau kamu sengaja menghindar atau kamu sudah punya kekasih... Aku minta maaf sebelumnya, aku sudah bilang sama kamu di sini jarang ada angkutan umum. Kamu pasti lupa kan! Ayo aku antar⅞ sampai rumah, biar aku tahu dimana rumahmu,“ Arya memberanikan diri meskipun sedikit memaksa.
Salindra merasa tidak enak hati karena semalam sudah membuat Arya repot membawa pulang ke rumah tantenya, harusnya dia membangunkannya dan bertanya rumahnya. Salindra hanya berdecak pelan mendengar perkataan Arya.
"Kamu maksa banget ingin mengantarku pulang, pasti ada maksud tertentu," Salindra merasa curiga. Ia berpikir kalau Arya punya tujuan untuk mendekatinya.
"Yang penting adalah keselamatanmu," sahut Arya.
Akhirnya Salindra nurut perkataan Arya dan naik ke atas motor, Arya menyalakan mesin dan melajukan motornya membelah jalanan sore.