Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Gema Di Bawah Lawu
Dua minggu sudah berlalu sejak solo tenang kembali.
Raka hidup di desa kecil di kaki gunung lawu. rumahnya sederhana. dinding kayu, atap seng, dan sumur di belakang yang airnya dingin banget.
Setiap pagi dia bantu warga angkat batu, betulin rumah, dan nyangkul ladang. Tangan yang dulu pegang keris kala naga, sekarang genggam cangkul dan bambu.
"Raka, istirahat dulu," kata pak slamet, tetangga sebelah. "nggak usah kerja terus kayak nggak ada capeknya."
Raka cuma senyum. "nggak apa apa pak. Badan gue udah lama nggak ngerasain capek yang normal."
Malamnya dia tidur nyenyak. tanpa mimpi buruk. tanpa suara bisikan. Untuk pertama kalinya, hidupnya terasa ringan. Tapi di bawah tanah, sesuatu belum selesai.
---
Malam itu angin gunung lawu bertiup kencang, pohon pohon berderak. Anjing anjing desa menggonggong nggak jelas.
Raka terbangun jam 2 pagi. Dadanya sesak.
Serpihan mahkota kala raja yang menyatu di jarinya panas lagi. panasnya beda dari dulu. bukan panas amarah. tapi panas kayak peringatan.
"Kenapa lagi," gumam raka pelan.
Dia keluar rumah. anak kecil yang dulu nolongin dia, namanya bima, masih tidur di rumah sebelah. raka nggak mau bangunin.
Dia jalan pelan ke arah hutan lawu. tempat istana bawah tanah dulu berada.
Tanah di sana masih retak. rumputnya gosong. Tapi sekarang ada suara. suara pelan yang datang dari dalam tanah.
"Raka..." Suara itu lemah. serak. kayak orang yang udah berteriak ratusan tahun.
Raka berhenti. "Siapa," tanyanya pelan.
"Gue..." suara itu jeda panjang. "Gue prabu kala jaya."
Raka mengernyit. "Lu kan udah mati. gue udah bunuh kala rahu."
"Yang lu bunuh itu cuma satu wujud gue," jawab suara itu. "Keserakahan udah mati. kebencian udah mati. tapi masih ada satu lagi."
Angin berhenti. suasana jadi hening banget.
"Keinginan untuk hidup lagi," kata suara itu. "Dan dia sekarang bangun."
Tanah di bawah kaki raka retak lebih dalam. cahaya merah samar keluar dari celah itu.
---
Paginya raka langsung ke rumah kyai wirajaya. kyai itu udah mati, tapi makamnya masih dijaga warga. di atas nisan kayu ada tongkat tua yang patah.
Raka duduk di depan makam. "kek, lu denger nggak," bisiknya.
Angin lewat. nggak ada jawaban. Tapi tiba tiba tongkat itu bergetar. cahaya putih samar keluar dari ujungnya.
Suara kyai wirajaya masuk ke kepala raka. pelan, tapi jelas. "Waspada, Raka. yang bangun itu bukan wujud kutukan. tapi sisa kehendak manusia yang dulu jadi raja. dia nggak butuh kutukan buat hidup. dia cuma butuh tubuh."
"Tubuh siapa," tanya raka.
"Tubuh yang punya darah sangkala."
Raka menunduk. tangannya mengepal.
jadi semua ini belum selesai karena darahnya sendiri yang manggil.
---
Siang harinya bima datang lari-lari ke rumah raka. mukanya pucat. napasnya ngos ngosan.
"Kak Raka! Kak Raka!" teriaknya dari luar.
Raka keluar. "Ada apa, dek?"
"Orang orang di desa bawah pada sakit! Mereka muntah darah! Matanya merah kayak api!"
Raka langsung ambil jaket dan lari. bima ngikutin dari belakang.
Pas sampai di desa bawah, pemandangan udah chaos. warga berjatuhan. anak kecil nangis. orang tua tergeletak di jalan.
Dan di tengah lapangan, ada seorang laki laki berdiri. tinggi, kurus, wajahnya pucat kayak mayat. matanya merah.
Dia senyum waktu lihat raka.
"Akhirnya ketemu," katanya. suaranya berat. dua suara sekaligus. "Gue udah nunggu dua ratus tahun, cucu sangkala."
Raka melangkah maju. "Lu siapa."
Laki laki itu ketawa pelan. "Gue prabu kala jaya. atau sisa sisanya. dan gue butuh tubuh lo buat hidup lagi."
Tanah di sekitarnya retak. orang orang yang sakit tiba tiba berdiri. mata mereka merah. mereka jalan kayak mayat hidup ke arah raka.
"Mundur, bima!" teriak raka.
Bima langsung lari sembunyi di balik rumah.
Raka mengepalkan tangan. cahaya keperakan keluar lagi dari dadanya. kekuatan kebenaran. satu satunya senjata yang dia punya sekarang.
"Kalau lo mau gue, ambil aja," kata raka pelan. "Tapi lo harus lewatin gue dulu."
Prabu kala jaya mengangkat tangan.
orang orang yang kesurupan itu langsung nyerbu.
---
Pertarungan nggak pake keris. nggak pake sihir hitam. cuma cahaya keperakan vs kegelapan merah.
Setiap kali raka nyentuh orang yang kesurupan, cahaya itu keluar. mereka jatuh, kejang, lalu muntah darah hitam. setelah itu mereka pingsan, tapi napasnya kembali normal.
Tapi prabu kala jaya terlalu kuat.
dia bukan makhluk kutukan. dia manusia. manusia yang punya dendam dua ratus tahun.
"Lo lemah, raka," katanya sambil nyekik leher Raka. "Lo udah buang kekuatan lo sendiri. sekarang lo cuma manusia biasa."
Raka nggak bisa napas. matanya mulai gelap.
Tapi di saat itu, dia inget suara ayahnya.
"Jangan pernah lupa rasanya sakit. karena kalau kau lupa, kau akan jadi monster."
Raka tersenyum pelan di tengah cekikan itu.
"Gue nggak lupa," bisiknya.
Dia angkat tangan. cahaya keperakan masuk langsung ke dada prabu kala jaya.
Prabu itu menjerit. tubuhnya terbakar dari dalam. "Nggak mungkin! darah sangkala nggak bisa nyakitin darah sangkala!"
"Karena gue udah bukan darah sangkala doang," jawab raka. "Gue manusia. dan manusia bisa milih buat ngampunin."
Cahaya itu meledak. Prabu kala jaya hancur jadi abu merah. orang orang yang kesurupan langsung jatuh dan tertidur.
Hutan lawu kembali sunyi.
---
Raka jatuh berlutut. tubuhnya lemas.
bima lari ke arahnya. "Kak Raka! Kak raka bangun!"
Raka nggak jawab. dia pingsan. Kali ini bukan karena kutukan. tapi karena capek. capek jadi manusia.
---
Tiga hari kemudian raka bangun di rumahnya sendiri. bima duduk di samping tempat tidurnya, ngantuk tapi nggak mau tidur.
"Akhirnya bangun," gumam bima. "Gue kira kakak nggak bangun bangun lagi."
Raka duduk pelan. badannya masih sakit.
"Desa bawah gimana?"
"Udah aman. semua orang sembuh. kata pak dukun, itu bukan penyakit biasa. kata dia itu... kutukan lama yang balik."
Raka menatap jarinya. serpihan mahkota udah nggak panas lagi. dingin. kayak udah mati beneran.
"Udah selesai," bisik raka.
Bima mengangguk. "iya kak. udah selesai."
Malamnya raka duduk di depan rumah. ngeliatin bintang. nggak ada suara. nggak ada bisikan. nggak ada dendam.
Cuma ada suara jangkrik dan angin gunung.
Bima datang bawa dua cangkir teh hangat.
"Minum kak. biar nggak kedinginan."
Raka nerima. mereka berdua duduk bareng dalam diam.
"Kak," kata bima pelan. "Kalau nanti ada lagi yang dateng, kakak masih mau nolong nggak?"
Raka mikir sebentar. lalu senyum.
"Mau. selama gue masih bisa milih jadi manusia."
Bima ketawa kecil. "sip. gue jaga kakak dari belakang aja."
Nereka berdua ketawa pelan.
Di kejauhan, gunung lawu berdiri diam. dingin, gelap, tapi tenang.
Kutukan dua ratus tahun udah putus. tapi hidup raka baru mulai.
---