NovelToon NovelToon
I Love You, Cinta

I Love You, Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Beda Usia / Trauma masa lalu
Popularitas:85.5k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?

===

“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”

“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”

“Masa?”

“Mahameru pantang ingkar janji.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Pelajaran

Bab 13

 

Jam 2 pagi, Umar sempat mengecek kondisi Cinta. Malah Eru berniat meminta duplikat kunci kamar Cinta dari resepsionis, untungnya panggilan telepon Umar dijawab. CInta keluar kamar dengan muka karena mengantuk.

“Kamu oke?” tanya Umar dijawab anggukan sambil menguap. “Ya udah lanjut tidur.”

“Bang, saya temenin ya. takut ada apa-apa,” usul Eru.

“Justru ada elo malah ada apa-apa. Masuk Ta, kunci pintunya,” titah Umar lagi.

Pagi ini sesuai jadwal, mereka cek out kemudian menuju lokasi berikutnya Gua Sunyaragi. Hasil shooting lokasi Setu Sedong sudah di up di cloud dan hari ini lanjut editing oleh tim yang berbeda. Kondisi Cinta sudah lebih baik, kalau kata Asep sudah kembali ke habitatnya. Berisik.

“Sehat Cin?” tanya Abil saat mengantri di meja buffet.

“Sehat, aku sehat, meski rekening agak sekar4t.”

“Oh, kalau itu kayaknya keluhan yang merata.” Cinta terkekeh, mengisi piringnya dengan menu sarapan lalu menempati meja di mana Asep berada diikuti oleh Abil.

“Semalam gue mau panggil kyai mau ruqyah elo, nggak boleh sama Bang Umar,” cetus Asep.

“Emangnya aku kesurupan.”

“Diapain sama Eru, cepet banget sembuhnya. Curiga gue.” Asep menyesap kopi lalu menggeleng pelan. Abil fokus dengan sarapannya meski ikut tersenyum dengan perdebatan itu.

“Otak Kang Asep aja yang error. Curiga apaan kali.”

Eru datang, meletakan kunci mobil di atas meja.

“Udah dipindah semua barang?”

“Baru tas saya sama punya Cinta.”

“Astaga, kampreeet bener. Izin mau mindahin barang, gue pikir semuanya. Punya si Cinta doang.”

Cinta menjulurkan lid4hnya mengejek Asep, Eru berlalu menuju buffet mengabaikan mulut Asep yang mengump4t. Pandangan Cinta fokus pada sosok Eru. Jeans dan kaos putih dilapis jacket hitam, sneakers putih yang dipakai sejak berangkat tidak melunturkan penampilannya. Pelayan resto khususnya perempuan mencuri pandang ke arah pria itu, bahkan ada yang terang-terangan menawarkan menu sarapan. Penampilan Eru memang mencolok dengan ketampanannya.

“Ish, ganjen,” gumam Cinta lalu mencibir. Sikap Eru yang cuek bahkan tidak memperlihatkan senyumnya meski ditawarkan minuman langsung ke meja atau menu lain.

“ganteng Ta?”

“Banget,” sahut Cinta. Lalu tersadar karena Asep dan Abil menatapnya. “Apa?”

“Fix, mas Restu dan Mas Yahya harus gigit jari,” ujar Abil.

Eru bergabung kembali, menarik kursi di samping Cinta. Wajahnya lebih ramah bahkan agak tengil menurut Cinta.

“Nambah nggak? mau aku ambilkan lagi?” cecar Eru karena piring CInta sudah kosong. “Atau mau disuapin?”

“Suapin Ru, pake centong nasi noh.” Asep mendadak kesal, karena ulah Eru. Biasanya Cinta selalu tertindas karena candaan mereka, kali ini ada yang melindungi.

“Ish, bolehnya sirik.”

“Bukan sirik, empet gue lihatnya. Receh banget si Eru, tapi si pe4 kayaknya kagak paham. Emang bol0t dia.”

Obrolan dan candaan itu mengalir, tanpa tahu Umar berdiri memandang dari luar resto. Mengingat obrolannya dengan Arief baru saja, melalui telepon.

“Saya nggak tahu ada masalah apa antara Cinta dengan Mahameru, juga situasi di sana. Tau sendiri, ini anak titipan. Ada instruksi untuk memisahkan mereka,” ujar Arif di ujung sana.

“Dipecat?”

“Untuk sementara instruksinya hanya memisahkan bukan pemecatan.”

Umar menghela nafas dan mengusap wajahnya, ia nyaman bekerja dengan Cinta juga Eru meski baru beberapa hari. Entah siapa sosok di belakang Eru, sampai dipedulikan oleh para pejabat perusahaan.

“Cinta atau Eru yang dipindah?”

“Belum tahu, menurutmu?” Kali ini Arief yang bertanya.

“Tidak ada kesalahan dari mereka, bukannya aneh kalau salah satu harus dipindah. Eru punya potensi dan dia sedang semangat menggali kompetensi sebaik mungkin dengan proses ini.”

“Umar, saya sudah ingatkan di awal. Anak ini datang dengan rekomendasi dan pergi pun atas rekomendasi.”

Umar kembali menarik nafas sebelum melangkahkan kakinya memasuki resto. Menghampiri meja di mana anggota timnya berda.

“Bang sarapan dulu, biar kuat menghadapi kenyataan,” tutur Cinta lalu terkekeh sambil menutupi mulutnya karena ditatap Umar.

“Butuh sarapan semen empat roda biar kokoh dan terpercaya,” ujar Umar, sedangkan yang lain tersenyum hanya Eru yang  terkekeh.

“Pondasi paling utama ya bang.”

***

“Nanti siang cari ketoprak ya, katanya asli Cirebon lebih enak,” usul Cinta. Baru meninggalkan hotel menuju lokasi berikutnya, meski tidak jauh kira-kira satu jam berkendara mobil.

“Sarapan aja belum jadi t4i udah ngomongin makan siang.”

“Jorok ih, mulutnya norak,” seru Cinta, tangannya terulur hendak memukul Asep yang fokus mengemudi, tapi ditahan Eru yang langsung menggenggam tangan itu.

“Bukan ketoprak doang, ada empal sama tahu gejrot yang viral banget di medsos,” ungkap Umar.

“Siang kita cari ya bang.”

“Beli Ta. Masa nyari, nggak ada yang buang tuh makanan.”

“Bod0 amat, nggak denger, nggak mau komentar. Anggap aja suara kentut.” Tangannya masih dalam genggaman Eru, tidak ingin Umar dan Asep menyaksikan itu CInta mendelik agar dilepaskan. Eru malah menggeleng membuatnya makin kesal.

“Diam mbak atau mau saya yang buat diem,” bisik Eru. Bisikan dan hembusan nafas di telinga membuatnya bergidik. Saat menoleh pandangan mereka bertemu dengan jarak begitu dekat.

Jantung keduanya berdetak tidak normal , debarannya cukup membuat wajah Cinta merona karena malu. mengalihkan pandangan  keluar jendela sambil mengu-lum senyum. Berharap antara kedua pria di kabin depan itu, tidak melihat Eru menggenggam erat tangannya.

“Emang harus dikasih pelajaran sih,” batin Cinta.

 

1
Rahmawati
nah kan karma dibayar tunai
Iccha Risa
waduh seremm bet kecelakaannya, mungkin ini pantas diterima atas kejahatan pak Akbar terhadap adik dan keponakanny
'Nchie
jangan langsung dibikin mati g seru😀biar akbar rasakan penderitaan banyak harta tapi tidak bisa menikmati nya..bikin dia tidak bisa bangun tapi dia sadar🤭
Wahyuni Abuzar
mam phooos kaan..di bayar kontan jalur karma 🤣🤣
mmh nengmuti
jgn sampai mati ke enakan mending d buat cacat parah aja biar merasakan sengsara
Setyowati Setyowati
karma di bayar instan kalau ini
Hiro Yoshi
horeeeeee kualat koe barrr🤭
Turwaty suketi
Modiaaaar kau akbar👍
juwita
jgn di buat mati dl Thor biar dia merasakan sakit klo lgsg mati ke enakan buat si akbar
Novi Tasa
sukurrr mati koe
Shee_👚
biar kamu merasakan apa yang di rasakan artha dan eru. kalau perlu kamu langsung mati di tempat😤
Shee_👚: bener, biar dia nangis darah sekalian
total 4 replies
Shee_👚
sukurrrrr.
akhirnya kau merasakan sakitnya di hantam truk, harusnya tadi tronton sekalian biar langsung end🤣🤣
Shee_👚
pulang dan berharap dapet pelukan hangat dari keluarga, serta mendukung perbuatan jahatmu?? dasar gila😏
mereka masih waras dan bisa berpikir yang bener.

tutup mulut mbah mu😤
Shee_👚
ternyata ini semua hanya karena akbar merasa iri karena opa lebih sayang artha😏
Shee_👚
langit tau niat modus mu itu Kris, jadi di mengantisipasi sebelum terjadi badai kedua🤭
gina altira
bikin lumpuh aja lah Akbar biar kapok
Shee_👚
modus aja nemenin mami pada hal mau nikung cinta dari eru🤣🤣
Shee_👚
kamu gak tau aja kang kalau eru yang lebih berkuasa 🤣
Shee_👚
sirik bilang bos🤣
Leli Suryani
karma dibayar tunai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!