NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Setelah kehilangan jejak Amira di kantor, Daniel bergegas pulang dengan kecepatan penuh, berharap sang istri kembali ke rumah untuk mengambil Felia.

Di sepanjang jalan, ia mencengkeram kemudi dengan erat, merutuki kebodohannya yang telah menutupi kebenaran hingga berujung pada kesalahpahaman yang fatal.

Sesampainya di pelataran, Daniel langsung melompat keluar dari mobil bahkan sebelum mesinnya mati sempurna.

Daniel sampai di rumah mencari Amira ke seluruh sudut ruangan, meneriakkan namanya dengan frustrasi, namun yang ia temukan hanyalah keheningan.

Kamar tamu kosong, dapur sepi, dan ruang tengah hanya menyisakan televisi yang sudah mati.

Suster yang sedang menyuapi Felia di lantai bawah pun menggeleng bingung, mengatakan bahwa Amira pergi terburu-buru sejak siang setelah menerima tamu asuransi.

Penemuan di Kamar: Daniel masuk ke kamar utama mereka.

Kamar itu terasa begitu dingin dan hampa. Langkah kaki Daniel terasa berat saat mendekati ranjang tempat mereka memadu kasih semalam.

Di atas tempat tidur, ia menemukan buku gambar yang ditinggalkan Amira tadi siang.

Dengan tangan gemetar, Daniel meraih buku itu dan membuka lembaran terakhirnya.

Daniel terpaku melihat lukisan Amira tentang dirinya, Daniel, dan Felia.

Di atas kertas putih itu, guratan pensil Amira begitu detail menangkap senyuman mereka bertiga.

Lukisan itu menggambarkan potret keluarga kecil mereka yang bahagia dan penuh tawa—sebuah kontras yang membuat kenyataan bahwa rumah tangga mereka kini hancur karena kebohongannya.

Amira melukis kebahagiaan mereka dengan penuh cinta, tepat sebelum ia mengetahui bahwa suaminya lah yang telah mencelakakannya.

Air mata penyesalan Daniel mulai menetes di atas kertas itu, membasahi sketsa wajahnya sendiri yang terlukis sedang menggandeng tangan Amira.

"Maafkan aku, Amira. Aku benar-benar tidak tahu soal uang asuransi itu," bisik Daniel parau, mendekap buku gambar itu erat-erat ke dadanya di tengah kehampaan kamar mereka.

Tangisan Amira makin pecah di dalam taksi yang membawanya menjauh dari gedung perusahaan Daniel.

Dalam keadaan hancur dan menangis sesenggukan, Amira langsung menuju stasiun tanpa membawa banyak barang.

Dompet dan ponsel di dalam tasnya sudah lebih dari cukup, karena saat ini pikirannya hanya satu, yaitu pulang ke rumah masa kecilnya di Yogyakarta untuk mencari ketenangan.

Ia ingin lari sejauh mungkin dari kebohongan Daniel yang teramat perih.

​Perjalanan berjam-jam di atas kereta api terasa bagai siksaan batin bagi Amira.

Air matanya terus menetes dalam diam, menatap kosong ke luar jendela kereta sembari meratapi nasibnya yang dijadikan alat demi uang asuransi—setidaknya itulah yang ada di pikirannya saat ini.

​Sesampainya di halaman rumah lamanya di Jogja, udara kota kelahiran yang biasanya menenangkan justru terasa menyesakkan.

Beban emosional dan fisik yang terlalu berat sejak siang tadi membuat tubuh Amira tidak lagi mampu bertahan.

Langkah kakinya terasa begitu goyah dan berat, kepalanya berdenyut hebat laksana dihantam gada.

​Pandangan Amira mengabur, langit Jogja di atasnya seolah berputar, dan ia pingsan di halaman rumahnya sendiri sebelum sempat melangkah masuk ke dalam, meninggalkan dirinya dalam keadaan tidak berdaya di atas tanah.

​Tepat saat itu, pintu kayu rumah terbuka dari dalam.

Seorang wanita paruh baya melangkah keluar hendak menyiram tanaman, namun seketika menjatuhkan selang airnya saat melihat sesosok tubuh yang sangat ia kenal tergeletak tak sadarkan diri.

​"Amira!!" teriak Mama histeris.

​Wanita tua itu langsung berlari kencang memburu tubuh putrinya, menangis panik sambil menepuk-nepuk pipi Amira yang pucat pasi dan menyadari adanya sisa-sisa air mata yang mengering di sana.

Melihat putri tercintanya tak sadarkan diri di halaman rumah, Mama lekas menghubungi dokter terdekat dengan tangan yang bergetar panik.

Kegaduhan di halaman itu tak ayal mengundang perhatian warga sekitar.

Para tetangga membantu Amira yang masih tergeletak pingsan.

Dengan sigap, Pak Roby membopong tubuh Amira yang lemah ke dalam rumah, lalu merebahkannya dengan hati-hati di atas ranjang kamarnya yang dulu.

Mama terus memegangi tangan Amira yang terasa dingin, tak henti-hentinya merapalkan doa.

Tak berselang lama, dokter tiba dan memeriksa keadaan Amira dengan saksama.

Stetoskop ditempelkan ke dada Amira, sementara tensi darahnya diukur untuk memastikan kondisinya.

Mama menunggu di samping ranjang dengan perasaan yang campur aduk dan cemas.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Mama begitu dokter selesai membereskan peralatannya.

Dokter itu menghela napas pendek lalu menatap Mama dengan senyuman menenangkan.

"Amira sedang kelelahan. Saya akan memasang selang infus dan biarkan ia istirahat," jelas dokter tersebut.

Dokter itu kemudian dengan terampil menusukkan jarum infus ke punggung tangan Amira agar cairan dan nutrisi bisa segera masuk ke tubuhnya yang drop akibat tekanan batin dan perjalanan jauh.

Mama hanya bisa mengangguk lemas, menatap wajah putrinya yang tampak begitu tertekan bahkan dalam tidurnya.

Daniel menghubungi ponsel Amira berulang kali. Tangannya yang gemetar terus menekan tombol panggil di layar gawainya, menempelkan benda pipih itu ke telinga dengan napas yang memburu.

Di dalam kamar utama yang hampa, Daniel berjalan mondar-mandir menatap tumpukan lembaran uang asuransi yang berserakan di lantai, berharap ada keajaiban bahwa sang istri mau mendengarkan penjelasannya.

Namun, di seberang sana, ponsel Amira hanya bergetar di atas meja nakas kamar lamanya di Yogyakarta.

Mama tidak mengangkatnya. Setiap kali layar ponsel itu menyala menampilkan nama 'Mas Daniel', rahang Mama mengeras penuh kekecewaan.

Ia sengaja mengabaikan panggilan menantunya itu, terlalu fokus merawat putrinya yang terbaring lemah tak berdaya.

Dengan penuh kasih sayang, Mama memeras selembar kain handuk kecil dari baskom air hangat, lalu mengompres kening putrinya.

Tatapan Mama sendu melihat kelopak mata Amira yang masih terpejam rapat, menyadari gurat kesedihan mendalam yang tercetak jelas di wajah pucat Amira.

Sementara itu di Jakarta, Daniel mulai frustrasi karena panggilannya terus dialihkan ke kotak suara.

Rasa bersalah makin menghimpit dadanya. Ia tahu, kebohongannya tentang kecelakaan di Puncak telah memicu kesalahpahaman yang teramat besar.

Amira mengira dirinya adalah monster yang sengaja memanfaatkan kemiripan wajahnya dengan Selena demi uang 30 miliar.

"Angkat, Amira. Tolong angkat," lirih Daniel frustrasi.

Melihat tidak ada respons, Daniel langsung menyambar kunci mobilnya di atas meja.

Ia tidak bisa diam saja di rumah ini. Berbekal keyakinan bahwa Amira pasti melarikan diri ke satu-satunya tempat yang paling aman baginya, Daniel membulatkan tekad.

Ia harus menyusul Amira ke Yogyakarta hari ini juga, apa pun risikonya, demi meluruskan benang kusut yang mengancam kehancuran rumah tangga mereka.

Daniel menghentikan gerakan tangannya yang baru saja hendak memindahkan tuas persneling mobil.

Ia menoleh ke arah kaca spion tengah, menatap Felia yang duduk di kursi belakang bersama pengasuhnya.

Wajah putri kecilnya itu tampak layu dan penuh harap, sangat kontras dengan boneka beruang besar pemberiannya kemarin yang kini didekap erat-erat oleh Felia.

"Papa, bawa Mama pulang ke rumah kita," ucap Felia saat melihat papanya akan melajukan mobilnya.

Sepasang mata bulat bocah itu mulai berkaca-kaca, merasakan ketegangan yang terjadi di rumah mereka sejak siang tadi.

Kalimat polos dari bibir Felia seketika menghantam relung hati Daniel dengan telak.

Rasa bersalahnya makin membuncah, membuat dadanya terasa begitu sesak hingga sulit untuk bernapas.

Daniel mematikan mesin mobilnya sejenak, lalu berbalik badan menghadap putrinya.

Ia meraih tangan mungil Felia dan menggenggamnya erat, mencoba memberikan ketenangan yang ia sendiri pun tidak memilikinya saat ini.

"Iya, Sayang. Papa janji, Papa akan bawa Mama pulang ke rumah kita. Felia tunggu di rumah sama Suster ya? Jaga rumah baik-baik," tutur Daniel dengan suara baritonnya yang mendadak parau, menahan air mata agar tidak jatuh di depan sang anak.

Felia mengangguk pelan, mempercayai janji papanya.

Setelah mengecup kening putrinya dengan penuh kasih dan menitipkan pesan mendalam pada sang pengasuh, Daniel kembali menyalakan mesin mobil.

Kali ini, ia menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan ibu kota menuju Yogyakarta dengan satu tekad bulat di kepalanya: membawa pulang kembali kebahagiaan keluarganya yang sempat retak karena dustanya.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!