Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Kebaya?
Sementara itu...
Di rumah keluarga Queen.
Ibu Farah baru saja menutup panggilan teleponnya. Senyum puas terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu.
Di sampingnya, Bi Inah mengangkat alis. "Jadi bagaimana Nyonya?"
Farah tersenyum lebar. "Kevin setuju."
Bi Inah terkekeh pelan. "Benarkah?"
Farah mengangguk semangat. "Bahkan dia bilang akan datang kalau memang semuanya sudah beres."
"Bagaimana dengan Tuan?"
"Arman juga setuju."
Bi Inah langsung tertawa kecil. "Sepertinya Nyonya sudah menyiapkan semuanya."
Farah pura-pura tidak bersalah. "Saya hanya ingin mempersatukan mereka, Bi."
"Iya, iya."
Farah lalu mengambil ponselnya lagi. "Saya juga akan menghubungi Revan."
Bi Inah menoleh. "Den Revan juga?"
"Tentu." Ibu Farah tersenyum misterius. "Semakin cepat semakin baik."
Bi Inah hanya bisa menggeleng pasrah melihat majikannya. Padahal sebenarnya Ibu Farah sudah menyiapkan rencana lain, jika Queen menolak.
Lusa nanti bukan hanya Revan dan keluarganya yang akan datang. Kevin juga akan pulang dari Amerika dan Ayah Queen juga akan kembali dari Swiss.
Dan yang paling penting, semua itu dilakukan tanpa sepengetahuan Queen.
***
Keesokan harinya. Kampus terlihat ramai seperti biasa. Queen baru saja keluar dari ruang dosen setelah melakukan bimbingan skripsi.
Wajahnya terlihat sedikit lelah. "Banyak revisi lagi?"
Anggi yang tiba-tiba muncul di sampingnya langsung membuat Queen terkejut.
"Astaga!"
Anggi tertawa. "Biasa aja kali."
Queen menghela napas panjang. "Lo tuh bikin kaget aja sih!
Anggi langsung menatao Queen penuh tanya. "Abis ngapain lagi sih, emang belum selesai juga skripsinya?"
"Belum," jawabnya lemas. "Gue bahkan belum istirahat dari kemarin."
"Lo nggak tidur lagi semalam?"
Queen hanya tersenyum kecil. Melihat ekspresi itu, Anggi sudah tahu jawabannya.
"Queen..."
"Gue nggak apa-apa Nggi."
Anggi menggeleng pasrah. "Syukurlah kalau nggak apa-apa."
Dari kemarin Queen memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk skripsi. Pagi kuliah, siang bimbingan dan malam mengerjakan revisi.
Begitu terus setiap hari. Bahkan urusan lain nyaris tidak pernah dipikirkannya. Termasuk soal Nathan, entahlah Nathan marah atau tidak padanya. Fokusnya sekarang hanya ingin cepat lulus.
Sore harinya, Queen akhirnya sampai di rumah. Begitu masuk ke kamar, ia langsung meletakkan tas dan laptop di meja belajar.
Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, ia membuka file skripsinya. Layar laptop menyala, beberapa jurnal langsung memenuhi layar.
Queen menarik napas panjang. "Semangat..." gumamnya pelan.
Ia mulai mengetik satu demi satu revisi yang diberikan dosennya. Waktu berlalu tanpa terasa, langit di luar perlahan berubah gelap.
Namun Queen masih fokus menatap layar laptop. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di ruang keluarga, Ibu Farah sedang tersenyum sendiri sambil membaca pesan masuk di ponselnya.
Pesan dari Kevin, Revan, dan juga pesan dari suaminya yang memastikan akan pulang besok.
Farah tersenyum puas. "Besok pasti seru."
Sedangkan di kamar lantai atas, Queen masih sibuk dengan skripsinya. Tidak tahu bahwa besok rumahnya akan dipenuhi tamu yang mungkin akan membuat hidupnya jauh lebih rumit daripada revisi skripsi mana pun.
Keesokan harinya...
Pagi itu rumah keluarga Queen sudah jauh lebih ramai dari biasanya. Ibu Farah bahkan sudah bangun sejak subuh. Sesekali ia memeriksa jam dinding, lalu melihat ponselnya.
Bi Inah yang sedang membantu menyiapkan sarapan sampai menggeleng heran. "Nyonya kelihatannya bahagia sekali pagi ini."
Farah langsung meliriknya. "Iya dong Bi, hari ini adalah hari bahagia."
Bi Inah malah tertawa. "Iya Nyonya benar, tapi bagaimana kalau Nona Queen..."
Farah terdiam sesaat, "sudahlah Bi, itu nanti menjadi urusan Kevin. Hehehehe..."
Ibu Farah melanjutkan mengatur piring di meja makan. Padahal dalam hati ia memang sedang bersemangat.
Hari ini suaminya pulang, Kevin juga pulang. Dan keluarga Revan akan datang siang nanti.
Sementara itu di lantai atas, Queen masih tertidur pulas. Semalam ia baru tidur hampir pukul dua pagi karena menyelesaikan revisi skripsi.
Tok tok tok.
Pintu kamarnya diketuk.
"Queen!"
Tidak ada jawaban.
"Queen!"
Masih diam, akhirnya Ibu Farah membuka pintu kamar dan seperti yang diduganya. Queen masih tertidur di atas meja belajar dengan laptop yang masih menyala.
Farah langsung menghela napas. "Ya ampun anak ini."
Wanita itu berjalan mendekat lalu mengusap kepala putrinya pelan. "Queen."
"Hmm..."
"Bangun."
Queen mengernyit. "Lima menit lagi, Ma."
"Tidak."
"Lima menit."
"Bangun sekarang."
Queen akhirnya membuka mata perlahan. Rambutnya berantakan dan wajahnya masih mengantuk.
"Mama..."
Farah menunjuk jam dinding. Queen mengikuti arah jarinya dan langsung melotot.
"Ya ampun!"
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. "Aku telat!"
"Bukannya kamu tidak ada kelas hari ini."
Queen langsung berhenti panik. "Oh iya."
Farah sampai geleng-geleng kepala. "Mandi, turun dan habis itu sarapan."
"Iya Ma."
Satu jam kemudian...
Queen akhirnya turun ke ruang makan dengan pakaian santai. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Ia duduk sambil menguap, Ibu Farah yang melihatnya langsung tersenyum.
"Capek?"
"Banget."
"Makanya jangan begadang terus."
Queen hanya mengangguk lemas.
Saat sedang mengambil roti, tiba-tiba ponsel Ibu Farah berbunyi. Wanita itu langsung tersenyum saat melihat layar.
"Papa sudah mendarat."
DEG!
Queen langsung mengangkat kepala. "Papa?"
Farah mengangguk. "Ia Papa sampai pagi ini."
Wajah Queen langsung berubah cerah. "Serius?"
"Iya."
"Kenapa nggak bilang dari kemarin?"
Farah tertawa kecil. "Supaya jadi kejutan."
Queen langsung tersenyum lebar.
Sudah beberapa bulan ia tidak bertemu ayahnya yang bekerja di luar negeri. Namun belum sempat ia bertanya lebih banyak, Ibu Farah kembali berkata santai.
"Oh iya."
"Hm?"
"Nanti siang ada tamu."
Queen tidak terlalu memikirkan hal itu.
"Tamu siapa?"
"Teman."
"Teman siapa?"
"Teman Mama."
Queen mengangguk santai lalu kembali makan. Sama sekali tidak curiga. Padahal saat itu Farah dan Bi Inah saling bertukar pandang. Keduanya hampir tertawa.
Karena beberapa jam lagi, bukan hanya ayah dan kakak Queen yang akan tiba. Melainkan Keluarga Revan.
Sementara Queen masih sibuk memikirkan revisi skripsinya. Tidak tahu bahwa siang nanti rumahnya akan berubah menjadi arena pertemuan yang sangat tidak terduga. Bahkan mungkin lebih menegangkan daripada sidang skripsinya sendiri.
Pukul 10 pagi...
Queen masih duduk santai di ruang keluarga sambil membuka laptopnya. Beberapa jurnal dan revisi skripsi memenuhi layar. Namun ketenangannya tidak berlangsung lama.
"Queen!" Suara Ibu Farah terdengar dari tangga.
"Hm?"
"Naik ke kamar sekarang."
Queen mengangkat kepala bingung. "Buat apa?"
"Pokoknya naik."
"Tapi aku lagi ngerjain skripsi."
"Queen."
Nada suara Ibu Farah langsung membuat Queen menyerah.
"Iya, iya."
Dengan malas ia menutup laptop lalu berjalan ke lantai atas.
Sepuluh menit kemudian...
"Kebaya?"
Queen menatap pakaian yang sedang dipegang ibunya dengan ekspresi tidak percaya.
"Iya."
"Mama serius?"
"Sangat serius."
Queen menunjuk dirinya sendiri. "Ini buat aku?"
"Iya buat kamu."
"Tapi buat apa?"
Farah tersenyum manis. "Hari ini ada tamu."
"Tamu doang kenapa harus pakai kebaya?"
"Biar kamu terlihat cantik."
Queen langsung memijat pelipisnya. "Mama aneh."
Farah pura-pura tidak mendengar. "Cepat ganti."
"Tapi Ma..."
"Cepat."
Queen hanya bisa pasrah.
Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar dengan kebaya berwarna pastel yang sederhana namun elegan. Rambut panjangnya dibiarkan terurai.
Farah yang melihat putrinya langsung tersenyum puas.
"Nah."
Queen memutar bola matanya. "Mama lebay ih."
"Anak Mama memang cantik."
Queen langsung menghela napas panjang.
Sementara itu, di depan rumah. Sebuah mobil hitam mewah perlahan memasuki halaman. Tak lama kemudian pintu mobil terbuka.
Seorang pria paruh baya turun lebih dulu. Wajahnya tegas namun hangat. Ayah Queen akhirnya pulang dari Swiss.
Sedangkan dari mobil lain, seorang pria tinggi dengan setelan kasual mahal ikut turun. Kakak laki-laki Queen.
Pria itu melepas kacamata hitamnya lalu tersenyum tipis. "Akhirnya pulang juga."
Arman tertawa kecil ."Mama pasti sudah tidak sabar."
Kevin mengangguk. "Kemungkinan besar Queen juga."
Keduanya lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka...
"Papa!"
Queen yang baru turun dari tangga langsung membeku sesaat sebelum berlari menghampiri ayahnya.
Arman langsung membuka kedua tangannya. Queen memeluk ayahnya erat.
"Aku kangen."
Arman tertawa hangat sambil mengusap kepala putrinya. "Papa juga kangen."
Mata Queen mulai berkaca-kaca. Sudah terlalu lama mereka tidak bertemu.
Sedangkan Kevin yang berdiri di samping hanya menggeleng geli.."Cuma Papa yang dipeluk?"
Queen langsung menoleh. "Kak Kevin!"
Saling support sabi kali ya😉