NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Setelah bel pulang sekolah berdering, aku dan Siti langsung bergegas menuju rumah Rania. Namun, atmosfer di depan pagar rumahnya terasa begitu asing dan mencekik. Sebelum jemariku sempat menyentuh tombol bel, pintu utama terbuka keras.

Seorang wanita paruh baya melangkah keluar. Itu ibunya Rania. Wanita yang biasanya menyambut kami dengan senyuman hangat dan sepiring camilan itu kini tampak seperti orang yang berbeda. Wajahnya hancur, matanya sembap, dan gurat kelelahan yang ekstrem tercetak jelas di parasnya.

Aku dan Siti terlonjak. Rasa khawatir langsung menghantam dada kami. "Tante... Rania ada? Dia nggak masuk sekolah hari ini, terus chat kami nggak dibalas," tanya Siti dengan suara bergetar.

Ibu Rania menghentikan langkahnya. Dia menatap kami berdua dengan sorot mata yang begitu tajam—sebuah tatapan yang penuh dengan luka, kebencian, dan keputusasaan.

"Kalian... teman dekat Rania, kan?" suaranya terdengar serak, bergetar menahan sesuatu yang masif di dadanya.

"I-iya, Tante. Kami sahabatnya," jawabku, mendadak merasa dingin.

Mendengar kata 'sahabat', Ibu Rania menggertakkan giginya begitu keras hingga rahangnya mengencang. Jari-jarinya mengepal kuat, menancapkan kuku ke telapak tangannya sendiri. Dia sangat ingin marah. Dia ingin meledak dan menghancurkan apa saja di sekitarnya, namun seluruh tenaganya tampaknya sudah habis dikuras oleh air mata.

Dengan suara yang bergetar hebat, Ibu Rania mulai bercerita. "Sabtu malam kemarin... Rania pulang sendirian setelah kalian pisah di halte. Tepat di gang sepi dekat rumah ini, dia... dia dihadang oleh seorang pria asing." Wanita itu tercekat, air matanya kembali meluncur deras. "Pria itu... merenggut paksa kehormatan Rania. Dia memperkosa anak saya."

Duniaku serasa runtuh mendengarnya. Jantungku berhenti berdetak.

"Pria binatang itu langsung kabur ketakutan setelahnya," lanjut Ibu Rania dengan tawa getir yang histeris. "Dia berlari kencang ke jalan raya, lalu... seonggok truk menghantamnya hingga mati di tempat. Hancur. Bahkan hukum dunia pun nggak sempat mengadili bajingan itu!"

Ibu Rania mendadak melangkah maju, mencengkeram bahu Siti dan bahuku dengan sisa tenaganya.

"LALU APANYA YANG TEMAN BAIK?! APANYA YANG SAHABAT?!" teriaknya frustrasi, suaranya pecah membelah keheningan sore. "Kalian membiarkan anak itu berjalan sendirian di kegelapan! Kalian membiarkan dia menderita sendirian menanggung neraka itu, sementara kalian bisa tidur nyenyak dan haha-hihi sana-sini?!"

Aku dan Siti diam membeku. Seluruh pasokan oksigen di sekitarku menguap. Lidahku kelu, dan tubuhku kaku seperti batu. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam ulu hatiku hingga memicu rasa mual yang hebat.

Ibu Rania melepaskan cengkeramannya, mengusap air matanya dengan kasar, lalu membuang muka. "Sudahlah..." gumamnya, suaranya mendadak melemah, dipenuhi kepasrahan yang menyakitkan. "Rania... anak bodoh itu bahkan tetap membela kalian dalam kondisi hancur seperti itu. Dia bersikeras bilang kalau kalian nggak salah. Dia bilang... dialah yang mengusulkan liburan itu, jadi ini semua salahnya sendiri."

Tanpa memedulikan kami lagi, Ibu Rania berjalan mendahului kami, melangkah keluar pagar dengan tatapan kosong, mungkin hendak mengurus sesuatu yang belum selesai.

Kami berdua masih mematung di halaman. Namun, Siti tiba-tiba tersadar dari keterpakuannya. Dengan napas yang memburu dan air mata yang mulai menderu, dia berlari menerobos masuk ke dalam rumah tanpa pikir panjang. Pintu depan dihantamnya hingga terbuka keras, menciptakan dentuman yang menggema di dalam rumah yang sunyi itu.

"Siti! Tunggu!" seruku panik, langsung memaksakan kakiku yang lemas untuk menyusulnya.

Kami berlari menyusuri koridor rumah, menuju satu pintu kamar yang sangat familier. Siti langsung memutar kenop pintu dan mendorongnya lebar-lebar.

Begitu pintu terbuka, bau obat-obatan dan atmosfer yang dingin langsung menusuk indra penciumanku. Di atas tempat tidur, Rania sedang duduk meringkuk memeluk lututnya, menghadap ke dinding. Dia mengenakan pakaian lengan panjang yang terlalu besar, seolah mencoba menyembunyikan seluruh kulitnya dari dunia.

Mendengar suara pintu yang terbuka keras, Rania perlahan menoleh.

Saat itulah jantungku benar-benar patah menjadi serpihan. Tidak ada lagi binar jenaka di matanya. Tidak ada lagi senyuman ceria yang selalu menyambut kami. Sepasang mata sahabatku itu... kini persis seperti sepasang mataku di masa lalu. Kosong, mati, dan dipenuhi oleh trauma yang teramat pekat.

Rania menatap kami bergantian. Ketika pandangannya terkunci pada wajahku dan Siti yang basah oleh air mata, seberkas kesadaran yang mengerikan melintas di wajahnya. Dia tahu. Dia tahu kalau rahasia tergelap yang coba ia sembunyikan rapat-rapat telah telanjang di depan kami.

Seketika itu juga, sepasang pupil matanya melebar drastis. Napasnya mendadak memburu, putus-putus, seiring dengan ketakutan yang merambat cepat ke sekujur tubuhnya. Kulitnya yang pucat langsung dibanjiri keringat dingin.

Ketika Siti mengambil satu langkah maju, hendak mendekat, pertahanan Rania runtuh sepenuhnya.

"TIDAAAKK! JANGAN MENDEKAT! JANGAN LIHAT AKU!"

Rania berteriak histeris, sebuah lolongan frustrasi yang begitu menyayat hati. Dengan gerakan panik yang kacau, dia menarik selimut tebalnya ke atas, membungkus seluruh tubuhnya hingga rapat, mencoba menghilang dari pandangan kami. Di balik kain itu, tubuhnya bergetar hebat.

"Pergi... pliss pergi... aku kotor... aku udah nggak suci lagi... jangan lihat aku kayak gitu!" Suara Rania teredam di balik selimut, pecah oleh tangis yang begitu menyedihkan. Ketakutan terbesarnya bukanlah rasa sakit fisik, melainkan kenyataan bahwa dua sahabat yang paling ia sayangi kini melihatnya sebagai sosok yang telah hancur dan bernoda.

Melihat hal itu, Siti tidak mundur. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi jilbabnya. Tanpa peduli pada histeria Rania, Siti menerjang maju. Dia naik ke atas kasur dan langsung mendekap gundukan selimut itu dengan seluruh tenaganya.

"Rani... ini aku, Siti... ini kami!" Isak Siti pecah, suaranya parau menahan sesak. Dia memeluk tubuh yang gemetaran itu erat-erat, menolak untuk dilepaskan. "Kamu nggak kotor, Rani! Kamu nggak salah! Maafin kami... maafin kami yang nggak ada di sampingmu malam itu… kami sayang sama kamu, Ran!"

Di balik selimut, setelah beberapa detik meronta, Rania akhirnya menyerah. Tangisnya meledak, menyatu dengan tangis Siti di atas ranjang itu. Ruangan itu seketika dipenuhi oleh gema keputusasaan dari dua orang yang sangat kucintai.

Sementara itu, aku...

Aku hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu. Air mataku menetes dalam hening, membasahi lantai kayu. Pandanganku buram, namun pikiranku mendadak menjadi jernih dengan cara yang mengerikan.

Kutukan maut ini... monster tak kasat mata yang selalu mengekor di belakangku sejak kecil... dia sengaja melakukan ini. Dia tidak membunuhku, karena dia tahu kematian fisik terlalu mudah bagiku yang sudah biasa mati. Dia sengaja menghancurkan Rania untuk menghancurkan jiwaku sampai ke akar-akarnya.

Hanya ada satu solusi untuk menghentikan neraka ini. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan senyum Rania dan utuhnya persahabatan kami.

Aku harus memutar balik waktu. Aku harus kembali ke masa lalu—ke lini kehidupan sebelumnya, sebelum hari Sabtu maut itu terjadi. Dan cara untuk memicu lompatan itu... adalah kematianku sendiri.

Aku menghapus sisa air mataku dengan punggung tangan. Gerakanku mendadak menjadi sangat tenang, terputus dari emosi di sekitarku. Aku berbalik, melangkah pelan tanpa suara meninggalkan kamar Rania, menuruni koridor, dan masuk ke dalam dapur yang sunyi.

Di atas meja dapur, sebuah pisau daging berbahan baja tahan karat berkilat tertimpa cahaya lampu.

Aku berjalan mendekat. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku meraih gagang dingin pisau tersebut. Aku mengangkatnya, mengarahkan ujung mata pisau yang runcing dan tajam tepat ke urat nadi leher sebelah kiriku.

Sensasi dingin baja itu menyentuh kulit leherku. Detik itu juga, tubuhku menolak. Insting murniku sebagai manusia berteriak untuk menjauhkan senjata mematikan itu. Tanganku gemetar semakin parah hingga pisau itu bergetar di udara. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisku. Mati itu sakit. Aku mengingat setiap jengkal rasa sakit saat digilas mesin kapal, ditabrak truk, atau tersengat listrik. Tubuhku mengingat rasa ngeri itu.

Namun, di dalam kepalaku, gema tangis histeris Rania, dekapan putus asa Siti, dan wajah hancur Ibu Rania berputar bergantian seperti kaset rusak. Pemandangan kehancuran orang-orang yang kucintai membulatkan tekadku yang sempat goyah.

Kalau aku harus merasakan sakitnya mati sekali lagi demi mengembalikan senyum mereka... maka jadilah.

Gemetar di tanganku perlahan-lahan mereda. Otot-ototku mengeras, mengunci posisi pisau. Wajahku memucat pasi, tanpa darah, namun sepasang mataku tidak lagi kosong—mereka dipenuhi oleh keyakinan mutlak.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk yang terakhir kalinya di lini masa ini.

"Tunggu aku, Rani. Kali ini, aku nggak akan biarkan kamu pulang sendirian."

JLEB.

Tanpa ragu, aku menancapkan mata pisau itu kuat-kuat, merobek jalur kehidupan di leherku. Rasa sakit yang tajam dan panas seperti api langsung membakar seluruh sarafku. Darah segar yang hangat menyembur keluar, menyiprat ke dinding dapur dan melumuri tanganku. Kesadaranku mendadak goyah, pandanganku memerah, dan duniaku mulai runtuh ke dalam kegelapan yang pekat seiring dengan ambruknya tubuhku ke lantai.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!